Selasa, 27 Desember 2011

MANINGAU NILAI SOSIAL BUDAYA DAN NILAI SENI BUDAYA BANJAR

Oleh : Arsyad Indradi

Sejak zaman Datu Nini baik Nilai – Nilai Sosial budaya dan Seni Budaya Banjar sudah tertanan dalam masyarakat Banjar. 

I. Nilai Sosial Budaya Banjar

Nilai Sosial Budaya seperti keterampilan dan kerajinan yakni anyaman, masakan, batik, kamasan, ukir dan tatah. Anyaman dengan bahan tumbuhan purun yang menghasilkan tikar purun, bakul purun. Bahan paikat (rotan) yang menghasilkan bakul, lanjung, arangan gayak, bakul kayang ( tangkiding ), bakul pamasakan, butah, rambat, tangkitan bukit dan lain – lain. Daun nipah yang menghasilkan “tanggui“ ( tudung ), ketupat, kajang dan lain – lain. Atap rumbia yang bahannya dari daun rumbia. Dari bahan ijuk menghasilkan sapu ijuk dan tali ijuk. Demikan juga masakan berupa empat puluh satu macam kue, gangan asam, gangan balamak, gangan haliling, soto Banjar dan lain – lain. Batik Banjar berupa kain sasirangan, dinding airguci, tapih (sarung) wanita. Sasirangan adalah batik khas Kalimantan Selatan yang pada jaman dahulu digunakan untuk mengusir roh jahat dan hanya dipakai oleh kalangan orang-orang terdahulu seperti keturunan raja dan bangsawan. Proses pembuatan masih dikerjakan secara tradisional.

Masyarakat Banjar seperti masyarakat Banjarmasin, Nagara dan Martapura yang juga sebagai pengrajin kamasan ( tukang perhiasan ) bahan emas, suasa dan perak. Hasil kerajinan itu berupa : Giwang (anying-anting) seperti bonel ros barumbai, bonel air tetes, bonel air tetes barumbai dan lain-lain. Galang ( gelang ) tangan seperti galang baintan, galang rantai, galang rantai sulapit dan lain-lain. Galang batis ( kaki ) seperti galang batis buntut cacing, galang batis malati, galang wancuh.Utas (cincin) seperti utas balah paikat, utas mata satu asur wawaluhan, utas mata satu bagimus (polos), utas mata satu tusuk, utas ros parimata intan, utas rantai, utas baserong dan lain - lain. Kakalung seperti kakalung rantai sulapit, kakalung madaliun barumbai, madaliun ros, madaliun mata tiga, madalin mata satu dan lain-lain. Cucuk baju seperti cucuk baju seribu manis, cucuk baju paniti, cucuk baju daun basontek, cucuk baju daun baintan dan lain - lain. Cucuk konde seperti cucuk konde kulipak katu, cucuk konde daun talu, daun lima, cucuk konde daun seribu manis, cucuk konde ros, cucuk konde daun baintan dan lain-lain.

Ada hasil kerajinan dari bahan kuningan seperti pakucuran/peludahan, sasanggan panginangan, celengan dan lain-lain. Ada hasil kerajinan tembikar seperti dapur, kapit, tajau halus dan besar, cocot ( sejenis ciret/teko ) dan lain – lain.
Ukir dan tatah seperti dalam bentuk tatah surut (ukiran berupa relief); tatah babuku (ukiran dalam bentuk tiga dimensi), tatah baluang (ukiran “bakurawang”) dan lain – lain.
Nilai Sosial Budaya yang menjadi tempat – tempat objek wisata, di Tanah Banjar banyak jumlahnya di antaranya Pasar Terapung, pendulangan intan dan keindahan alam seperti Pulau Kambang, Gua Liang Hidangan, tempat keramat dan lain – lain.

Pasar Terapung adalah pasar tradisional yang sudah ada sejak dulu dan merupakan refleksi sosial budaya sungai orang Banjar. Pasar yang khas lagi unik ini tempat melakukan transaksi jual beli bahkan ada yang berupa barter di atas air dengan menggunakan jukung ( sampan ) yang berdatangan dari berbagai pelosok, membawa dagangan berupa lalapan ( sayur – sayuran ), buah – buahan, pancarakinan ( rempah masakan dan belah pecah ) juga makanan dan minuman. Pasar Terapung hanya berlangsung pada pagi hari sekitar jam 05.00 hingga 07.00 setiap hari. Pasar terapung ini ada dua lokasi yaitu di Kuin wilayah Banjarmasin dan Lok Baintan wilayah Kabupaten Banjar.
Seperti juga di daerah lain, Kalimantan Selatan memikili tradisi budaya dan seni budaya.
Tradisi Budaya yang kental dalam masyarakat Banjar seperti upacara kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, kematian, baayun anak, mamalas banua/manyanggar banua, aruh ganal, badudus dan lain – lain.

Di sini akan “ditingau sakilaran “ mengenai tradisi baayun anak dan badudus.

a. Baayun Anak

Yang lebih menarik adalah menidurkan anak ini sang ibu sambil bernyanyi dengan suara merdu berayun-ayun atau mendayu-dayu.
Isi lirik ini, puji-pujian pada anaknya yang ”bungas langkar ” dan doa agar anaknya kelak kuat imannya dalam agama sampai akhir hayatnya.
Kalau tidak berupa syair atau pantun, sang ibu membaca salawat rasul atau ayat – ayat suci Al Qur’an.

Ayun Bapukung adalah menidurkan anak dengan cara sang anak didudukan dalam ayunan dibalut dengan kain tapih sebatas leher.
Ayunan untuk ”guring bapukung” tak bedanya dengan ayunan dengan posisi dibaringkan yaitu terbuat dari tapih bahalai atau kain kuning dengan ujung –ujungnya diikat dengan tali haduk ( ijuk ). Ayunan ini biasanya digantungkan pada palang plapon di ruang tengah rumah. Pada tali tersebut biasanya diikatkan Yasin, daun jariangau, kacang parang, katupat guntur, dengan maksud dan tujuan sebagai penangkal hantu – hantu atau penyakit yang mengganggu bayi. Menidurkan anak dengan bapukung biasanya lebih cepat tertidur dari pada mengayun posisi berbaring.
Maayun anak ini terkadang diadakan pada acara Mauludan yakni tanggal 12 Rabiul Awwal. Dengan maksud agar mendapat berkah kelahiran Nabi Muhammad SAW
Pada perkembangannya, maayun anak ini menjadi sebuah tradisi budaya yang setiap tahun digelar dengan istilah “ Baayun Maulud” Baayun Maulud ini sungguh berisi pesan-pesan religiusitas, filosofis dan local wisdom ( kearifan local ).

Baayun Maulud ini setiap tanggal 12 Rabiul Awwal yakni menyambut dan memperingati Maulud Rasul, oleh masyarakat Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara selalu mengadakan upacara Baayun Anak atau Baayun Maulud. Tradisi budaya ini mulai popular sejak tahun 1990-an.
Juga, Baayun Anak ini adalah salah satu agenda tahunan bagi Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Selatan. Yang lebih unik lagi pesta Baayun Anak ini bukan hanya baayun anak tetapi pesertanya juga baayun nenek dan kakek. Mereka sengaja ikut baayun karena nazar. Nazar ini karena sudah tercapai niat atau terkabul hajat seperti sudah naik haji, mendapat rejeki yang banyak atau untuk maksud agar penyakitnya hilang atau juga panjang umur.

2) Badudus

Setiap suku bangsa di Indonesia mempunyai adat budayanya masing- masing, ada yang berbeda dan ada juga hampir sama. Dalam kesempatan ini diperkenalkan adat yang ada di suku Banjar yang mendiami Tanah Borneo bagian selatan yakni Kalimantan Selatan, yaitu Acara Badudus.

Badudus adalah acara mandi – mandi.. Acara ini ada tiga jenis, yaitu Badudus Tian Mandaring, Badudus Pengantin Banjar, dan Badudus untuk Keselamatan.
a) Badudus Tian Mandarin
Acara Badudus Tian Mandaring adalah acara Mandi – Mandi perempuan hamil pertama kali yang usia hamilnya Tujuh Bulan. Sesaji yang diadakan berupa kue – kue yang jumlahnya 41 macam. Minyak Likat Buburih adalah sebagai bahan Tapung Tawar. Air yang dimandikan berupa air yang berendam beraneka bunga sehingga air ini beraroma harum.

b) Badusus Selamatan Tahunan

Acara Badudus merupakan tradisi masyarakat Banjar terutama sebagian masyarakat Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara. Acara ini diadakan dua kali setahun yaitu acara Mandi-Mandi dilaksanakan pada pertengahan tahun Hijrah yaitu sekitar bulan Jamadil Akhir dan Selamatan Tahunan diadakan pada awal tahun Hijrah yaitu bulan Muharram . Masyarakat Amuntai sangat tebal kepercayaannya terhadap Legenda Lambung Mangkurat, bahwa raja-raja Negara Dipa seperti Empu Jalmika, Pangeran Suryanata, Pangeran Suryaganggawangsa dan lain-lainnya itu sampai sekarang masih hidup dan berada di alam gaib dan sewaktu-waktu mereka dapat diundang. Kepercayaan ini dianut secara turun temurun dan jika tidak dilaksanakan maka mengakibatkan malapetaka bagi keluarga mereka misalnya ada yang kurang waras atau kena penyakit. Sesaji yang harus diadakan adalah 41 macam kue dan yang tidak boleh ketinggalan yaitu “ Bubur Habang Bubur Putih “, “ Kopi Pahit “, Cingkaruk Batu “, “ Rokok Jagung “, dan “ Minyak Likat Buburih “.

Serangkaian acara Badudus Selamatan Tahunan ini diadaakan lagu-lagu Badudus yang diiringi tetabuhan yang terdiri dari biola dan Tarbang Besar atau Tarbang Burdah. Ada beberapa repertoire dalam acara ini yang susunannya tidak boleh tertukar, yaitu :
Repertoire pembukaan adalah lagu Kur Sumangat, merupakan lagu mengundang roh – roh dari raja-raja yang gaib di tengah kepulan asap dupa dan kemenyan. Isi lagu adalah undangan dan ucapan maaf jika ada kesalahan dalam menyediakan sajian atau dalam pelaksanaan terdapat kekeliruan dan sebagainya.selesai lagu ini, diadakan acara Tapung Tawar yang disebut Tatungkal dengan memercikkan minyak Likat Buburih d atas kepala pada yang dimandikan dan pada keluarga. Repertoire yang kedua Lagu Girang –
Girang, pernyataan kegembiraan. Repertoire yang ketiga adalah lagu Mandung Mas Mirah, lagu untuk menyambut puteri – puteri yang diundang. Repertoire yang keempat Lagu Dundang Sayang, berfungsi sebagai penghibur pada para undangan yang hadir. Repertoire yang kelima adalah Lagu Tarabang Burung, lagu menyambut atau menyongsong para roh – roh yang datang. Repertoire yang terakhir yaitu Lagu Burung Mantuk, l;agu untuk menghantarkan pulang para roh – roh yang telah menghadiri upacara tersebut.
Tidak jarang dalam upacara Badudus ini banyak orang – orang yang hadir kesurupan. Setelah selesai Lagu Burung Mantuk dinyanyikan yang kesurupan tersebut sadar kembali. Fungsi penyanyi terkadang adalah juga sebagai pawang dan berperan sebagai pemimpin acara. 

c) Badudus Pengantin Banjar

Acara Badudus Pengantin Banjar adalah suatu acara adat masyarakat Banjar yang sampai sekarang ini masih tumbuh dan hidup dalam masyarakat Banjar. Tempo dulu Badudus merupakan acara penobatan seorang Raja. Acara ini hanya diselenggarakan oleh keturunan raja – raja saja yakni keturunan dari raja – raja Kerajaan Negara Dipa dan Kerajaan Daha, dan yang dapat menghadiri acara tersebut adalah hanya terbatas kepada seluruh keluarga saja. Setelah tidak ada lagi kerajaan di Tanah Banjar (tahun 1860 ) maka acara ini bergeser menjadi acara mandi – mandi Pengantin Banjar. Penyelenggaraan Badudus dilaksanakan oleh kedua pengantin. Dalam acara ini disediakan sesaji 41 macam kue dan minyak likat buburih yaitu bunga – bungaan yang dimasak dengan minyak kelapa dan lilin serta ditambah dengan minyak wangi. Acara badudus ini umumnya dimeriahkan dengan menyuguhkan lagu – lagu Banjar.
Sungguh, nilai – nilai Seni Budaya Nasional sangatlah “ Sugih (kaya) “ karena berakar dan bersumber dari nilai – nilai Seni Budaya Daerah. Salah satunya adalah dari Tanah Banjar.

II. Nilai Seni Budaya Tanah Banjar tersebut antara lain adalah musik, tari, sastra dan teater.

1) Seni Musik
Seni Musik Tanah Banjar terdiri dari gamelan Banjar dan musik tradisional Banjar. 

a) Gamelan Banjar 

Gamelan Banjar ini dahulunya hidup dan berkembang di keraton Banjar, namun sekarang ini tidak ada lagi keraton Banjar maka musik ini hidup di kalangan rakyat Banjar. Gamelan Banjar umumnya sebagai pengiring tarian seperti wayang gong, wayang kulit dan tarian klasik Banjar.
Perangkat gamelan Banjar yang paling tua adalah sepasang gamelan Banjar yang bernama “ Simanggu Kacil dan Simanggu Basar “. Gamelan Simanggu Kacil berada di Museum Nasional Jakarta sedang Simanggu Basar berada di Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Selatan.

b) Musik Trasional Banjar di antaranya adalah Musik Kentung dan Musik Panting.
Musik Kentung ( instrument bamboo) ini berasal dari daerah Kabupaten Banjar yaitu di desa Sungai Alat Kecamatan Astambul dan kampung Bincau Kecamatan Martapura. Masa dahulu alat musik ini dipertandingkan. Dalam pertandingan ini bukan saja pada bunyinya, tetapi juga hal-hal yang bersifat magis, seperti kalau dalam pertandingan itu alat musik ini bisa pecah atau tidak dapat berbunyi dari kepunyaan lawan bertanding.

Musik kentung termasuk alat musik pentatonis, boleh dikatakan pula sejenis alat musik perkusi. Karena cara membunyikannya dihentakkan pada sebuah potongan kayu yang bundar. Alat musik kentung ini berjumlah 7 buah dan masing-masing mempunyai nama, yaitu : Hintalu randah, hintalu tinggi, tinti pajak,tinti gorok,pindua randah, pindua tinggi dan gorok tuha.
Musik Panding adalah seperangkat alat musik yang terdiri dari : Babun (gendang), Gong, Biola, suling dan Panting. Panting ini bentuknya seperti gitar atau gambus tapi bentuknya agak kecil. Musik Panting umumnya untuk mengiringi lagu – lagu Banjar.

2) Seni Tari Banjar.

Seni Tari Banjar ada beberapa jenis yakni Tari Kelasik Banjar seperti Tari Baksa Kembang, Baksa Panah, Baksa Lilin, Baksa Dadap, Baksa Tameng, Radap Rahayu, Tari Topeng Panji, Tari Topeng Sekartaji, Tari Topeng Kelana dan lain – lain. Tari Tradisional (rakyat) seperti Tari Tirik kuala, Tirik Lalan, Tari Japin Kuala, Japin Sisit, Tari Kuda Gepang dan Tari Wayang Gong. Tari Kreasi Baru seperti Mandulang Intan,
Tari Semangat Ratu Zaleh, Maiwak, Ambung Gunung dan lain – lain. Tari Pedalaman adalah tarian yang ada di daerah pedalaman Kalimantan Selatan ( suku Bukit ) seperti Tari Giring-Giring, Tari Gelang Bawu, Tari Gintur dan lain – lain

3) Seni Sastra

Seni Sastra di Tanah Banjar ada dua bagian yaitu Sastra Tutur dan Sastra Non Tutur ( tertulis ).
1) Sastra Tutur seperti Bakisah, Lamut, Madihin dan Mantra.

A) Bakisah

Bakisah umumnya tidak memerlukan naskah. Baik pengantar kisah atau pun dialog-dialog dibawakan, mengandalkan keterampilan berimpropisasi. Tema-tema yang diangkat terkadang fiksi tetapi ada juga yang terjadi dalam masyarakat. Pangisahan manakala melakonkan tokoh-tokoh dalam kisah, penonton benar-benar larut dalam arus plot dan karakter sang tokoh. Bilamana adegan sedih, gembira, dendam, humor atau lainnya, penonton larut ke dalamnya.
Banyak sari toladan dari ”kisah” baik mengenai adat istiadat, etika estetika hidup, pendidikan, keagamaan, patriotisme yang terkandung dalam kisah. Kalau dibandingkan propertis ( hand dan setting ) dan lightingnya antara teater monolog, bakisah sangat sederhana dan bersahaja namun Pangisahan mampu menghidupkan suasana.
Bakisah ada beberapa macam yakni Bapandung, Dundam, Lamut, Andi-Andi, Madihin dan Mantra.

a)Bapandung
Bapandung lahir di Desa Muara Munign kabupaten Tapin. Tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita, dimainkan dengan menirukan suara, tingkah laku seseorang, dan sebagainya.
b)Dundam
Bakisah dengan prosa lirik, berpantun-pantun. Lagunya lebih dekat dengan lagu mantra. Cerita adalah tokoh legenda orang Dayak (Bukit) dalam suatu kelompok. Ada hubungan cerita dengan etnis Banjar atau dengan kerajaan Banjar. Berdundam berada di suatu tempat yang berlampu remang-remang. Media untuk bercerita adalah sebuah gendang atau tarbang.yang dipukul berirama mengiring lagu pendundam bercerita.
c)Lamut
Ada yang mengatakan bahwa lamut diambil dari nama seorang tokoh cerita di dalamnya, yaitu Paman Lamut seorang tokoh yang menjadi panutan, sesepuh, baik dilingkungan kerajaan atau pun masyarakat seperti halnya Semar dalam cerita wayang.Cerita dalam Lamut menurut pakem yang ada walau tak tertulis. Cerita yang dikenal masyarakat Banjar yakni cerita tentang percintaan antara Kasan Mandi dengan Galuh Putri Jung Masari. Kasan Mandi adalah putera dari Maharajua Bungsu dari Kerajaan Palinggam Cahaya, sedangkan Galuh Putri Jung Masari adalah putri dari Indra Bayu, raja dari Mesir Keraton. Kasan Mandi kawin dengan Galuh Putri Jung Masari melahirkan seorang putra bernama Bujang Maluala dengan pengikut setianya paman Lamut bersama anak – anaknya yaitu Anglung, Anggasina dan Labai Buranta.
Lamut befungsi sebagai upacara pengobatan anak yang sakit, bisa juga berfungsi sebagai tontonan masyarakat. Pelamutan duduk berila dengan memegang sebuah gendang budar yang dikenal dengan nama tarbang. Pelamut berbaju Taluk balanga ( Koko ) memakai sarung palekat, berkopiah hitam. Penonton duduk santai lesehan.
d)Andi-Andi
Berkisah tentang legenda, dongeng dan sebagainya disaat orang brgotong royong, mengetam padi di sawah. Fungsinya menghibur orang bekerja. Ceritanya dari syair-syair, tutur candi,dan dongengan.
e) Madihin
Ada yang berpendapat bahwa madihin berasal dari kata madah, yaitu sejenis puisi lama dalam sastra Indonesia. Madah merupakan syair yang mempunyai rima yang sama pada suku akhir kalimat. Madah mengandung puji - pujian, nasehat atau petuah. Tetapi dalam perkembangannya humor atau lulucuan, sindiran yang sehat, tak ketinggalan
disuguhkan oleh Pamadihinan ( orang yang membawakan madihin ) sebagai bumbu. Hand Proferti yang digunakan adalah tarbang yang bentuknya lebih kecil dari Tarbang Lamut.
f) Mantra
Mantra adalah ujar-ujar yang merupakan sumber kekuatan spritual leluhur pusaka Banjar ( Kalimantan ). Pada hakikatnya adalah suatu permohonan kepada yang Maha Kuasa yang disampaikan dengan ujaran yang khas dan dengan gaya bahasa yang khas pula dengan keyakinan yang penuh bagi penggunanya.

2) Sastra Non Tutur ( Tertulis )
Sastra Tertulis ini ada yang dinamakan Syair, Gurindam, Pantun dan Puisi ( Sajak ).

A) Syair

Salah satu bentuk Sastra Banjar adalah “ Syair “. Seperti juga syair dikesastraan Indonsia Lama, Sastra Banjar Syair mempunyai bentuk empat baris setiap baitnya, persajakannya aa-aa dan isinya mengandung hikayat, sejarah, nasihat, pendidikan, percintaan, keagamaan dan dongeng, dan munculnya syair setelah adanya pengaruh agama Islam. Tetapi bedanya media yang digunakan Syair Kesastraan Indonesia Lama, Bahasa Indonesia sedangkan Sastra Banjar Syair, Bahasa Banjar. Disamping itu banyak syair – syair dalam Sastra Banjar ditulis oleh pengarangnya dengan menggunakan tulisan Arab. Sayangnya syair- syair yang ditulis dengan tulisan Arab ini sampai sekarang belum banyak ditulis dengan tulisan Latin. Akibatnya syair – syair Sastra Banjar ini hanya merupakan Koleksi Filologika Museum Negeri Kalsel di Banjarbaru.
Beberapa syair Banjar : Syair Sipatul Golam, Syair Ganda Kasuma, Syair Ringgit, Syair Tajul Muluk, Syair Surat Tarasul, Syair Siti Jabidah, Syair Indra Bumaya, Syair Khabar Kiamat, Syair Panji Kasmaran, Syair Brahma Sahdan, Syair Ratu Kuripan “ dan lain – lain.

B) Gurindam

Gurindam adalah syair yang terdiri dari seuntai yang isinya nasihat, petuah dan lain – lain.

C) Pantun

Masyarakat Banjar tempo dulu (bahari) sangat gemar berpantun sampai sekarang ini. Yang lebih menggembirakan bukan saja orang – orang tua tetapi juga kaula muda Tanah Banjar masih tetap menggemari pantun bahkan akan tetap melestarikannya.
Struktur pantun Banjar seperti halnya pantun Indonesia lama atau pantun Melayu yang bersetruktur : baris pertama dan kedua adalah sampiran, baris ketiga dan keempat adalah isi. Jumlah suku katanya baris pertama sama dengan baris ketiga dan baris kedua sama dengan baris keempat. Atau jika terjadi selisih suku katanya tidak lebih dari dua suku kata saja. Atau dari baris pertama, kedua, ketiga dan keempat sama jumlah suku katanya. Rima persajakan pada pantun Banjar ada yang berima (a),(b),(a),(b). dan ada pula yang berima (a),(a),(a),(a)

Terkadang pantun Banjar ada yang unik, mirip dengan syair yakni baris – barisnya hampir tidak dapat dibedakan sampiran dan isi dan rima sajaknya (a),(a),(a),(a). Yang lebih unik lagi apabila pantun ini merupakan lirik dari lagu atau nyanyian yakni terjadi pengulangan baris sehingga menimbulkan bunyi dan irama yang harmonis.
Pantun Banjar ada lima ragam : 1) Ragam Pantun Banjar Biasa : Seperti Pantun Agama, Pantun Adat Istiadat, Pantun Badatang, Baturai Pantun, Panglipur, Papujian, Balolocoan, Marista, Pantun Insyaf, Pantun Bacucupatian, Pantun Urang Anum. 2) Ragam Pantun Banjar Pantun Tarasul 3) Ragam Pantun Banjar Sebagai Lirik Lagu atau Nyanyian 4) Ragam Pantun Banjar Sebagai Pengiring Tarian 5) Ragam Pantun Wayahini.

D) Puisi ( Sajak )

Puisi ( Sajak ) termasuk kesastraan baru dan kesastraan modern.

4) Teater

Teater ada dua : Teater Modern dan Teater Tradisional.
1) Teater Modern : Teater dari daerah/negeri lain.
2) Teater Tradisional Banjar yaitu Teater yang khas daerah Banjar yakni : Mamanda.

Salah satu teater tradisional Kalsel yang masih bisa bertahan hidupnya adalah “ Mamanda “. Mengapa demikian ? Sebab cerita dari Mamanda memang mengasyikkan tak kalah dengan cerita sinetron atau film. Walau pun tokoh-tokoh dalam Mamanda “ baku “ namun dapat ditambah tokoh-tokoh lain dengan cerita yang lain, artinya cerita mamanda dapat diciptakan sesuai dengan perkembangan jaman. Apa lagi durasi pertunjukkan mamanda jang semula semalam suntuk sekarang disesuaikan dengan permintaan, maksudnya bisa durasinya 3 jam atau 5 jam. Istemewanyanya Mamanda, bisa dimainkan dengan sebuah naskah yang utuh seperti terater modern atau hanya dengan mengatur cerita seperti garis besar cerita, babakan dan plot, sedangkan dialog dikenal dengan istilah impropisasi. Pemain – pemain Mamanda memang dikenal keahliannya berimpropisasi. Tokoh-tokoh mamanda yang baku itu adalah Raja, Mangkubumi, Wazir, Perdana Menteri,Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan kedua, Khadam, Permaisuri, Anak Raja ( bisa putri atau Pangeran ). Tokoh-tokoh lain sesuai cerita misalnya Raja dari Negeri lain, Anak Muda, Perampok,Jin, Belanda, atau nama dari daerah lain ( Jawa, Cina, Batak, Madura atau lainnya ). Seperti juga di teater modern, sebelum pertunjukkan dimulai akan dibacakan sinopsisnya, di mamanda dipaparkan lewat “ Baladon “. Baladon adalah tutur cerita dengan dibawakan berlagu dan gerak tari. Cerita mamanda bisa berkolaburasi dengan seni tari atau musik. Yakni setelah kerajaan selesai bersidang maka akan ditampilkan pertunjukkan tari dengan maksud menghibur raja dengan segenap aparat kerajaan atau ketika kerajaan menang perang diadakan pertunjukkan hiburan tari atau musik panting.

Asal mula Mamanda adalah Badamuluk ketika rombongan bangsawan Malaka ( Abdoel Moeloek atau Indra Bangsawan, 1897 M ) yang dipimpin oleh Encik Ibrahim dan isterinya Cik Hawa, menetap di Tanah Banjar beberapa bulan mengadakan pertunjukkan. Teater ini begitu cepat populer di tengah masyarakat Banjar. Setelah beradaptasi, teater ini melahirkan sebuah teater baru bernama “ Mamanda “. Mamanda mempunyai pengertian “sapaan” kepada orang yang dihormati dalam sistem kekerabatan atau kekjluargaan.
Mamanda mempunyai dua aliran. Pertama : Aliran Batang Banyu. Yang hidup di pesisir sungai daerah Hulu Sungai yaitu di Margasari. Sering juga disebut Mamanda Periuk. Kedua : Aliran Tubau bermula tahun 1937 M. Aliran ini hidup di daerah Tubau Rantau. Sering dipentaskan di daerah daratan. Aliran ini disebut juga Mamanda Batubau. Aliran ini yang berkembang di Tanah Banjar.

Pertunjukkan Mamanda mempunyai nilai budaya Yaitu pertunjukkan Mamanda disamping merupakan sebagai media hiburan juga berfungsi sebagai media pendidikan bagi masyarakat Banjar. Cerita yang disajikan baik tentang sejarah kehidupan, contoh toladan yang baik, kritik sosial atau sindiran yang bersifat membangun, demokratis, dan nilai-nilai budaya masyarakat Banjar.

Bermula, Mamanda mempunyai pengiring musik yaitu orkes melayu dengan mendendangkan lagu-lagu berirama melayu, sekarang beralih dengan iringan musik panting dengan mendendangkan Lagu Dua Harapan, Lagu Dua Raja, Lagu Tarima Kasih, Lagu Baladon, Lagu Mambujuk, Lagu Tirik, Lagu Japin, Lagu Gandut , Lagu Mandung-Mandng, dan Lagu Nasib.
Dari uraian singkat di atas, ada beberapa peninggalan leluhur ini satu per satu sudah mulai terlupakan dan tenggelam. Masyarakat Banjar banyak yang tidak mengenal atau tidak tahu lagi pusaka leluhurnya yang seharusnya perlu dijaga, dilestarikan bahkan dikembangkan. Seperti upacara Badudus, baturai pantun dalam upacara perkawinan ( Badatang ), Manyanggar Banua, Bakisah,Tari – tarian terutama tari – tari kelasik seperti tari topeng atau tarian - tarian yang kental dengan akar budayanya. dan lain – lain,

Meskipun peninggalan leluhur itu masih ada, namun hidupnya sangat memperihatinkan dan sangat dikhawatirkan bahwa derasnya arus Era globalisasi dan modernisasi akan mengikis habis pusaka leluhur ini maka perlu upaya – upaya agar pusaka leluhur itu dapat terus dipertahankan. Tidak saja seminar, diskusi, kongres budaya, Aruh Sastra, pelatihan yang terus diselenggarakan tetapi juga Pemerintah daerah, seniman budayawan, Lembaga Budaya Banjar, Dewan Kesenian dan pihak – pihak yang terkait lainnya setiap tahun mengadakan festival dan pergelaran seperti atraksi adat Banjar, festival Pasar Terapung, musik tradisional, teater tradisional, tari – tarian Banjar, pameran bersejarah, pusaka bertuah, benda budaya serta berbagai kerajinan Banjar. Upaya – upaya ini diharapkan dapat menumbuhkan suatu gerakan masyarakat Banjar pendukung pusaka leluhurnya agar gigih dalam menjaga, mengembangkan dan melestarikannya secara bertanggung jawab di Tanah Banjar. Semoga ***

( Naskah ini bahan pada Dialog Mengangkat Nilai Sosial, Budaya  dan Nilai Sejarah di Pontianak 12-14 Desember 2011 )

Senin, 26 Desember 2011

SAJAK-SAJAK EMAS 1: SAPARDI DJOKO DAMONO

Esais: Kajitow El-Kayeni

Sesuai judul esai ini, Sajak-Sajak Emas saya maksudkan sebagai perwakilan dari karya para penyair besar yang telah dikenal khalayak. Karya mereka adalah curahan batin, atau hasil renungan yang sangat berharga sehingga saya serupakan dengan emas. Tetapi saya tidak hendak menunjuk karya gemilang tersebut sebagai kanon sastra, yaitu karya yang mendapatkan posisi agung sehingga tidak tergoyahkan lagi (canonized). Karena saya sadar sepenuhnya sastra dengan dinamikanya terus berkembang. Apa yang gemilang di masa lalu boleh jadi akan terlahir karya lain yang tak kalah gemilang seiring perkembangan jaman.

Pemilihan Sapardi Djoko Damono sebagai wakil penyair besar Indonesia yang saya angkat di sini bukan sebagai penunjuk tingkatan atau pengkelasan sebagaimana yang dilakukan oleh H.B. Jassin. Hal itu lebih dikarenakan kekaguman saya terhadap karyanya secara pribadi. Lebih jauh, karya-karya gemilang yang saya angkat dalam serial esai Sajak-Sajak Emas ini dimaksudkan sebagai cerminan bagi para pencinta sastra, kususnya para penyair itu sendiri dalam menggeluti dunianya. Perbandingan semacam ini penting, tidak saja sebagai tolok ukur tapi juga sebagai petunjuk arah bagi siapa pun mengenai pencapaian dalam pergulatan seorang penyair dengan bahasa.

Apakah pencapaian dalam sastra itu benar-benar ada?

Secara teoritis hal itu nisbi sifatnya. Tetapi dalam pola perbadingan, ada perbedaan besar antara orang yang baru memulai menulis puisi dengan mereka yang telah lama menggelutinya. Itu dikarenakan proses pematangan yang dilalui oleh penyair tadi. Skill mereka telah terasah dengan baik sehingga meski mencipta puisi secara spontan pun jauh lebih baik dari pemula. Puncak tertinggi dalam kepenyairan tentu tidak ada. Hanya saja secara konvensi harus ditunjuk salah satu atau beberapa yang mewakili pencapaian itu. Misalnya ada anggapan Chairil berada di puncak pencapaian, hal itu sah-sah saja. Meskipun itu tidak menutup kemungkinan ada anggapan yang berbeda. Misalnya menunjuk Sutardji dengan keradikalannya, itu pun terserah asal bisa dipertanggungjawabkan. Hal demikian bukan dikarenakan satu lebih unggul dari yang lain, tetapi lebih kepada membuat barometer perbandingan dan wujud perwakilan sebagaimana seorang juri yang harus memilih satu di antara beberapa pilihan yang sama bagusnya.

Sapardi Djoko Damono adalah salah satu penyair angkatan 66 menurut H.B Jassin. Sejak remaja telah dikenal kepiawaiannya dalam berpuisi. Kebanyakan puisinya menampakkan diksi-diksi sederhana namun tidak mudah menggali maknanya. Puisi yang dibentuk oleh salah satu penyair besar Indonesia ini cenderung menyimpan maksud di balik pilihan kata yang mungkin terlihat sederhana. Seringkali yang muncul dalam puisinya adalah sebentuk ironi. Sebuah teguran mengenai sesuatu yang disampaikan dengan cara tidak langsung. Baik dari segi gaya maupun maksudnya. Selain puisi, Sapardi juga menulis esai dan karya terjemahan. Puisi-puisi yang saya baca ini hanya sebagian kecil saja dan tidak dimaksudkan untuk mencari pola-pola tertentu dalam kepenyairannya. Tidak juga diulas dengan gamblang dengan mendasarkan pada teori pembedahan karya sastra. Sebuah sudut pandang atau sebuah upaya untuk ikut merayakan dinamika sastra di Indonesia.


Pokok Kayu

“suara angin di rumpun bambu
dan suara kapak di pokok kayu,
adakah bedanya, Saudaraku?”

“jangan mengganggu,” hardik seekor tempua
yang sedang mengerami telur-telurnya
di kusut rambut Nuh yang sangat purba


Dalam puisi ini Penyair sedang bermain ironi. Dimana di situ digambarkan sebuah peristiwa yang memunculkan kesan getir. Pada bait pertama itu ada dua sosok yang sedang bercakap-cakap. Seseorang atau sesuatu yang bersembunyi pada posisi orang ketiga sedang bertanya pada seseorang yang disebutnya Saudaraku. Pembicaraan mereka sangat aneh karena mempertanyakan perbedaan suara dari derit rumpun bambu akibat dorongan angin dan suara kapak yang menebang pokok kayu. Dari situ sebenarnya Penyair sedang memberikan gambaran dari dua hal yang kontras. Keduanya sama-sama merupakan bentuk suara, tapi yang satu alami dan satunya buatan. Yang membuat pertanyaan itu aneh adalah, kenapa dua hal yang berbeda itu masih juga dipertanyakan perbedaannya?

Di sini Penyair mengajak pembaca untuk melihat lebih jauh tentang ulah perbuatan tangan manusia. Banyak orang mempunyai gambaran ideal mengenai sebuah dunia yang hendak dibentuknya. Ironis sekali ketika dunia ideal itu harus mengorbankan dunia sebenarnya demi memperoleh sesuatu yang menurutnya keharusan. Populasi yang terus berkembang mengharuskan manusia membuka lahan-lahan baru, membuat bangunan-bangunan baru, membentuk wajah dunia yang baru. Padahal dunia ideal yang hendak dibentuknya itu mengorbankan dunia yang sesungguhnya, dunia alami yang telah memberikan kehidupan kepadanya.

Suara derit bambu mewakili dunia alami sebagaimana dia adanya, suara kapak adalah gambaran dari kerakusan manusia demi mewujudkan dunia ideal yang menurutnya lebih baik itu. Padahal tanpa disadarinya perbuatan itu justru membuatnya kehilangan dua dunia tadi. Dunia ideal menjadi tidak terwujud karena rusaknya dunia yang sebenarnya.

Yang lebih mengejutkan lagi ketika sampai pada bait ke dua. Percakapan dua orang tentang perbedaan tadi membuat seekor burung Tempua marah dan menghardik mereka berdua. Jangankan perusakan hutan (dengan gambaran semiotis suara kapak tadi) membicarakan tentang hal itu saja sudah membuat seekor burung marah. Kenapa burung itu marah? Personifikasi itu bisa dimaknai, omong kosong kedua manusia itu sudah tidak ada gunanya lagi karena burung Tempua itu harus mengerami telurnya di rambut Nuh yang sangat purba. Nuh di sini bisa berarti apa saja, tetapi makna yang dekat bisa kita lihat dari kaitan suara bambu dan kapak tadi dengan menganggapnya Nabi Nuh sebagai sindiran rusaknya alam. Begitu parahnya perusakan hutan sehingga tidak ada lagi daun-daun pohon untuk digunakannya sebagai sarang, burung Tempua itu terpaksa menggunakan rambut Nuh sebagai sarangnya. Ini pun mengandung kesan paradoks juga saat kita ingat Nabi Nuh membuat kapal dari pokok kayu untuk menyelamatkan umatnya dari bencana air bah, tetapi penebangan hutan juga merupakan sebab datangnya banjir bandang.

Dalam puisi lain Sapardi memperlihatkan kegelisahan yang biasanya juga dirasakan setiap manusia. Dalam batinnya ada sesuatu yang seolah-olah terus-menerus mengintainya. Perasaan seperti itu sering kali diungkapkan oleh penyair lain manakala mendapati kekosongan mengenai pencariannya akan hakikat hidup. Sesuatu yang seolah terus mengejar dan mendampingi tapi tak dapat dimengerti. Dalam sebuah sonet yang tidak lagi berbentuk sonet sebagaimana lazimnya, Sapardi meraba dirinya sendiri, dia mempertanyakan mengenai eksistensinya hidup di dunia ini. Sebuah ekspresi dunia batin Penyair akibat desakan perasaan asing yang tidak dikenalnya.


Sonnet: x

Siapa menggores di langit biru
Siapa meretas di awan lalu
Siapa mengkristal di kabut itu
Siapa menggertap di bunga layu
Siapa cerna di warna ungu
Siapa bernafas di detak waktu
Siapa berkelebat setiap kubuka pintu
Siapa mencair di bawah pandanganku
Siapa terucap di celah kata-kataku
Siapa mengaduh di bayang-bayang sepiku
Siapa tiba menjemput berburu
Siap atiba-tiba menyibak cadarku
Siapa meledak dalam diriku
: siapa aku


Sesuai judulnya, Sonet: x adalah puisi sejenis sonet yang terdiri atas empat belas larik. Biasanya sonet itu juga memiliki ciri khas pembaitan 4433, tapi dalam puisi ini (juga seperti puisi-puisi angkatan Pujangga Baru dan sesudahnya) kebiasaan membaitkan sonet seperti itu sudah ditinggalkan. Bentuk sonet hanya dikenali dari jumlah larik dan judulnya saja.

Sonet: x merupakan gambaran dari ekspresi diri Penyair. Sama halnya Chairil saat meraung membabi-buta dengan puisinya berjudul Aku itu. Perbedaannya dalam Sonet: x, Sapardi mewakili umumnya manusia ketika dihadapkan pada perasaan sunyi itu, bukan hanya mewakili dirinya sendiri. Seolah ada sesuatu yang terus memburunya tapi tidak dimengertinya. Penyair-penyair lain yang tidak mengakui keberadaan Tuhan ketika dihadapkan pada ruang sunyi yang sama akan melihatnya sebagai raungan jiwa belaka. Seperti Pablo Neruda misalnya saat berteriak dalam puisi Oh Bumi, Tunggulah Kami, "Kembalikan aku oh, matahari / Pada nasibku yang liar." Tetapi sebagai manusia beragama, pertanyaan Sapardi mengenai sesuatu yang tidak dimengertinya itu adalah merupakan pengenalan terhadap adanya kekuatan maha yang seolah berhadapan dengannya, yang seolah mengiringinya di mana pun dia berada.

Puisi ini merupakan pengakuan yang jujur selaku manusia, bahwa ada kekuatan lain yang tak kasat mata, yang memberikan kode-kode batin kepada manusia mengenai eksistensinya. Apa pun bisa berada di balik sesuatu yang misterius itu, dan bukan tidak mungkin sebagai manusia beragama, sesuatu yang misterius itu adalah wujud dari keberadaan Tuhan. Dalam ruang sunyi itu Tuhan seolah menampakkan wujudnya melalui kegelisahan manusia saat meraba dirinya sendiri, sebagaimana di akhir baris puisi, Sapardi dengan gemetar berkata dalam batinnya “: siapa aku,” itu karena ia kebingungan mengenali eksistensi kekuatan maha yang terbaca dari kegelisahannya itu.

Pada puisi lain ada romantisme yang dibentuk dengan begitu bagus. Sebuah pengungkapan perasaan yang sesuai dengan cita rasa puisi. Yakni memanjakan pembaca dari diksi yang digelarnya.


AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


Dalam puisi yang melegenda ini terlihat jelas puisi dengan pilihan kata yang terlihat tidak rumit tersebut akan membuat pembaca terhanyut pada gambaran dari sebuah keinginan untuk mencintai seseorang dengan sederhana. Tetapi kesederhanan yang tergambar di sana mengandung arti yang jauh lebih dalam. Aku lirik sebenarnya sedang menunjukkan ketidaksederhanaan dari perasaan cintanya kepada kamu lirik.

Pada bait pertama aku lirik mengumpamakan pengungkapan perasaan cinta itu dengan peristiwa biasa yaitu api yang sedang membakar kayu. Dalam pandangan aku lirik, hubungan kayu dan api itu adalah hubungan yang saling terkait. Api harus membakar kayu agar dia terwujud, tetapi dari gambaran tersebut terlihat pemandangan getir dimana satu pihak harus mengorbankan dirinya. Aku lirik menyamakan ketulusannya sebagaimana kayu yang rela menjadi abu akibat terbakar oleh api. Anehnya pada gambaran singkat antara kayu dan api  itu penyair mengatakan “dengan kata yang tidak sempat diucapkan...” ini memberikan kesimpulan ketulusan yang dimiliki oleh aku lirik itu bahkan masih dipendamnya layaknya kayu yang tak sempat mengucapkan kata kepada api yang menjadikannya abu. Atau bisa juga diartikan itu merupakan sebuah gambaran dari ketulusan cinta yang mungkin tak perlu disampaikan dengan kata-kata tapi terlihat nyata dari pengorbanannya.

Pada bait kedua, aku lirik lebih jauh memberikan gambaran mengenai besarnya perasaan yang dimilikinya kepada kamu lirik di sana. Ketulusan yang dimilikinya adalah sebentuk pengabdian. Pada bait kedua ini aku lirik memberikan pengandaian tentang perasaan cinta yang begitu besar tapi tidak sempat menyampaikan isyarat mengenai perasaan itu kepada kekasihnya. Seumpama isyarat awan kepada hujan yang justru akan membuatnya tiada. Bisa juga diartikan sebuah kesungguhan untuk mencintai dengan tulus tanpa perduli hasil yang akan diterimanya, bahkan yang terburuk sekalipun seperti kehilangan kehidupannya sendiri. Kedua gambaran itu sebenarnya memiliki keterkaitan yaitu pada nilai pengorbanannya. Bait ke dua itu semacam repetisi untuk menguatkan pengakuan aku lirik bahwa cinta sederhana yang dimilikinya itu sebenarnya adalah cinta yang luar biasa.

Dalam puisi lain Sapardi sedang bermain teka-teki. Seperti pada puisi Sapardi pada umumnya, diperlukan jalan memutar yang jauh untuk menemukan petunjuk dari maksud puisinya. Jalan lingkar itu menjadi sulit disaat pembaca terjebak kesederhanaan bahasa puisinya. Dalam sekali baca mungkin tidak tersirat apa pun di dalamnya, tetapi ketika dicermati akan terdapat kejelasan dari gambaran bahasa yang sederhana itu. Bahwasanya ada hal yang luar biasa dalam kesederhanaan tersebut.


BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI

waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan


Puisi ini memiliki jangkauan yang sangat luas. Kode-kode bahasa yang ditunjukkan Sapardi dalam puisinya ini bersifat umum. Tetapi ada beberapa hal yang tampaknya sengaja diperlihatkan sebagai petunjuk. Aku lirik di sana sedang melakukan perjalanan ke barat di waktu pagi hari. Barat itu bisa mewakili Barat sebagai sebutan dunia yang maju yaitu dunia Barat seperti yang dikenal. Meskipun tidak tertutup kemungkinan, barat yang ditunjukkan itu hanya sebagai hubungan logis terciptanya bayang-bayang panjang sementara matahari ada di belakangnya. Artinya pemilihan arah dan momen itu tidak berarti lebih dari sekedar gambaran peristiwa dan penyair menghendaki pemaknaan lain di balik gambaran tersebut. Misalnya pergi ke barat itu seperti gambaran Tong Sam Cong yang mengambil kitab suci kebijaksanaan ke barat. Dengan kata lain, barat di sana hanya sekedar menjadi salah satu arah mata angin. Tetapi misalnya di balik si aku lirik sedang berjalan ke timur di waktu sore hari hasilnya akan sama (bayangan tetap akan ada di depan aku lirik, sementara matahari ada di belakangnya) dan itu tidak membenarkan dugaan tadi.

Maka dengan sendirinya penyair memang sengaja menunjukkan jejak-jejak dari arah pemaknaan yang dikehendakinya. Barat sebagai arah yang dituju itu adalah lambang dari negara Barat yang lebih maju. Aku lirik sedang berkiblat kepada Barat sehingga muncullah keinginan yang diumpamakan bayang-bayang yang memanjang itu. Sebuah cita-cita yang didorong oleh semangat untuk kehidupan yang lebih baik. Dengan membentuk pemaknaan seperti demikian akan terdapat kesimpulan, siapa sebenarnya yang dikehendaki oleh Sapardi dengan aku lirik itu? Berjalan ke barat di waktu pagi hari adalah gambaran mengenai Bangsa kita ini, dimana untuk ukuran negara, Indonesia belum lama meraih kemerdekaannya. Waktu pagi hari sengaja dipilih untuk menunjukkan hal tersebut. Di usia muda itu negara yang sedang berkiblat ke Barat memerlukan keharmonisan agar cita-cita bersamanya bisa dicapai. Perselisihan yang tidak perlu harus dihilangkan. Tidak penting siapa yang telah menciptakan bayang-bayang, dengan maksud siapa yang menumbuhkan cita-cita. Tidak penting siapa yang berjalan di depan, dengan arti siapa yang memimpin Bangsa ini. Yang paling perlu diciptakan adalah keselarasan dalam melangkah dengan pandangan yang bening dan tetap wasapada guna meraih impian bersama.

Begitulah ironi-ironi yang sering kali dimainkan oleh Sapardi. Banyak puisinya yang bahkan sangat sulit ditembus, karena begitu dalam makna yang dikehendakinya namun hal itu justru tersimpan dalam gaya bahasa yang sederhana dan nyaris tak terduga arahnya.


KAMI BERTIGA

dalam kamar ini kami bertiga:
aku, pisau dan kata --
kalian tahu, pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya
tak peduli darahku atau darah kata


Dalam puisi yang tidak cukup panjang ini ada yang menggiring penglihatan mengenai tujuan perumpamaan dengan benda-benda tersebut, yaitu keberadaan Aku, Pisau, dan Kata. Ketiganya disejajarkan dalam satu barisan. Aku, Pisau, dan Kata diserupakan mahluk hidup yang memiliki kehendak. Dalam dunia nyata ketiganya jelas tidak memiliki kaitan kusus. Tetapi ketika ditarik ke dalam puisi ini, ketiganya memiliki kaitan yang erat. Satu dengan lainnya saling memberikan fungsi untuk melengkapi makna yang tersimpan di dalamnya.

Ada sisi sunyi di sana ketika aku lirik yang sebenarnya hanya sendirian saja seolah mendapati kawan dalam kesendiriannya. Pisau boleh jadi memang ada di sana, atau bisa juga tidak. Atau awalnya mungkin ada, tetapi kemudian pisau itu berubah fungsi hanya menjadi pisau maknawi ketika kita mengaitkannya dengan “kata” seperti dalam baris akhir, “tak perduli darahku atau darah kata.” Pisau itu hanya diambil sifatnya sebagai sesuatu yang tajam dan mampu memutuskan benda lain seperti tali misalnya. Perasaan sunyi itulah yang telah menyeret aku lirik untuk menghidupkan benda-benda di sekitarnya (jika benda-benda itu benar-benar ada di sana). Bahkan bisa jadi pisau itu tidak benar-benar ada di sana. Pisau hanya gambaran dari keinginan untuk menciptakan sesuatu dalam bentuk kata dan mengambilnya dari imajinasi penyair. Pisau itu adalah pisau maknawi tadi yang sengaja diangkat ke dalam puisi untuk mewakili sesuatu yang tajam dan mampu menggoreskan luka atau untuk memutuskan sesuatu.

Aku lirik di tengah kesunyiannya sedang bergelut dengan dirinya sendiri. Ia hendak menciptakan "Kata," tapi kata yang dimaksudnya tidak kunjung keluar. Dengan perumpamaan pisau tadi muncullah hubungan trinitas, yang wujud sebenarnya hanya aku, kata terlahir dari aku, pisau diambil dari imajinasi aku. Dan ketiganya menuju satu arah yang sama yaitu lahirnya "Kata" tadi. Jika demikian, lalu siapakah yang bersembunyi di balik aku lirik itu? Begitu diketahui inti dari puisi ini adalah berkaitan dengan lahirnya "Kata," maka besar kemungkinan aku lirik di sana adalah gambaran dari jiwa seorang penyair atau siapa pun yang terbiasa menyusun kata demi mendapatkan nilai estetis.

Sebuah keinginan yang besar dimiliki Penyair untuk melahirkan kata sehingga digambarkan, “pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya.” Ini hanya simbolisasi saja, bukan berarti aku lirik sedang frustasi dan hendak melukai dirinya dengan pisau tadi jika tidak berhasil melahirkan kata. Tetapi itu adalah sebuah simbol dimana seorang penyair harus berjuang sedemikian keras demi terlahirnya karya yang bermakna, dia harus menjiwai setiap kata yang terlahir darinya, kata yang diperamnya sedemikian rupa setelah berlelah-lelah bergelut dengan bahasa harus masak dan mengenyangkan. Sedemikian keras keinginan aku lirik itu sehingga dia menempuh jalur perenungan mendalam seperti yang digambarkannya, “tak peduli darahku atau darah kata.” Ia juga mengandung gambaran, seorang penyair sejati itu yang benar-benar total dalam kepenyairannya. Sebuah laku bersastra yang disertai esensi di dalamnya. Bukan sekedar pamer kawanan atau unjuk kebolehan di atas panggung. Yang terpenting bagi seorang penyair adalah bagaimana hidup dan menghidupkan "Kata" yang terlahir dari kebeningan jiwanya.


MATA PISAU

mata pisau itu tak berkejap menatapmu
kau yang baru saja mengasahnya
berfikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu


Peristiwa yang seharusnya biasa itu telah diolah sedemikian rupa sehingga menimbulkan sisi ngeri. Pisau yang  tergeletak di atas meja makan seolah memiliki jalan pikiran. Di sini penyair telah bergerak ke sisi lain, ke arah benda-benda selain dirinya. Benda-benda-benda itu menjadi bergerak dan memiliki kehendak. Jika ditarik dari logika berpikir umum itu jelas tidak mungkin. Tetapi dalam dunia puisi, penyair bisa bergerak atau menjadikan apa pun bergerak dalam puisinya. Di ruang imajinasinya sana benda-benda itu sengaja digerakkan untuk sebuah simbol dari maksud penyair. Dia bisa mewakili orang pertama, kedua, atau orang ketiga baik dalam bentuk tunggal atau jamak. Seperti dalam puisi ini Penyair seolah hanya menjadi narator saja dan menceritakan prihal sosok "Kau" dan "Pisau." Padahal tidak dipungkiri Penyair itu sendirilah yang berdiri di balik semua benda tersebut. Bahkan tidak menutup kemungkinan "kau" yang dikehendakinya itu terayun kembali kepada diri Penyair bukan sebagai pencitraan orang kedua tunggal.

Bisa juga dipandang, kau itu memang sebagai orang kedua tunggal yang sengaja ditunjuk sebagai wakil dari pembaca. Dalam hal ini Penyair mengajak pembaca untuk melihat sesuatu dari sudut pandangnya. Seperti dalam puisi Kami Bertiga tadi, pisau di sini sebagai simbol berdasarkan sifat yang dimiliknya. Dalam perpindahan posisi ini pembaca diantar ke suatu permisalan mengenai pemahaman kita terhadap hukum kausal. Pisau sebagai simbol dari sesuatu yang sebenarnya ada dalam kendali kita dan ini bisa berarti apa saja. “kau yang baru saja mengasahnya.” Boleh jadi pisau ini wakil dari para buruh yang digerakkan oleh para borjuis untuk menghasilkan uang. Bisa juga pisau ini mewakili serdadu atau rakyat yang didoktrin untuk membunuh dan mengingkari rasa bersalah akibat pembunuhan yang dilakukannya. Bahkan bisa juga pisau ini adalah wakil dari anak-anak kita yang telah kita didik sedemikian rupa sebagaimana kehendak kita.

Pisau di sini memang bisa berarti apa pun dan siapa pun. Tetapi yang jelas dalam perpindahan posisi ini pembaca dapat melihat dirinya menjadi pihak lain. Adakalanya anomali-anomali itu terjadi dan merubah keadaan menjadi berbeda dari keinginan kita. Buruh bisa memberontak pada majikannya, serdadu atau rakyat bisa membangkang pada pimpinannya, anak-anak bisa membantah orang tuanya. Maka menjadi sesuatu yang memiliki wewenang untuk memimpin terhadap sesuatu yang lain itu tidak serta merta bisa berbuat sewenang-wenang. Betapa ngerinya pisau yang tergeletak di meja makan itu tiba-tiba saja berbalik arah dan menggorok leher tuannya. Dan itu tentunya bukan tanpa alasan. Bisa jadi sang tuan lalai menyimpannya pada tempat yang seharusnya sehingga terbawa ke tempat tidur dan menggorok lehernya sendiri. Dengan analogi ini, terang saja buruh memberontak jika majikannya tindak memberikan haknya, serdadu atau rakyat membangkang dan melawan pimpinannya jika hak mereka tidak diberikan, anak-nak bisa juga membantah dan memusuhi orang tuanya saat mereka mengalami penindasan yang tidak semestinya. Hal ini digambarkan Penyair, “ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu.”


TENTANG MATAHARI

Matahari yang di atas kepalamu itu
adalah balonan gas yang terlepas dari tanganmu
waktu kau kecil, adalah bola lampu
yang di atas meja ketika kau menjawab surat-surat
yang teratur kau terima dari sebuah Alamat,
adalah jam weker yang berdering
sedang kau bersetubuh, adalah gambar bulan
yang dituding anak kecil itu sambil berkata:
"Ini matahari! Ini matahari!"
Matahari itu? Ia memang di atas sana
supaya selamanya kau menghela
bayang-bayanganmu itu.


Ini bukan mengenai peristiwa biasa yaitu matahari hanya sebagai matahari biasa. Artinya matahari yang disebut berulang kali dengan beberapa penjelasan berbeda itu mewakili sesuatu yang bukan sebagai matahari. Tidak jauh beda dengan Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari, matahari di sana menjadi simbol dari eksistensi sesuatu yang tidak benar-benar bisa dipahami keberadaannya. Sekali lagi penyair mendaulat kau lirik sebagai wakil dari pembaca. Artinya pembaca diajak melihat dari posisi tertentu, sementara penyair hanya menjadi narator saja.


“Matahari yang di atas kepalamu itu
adalah balonan gas yang terlepas dari tanganmu waktu kau kecil,”


Diceritakan kau lirik sewaktu kecil pernah memiliki balonan gas yang terlepas ke udara. Rasa sedih digambarkan dengan peristiwa itu, yakni sesuatu yang disimbolkan matahari telah mewakili rasa sedih tersebut. Tapi di waktu lain matahari itu dikesankan sebagai sesuatu yang sangat berguna seperti ketika membaca surat. Juga dikesakan sebagai sesuatu yang menyebalkan dimana saat-saat indah penuh romantisme dirusak oleh dering weker. Masih ditambah lagi matahari itu adalah sesuatu yang salah diduga layaknya anak kecil yang tidak benar-benar tahu perbedaan matahari dan bulan. Pertanyaannya adalah, apakah yang sebenarnya bersembunyi di balik simbol matahari itu?

Ia bisa saja kembali ke bentuk aslinya yaitu sebagai matahari sebagaimana ia adalah salah satu benda langit, bisa juga tidak jika dikehendaki arah pemaknaan lain. Kita anggap saja dulu matahari yang dimaksud dalam puisi ini memang matahari yang sebenarnya. Betapa kita sebagai manusia sering tidak sadar akan manfaat yang besar telah diberikan oleh matahari. Tapi ketika siang hari yang terik sering juga kita mengeluhkannya, menyebutnya sebagai sesuatu yang menyebalkan, menganggap Tuhan telah salah menciptakan bola gas itu sehingga merugikan kita pada saat tertentu. Rasa syukur menjadi hilang begitu hakikat dari anugrah keberadaan matahari itu tertutup dari pandangan batin.

Tetapi ketika kita berpikir seperti itu, puisi ini hanya akan berhenti sampai di situ saja. Banyak pertanyaan lain yang tidak terjawab, seperti yang tersimpan dalam baris akhir puisi “supaya selamanya kau menghela bayang-bayanganmu itu.” Apa maksud bayang-bayanganmu di sana? Dengan demikian matahari yang dikehendaki dalam puisi ini meruang lebih luas dari pengertian pertama tadi. Ia merupakan simbol dari keberadaan zat yang sulit di defenisikan. Yang terkadang mengandung kesedihan karena kita tak dapat menggapainya seperti gambaran balonan gas yang terlepas dari tangan seorang kanak, yang terkadang membuat kita menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat penting sebagaimana kesan dari penyerupaan  terhadap lampu itu, yang terkadang menyebalkan karena kita harus memenuhi tuntutannya di saat kita sedang sibuk dengan pasangan semisal jam weker, yang terkadang salah kita tunjuk karena kemisteriusannya sebagaimana anak kecil yang salah mengenali sesuatu.

Matahari di sana bisa jadi adalah perwakilan dari sesuatu yang memiliki kekuasaan. Dia memang di atas sana, di atas segala sesuatu dengan kekuasaannya. Dia mewakili sesuatu yang menjadi inti dari pergerakan sebagaimana maksud Aristoteles dengan Theosnya itu. Tapi dia bukanlah seperti yang banyak diduga oleh orang dengan berbagai gambaran tadi.


“Matahari itu? Ia memang di atas sana
supaya selamanya kau menghela
bayang-bayanganmu itu.”


Jika diayunkan lebih jauh, mungkinkah matahari itu adalah perwakilan dari Tuhan? Jika iya, lalu apa makna: "supaya selamanya kau menghela bayang-bayanganmu?" Sampai di sini saya sendiri terpaku cukup lama dan terkejut manakala sadar ternyata saya telah terjebak ke dalam pikiran saya sendiri. Persis seperti satire yang terkandung dalam kalimat, supaya selamanya kau menghela bayang-bayanganmu sendiri. Bayang-bayang di sini merupakan pencitraan pikiran dan cita-cita manusia. Dengan pikiran itulah kita memahami banyak hal demi kebaikan kita hidup di dunia. Pikiran-pikiran itu tercipta karena keadaan, seperti halnya bayangan yang ada karena dua faktor, benda yang memancarkan sinar dan benda yang menghalangi sinar itu menembus dirinya. Benda itu tidak bisa dipisahkan dari bayangannya meskipun dia juga tidak bisa menciptakan bayangan tadi tanpa adanya benda lain yang memancarkan sinar. Tetapi karena pikiran kita itu juga yang terkadang menjebak kita pada pemahaman yang keliru mengenai hakikat sesuatu. Hal ini ditegaskan dengan penggunaan tanda tanya pada kalimat "Matahari itu?" Di baris ke sepuluh sebagai kesimpulan dari sering salahnya kita memahami sesuatu.

Di sini matahari dijadikan lambang dari sesuatu yang secara hakiki menciptakan bayangan tapi dia di atas sana sedangkan bayangan itu melekat pada kita. Dengan kata lain, segala pikiran dan cita-cita kita sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita. Matahari tetaplah matahari, sedikitpun kita tidak akan bisa mengaturnya, ini maksud dari “Ia memang di atas sana.” Dan bayangan itu terkait erat dengan kita maka bayangan itulah yang bisa kita hela. Artinya Tuhan yang sering kita pahami dengan keliru itu tetaplah Tuhan sebagaimana Dia, sedangkan pikiran dan cita-cita yang telah diberikan Tuhan kepada kita merupakan anugrah sekaligus kutukan agar kita bisa menggunakannya dengan bijak.



 **** 




Kajitow
Esais

Sabtu, 24 Desember 2011

Pantun Tanah Banjar

Oleh : Arsyad Indradi

Masyarakat Banjar tempo dulu (bahari) sangat gemar berpantun sampai sekarang ini. Yang lebih menggembirakan bukan saja orang – orang tua tetapi juga kaula muda Tanah Banjar masih tetap menggemari pantun bahkan akan tetap melestarikannya.
Struktur pantun Banjar seperti halnya pantun Indonesia lama atau pantun Melayu yang bersetruktur : baris pertama dan kedua adalah sampiran, baris ketiga dan keempat adalah isi. Jumlah suku katanya baris pertama sama dengan baris ketiga dan baris kedua sama dengan baris keempat. Atau jika terjadi selisih suku katanya tidak lebih dari dua suku kata. Atau dari baris pertama, kedua, ketiga dan keempat sama jumlah suku katanya. Rima persajakan pada pantun Banjar ada yang berima (a),(b),(a),(b). dan ada pula yang berima (a),(a),(a),(a)

Terkadang pantun Banjar ada yang unik, mirip dengan syair yakni baris – barisnya hampir tidak dapat dibedakan sampiran dan isi dan rima sajaknya (a),(a),(a),(a). Yang lebih unik lagi apabila pantun ini merupakan lirik dari lagu atau nyanyian yakni terjadi pengulangan baris sehingga menimbulkan bunyi dan irama yang harmonis.

Pantun Banjar ada lima ragam :

I. Ragam Pantun Banjar Biasa
Seperti Pantun Agama, Pantun Adat Istiadat, Pantun Badatang, Baturai Pantun,
Panglipur, Papujian, Balolocoan, Marista, Pantun Insyaf, Pantun Bacucupatian,
Pantun Urang Anum.
II. Ragam Pantun Banjar Pantun Tarasul
III. Ragam Pantun Banjar Sebagai Lirik Lagu atau Nyanyian
IV. Ragam Pantun Banjar Sebagai Pengiring Tarian
V. Ragam Pantun Wayahini


I. Ragam – Ragam Pantun Banjar Biasa

1. Pantun Agama
Pantun agama ini merupakan pantun yang berisi tentang keagamaan (relegiusitas), tuntunan bagaimana menjalankan syariat islam.

Luruk banyu ka dalam bulanai
Gasan mangurung si iwak patin
Islam nitu agama nang damai
Damai di lahir damai di batin

Bawalah paikat ka Birayang
Imbah nitu ka Palaihari
Wajib salat atawa sambahyang
Lima kali dalam sahari

Mun isuk mudik ka Kandangan
Batarus haja ka Mantimin
Kitap suci kitap Al Quran
Bacaan mulia urang muslimin

Daun pudak atawa pandan
Bawalah ka pasar ari Arba
Amun datang bulan Ramadan
Jangan tatinggal wajip puasa

Ada nasi ada jua bubur
Pilih makan handak nang mana
Imbah mati masuk ka kubur
Harta nang banyak kada dibawa

Kayu panjang di halaman
Lalu ditatak lawan parang
Parilaku urang baiman
Katuju manulungi urang

Tatak sabilah kayu birik
Bilahannya ditumbang talu
Wayah bamula gawi nang baik
Baca Bismillah badahulu

Anak saluang si anak sapat
Timbul tinggalam banyalam-nyalam
Amun kita hanyar badapat
Badahulu kita maucap salam

Ulin panjang gasan galagar
Ulin nang nipis diulah sirap
Maulah masjid manggawi langgar
Gawi sabumi mangumpul wakap

Banang bagalas dililit-lilit
Gasan talinya kalayangan
Wayah mandangar bang di masjid
Nitu wayahnya sambahyangan

Digaragaji kayu pang lanan
Papan nang kandal diulah tangga
Kada tamasuk urang baiman
Amun bahual lawan tatangga

Parak haja kampung Barikin
Wadah baulah haduk sasapu
Urang cacat pakir miskin
Bubuhannya nitu parlu dibantu

2. Pantun Adat Istiadat
Pantun Adat Istiadat ini adalah ragam pantun yang membimbing atau berupa nasihat agar bertingkahlaku, sopan santun, berahlak yang baik terhadap orang tua, pada seseorang baik terhadap yang muda mau pun yang tua, juga dalam tatanan bermasyarakat.

Puhun gambir di dalam hutan
Andaknya di padang sabat
Amun bapandir lawan kuitan
Baucap nitu bagamat-gamat

Mambawa papan ka muhara
Papan handak diulah pasak
Parak hadapan urang tuha
Mun bajalan babungkuk awak

Banyak raragi lawan rarampah
Ada katumbar lawan jintan
Handak tulak ka luar rumah
Basujut cium tangan kuitan

Bungkah janar diulah japa
Dipirik-pirik di dalam cubik
Dikiau mama dikiau bapa
Lakasi manyahut baik-baik

Maharu baras dalam kuantan
Kuantan miris imbah disudir
Amun disuruh ulih kuitan
Lakas digawi jangan pangulir

Hundayang nyiur daunnya karing
Bilah lidinya dijarat-jarat
Kada baik mbaucap nyaring
Kaya urang kada baadat

Buah asam banyak guguran
Ada nang gugur ka sumur karing
Tuntung makan kakanyangan
Jangan mariga banyaring-nyaring

Jalan baimbai sambil batuntun
Lapah bajalan naik ka bica
Kada bulih manjajak watun
Kaina disariki ulih mintuha

Tukang titik si tukang sudir
Manyudir rinjing baluman tuntung
Rahatan makan banyak bapandir
Bisa nasi tamasuk kahidung

Buah rambai gugur ka tanah
Pucuk daunnya umpan bakantan
Basisiut malam dalam rumah
Nitu pamali mangiaw sitan

Tumat hantakan ka Banua Kupang
Singgah dahulu di Batali
Jangan makan piring batumpang
Ujar nini nitu pamali

Karas-karasnya wasi waja
Diulah lading diulah parang
Amunlah ari wayah sanja
Janganlah duduk di muha lawang

Tulak mamulut baduduaan
Imbah bulik di wayah sanja
Jangan bacakut papadaan
Hual sadikit baakuran haja

Dadaian kain paikat laki
Kain didadai nang bakurawang
Kada baik bahiri dangki
Pariksa haja diri saurang

Mayang pinang babungkus upih
Gasan dipakai bamandi-mandi
Wayah bapangkat wayah sugih
Baingat-ingatlah lawan diri

Maurak tikar di palatar
Tikar purun diulah lapik
Piragah harat piragah pintar
Nitu parigal nang kada baik

Kayu halaban diulah harang
Ditatak-tatak dipanggal dua
Jangan mancari kasalahan urang
Kasahan saurang ada haja

Tulak maunjun tulak mambanjur
Dapat kalabaw dapat hundang
Amunlah bajanji bujur-bujur
Janji nitu ibarat hutang

Tatak haur diulah bumbung
Hujung ditukup tarus dijarat
Kada bagus balaku sumbung
Parigal diri nang pina harat

Kumpai jariwit daunnya panjang
Makanannya si biri-biri
Amun bagana di kampung urang
Babisa-bisa mambawa diri

Daun kaladi tumbuh di pinggir
Di subalahnya tumbuh jaruju
Amun cakah harat bapandir
Banyak urang kada katuju

Kupasakan sabigi mangga
Mangga banyak dalam barunjung
Balaku baik lawan tatangga
Amun parlu kawa manulung

Kuning-kuning kambang angsana
Ditampur angin tarabangan
Makan pakai nang sadarhana
Jangan maungkai kasugihan

Buah nyiur sabigi dua
Banyunya manis nyaman dinginum
Hurmat lawan urang tuha
Sayang pulang lawan nang anum

Riang riut punduk di hutan
Kaguguran buah timbatu
Irang irut muntung kuitan
Mamadahi anak minantu

Baras unus masak di panci
Jadi bubur banyak banyunya
Taingat hutang tahun tadi
Imbah katam mambayarinya

Putri ramaja anak babangsa
Anak babangsa tanah banyu
Rupa bungas babudi bahasa
Banyaklah urang nang katuju

3. Pantun Badatang (meminang)
Pantun Badatang ini berisikan suatu tuntutan menagih janji berupa pinangan pria kepada pihak si perempuan. Kadang kala meminang ini terjadi berbalas pantun antara pihak pria dan pihak perempuannya.

Pihak pria :
Apa habar bayan manari
Katutut bajalan malam
Apa habar datang kamari
Manuntut janji samalam

Pihak perempuan :
Katutut burung katutut
Katutut basaung buntut
Lamun ada judu manuntut
Urang tuha bisa mamatut

Pihak pria :
Rumah bahari baukir – ukir
Tangga ulinnya bapasang pasak
Sudah lawas kami pikir – pikir
Ditimbang – timbang sampai masak

Pihak perempuan :
Pucuk bubungan bapasang jamang
Jamang batatah di pambuung
Lawas dipikir lawas ditimbang
Talalu banyak hitung-mahitung

Pihak pria :
Anak tangganya pitung tantang
Sama balakang lawan hadapan
Niat hati handak badatang
Nang kaya apa sakira nyaman

Pihak perempuan :
Punduk di hutan hatap rumbiya
Gasan lantainya papan satampik
Sampian badatang kami tarima
Kadatangan sampian kada ditampik

Pihak pria :
Punduk di hilir punduk di hulu
Sama batawing papan kalipik
Amun damintu hitung dahulu
Ari nang baik bulan nang baik

Pihak perempuan :
Batang dadap batang maritam
Disitu ada sarang kalulut
Bulan di hadap imbah katam
Hidup duabelas bulan Mulut

4. Baturai Pantun
Pantun ini adalah pantun bersahut – sahutan atau berbalas pantun. Setelah istirahat melakukan panen padi atau juga kaula muda berkumpul – kumpul di rumah pengantin sebelum atau sesudah acara mempelai bersanding. Juga acara khusus baturai pantun disuatu tempat yang diselenggaran oleh panitia dalam rangka perayaan baik peringatan hari besar nasional mau pun daerah.
Baturai pantun dilakukan baik sepasang atau berkelompok.

( Biasanya dimulai oleh seseorang dari penyelenggara )
Mamuai wanyi tangkainya runtun
Wanyi dipuai di atas gunung
Mari kita baturai pantun
Mahaur-haur hati nang bingung

I
Manutuk lasung balenggang
Mapa akal handak mangalangakan
Amun buruk tapih di pinggang
Siapa jua nang manggantiakan

II
Baras limbukut jangan ditumbuk
Baik ditampi buang dadaknya
Jangan takutan batapih buruk
Kena aku manggantiakannya

I
Limbukut asalnya baras
Hagan baulah cingkaruk batu
Mun ada nang marasa maras
Siapa jua manukarakan baju

II
Baras diayak dalam sarakai
Buang banihnya ka pipiringan
Langkar banar batapih bahalai
Sarasuk wan baju sasirangan

I

Nyaman-nyamannya makan tiwadak
Kulit durian banyak durinya
Duduk basandar bahimpit awak
Sambil bapantun palipur lara

II
Tumit sandal sasain lisit
Banyak bajalan kunyuk-kunyuk
Mun basandar jangan bahimpit
Kada tahan ada nang mancucuk

I
Awak basandar batis bahunjur
Sambil mamakan sarikaya
Amun bapandir bujur – bujur
Jangan sambatan manyalaya

(A)
Mun mamatuk lakasi sisit
Iwaknya sapat saluang
Jangan pina sasirit-sirit
Mun handak batarus tarang

(B)
Sapat saluang di bawah batang
Di bawah batang takana jarat
Nang kaya apa batarus tarang
Amun muntung ngalih manyambat

(A)
Takana jarat tali paikat
Ganting di awak talulun-lulun
Mun ngalih muntung manyambat
Datang haja ka ruman ulun

(B)
Buah kastela barandak-randak
Masak sabigi dimakan musang
Babujuran marasa handak
Tapi takutan ditimpas urang

(A)
Musang pandan makan tiwadak
Habis tiwadak lalu kasturi
Amun bujur – bujur rasa handak
Biar lautan disubarangi

(B)
Makan tiwadak ambil mandainya
Mandai disanga di dalam rinjing
Hati sanang kada sakira
Mandangar ucapan si ading
(A)
Ayam putih tarbang ka jambu
Limbah ka jambu ka awan pulang
Kalu handak lawan badanku
Lakasi haja pian badatang

(B)
Pucuk waluh bacabang dua
Dilayapakan ka puhun jambu
Sudah judu kita badua
Ancap kita datang ka pangulu


5. Pantun Panglipur
Pantun ini berisikan suatu ujaran menghibur seseorang yang sedang gundah gulana atau memberikan semangat dimana seseorang sedang berduka.

Beberapa Pantun Panglipur :

Itam-itam tampuk palawi
Kamuning luruh bunganya
Itam-itam lawan panggawi
Putih kuning apa gunanya

Anak lalat guring bagantung
Anak warik manyanyiakan
Biar jahat lamun bauntung
Rupa baik kahada dimakan

Anak lalat binatang rotan
Jalutung batang kuranji
Biar jahat badan babustan
Badan bauntung manjadi haji

6. Pantun Papujian
Pantun ini berisikan pujian terhadap seseorang karena keelokan rupa atau baiknya tingkah laku.

Beberapan Pantun Papujian :

Pulau Alalak malang malintang
Wadah Diang-Galuh mancari undang
Mata galak nangkaya bintang
Saparti amas hanyar dituang

Pacak muha mambiji batang
Kuning nangkaya awan ditulis
Pinggang rengkeng sakacak malang
Dahi nangkaya bulan sahiris

Bibir nangkaya dalima marakah
Tangan lentek manjantur penah
Gulu langgak kaya minjangan bukah
Talinga nangkaya talepok di tanah

Rambut mamak mamanjang mekar
Tumit kaya bawang sasihung
Pacak bibir manggula sekar
Telor batis menelur burung

Pipi nangkaya pauh nang lunak
Jariji halus manyugi landak
Kuku panjangnya nangkaya unak
Batis nangkaya salungsung pudak

Maulah lunta banang dirajut
Banang sagulung nukar di pasar
Jantung mandibar takajut – kajut
Imbah malihat si galuh langkar

Mambasuh muha batampungas
Siram banyu jadi barasih
Malihat ading rupa nang bungas
Lamak sadang awak nang putih

Kandal kulitnya buah kaminting
Nang kaya apa mambalahnya
Hidung mancung rambut kariting
Siapa jua nang ampunnya

Anak sapat kuliang padi
Kuliang padi bawah jambatan
Anak siapa nang lalu tadi
Anak pahaji pangurihingan

Harum-harumnya kambang malati
Kambang campaka kananga dalam
Anak siapa batamu tadi
Lamah limambut mambari salam

7. Pantun Balolocoan
Pantun Balolocoan adalah pantun berisikan kelucuan yang menjadikan tertawa.

Amas mirah intan sakerat
Kapal di laut gedung di darat
Mambuka pender pina harat
Tapih bakarut baju bajarat

Amas mirah intan sakindai
Apa diulah di dalam widai
Papenderan pina marudai
Wadai di piring maka am dahai

Amas mirah intan saupih
Patah halu mananggung nangka
Kahada tasusur pinggir tapih
Amun supan ulih rangka

Puhun ampalas di balukar
Guyang tungkat ka galagar
Alah supan asal tegar
Ngalih mambuang batu ka palatar

Burung barunak si burung palung
Dibarii makan dibarii nasi
Kuciak – kuciak maminta tulung
Sakalinya salawar tajarat mati

Tulak bakayuh ka Sungai Lulut
Singgah dahulu di Sungai Paring
Awak kurus karing lagi kuyut
Tanapi makannya talu piring

Manapas tapih tarus didadai
Baal sadikit takana ambun
Baancap-ancap mambibit wadai
Sakalinya tasuap sabun

Wadai dihiris dikarat-karat
Hirisannya rincung gagatas
Amun bapandir pina harat
Kupiah buruk kada batapas

Pisang talas tundunnya talu
Imbah masak dimakan warik
Wayah bahutang lamah gulu
Imbah ditagih manyanyarik

Di kanan gunung di kiwa gunung
Di bawahnya ada padang rumbiya
Bagasak – gasak turun sungsung
Sakalinya tapuruk baju mintuha

Duduk di ambin bapapandiran
Sambil bapandiran baruku - ruku
Kambing bukah saling lajuan
Imbah awaknya disimbur banyu

Anak hayam si anak piak
Tajajak sapi di tangah jalan
Kaya apa kada takuciak
Malihat burut saling ganalan

Hantu baranak duduk di lasung
Rambut baurai pina mahabang
Papar kuciak maminta tulung
Sakalinya burut takapit lawang

Di muha lawang duduk mancungkung
Sambil mamakan wadai gayam
Badimapa kada tahahalulung
Amun bisul dipatuk hayam

Bapupur – pupur bawadak-wadak
Imbahitu mamuruk sandal
Pura – pura kada pang handak
Sakalinya makan suap tapal

Dimapa kada mamuruk sandal
Lamun handak tulak ka pasar
Dimapa kada manyuap tapal
lamunnya parut liwar lapar
Piring malawin wadah gumbili
Si kai kilum kada bagigi
Nang sudah kawin bunuh yahudi
Namun nang balum garu sangkadi

Galam bakulit jangan dipahat
Tumbuh dikulilingi kaladi
Malam ini malam jumahat
Malam apdal mambunuh yahudi

Tulak ka pasar nukar durian
Sakalinya tatukar nang buruk
Bini bulik ka wadah kuitan
Amun lontong nya pina lintuk

Rambai padi rambai palembang
Masak sabigi dimakan musang
Maksud hati handak baelang
Sakalinya ditutupi lawang

Awak gatalan takana miang.
Pacul baju andak ka mija
Nyamannya julak guring talantang.
Pina mangaruh liwar nyaringnya


8. Pantun Marista
Pantun ini berisikan gundah gulananya hati atau sesuatu yang membuat menjadi sedih dan duka. Demikian juga merasakan sudah garisan nasip.

Anak itik umanya angsa
Inya mancucur lumut di batu
Jangan ditilik urang babangsa
Tilik akan dagang piatu

Bajayau Sangiang Gantung
Katiganya Rantau Pemarasan
Hari layau badan tahantung
Tapisah rumah kalawasan

Tinggi gunung si Karamaian
Kulihat kapal jauh balabuh
Manangis badan kasunyian
Banyu mata tiada taduh

Bamamalaman manabang paring
Kada tatabang si haur gading
Bamamalaman kada taguring
Kada tadapat lawan si ading

Sapu tangan babuncu ampat
Sabuncunya dimakan api
Luka di tangan kawa dibabat
Luka di hati hancur sakali

Tabang bamban jangan di parit
Mun di parit buang kasumur
Rindang dandam jangan diharit
Lamun diharit mambawa umur

Batang sulasih badahan talu
Patah sadahan ditampur angin
Lamunlah kasih lawan badanku
Jangan dikambar lawan nang lain

Batang sulasih batangnya licin
Sarang katutut di cabangnya
Jangan dikambar lawan nang lain
Kasian diriku hidup marista

Daun mingkudu luruh kabanyu
Tasanggaknya di pancung batang
Amun sudah suratan badanku
Marista diri kuharit sorang

Daun mingkudu gugur malintang
Gugur malintang lacit ka sanja
Tapiasat di banua urang
Dalas balangsar bulik kahada

Karamunting tumbuh di padang
Burung pipikau manyarangi
Raga badan kada manyandang
Rabah rampiuh basakit hati

Dodol Kandangan manis rasanya
Apam barabai balapis – lapis
Putus gandak apalah rasanya
Basangga wihang sambil manangis

Punai tarabang disangka burak
Burak batiti di atas batang
Napa hati kada manggurak
Lamun gandak diambil urang

9. Pantun Insyap
Pantun ini berisikan seseorang yang telah menyadari kesalahannya selama ini. Ia akan memperbaiki kesalahan itu.

Tuan haji baju babalah
Balinjang-linjang di luar kuta
Mangaji mamuji Allah
Sambahyang mambuang dusa

Buah manggis si pinggir sumur
Anak undang dicucur angsa
Duduk manangis di pinggir kubur
Taganang badan banyak badusa

Bayan tarabang ka kayu basar
Hinggap di jangking nang patah
Badan manyasal di padang Mahsar
Taganang dusa kepada Allah

10. Pantun Bacucupatian
Pantun Bacucupatian adalah pantun tebak – tebakan atau bisa juga disebut pantun teka – teki.

Beberapa Pantun Bacucupatian :

Urak lampit tikarnya purun
Tikar diurak di lantai batu
Disambat naik tanapi turun
Ayu tangguh nangapa nitu

Ganal – ganalnya sarang wanyi
Sarang di dahan katapi suntul
Siapa sidin nang paling wani
Kapala urang rancak ditunjul

Baisukan tulak ka Rantau
Mambawa nasi talu bungkus
Halus – halusnya iwak kalatau
Iwak nangapa paling halus

Babarasih di tangah jalan
Buang ratik mambuang duri
Pasar nangapa sing ramian
Kapalanya nang dipukuli

Tapih hanyar tapih bakurung
Hujung atasnya bundal di dada
Sarang napa kaganaan burung
Tagalnya didiami urang


11. Pantun Urang Anum
Pantun ini berisikan cinta kasih muda mudi.

Beberapa Pantun Urang Anum :

Ungut – ungut burung pialing
Ka Kandangan jalan ka Gambah
Ungut – ungut bapiragah garing
Karindangan supan bapadah

Cuka laang di dalam cupak
Kulang kaling buah timbatu
Takurasam kurihing simpak
Handak bujang tapilih balu

Mun malala santan Birayang
Nyiur gading nyiur tundunan
Mun talihat si ading bujang
Liur baik liur baungan

Tiup api di gunung ledang
Habu-habunya kutampi jua
Niat hati salagi bujang
Balu-balunya kuhadang jua

Sudah tahu garubak lalu
Kanapa jua kada ka pinggir
Sudah tahu diriku balu
Kanapa jua kada papikir

Kambang laus batangkai dua
Luruh sakaki hanyut ka banyu
Kilir - kikiliran sibanyu mata
Sudah saminggu kada batamu

Jangan dilipat kain tilasan
Baluman karing dadai dahulu
Jangan diharit hati dandaman
Baluman sanang kada batamu

Bulan barakun bintang sahapat
Suluh di tangan kada baapi
Supan batakun handak badapat
Rindang pang dandam tabawa mimpi

Nyaman – nyamannya mamakan karak
Makan karak di pipiringan
Nyaman – nyamannya si ading parak
Kawa jua batitiringan

Ampar tikar di dalam jukung
Siapa jua marabahinya
Rambut ikal mamak di hujung
Siapa jua manampahinya

Putih kuning maambun pupur
Pupur bangkal si sari gading
Pina harum angin manampur
Kada lain awak si ading

Asam pauh dalima pauh
Rama – rama batali banang
Ading jauh kakanda jauh
Sama – sama pada mangganang

Rama – rama batali banang
Kutaliakan ka puhun kupang
Sama – sama kita mangganang
Mudahan kita batamu pulang

Tabang bamban kuricih – ricih
Imbah kuricih kubabat pulang
Hati dandam bamula ampih
Bawa badapat baumpat pulang

Apik-apik manyusun sirih
Ada tasusun nang balampirin
Apik-apik pian mamilih
Ada tapilih diriku miskin

Sudah tahu jambatan licin
Kanapang ading naik kurita
Sudah tahu diriku miskin
Kanapang ading manaruh cinta

Jaruju padang jumampai
Paikat laki dadaian kain
Lamun judu baluman sampai
Hakikat hati kada kalain

Jangan mangayuh maminggir-minggir
Kalu tarumpak batang kaladi
Jangan ikam manyindir-nyindir
Kalu sampak lading balati

Tamputuk hanyut ka pinggir
Ka pinggir di kayu tangi
Haram kutuk kada manyindir
Hadatnya di buku nyanyi

Jangan dilurut sicarmi kami
Carmi kami umpan ajaran
Jangan diturut nyanyi kami
Nyanyi kami hanyar lajaran

Sirih kuning larut salambar
Siapa jua ampun kinangan
Putih kuning di dalam gambar
Siapa jua ampun tunangan

Jaka tahu saluang mudik
Kutimbai si lunta jarang
Jaka tahu di ading mudik
Kuimbai jalan subarang

Biar laut bacabang dua
Kunyalami si jukung kuin
Biar maut mancabut nyawa
Kada kurela lamun kalain

Mapa akal handak malunta
Iwak tilan di pakajangan
Mapa akal handak malupa
Ilan-ilan nang kaganangan

Anak sapat maliang padi
Maliang padi bawah jambatan
Anak siapa nang lalu tadi
Mambuang limbai lambat-lambatan

Sungai tabuk banyunya dalam
Pacah buih di sungai asam
Rasa malibuk hati di dalam
Malihat ading batapih lasam

Manisan ditatak lima
Dibuat ka dalam lanjung
Hakunkah kujujur lima
Kuulahakan rumah banjung

Baik bunyinya burung katutut
Kada manyama turai kuriding
Lamah urat lamah lintuhut
Malihat ading nang takurihing

Maritam tampuknya manggis
Kamuning luruh bunganya
Biar hirang lamunnya manis
Putih kuning apa gunanya

Marimis di banyu dalam
Banyu dalam kacap-kapan
Manangis di tangah malam
Ading bungas jadi ingatan

Mahadang si buah manggis
Masak sabigi isi dalapan
Taungut rindu manangis
Hati nang rusak karindangan

Hari ka hari kalawan bulan
Kalawan tahun tasampuk jua
Amun diri sudah karindangan
Balisah guring apa ubatnya

Jangan diampar tikar di pasir
Kalu ampat buncunya takait
Janganlah ancap kalu manaksir
Kalu kantungnya kada baduit

Apalah habar bayan manari
Anak katutut bajalan malam
Apalah habar datang kamari
Manuntut janji samalam

Kapal api baroda dua
Siang malam kaluar kukus
Apalah janji kita badua
Janji samalam baluman putus

Ayam putih tarbang ka jambu
Limbah ka jambu ka awan pulang
Kalu handak lawan badanku
Lakasi haja pian badatang

Ujar habar banyak baiwak
Saikung-ikung kada mawadi
Ujar habar banyak nang handak
Saikung-ikung kada nang jadi

Jukung kuin si pacah rangat
Dibatak jangan di katuriman
Si ading kawin kada kutangat
Asal kaka jangan dilupaakan

Kalu pang mamilih dupa
Dupa damar kalunya lain
Kalu pang mamilih rupa
Rupa langkar hatinya lain

Kada tasalah mamilih damar
Asal damarnya kada babigi
Kada tasalah mamilih langkar
Asal langkarnya kada tabagi

Kalu sudah babanam damar
Jangan bamban tabawa-bawa
Kalu sudah dapat nang langkar
Jangan ading tasia-sia

Asah lading kilir ka batu
Sajarilah jangan dibari luka
Mun tapisah lawan badanku
Saharilah jangan dibari lupa

Manangguk di sungai raya
Kumpai juluk nang kutataki
Dangar suara bunyinya iya
Jalan liuk nang kuhantasi

Barambai tabuk Barambai
Barait lawan Rantau Badauh
Mudik baimbai labuh baimbai
Jukung nang dua jangan bajauh

Sungai tabuk banyunya dalam
Kubibit cirat kuciukakan
Rasa malibuk hati di dalam
Kubibit surat kukirimakan

Sungai madang tabingnya tinggi
Kawa maundak si kalayangan
Maminta hadang tahun ini
Pahadangan mancariakan

Lok Buntar Kuliling Benteng
Sayat malati ka Banjarmasin
Tuhuk mamutar tuhuk mamusing
Rupanya sama panjalan lain

12. Pantun Kakanakan
Pantun kakanakan ini berisikan dunia anak – anak. Seperti sedang bermain dan bersenda gurau. Pantun yang merupakan bermain-main ini sering terdapat baris – baris yang unik. Keunikan ini di luar struktur yang pada umumnya. Disini terdapat persajakan dimana tersebar pada baris – barisnya.
Pantun merupakan dendang menidurkan anak sudah lazim digunakan oleh orang-orang tua.
Pantun kakanakan ini ada yang hanya terdiri dari dua baris.

Ampar – ampar pisang
Pisangku balum masak
Masak sabigi dihurung bari-bari
Manggalepak manggalepok
Patah kayu bengkok
Bengkok dimakan api
Apinya cangcurupan
Garitak disintak dahuluakan masak

Ampar – ampar pisang
Pisangku balum masak
Masak sabigi dihurung bari-bari
Manggalepak manggalepok
Patah kayu bengkok
Tanduk sapi kulibir bawang
Nang mana batis kutung dikitip bidawang

Cuk cuk bimbi
Bimbi tuan sarunai
Tacucuk takulibi
Muhanya kaya panai
( Sagincul liu liu, Sagincul liu liu )

Ungga - ungga apung
Apung sinali-nali
Talipat daun bakung
Raja punai raja wali

Jun – jun alai
Tapatuk burung di laut
Tatajun ka balai
Katulangan tulang walut

Sumangka masak mangkal
Dijajak linak-linak
Urang tuha kada baakal
Malawani kanak-kanak

Pangantin pangintut
Palapah rumbia
Nang bini takantut
Nang laki tabahira

Kastila buruk di dahan
Di dahan badaun dua
Kakanakan bahingusan
Minta buangi wan mamanya

Guring-guring anakku guring
Guring diakan dalam ayunan
Matanya kalat disuruh guring
Untung batuah lagi baiman

Guring-guring anakku guring
Guring badundang dalam pukungan
Mata bapajam sudahlah guring
Budi bauntung parajakian

Anak lalat guring bagantung
Anak pang wanyi manyanyiakan
Batahi lalat tanda bauntung
Budi nang baik kakasih tuhan

Daun paring batang pirawas
Daunnya maampat cabang salawi
Anakku guring sihat wan waras
Panjang umurnya hidup babakti

Rawa - rawa puhun manggis
Tatawa sambil manangis

Manggala gugur ka tahi
Bagaya jadi kalahi

Sisiuragung umpannya lalat
Mata mancurung halar tajarat

Sakit parut makan tapai
Sakit burut kana japai

Dul dul cak
Kapala gundul ditampar cacak

Halang manari di pucuk manggis
Umanya lari anaknya manangis

Mandur tali kawat
gawi mundur makan kuat

galuh kaciput tarung babanam
galuh takantut babau pakasam

II. Pantun Banjar : Pantun Tarasul (Surat Tarasul)

Sesungguhnya pantun itu sangat mengasyikkan. Apalagi pada zaman dahulu di masyarakat Banjar (Kalsel) pantun sangat digemari. Biasanya orang yangdianggap berbudi bahasa yang baik adalah mereka yang pandai berpantun. Tapi di zaman sekarang ini, zaman modern atau zaman globalisasi ini pantun sudah mulai terdesak. Orang sudah tidak ingat lagi bahkan tak pernah tahu terutama generasi muda Banjar apa yang dinamakan “pantun tarasul “.
Pantun Tarasul “ adalah suatu bentuk surat berpantun yang berisikan cinta asmara. Seorang pemuda yang jatuh cinta kepada seorang pemudi, maka ia akan mengutarakan isi hatinya dalam lembaran kertas bertulis sebagai pengganti dirinya untuk disampaikan kepada sang pujaan. Kertas itu biasanya berupa kertas yang memanjang dari 1 meter sampai 2 meter. Sekeliling kertas itu dilukis dengan beraneka bunga. Setiap bunga punya makna tersendiri, seperti bunga melati artinya suci, mawar berarti cinta yang tak berhingga, cempaka artinya tanda penghormatan, kenanga artinya sama-sama cinta. Bunga “ kenanga “ ini adalah sebagai jawaban surat tarasul dari sang pemudi tanda penerimaan cintanya dan bila hatinya tak berkenan maka “ cempaka “lah jawabnya.
Pada bagian muka di atas surat tarasul ada lukisan seekor naga dan seekor ular lidi. Gambar ini merupakan simbol percintaan antara pemuda dan pemudi. Naga simbol pemuda dan ular lidi simbol pemudi.

Pantun tarasul, seperti ini :

Dengan babal si hina tani
Datang ka arapan kumala ingsani
Tunduk menghadap junjungan yang gani
Seraya bermedah di bawah ini

Wahai kumala ratna cumarna
Muhun diampuni tani yang hina
Menguraikan warta sedikit rencana
Muga disudikan penarimaan yang sempurna

Budak tuanku tani yang papa
Hina dan miskin tiada serupa
Melarat ditampuh penyakit apa
Jantung bergoyang rasanya gempa

Itu penyakit awal mulanya
Masuk di mata menjadi bala
Hati dituju olehnya pula
Di jantung bermakam ia segala

Aduhai junjunganku mustika alam
Tiada tersendang rasanya di dalam
Roh melayang siang dan malam
Hati pun padih rasa di sulam

Roh melayang segenap tempat
Seputar negeri telah di sipat
Belum juga obat didapat
Menyambuhkan penyakit yang tida bersipat

Sudah cicip daerah diputar
Semakin sakit tubuh saputar
Sungsum darah habis badan gamatar
Jatuh terlantang tidur terlantar

Dengan tulung Allah nang asa
Barlakulah kudrat iradat nang kuasa
Bamimpilah hambamu tani di itu masa
Bajumpa saurang tuha dewasa

Urang tuha itu suatu pandita
Tarang wan tarus panjanakannya nyata
Sagra manarangkan kapada beta
Tabib yang ampuh putri sang nata

Moga-moga junjunganku putri
Tiadalah murka kiranya bestari
Bersipat murah rahman diberi
Kepada hambamu tani yang ngeri

Lamunlah tida kiranya tuan
Saurang putri nyata bangsawan
Hatinya murah lagi darmawan
Manulung hambanya tani kada karuan

Bukan kapalang basar harapnya
Akan mandapat obat nang dihajatnya
Manyambuhakan sakit panggoda jantungnya
Dari pada kumala putri itu adanya
Surat tarasul ini sebelum dikirim pada alamatnya terlebih dahulu di ukup dengan dupa kemenyan serta diberi harum-haruman berupa minyak wangi. Setelah itu digulung dan diikat dengan benang emas atau benang sutra.
Biasanya penulis ini memakai nama samaran, kecuali sipengantar surat yang akan memberitahukan nama aslinya kepada yang dituju.

III. Ragam Pantun Banjar Sebagai Lirik Lagu atau Nyanyian

Pantun Banjar sebagai hasil Sastra Banjar merupakan cermin masyarakat Banjar. Lirik- lirik yang tersusun dalam Pantun banjar tampak terlihat alam budaya masyarakat Banjar. Pantun Banjar masih bertahan hidup dalam masyarakat banjar terutama lirik pantun merupakan lirik lagu – lagu banjar .
Lirik – lirik pada Pantun Banjar sebagai Lirik lagu ada yang unik. Sebab ada suku kata yang tidak sama jumlah pada baris – barisnya dan ada lirik atau barisnya yang diulang atau penggalan lirik merupakan pengulangan untuk mematut irama sehingga menimbulkan harmonisasi dalam jalinan lagu tersebut.

( Pada lagu Gandut Janiah )

Aku tahu si sarang warik
Sarang warik di pinggir hutan
Aku tahu si urang sarik
Urang sarik baparangutan

Urang subarang manggangan kacang
Kami sini manggangan bigi
Urang subarang lantih puracang
Kami sini nang kada rigi

Tiup api di Gunung ledang
Habu – habunya kutampi jua
Niat hati tumat dibujang
Balu – balunya kuhadang jua

Pananjak satu pananjak dua
Pananjak tiga kusandang jua
Baranak satu baranak dua
Baranak tiga kuhadang jua

***
Aku tahu si sarang warik
( ai aku pang tahu si sarang warik )
Sarang warik ( sarang pang warik ) di pinggir hutan
Aku tahu si urang sarik
( aku pang tahu si urang sarik )
Urang sarik ( urang pang sarik ) baparangutan

Urang subarang manggangan kacang
( Urang subarang manggangan kacang)
Kami sini ( kami pang sini ) manggangan bigi
Urang subarang lantih puracang
( Urang subarang lantih puracang )
Kami sini ( kami pang sini ) nang kada rigi

Tiup api di Gunung ledang
( tiup pang api di gunung ledang )
Habu – habunya ( habu – habunya ) kutampi jua
Niat hati tumat dibujang
( niat hati tumat dibujang )
Balu – balunya ( balu – balunya ) kuhadang jua

Pananjak satu pananjak dua
( Pananjak satu pananjak dua )
Pananjak tiga ( pananjak tiga ) kusandang jua
Baranak satu baranak dua
( Baranak satu baranak dua )
Baranak tiga ( baranak tiga ) kuhadang jua

( Pada lagu Ayun apan )

Ayun apan anak undan kutinjak apan
Ayun salendang anak undan hanyut badiri
Apan apan anak undan ujarku apan
Urang bujang anak undan baranak tiri
(Ayun apan anak undan ayun apan anak undan)

Dua kali anak undan hujan di Gambah
Mahujuani anak undan anak papuyu
Dua kali anak undan mangiau asbah
Mangawinakan anak undan anak dahulu

Bagantung ngarannya kander
Pandan balipat dalam carana
Sudah untung kadengan takder
Manuntut janji asal mulanya

Ranap – ranapan kayu di Jawa
Disangka lurus jadi jarajak
Harap – harapan Gustiku nyawa
Disangka tulus lawan kahandak

( Pada Lagu Kuriding )

Dua kali kuriding patah
Sapatahnya di higa dinding
Dua kali kutanding sudah
Kahada manyama badan si ading

Telapak tali bandungan
Talimpai tali parahu
Baduduk diagungan
Rambut ikal mancacak bahu

Sasawi badaun lima
Salambarnya bakarang
Lamun mau dijujur lima
Asal jangan duduk di lawang

( Pada Lagu Amas Mirah )

Amas pang mirah kasuma dangding
Pudak malati campaka susun
Biar pang kawa dibawa guring
Kada pang nyaman di dalam dada

Amas pang mirah kasuma dangding
Pudak malati campaka susun
Kalulah rindang lawan si ading
Jauh sahari rasa satahun

Amas pang mirah kasuma ingsun
Pudak malati kambang jaruju
Biar ditatah biar disusun
Kada manyama kasih dahulu

***
Amas pang mirah ( amas pang mirah ) kasuma dangding
Pudak malati ( pudak malati ) kambang angsana
Biar pang kawa ( biar pang kawa ) dibawa guring
Kada pang nyaman ( kada pang nyaman ) di dalam dada

Amas pang mirah ( amas pang mirah ) kasuma dangding
Pudak malati ( pudak malati ) campaka susun
Kalulah rindang ( kalulah rindang ) lawan si ading
Jauh sahari ( jauh sahari ) rasa satahun

Amas pang mirah ( amas pang mirah ) kasuma ingsun
Pudak malati ( pudak malati ) kambang jaruju
Biar ditatah ( biar ditatah ) biar disusun
Kada manyama ( kada manyama ) kasih dahulu


( Pada Lagu Di Banua Urang )

Matan ulin ka Palaihari
Liwat jalan ka Lianganggang
Nasip miskin nang ditangisi
Diri jauh di banua urang

Matan ulin ka Lianganggang
Manyusur simpang ka Bati-Bati
Diri jauh di banua urang
Garing siapa nang maubati

Matan Kandangan ka Gunung Madang
Banyak tumbuh puhun rumbiya
Apa untung diriku saurang
Kampung jauh bakula kada

Rami baradap urang bakayuh
Umbak mamacah sampung haluan
Ading jauh kakalah jauh
Diri manangis sama dandaman

Rumah batu balawang kaca
Sarai sarapun di tangah taman
Kampung jauh bakula kada
Tinggal kampung tinggal halaman


( Pada Lagu Ungga – Ungga Apung )

Kalangkala di Bati-Bati
Banyak urang mambawa rabung
Urang tuha baandi-andi
Andi-andi siungga apung

Banyak urang mambawa rabung
Nyaman banar kalu digangan
Andi-andi siungga apung
Mambisai si kakanakan

Jaruju kambang jaruju
Tamu-tamu parak parigi
Umai ading lakas maraju
Parajuan jauh rajaki


( Pada Lagu Karindangan )

Diapailah jua bambanku ini
Patahlah sabatang ditiup angin
Diapailah jua badanku ini
Lawas kada datang rasa kapingin

Handak mandi katia dingin
Mandi di hulu diulak batu
Dimapa hati rasa kapingin
Malihat ading bisa bagincu

***
Diapailah jua ( diapailah jua ) sayang
Bamban bambanku ini
Patah patahlah sabatang sayang
Ditiup ditiuplah angin
( Patah patahlah sabatang sayang
Ditiup ditiuplah angin )
Diapailah jua ( diapailah jua ) sayang
Badan badanku ini
Lamun lawas kada datang sayang
Hatilah rasa kapingin
( Lamun lawas kada datang sayang
Hatilah rasa kapingin )

Handak handaklah mandi (Handak handaklah mandi ) sayang
Katia-katia dingin
Mandi mandilah di hulu sayang
Diulak – ulaklah batu
( Mandi mandilah di hulu sayang
Diulak – ulaklah batu )
Dimapa-mapa hati (Dimapa-mapa hati ) sayang
Katia-katia kapingin
Malihat-lihatlah ading sayang
Bisa-bisalah bagincu
(Malihat-lihatlah ading sayang
Bisa-bisalah bagincu )


( Pada Lagu Dua )

Diapailah jua bambanku ini
Jakanyalah dirurut sibalah dua
Diapailah jua badan badanku ini
Jakanyalah diturut jadi manggila

Limau si limau purut labat sadahan
Ditampur ribut pagat uratnya
Hujan si hujan ribut dapat kutahan
Hatiku rindang apa obatnya

***
Diapailah jua
( diapailah jua ) sayang bamban bambanku ini
Jakanyalah dirurut sayang balahnya sibalah dua
Diapailah jua
( diapailah jua ) sayang badan badanku ini
Jakanyalah diturut sayang jadinyalah manggila

Limau si limau purut
( limau si limau purut ) sayang labatnya labat sadahan
Ditampurnyalah ribut sayang pagatlah pagat uratnya
Hujan si hujan ribut
( hujan si hujan ribut ) sayang dapatlah dapat kutahan
Hatiku rindang dandam sayang apalah apa obatnya


( Pada Lagu Mancari Si Jantung Hati )

Daun dadap gugurnya malintang
Basunting kambang malati
Bulan kadap basuluh bintang
Mancari si jantung hati

***
Aduhai sayang
Daun si daun dadap
daun dadap gugurnya malintang
( Daun si daun dadap
daun dadap gugurnya malintang )
Gugurnya malintang
basunting kambang malati
(Gugurnya malintang basunting kambang malati )
Aduhai sayang
Bulan si bulan kadap
bulan kadap basuluh bintang
(Bulan si bulan kadap
bulan kadap basuluh bintang )
Basuluhlah bintang
mancari si jantung hati
(Basuluhlah bintang mancari si jantung hati )


( Pada Lagu Burung Mantuk )

Kur sumangat si bintang timur
Katupat laki gayun-gayunan
Kur sumangat handak guring
Guring satumat igau-igauan

Apang ditumbuk apang ditampi
Baras di gudang dimakan hayam
Apang ditunggu apang dinanti
Hari nang sudah si jauh malam

Kalu uringin simadu raksa
Taguklah taguk burung di hutan
Kalu kapingin kurang pariksa
Buah nang mauk jangan dimakan

Kaitlah kait di kampung inan
Buahnya anggur tanggungan samut
Apiklah apik ading bajalan
Kalu tagugur siapang manyambut

***
Kur sumangat si bintang timur
(Kur sumangat si bintang timur )
Katupat laki gayun-gayunan
Ala si dandang burung mantuk
Kur sumangat handak guring
(Kur sumangat handak guring )
Guring satumat igau-igauan
Ala si dandang burung mantuk

Apang ditumbuk apang ditampi
(Apang ditumbuk apang ditampi )
Baras di gudang dimakan hayam
Ala si dandang burung mantuk
Apang ditunggu apang dinanti
(Apang ditunggu apang dinanti )
Hari nang sudah si jauh malam
Ala si dandang burung mantuk

Kalu uringin simadu raksa
(Kalu uringin simadu raksa )
Taguklah taguk burung di hutan
Ala si dandang burung mantuk
Kalu kapingin kurang pariksa
(Kalu kapingin kurang pariksa )
Buah nang mauk jangan dimakan
Ala si dandang burung mantuk

Kaitlah kait di kampung inan
(Kaitlah kait di kampung inan )
Buahnya anggur tanggungan samut
Ala si dandang burung mantuk
Apiklah apik ading bajalan
(Apiklah apik ading bajalan )
Kalu tagugur siapang manyambut
Ala si dandang burung mantuk


( Pada Lagu Awailu Lu Ila )

Tiwadak bajuran juran
Tabang lurus bakal panapih
Hati rusak babulan-bulan
Kada tulus kada baampih

Tabuk sumur di tanah liat
Banyunya kumandiakan
Ada umur ada wasiat
Handak jua dijuduakan

***
Tiwadak bajuran juran
(Tiwadak bajuran juran )
Tabang lurus bakal panapih
Awailu lu ila ila
Hati rusak babulan-bulan
( Hati rusak babulan-bulan )
Kada tulus kada baampih
Awailu lu ila ila

Tabuk sumur di tanah liat
(Tabuk sumur di tanah liat )
Banyunya kumandiakan
Awailu lu ila ila
Ada umur ada wasiat
( Ada umur ada wasiat )
Handak jua dijuduakan
Awailu lu ila ila


( Pada Lagu Dindang Digun )

Daun paring gugur tapulas
Kambang jagung di sala banih
Anakku guring nang lawas
Hidup bauntung mudahan sugih

Anak hayam turun sawalas
Disambar halang saikung mati
Si galuh nang pintar guring lawas
Lamunnya ganal mambalas budi

***
Dindang digun baandai
Daun pang paring gugur tapulas, daun paring
Kambang pang jagung di sala banih di sala banih
Baandai
Anakku guring nang lawas, lawas guring
Hidup bauntung mudahan sugih, mudahan sugih
Baandai

Anak hayam turun sawalas, anak hayam
Disambar halang saikung mati saikung mati
Baandai
Si galuh kacil nang pintar, lawas guring
Lamunnya ganal mambalas budi mambalas budi
Baandai


( Pada Lagu Kursumangat )

Sumangat o raden ayu agung
Agung nang maampuni
Banyak minta ampun
Banyak lanya banyak minta ampun
Uma inang uma pangamban Nyai Randil nang basaruan
Rasa ada diundang ada lanya rasa ada disaru
Saikung ikung nang kada katinggalan
Saikung ikung kada kalumpanan
Disungsungiakan lawan kukus dupa
Disungsungiakan lawan kukus manyan

( Pada Lagu Girang Girang )

Jauh lanya jauh kapalku datang
Pasang bandira satangah tihang
Jauh lanya jauh diangku datang
Parutku lapar manjadi kanyang

Ka Sumanan ka Tabuniau
Buah kuranji batang pirawas
Rasan panat gulu maningau
Taganang janji nang sudah lawas

***
Jauh jauh lanya jauh kapalku datang aduh sayang
Pasang bandira pasang bandira satangah tihang
Jauh jauh lanya jauh diangku datang aduh sayang
Parut lapar parutku lapar manjadi kanyang

Ka Sumanan Tabuniau ka Tabuniau aduh sayang
Buah kuranji buah kuranji batang pirawas
Rasanya panat rasa panat gulu maningau aduh sayang
Taganang janji taganang janji nang sudah lawas


( Pada Lagu Mandung Mas Mirah )

Ayam walik jajar di watun
Baras kuning di dalam pati
Lamun bulik sangui pantun
Supaya sanang di dalam hati

Ayam walik jajar di watun
Asal jangan pidara pati
Biarn jauh tapisah badan
Asal jangan jauh di hati

***
Ayam lanya walik sayang ayam lanya walik jajar di watun
Inandung ya mas mirah sayang
Baras kuning barasnya kuning di dalam pati
Sayang lamunnya bulik sangui pantun
Inandung ya mas mirah disayang
Supaya sanang sayang supaya sanang di dalam hati
Asal lanya jangan sayang asalnya pidara pati
Biarnya jauh tapisah badan
Inandung ya mas mirah sayang
Asalnya jangan sayang asalnya jangan jauh di hati

( Pada Lagu Dundang Sayang )

Jangan minjangan raja di alas
Bagalar patih Si Mangkubumi
Budinya tuan sudah dibalas
Nangkaya ambun gugur ka bumi

***
Jangan sayang kalu minjangan kalu minjangan raja di alas
Sidundang sayang
Sayang bagalar patih bagalar patih Si Mangkubumi
Budinya tuan sayang budinya tuan budinya tuan sudah dibalas
Sidundang sayang
Nangkaya ambun sayang
nangkaya ambun nangkaya ambun gugur ka bumi
Sidundang sayang

( Pada Lagu Tarbang Burung )


Burung barat burung simbangan
Handak disaung wali si rajawali
Injam dacing gasan timbangan
Gasan manimbang si jantung hati

***
Ai burunglah barat simbangan burung simbangan
burunglah barat simbangan
Hai burung simbangan
Hai handak disaung la wali ya si rajawali
Hai handak disaung la wali ya si rajawali
Injamlah dacing timbangan
Hai gasan timbangan urang nang dijaya
Injamlah dacing timbangan
Hai gasan timbangan
Hai gasan manimbanglah hati gusti si jantung hati
Hai gasan manimbanglah hati intan si jantung hati


( Pada Lagu Dua Marindu )

Bintang tujuh tatinggal anam
Karam di laut si majapahit
Garing tubuh maarit dandam
Barang kumakan barasa pahit

Baju cita salawarnya cita
Baju cita nang mumut
Mudahan nang bercinta
Malam siang tagarumut

Jikalah acih ka Surabaya
Singgah bagambar ka Banjarmasin
Kasihlah kasih di badan saya
Jangan dikambar lawan nang lain

***
Bintang tujuh tatinggal anam dingai nang bintang tujuh
Bintang tujuh tatinggal anam karam di laut nang hirang manis
Pahit si majapahit
Garing tubuh maarit dandamku nang garing tubuh
Garing tubuh maarit dandam barang kumakan nang hirang manis
Pahit barasa pahit

Cita baju cita salawarnya cita
Cita babaju cita baik tatukar nang hirang manis
Mumut cita nang mumut
Cinta malam barcinta siang lanya barcinta
Cinta malam barcinta, cinta mudahan nang hirang manis
Rumut nang tagarumut

Acih ka Surabaya jikalau lah ka Acih
Acih ka Surabaya singgah bagambar ini badanku
Masin ka Banjarmasin
Kasih di badan saya kupinta jangan jangan dikambar
Lain lawan nang lain

( Pada Lagu Ladon )

Bukannyalah ladon sambarang lanya ladon
Ini lanya ladon narginya Banjar
Bukannyalah lakon sambarang lanya lakon
Ini lanya lalakon baru dilajar

Bukan lanya abun sambarang lanya abun
Abunlah saya di nargi Banjar
Bukanlanya ladon sambarang lanya ladon
Ialah ladon nang akan ka luar

Kambang kalapa kambang kuini
Ialah kuini tangkalupanya
Urang barapa ja kami ini
Ialah ini akan rupanya

Tabu salah sarai sarapun
Pasmin mahkota raja mulia
Hamba tasalah harapkan ampun
Karasminlah kita bagi dunia

Kambang kuini takalupanya
Bunga simpur di pinggir kolam
Ialah ini kadar rupanya
Lagi diatur masuk ka dalam

Inilah ladon rupanya ladon
Bunga malati bapatah-patah
Inilah lakon rupanya lalakon
Lagi mananti titah parintah

( Pada Lagu Sipatul Golam )

Ya Ilahi ají jul gapur
Mudahan anakku jangan takabur
Dunia ahirat mandapat sukur
Ruhui rahayu sampai ka kubur

Ya Illahi haji jul Manan
Mudahan anakku akan baiman
Diganjar tuhan saribu rahman
Ingatlah tapsir hadis dan pirman

Ya Illahi malikul kudus
Mudahan anakku jalannya bagus
Barang maksud ihlas wan tulus
Barang digawi malainkan lulus

Ya Illahi malikul Jabar
Mudahan anakku mendapat sabar
Basa halus janganlah kasar
Hadis wan pirman jangan dilanggar

Ya Illahi malikul Ambia
Mudahan anakku batambah mulia
Diganjar tuhan rajaki inya
Lapas rancana bahaya dunia


( Pada Lagu Tinggiran / Gantung Bajut )

Bunga culan si mangurikit
Mangurikit mangambang galang
Parmisi jalan tandar sadikit
Kapada mantri nang jaga lawang

Antarigit si Antarigit
Antarigit di dada dulang
Jangan manapak jangan mangibit
Barapa sabar diri sorang

Sukur belah kubaji batang
Batang dibaji marimbun daun
Sukur Allah wanyiku datang
Wanyiku datang manyala tahun

Gantung bajut si gantung bajut
Gantungakan dari ambawang
Galuh putri bangun jangan takajut
Aku datang bukai lawang

Serapang dua serapang
Serapang gugur ka ulak
Tarabang Galuh lakas tarabang
Jangan ditunjul kaya ditulak

Ancak legal si ancak legal
Wadahnya mayang lawan timbatu
Nyamannya Galuh dalam melegai
Sampat baranak si baminantu


IV. Ragam Pantun Banjar Sebagai Pengiring Tarian

Lagu Pantun yang mengiringi tarian Banjar umumnya berupa Pantun Urang Anum yaitu pantun percintaan muda-mudi atau Pantun Nasib.
Beberapa lagu pantun Banjar sebagai pengiring tarian Banjar, antara lain :

( Pada Tari Tirik kuala )

Pucuk pisang daunnya layu
Kamana jua maambunakan
Kuhadang hadang kadada lalu
Kamana jua manakunakan

Dua kali suling maniti
Manyurapat kambang durian
Dua kali guring tamimpi
Rasa badapat di paguringan

Dimapa akal manimbai lunta
Akarlah manggis bakulilingan
Dimapa akal handak malupa
Nang hirang manis bakurihingan

Dimapa akal manimbai lunta
Iwak pang tilan di pakajangan
Dimapa akal handak malupa
Imbah tailan nang kaganangan

***
Pucuk pisang ( pucuk pisang ) daunnya layu ( daunnya layu )
Kamana jua ( kamana jua ) maambunakan
(Kamana jua maambunakan )
Kuhadang hadang ( kuhadang hadang) kadada lalu (kadada lalu )
Kamana jua ( kamana jua ) manakunakan
( Kamana jua manakunakan )

Dua kali ( Dua kali ) suling maniti ( suling maniti )
Manyurapat si manyurapat kambang durian
( Simanyurapat kambang durian )
Dua kali ( Dua kali ) guring tamimpi ( guring tamimpi )
Rasa badapat ( rasa badapat ) di paguringan
(Rasa badapat di paguringan )

Dimapa akal (Dimapa akal ) manimbai lunta (manimbai lunta )
Akarlah manggis (Akarlah manggis ) bakulilingan
(Akarlah manggis bakulilingan )
Dimapa akal (Dimapa akal ) handak malupa (handak malupa )
Nang hirang manis (Nang hirang manis ) bakurihingan
( Nang hirang manis bakurihingan )

Dimapa akal ( dimapa akal ) manimbai lunta ( manimbai lunta )
Iwak pang tilan ( iwak pang tilan ) di pakajangan
( Iwak pang tilan di pakajangan )
Dimapa akal ( dimapa akal ) handak malupa ( handak malupa )
Imbah tailan ( imbah tailan ) nang kaganangan
( Imbah tailan nang kaganangan )

( Pada Tari Tirik Lalan )

Jurang mana jurang baparit
Wayahini kandangan mayang
Urang mana datang kamari
Hatiku nang sakit talabih sanang

Sungai rutas jambatan rangka
Ditarusakan ka Margasari
Habar nang habar nangapa
Manis langkar datang kamari

Nyiur tindan kulapa lah tindan
Tindan lahakan di limau manis
Kupaluk mandam kucium mandam
Kutinggalahakan janganlah manangis

Radamlah radam ka Jawa lawas
Kuampar tikar samalah ratanya
Madamlah madam nang jangan lawas
Urang di rumah apalah rasanya

***
Jurang mana kakaai jurang baparit
parit juranglah marakit wayahini kandangan mayang
( wayahini kadangan mayang )
Urang mana kakaai datang kamari
Mari hatiku nang sakit wayahini talabih sanang
( Wayahini talabih sanang )

Sungai rutas kakaai jambatan rangka
Rangka ditarusakan kakai ka Margasari
( Tarusakan kakaai ka Margasari )
Nangapa habar kakai nang manis langkar
Habar nang manis langkar kakaai datang kamari
( Nang manis langkar kakai datang kamari )

(Yulan lalalin, yulin lalalilan )
Nyiurku lah tindan ( Yulan yalalalin lalan lalilan yulan yalalin)
Kulapa tindan, kulapa lah tindan
Tindan lahakan ( Yulan yalalalin lalan lalilan yulan yalalin)
Di limau manis, limaulah di limau manis
Kupaluk lah mandam ( Yulan yalalalin lalan lalilan yulan yalalin)
Kucium mandam, cium kuciumlah mandam
Kutinggalahakan ( Yulan yalalalin lalan lalilan yulan yalalin)
Janganlah manangis, manangis janganlah manangis

Radam lah radam( Yulan yalalalin lalan lalilan yulan yalalin)
Ka Jawa lawas, lawaslah ka Jawa lawas
Kuampar lah tikar ( Yulan yalalalin lalan lalilan yulan yalalin)
Samalah ratanya, tatalah sama ratanya
Madamlah madam ( Yulan yalalalin lalan lalilan yulan yalalin)
Nang jangan lawas, lawas nang jangan lawas
Urang nang di rumah (Yulan yalalalin lalan lalilan yulan yalalin)
Apalah rasanya, rasanya apalah rasanya

( Pada Tari Japin Kuala )

Ampat lima kuriding patah
Patah sabilah di higa lawang
Ampat lima kutanding sudah
Kada manyama nang baju habang

Sudah tahu jambatan rusak
Kanapa pian naik kurita
Sudah tahu diriku rusak
Kanapa pian jatuh cinta

Tiup api di gunung ledang
Habu-habunya kutampi jua
Niat hati tumat dibujang
Balu-balunya kuhadang jua

Ayam putih tarbang ka jambu
Limbah ka jambu ka awan pulang
Kalulah handak lawan badanku
Lakasi haja pian badatang

Pucuk waluh bacabang dua
Dilayapakan ka puhun jambu
Kalulah judu kita badua
Di bulan rajap kita kawinan

***
Ampat pang lima ( Ampat pang lima ) kuriding patah
(Ampat pang lima ( Ampat pang lima ) kuriding patah )
Patah sabilah di higa lawang (Patah sabilah di higa lawang )
( lalalala lalalalala, lalalala lalalalala )
Ampat pang lima (Ampat pang lima ) kutanding sudah
Ampat pang lima (Ampat pang lima ) kutanding sudah
Kada manyama nang baju habang (Kada manyama nang baju habang
( lalalala lalalalala, lalalala lalalalala )

Sudah pang tahu (Sudah pang tahu ) jambatan rusak
( Sudah pang tahu (Sudah pang tahu ) jambatan rusak )
Kanapa pian naik kurita ( Kanapa pian naik sapida )
( lalalala lalalalala, lalalala lalalalala )
Sudah pang tahu ( Sudah pang tahu ) diriku rusak
(Sudah pang tahu ( Sudah pang tahu ) diriku rusak )
Kanapa pian nang jatuh cinta (Kanapa pian nang jatuh cinta )
( lalalala lalalalala, lalalala lalalalala )

Tiup pang api ( Tiup pang api ) di gunung ledang
(Tiup pang api ( Tiup pang api ) di gunung ledang )
Habu-habunya kutampi jua (Habu-habunya kutampi jua )
( lalalala lalalalala, lalalala lalalalala )
Niat pang hati (Niat pang hati ) tumat dibujang
(Niat pang hati (Niat pang hati ) tumat dibujang )
Balu-balunya kuhadang jua (Balu-balunya kuhadang jua )
( lalalala lalalalala, lalalala lalalalala )

Ayam pang putih ( Ayam pang putih ) tarbang ka jambu
(Ayam pang putih ( Ayam pang putih ) tarbang ka jambu )
Limbah ka jambu ka awan pulang (Limbah ka jambu ka awan pulang )
( lalalala lalalalala, lalalala lalalalala )
Kalulah handak ( Kalulah handak ) lawan badanku
(Kalulah handak ( Kalulah handak ) lawan badanku
Lakasi haja pian badatang ( Lakasi haja pian badatang )
( lalalala lalalalala, lalalala lalalalala )

Pucuk pang waluh ( Pucuk pang waluh ) bacabang dua
( Pucuk pang waluh ( Pucuk pang waluh ) bacabang dua )
Dilayapakan ka puhun jambu ( Dilayapakan ka puhun jambu )
( lalalala lalalalala, lalalala lalalalala )
Kalulah judu ( Kalulah judu ) kita badua
(Kalulah judu ( Kalulah judu ) kita badua )
Di bulan rajap kita kawinan (Di bulan rajap kita kawinan )
( lalalala lalalalala, lalalala lalalalala )


( Pada Tari Japin Sisit )

Ka Sumanap ka Tabuniau
Ada kuranji batang pirawas
Rasa panat gulu mangiau
Inya bajanji nang kada lawas

Kariwaya barupa – rupa
Saputangan jatuh ka lumpur
Siang malam nang kada lupa
Lupa satumat sawaktu tidur

Manaik pinang si kandal kulit
Kalihatan kapal balabuh
Kaganangan timpu baulit
Banyu mata nang kada taduh


( Pada Tari Ahui )

Kucing balang mamakan tapai ala sayang
Mamakan tapai sing lanjungan
Banih bagayang minta dirapai ala sayang
Minta dirapai sampai tuntungan
( Hura ahui , ahui, hura ahui ahui )

Umai umai banyaknya wadi ala sayang
Limpah ruah andayang cundai
Umai umai banyaknya banih ala sayang
Limpah ruah maisi kindai
( Hura ahui , ahui, hura ahui ahui )

Caram caram kita mawanyi ala sayang
Wanyi dalam kayunya sintuk
Caram caram kita manyanyi ala sayang
Nyanyi manahan mata mangantuk
( Hura ahui , ahui, hura ahui ahui )

Bilatuk sang patuk-patuk ala sayang
Lalu mamatuk di kayu jabuk
Teh kupi samangkuk-mangkuk ala sayang
Makanannya si wadai untuk
( Hura ahui , ahui, hura ahui ahui )

Umai umai hibaknya rambai ala sayang
Rambai padi si rambai papan
Umai umai hibaknya kindai ala sayang
Karang dukuh limu lakatan
( Hura ahui , ahui, hura ahui ahui )

Sudah tahu jambatan lantur ala sayang
Imbah tahu tajaki tihang
Sudah sampai waktunya juhur ala sayang
Imbah sambahyang bagawi pulang
( Hura ahui , ahui, hura ahui ahui )

Alhamdulillah nyiur bakukur ala sayang
Urai banih lalu dijamur
Alhamdulillah kita basukur ala sayang
Huma jadi kampung makmur
( Hura ahui , ahui, hura ahui ahui )


V. Ragam Pantun Wayahini

Di dalam masyarakat sekarang ini terutama di kaula muda Tanah Banjar, pantun mendapat perkembangan berupa Pantun Modern, bahasa Banjarnya Pantun Wayahini.
Terkadang bahasanya terpengaruh bahasa gaul.

Iwak karing ditanggung kucing
Kucing disipak tapulanting
Biar ulun duitnya karing
Tapi ulun tatap i love u darling.

Mayang pinang taandak tinggi
Naik tangga bapingkutan pagar
Kada gampang handak babini
Mun kadada duit 10 M paraya jar

Asam pauh delima pauh.
Buah kurma di dalam peti
Pian jauh ulun jua jauh
Ba SMS an ja satiap hari

Asam pauh delima pauh
Putik sirih gasan manginang
Ulun jauh pian pun jauh
Batalipunan ja kita barang

Anak ayam turun 10
Mati saikung tinggal 9
Biar haja kita sama pada jauh.
Asal kita batatalipunan

Buah kurma
Buah bawang
Imak disana
Auk mahadang

Asam pauh delima pauh.
Di kabun malambak waluh.
Mun pian jauh ulun jauh.
Jangan pian basalingkuh.

Gayung tumbus capat dìtambal.
Jangan dibuang ka dalam sungai
Amun ading bisa manyambal.
Ayu ja kubadatang sayangai

Amang Amat makan tiwadak_
Sabijinya gugur ka bawah_
Mun bujur dingai pian handak_
Kada usah supan yu ja bapadah

Nasi goreng nasi kabuli
Iwaknya iwak papuyu
Jangan kita talalu gengsi
Kaina lambat payu..

Nyiur anum banyunya nyaman
Dituangi sirup maginnya nyaman
Kada masalah balu atau parawan
Nang utama sidin baisi iman

Eloknya si bunga tanjung
Mekar di dalam taman
Eloknya budi bauntung
Pahlawan dalam kenangan

Serumpun Tanah Melayu
Pulau Pandan Angsana dua
Ikat simpul kita basatu
Nagri Banjar tanah pusaka

Tarabang burung si burung nuri
Tarabang malayang ka atas awan
Jabat tangan silatuurahmi
Kenangkan ingat lupakan jangan

Sungguh indah kambang cempaka
Dirangkai dalam jambangan
Sungguh indah budi bahasa
Tulisakan kesan untuk kenangan

Labat-labatnya sarumpun sarai
Harum kambangnya kada sakira
Adat pusaka kada dipakai
Rupa bungas apa gunanya

Ruas-ruas si batang buluh
Susunakan hagan titian
Bungas-bungas diang wan galuh
Siapa jua ampun pinangan

Tanam kambang dalam jambangan
Malarak kambangnya manawan hati
Anak babangsa contoh tauladan
Menuntut ilmu mambangun nagri

Lamun mandi banyu di sumur
Jangan lupakan bawa timbanya
Lastariakan adat laluhur
Bailmu tinggi sungguh baguna

Lambaran kartas jangan dicarik
Lipatakan balah katupat
Banyak urang pintar wan cardik
Tapi kada bamoral kada baadat

Duduk di kursi marangkai janji
Janji dirangkai tipu muslihat
Pamarintah nang lupa diri
Hidup rakyatnya jadi malarat

Banyak urang manjual rupa
Manis di bibir penderan licin
Pilihlah urang nang bijaksana
Urang nang patut jadi pamimpin

Jalannya manjadi lurus
Amun kapal ada nakhoda
Nagri manjadi bagus
Amun pamimpin bujur ahlinya

Samudra luas banyunya biru
Jauh balayar ka nagri cina
Kita bajuang bahu mambahu
Hagan mambangun nagri tarcinta


Rumah Banjar batawing papan
Lawangnya bapalang watun
Assalamulaikum kami ucapkan
Handak bamula marangkai pantun

Anak punai maurak alar
Bajalan bajingkit-jingkit
Umai-umai pangéntén Banjar
Basésérétan tangan bakait

Maracik pandan wan pudak
Lalu dihambur kapatataian
Urang malihat badaraw surak
Pangénténnya kasisipuan

Burung bilatuk duduk baréndéng
Baréndéng di kayu jati
Pangénténnya duduk basanding
Rupa bungas baik budi

Makan mangga buah kesturi
Maméncok asam balahan
Baik-baik mambawa diri
Hidup baiman mati baiman

Setanggi bunga kenanga
Harum baunya di tanah Banjar
Barupa bungas apalah artinya
Adat pusaka mun dilanggar

Baunya harum kambang melati
Kambang bogam kambang untaian
Sembah sujud sapuluh jari
Doa restu ulun harapkan

Ayu ja Ding lakasi luruh kalambu
Imbahitu bujurakan buncu-buncunya
Apik-apik Dinglah mamacul baju
( ai napa garang Ka. Badidiam ja Dingai )
Kéna supan katahuan abah wan uma

Daun si daun dadap
Gugusnya ka atas watun
Ada salah ampun maap
Sampai disini untaian pantun

Banjarbaru, 5 Desember 2011