Kamis, 21 Maret 2013

"PILKADA DAN PILKOPLO" SALAH SATU CONTOH CERMIN PERADABAN

Oleh: Suparti

Senantiasa hidup bermasyarakat dalam sebuah lingkungan merupakan suatu hal yang lumrah dan memang harus dalam menjalani hidup di muka bumi. Dengan adanya bermasyarakat, maka terjadilah pergaulan antar manusia dalam bermacam-macam budaya yang ada. Dari bermasyarakat pula dapat diketahui bagaimana budaya atau peradaban yang ada pada suatu tempat dalam suatu daerah/wilayah.

Suatu peradaban banyak sekali termuat dalam media massa terutama media cetak atau media tulis. kita dapat menemukannya di koran, majalah, tabloit, ataupun buku, dapat berupa artikel, cerpen, puisi, dan sebagainya.

Berbicara tentang puisi memang tak akan pernah ada habisnya. Mengapa demikian? Karena pemahaman/pengkajian puisi tidak hanya sebatas kata-katanya atau kalimat-kalimatnya. Unsur-unsur yang dikaji dalam sebuah puisi adalah tema, rasa, nada, amanat, diksi (pilihan kata), imajinasi, dan gaya bahasa yang digunakan. Dari puisi pula dapat kita ketahui peristiwa apa saja yang tercantum di dalamnya.

Menurut pendapat saya, puisi adalah wakil dari perasaan seseorang yang ditujukan pada orang lain dan biasanya disampaikan melalui bahasa tulis. Menurut ahli, William Wordsworth menjelaskan bahwa puisi adalah peluapan yang spontan dari perasaan-perasaan yang penuh daya, memperoleh asalnya dari emosi atau rasa yang dikumpulkan kembali dalam kedamaian. H.B. Jassin menjelaskan bahwa puisi adalah pengucapan dengan perasaan yang didalamnya mengandung pikiran-pikiran dan tanggapan-tanggapan.

Pemuisi biasanya menggunakan bahasa atau kata yang sedikit namun mempunyai arti yang banyak. Misalnya, frase “beranda rumah cinta” mengarah ke sebuah gambaran tempat cinta yaitu hati (Reparasi dan Apresiasi ala Bengkel Puisi Swadaya Mandiri : 33). Frase “beranda rumah cinta” bisa saja berarti beranda rumah yang dicinta atau grup beranda rumah cinta (tempat puisi berkumpul dan bergumul) bagi yang mengetahui atau bisa saja memiliki arti yang lain.

Puisi sebagai cermin peradaban? Menurut saya, iya (setuju dengan pendapat/esai Dimas Arika Mihardja). Karena puisi selalu menggambarkan atau menerangkan tentang peristiwa atau unsur-unsur kehidupan masyarakat. Menurut saya, puisi berkembang searah dengan perkembangan zaman. Dan ini menunjukkan bahwa puisi terus mengalir dalam kehidupan masyarakat.

Puisi mewakili perasaan sastrawan juga dapat mewakili perasaan masyarakat luas, sebagaimana dijelaskan oleh Dimas Arika Mihardja :
Teks puisi memliki keunikan dalam pemaparan bahasa sebagai cara ungkap berbagai masalah kehidupan. Berbagai masalah kehidupan, baik berupa peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sesuatu yang dialami oleh sastrawan, masalah sejarah-sosial-politik-ekonomi-budaya, maupun berbagai fenomena kehidupan yang menjadi bahan renungan, hayatan, pemikiran sastrawan diekspresikan secara unik dan menarik (Reparasi dan Apresiasi ala Bengkel Puisi Swadaya Mandiri : 18).

Untuk menjelaskan bahwa puisi sebagai cermin peradaban, mari kita pahami tentang peristiwa yang terjadi dalam puisi Pilkada dan Pilkoplo karya Dimas Arika Mihardja yang ditulisnya dalam buku Sajak Emas:

PILKADA DAN PIL KOPLO


“Pilkada, pemilihan kepala daerah”, katamu
Senja itu. asap mengepul di cerobong mulutmulut berdebu
Tas plastik dan selembar uang limapuluhribuan berhamburan
Mencari alamat rakyat. Suarasuara di panggung terbuka hanya berjanji
Untuk diingkari. Suara mereka adalah lagu dangdut
Bergoyang di tengah lapang dengan loudspeaker
Memecahkan kesunyian
Meresahkan binatang peliharaan

“pil koplo, adalah obat mujarab ketika rakyat muntah”, jelasmu
Di pasarpasar sembari berteriak “hayo siapa jauh mendekat.
Siapa dekat merapat. Siapa rapat kian terdekap”
Di mata penjual obat, semuanya nomor Satu
pil koplo yang di oplos dari berbagai macam obat
hanyalah racun yang membuat kepala puyeng

pilkada dan pil koplo, keduanya racun!

Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, Jambi 2010


Puisi yang berjudul Pilkada dan Pilkoplo di atas terdiri dari 3 bait, dan masing-masing bait menerangkan begian-bagian yang berbeda namun saling berkaitan. Dalam puisi tersebut, penulis menggunakan kata kias sebagai penekanan atas tujuan akan pentingnya hal yang ia sampaikan melalui tulisan puisinya.

Bait pertama, menjelaskan tentang pilkada dan hal-hal yang sering terjadi di kalangan masyarakat. Diterangkan bahwa setelah terbenamnya matahari, maka mereka (tim sukses pilkada) mendatangi rumah rakyat satu persatu. Mereka memberikan sekantong plastik bahan makanan atau selembar kain dan uang lima puluh ribuan kepada setiap satu kepala keluarga, meminta satu, dua, bahkan tiga suara sekaligus bergantung berapa jumlah anggota keluarga yang ada pada satu kepala keluarga tersebut.

Pada bait pertama juga terlihat jelas tentang mereka yang melakukan kampanye di beberapa tempat, yang bertujuan menarik, memicu, dan merayu perhatian dan minat rakyat. Kampanye yang dilakukan penuh dengan janji dan iming-iming. Kalau saya ibaratkan, janji yang manisnya melebihi madu dan iming-iming yang tingginya terkira. Janji dan iming-iming disebar, disemai, ditanam di setiap rumah warga. Janji penuh semangat sEtiap kali kampanye. Namun setelah terpilih, janji janji dan iming-iming itu dicabut, dikumpulkan, dan disimpan dalam keranjang sampah. Janji tinggal janji, tiada terbukti dan hanya memenderitakan rakyat.

Bait kedua, menjelaskan tentang obat yang sangat ampuh, obat yang bisa membuat orang lupa diri bahkan mati jika tidak bisa menahan diri untuk menghindari. Selayaknya pilkada, pilkoplo pun dijual bebas pasar-pasar bahkan di lingkungan masyarakat lainnya. Penjual pilkoplo pun sama dengan calon dalam pilkada (menjual suara). Tak tahu apapun bahan/zat yang dimasukkan ke dalam pilkoplo, tetap saja mereka menjualnya dengan bebas sehingga berakibat fatal bagi yang mengkonsumsi.

Bait ketiga, hanya ada satu baris. Pernah saya baca di media internet 'Biasanya satu bait puisi terdiri dari empat baris. Namun ada juga puisi yang satu baitnya berisi lebih dari empat baris'. Namun karena satu kalimat ini bagian dari sebuah puisi, tetap saja saya sebut sebagai bait. Pada bait ketiga ini menjelaskan tentang persamaan antara pilkada dan pilkoplo yaitu sama-sama membuat rakyat resah dan gelisah serta menderita karena mereka (pilkada dan pilkoplo) adalah racun.

Puisi yang berisi tentang pilkada dan pilkoplo di atas, menjelaskan tentang masalah kemanusiaan yang banyak bahkan sering terjadi di kalangan masyarakat. Dalam pilkada sering terjadi ketidakjujuran yang menyebabkan hal-hal negatif _ paling sering terjadi adalah korupsi. Sedangkan pilkoplo adalah salah satu jenis narkoba yang sangat meresahkan masyarakat. Puisi tersebut adalah salah satu contoh bahwa puisi adalah cermin peradaban, dan masih banyak lagi cermin peradaban dari puisi lainnya.

Jambi, 22 maret 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar