Jumat, 13 Januari 2012

BELAJAR MENGAPRESIASI PUISI: SEBUAH JALAN SIMPANG

Esai: Suko Rahadi


Dimas Arika Mihardja

BUAH SIMALAKAMA ITU …
:bagi penyair generasi kini


buah simalakama itu, cintaku, terhidang di meja makan
apapun pilihan akan meruahkan masalah dalam pencarian
mata pisau telah diasah sapardi dan dukanya abadi, sementara
keraguan goenawan dan kematian semakin akrab dalam dekap subagio
o amuk kapak sutardji lepas dari tradisi hingga abad berlari bersama afrizal


buah simalakama itu, cintaku, tumbuh sepanjang tualang
apakah sebagai pejalan harus kembali ke nyanyi sunyi di dada doa amir hamzah
mengembara serupa ahasveros dikutuksumpahi eros
menuju ke laut bersama takdir membaca syair
menguntai seloka lama serupa gurindam raja ali haji?


buah simalakama itu, cintaku, makanlah
saat puncak gelisah: kunyah hinga sepah
lalu muntahkan sebagai intan berkilauan!

bpsm, 11/1/2012


Puisi yang ditulis DAM bertitimangsal 11/1/2012 tersebut sungguh membuatku tak bisa tidur hingga beberapa hari. Bukan karena tak ngantuk, namun demi gengsi pribadi. DAM secara terangterangan telah berteriak lantang menantang beberapa esais untuk menggubah puisi tersebut menjadi sebuah esai, yang kabarnya akan dimasukkan dalam blog pribadi sebagai media pembelajaran bagi mahasiswanya. Yang lebih seru (bukan saru) lagi, ada iming-iming berupa hadiah buku bagi yang bisa mengulas puisi tersebut dan menuliskannya dalam dokumen BPSM. Siapa tidak tertarik?

Jujur saya merasa tertantang. Bukan karena hadiah yang dijanjikan namun seperti saya katakan di depan, gengsi pribadi. DAM beserta beberapa teman yang lain telah beberapa kali menagih yang tak saya hutang. Terlebih lagi setelah beberapa saudara saya berhasil dengan gemilang menyelesaikan tantangan tersebut. Pun tidak asal selesai. Esai mereka sangat luar biasa. Sungguh saya hanya bisa termangumangu setelah membaca keseluruhannya. “Kok bisa ya?” pikir saya. Membaca tulisan temanteman tersebut, saya semakin yakin bahwa, saya yang merasa telah membaca banyak buku dan berbangga karenanya ternyata belum apa-apa. Temanteman tentu lebih banyak lagi dalam membaca buku. Ah, malu aku jadinya.

Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Peribahasa itu rasanya sangat cocok dengan kondisi yang saya alami saat ini. Keinginan untuk menerima tantangan itu begitu meledakledak, menggebu dan menggedorgedor ruang dada yang sempit ini. Namun apalah daya; saya ini bukan penyair, bukan esais, apatah lagi filsuf. Tak mudah bagi saya untuk sekedar menangkap makna sebuah puisi sexy. Pesan yang hendak disampaikan, sangat terlihat remang oleh mata saya yang rabun akan indahnya bahasa.

Hari ini adalah hari ke-4 dimana saya tetap masih konsisten untuk memelototi puisi tersebut. Pun masih belum ada tandatanda bahwa saya akan segera bisa menuliskan esai untuknya. Rupanya masih jauh panggang daripada api. Pikiran saya masih juga mampet. “Pasti ada jalan,” pikir saya terus menerus, untuk sekedar menguatkan keyakinan diri bahwa saya masih punya sedikit ketidakmampuan. Sambil terus menyanding menu puisi tersebut, saya sempatkan untuk membuka beberapa buku yang saya colong entah dari mana sekedar untuk mencari inspirasi. Pun hinga kini belum juga bisa menemukan contekan yang pas untuk mengulasnya. Ah, rupanya saya salah baca buku. Yang saya buka justru bukubuku fisika, karena memang itu yang kebanyakan saya punya dan saya pelajari selama ini. Sastra fisika; adakah? belum. he.he..

Tibatiba saja saya tertarik dengan kisah sisiphus, seorang raja yang dihukum para dewa karena menyalahgunakan kekuasaannya sebagai raja Korinte, bersikap lalim terhadap rakyatnya, bahkan berani menipu para dewa. Sisiphus dihukum oleh para dewa dengan cara secara terus menerus memanggul batu di pundaknya naik turun gunung salama hayat. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Sisiphus menjalani hukuman tersebut, dan dalam hukuman (berupa rutinitas keseharian yang seakan sia-sia) itulah Sisiphus berhasil menjelmakan ke dalam dirinya imajinasi untuk menghirup hidup di dalamnya. Mengapa saya jadi tertarik denga sisiphus? Ya, sebagai sarjana fisika saya seakan telah berkhianat dengan ilmu yang telah saya miliki. Keseharian saya justru lebih banyak membaca bukubuku sastra ketimbang buku fisika. Inilah akibat(hukuman)nya; berharihari tak bisa tidur, tertawan gengsi pribadi untuk mampu menggubah puisi menjadi sebuah esai.

Sebagaimana Sisiphus, saya ingin menemukan makna dari setiap hukuman yang saya jalani. Bahwa dalam rutinitas pun akan menyadarkan kita akan esensi kehidupan. Salahkah saya? Lalu apa manfaat saya belajar sastra? Saya seakan menghadapi jalan simpang. Satu jalan menuntut tanggung jawab saya sebagai sarjana fisika, jalan yang lain mengajak saya untuk tetap becinta dengan sastra. Keduanya tak dapat saya elakkan. Harus dijalani secara bersamasama. Namun mungkinkah? Inilah BUAH SIMALAKAMA ITU… Dimakan mati emak, tidak dimakan mati bapak. Demikian kira-kira kata lain dari buah simalakama itu. Sama-sama menuntut konsekwensi yang tak mengenakkan. Pilihan yang membingungkan. Lalu apa maksud DAM mengambil judul itu? Bagi penyair generasi kini, katanya. Artinya puisi itu jelas ditunjukkan kepada para penyair masa sekarang ini, era tahun 2000an. Saya yakin kita semua hapal luar kepala mengenai sejarah sastra di Indnesia, dari sastra melayu lama hingga sastrawan massa reformasi. Lalu mau kemana penyair generasi kini? Kembali ke gaya lama? Atau akan memberikan warna yang berbeda? Jalan simpang menghadang.

“Buah simalakama itu, cintaku, terhidang di meja makan”

Masih ingat cerita Lukman Al Hakim dan anaknya? Ya, saat Lukman membeli seekor keledai dari pasar bersama anaknya dan memilih menuntun keledai tersebut, banyak orang menertawakannya. “Mengapa tak ditunggangi?” tanya mereka. lalu Lukman menyuruh anaknya naik ke punggung keledai. Kembali, orang yang ketemu di jalan menertawakan dan bahkan mengejek, “Anak tak tahu diri, dia enak-enakan naik keledai, e..bapaknya disuruh jalan kaki.” Kepada anaknya lukman berkata, “Rupanya kita salah Nak, sebaiknya engkau turun dan biar bapak yang naik keledai.” Kembali terjadi, orang di sepanjang jalan berkata sinis, “Bapak yang tak punya kasihan, tega nian anaknya disuruh jalan.” Kembali Lukman merasa salah. Akhirnya diputuskan, bapak dan anak bersamasama naik keledai. Belum rampung juga. “Dasar orang tak punya rasa perikehewanan, hewan sekecil itu kok dinaiki berdua.” Keputusan terakhir yang mengundang gelak, keempat kaki keledai diikat, lalu dipikul berdua hingga sampai di rumah dengan menggunakan sebatang bambu. Tak peduli lagi omongan orang. Begitulah, jika kita punya pilihan dan selalu menuruti omongan orang. Maka benar kata DAM,

“Apapun pilihan akan meruahkan masalah dalam pencarian”

Setiap kita harus punya pilihan. Apapun itu. Yang perlu disadari adalah bahwa, apapun yang kita lakukan tak mungkin akan bisa memuaskan semua orang. Pasti ada yang kecewa, bahkan marah. Apalagi kita, bahkan Nabi yang jelas membawa amanah kebenaran masih juga ada yang memusuhinya. Maka yag terpenting adalah, tetapkanlah hati dalam memilih, apapun resikonya. Namun tentu, dalam memilih harus senantiasa disertai alasan yang kuat. Tak ada jeleknya belajar dari pengalaman, juga pilihlah alat analisis yang tepat. Bacalah kitabkitab lama. Ketahuilah;


"mata pisau telah diasah sapardi dan dukanya abadi, sementara
keraguan goenawan dan kematian semakin akrab dalam dekap subagio
o amuk kapak sutardji lepas dari tradisi hingga abad berlari bersama afrizal"

Sapardi, Goenawan dan Sutardji telah membuka jalan baru. Lewatilah dulu jalan itu. Pergunakan pisau sapardi untuk membabat semak yang merintang jalan. Jalan ini bukan bebas hambatan, bukan jalan tol jika diumpamakan. Masih ada banyak sisa perdu yang bersemi sehabis musim hujan tahun ini, sebagaimana dikatakan DAM pada bait selanjutnya;

“buah simalakama itu, cintaku, tumbuh sepanjang tualang”

Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai. maju terus pantang mundur (bukan maju perut pantat mundur lho). Sekalikali tengoklah ke belakang, siapa tahu ada teman tertinggal. “Jalan masih jauh, hantu gentayangan akan menghadangmu di depan,” mungkin begitu bisikan yang terdengar lirih terbawa angin sepoi. Maka muncul pertanyaan yang menyesakkan,


“apakah sebagai pejalan harus kembali ke nyanyi sunyi di dada doa amir hamzah
mengembara serupa ahasveros dikutuksumpahi eros
menuju ke laut bersama takdir membaca syair
menguntai seloka lama serupa gurindam raja ali haji?”

Sebuah pertanyaan reflektif. Yang disebut dalam pertanyaan itu adalah penyairpenyair dan karyanya di masa lampau. Ketika banyak orang berasyikmahsyuk dengan haiku dan kawankawannya, orang bertanya kepada kita; "Apakah pantun dan gurindam kau kira tak lebih baik dari puisi jepang itu?" Lalu kita teringat akan keindahan masa lalu. Kembali berbalas pantun dan seloka, bak reuni bersama kawan lama yang entah berapa tahun tak jumpa. Lupa segalanya.

“buah simalakama itu, cintaku, makanlah”
Pilihan harus ditetapkan. Jalan mana yang akan dipilih, diserahkan kepada pejalan kaki. Sang penyair generasi kini. Mau kembali ke pantun dan gurindam, atau menerabas ilalang untuk kembali membuka jalan yang berlainan. Inilah.


saat puncak gelisah: kunyah hinga sepah
lalu muntahkan sebagai intan berkilauan!

Kami menunggumu, penyairku!
Kataku.


Gunungpati, 4/1/2012
Penulis adalah pencari rumput untuk ternak yang tak kunjung gemuk.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar