Rabu, 06 April 2011

WADAH SASTRAWAN INDONESIA: PERLUKAN?

Oleh Acep Zamzam Noor

1

HAMPIR setahun yang lalu penyair Saeful Badar mendapat masalah serius. Puisinya yang berjudul “Malaikat” yang dimuat di rubrik budaya Pikiran Rakyat mendapat reaksi sangat keras dari sejumlah ormas Islam di Jawa Barat karena dianggap telah melecehkan agama, dalam hal ini mengolok-olok malaikat yang dianggap suci oleh umat Islam. Ormas-ormas itu bukan hanya menteror Pikiran Rakyat lewat telepon, sms, faks, email dan mengancam akan melakukan demo besar-besaran, mereka juga memberikan pernyataan resmi yang memvonis Saeful Badar secara sepihak. Mereka menganggap kesalahan penyair asal Tasikmalaya yang aktivitas sehari-harinya membimbing anak-anak madrasah dalam berkesenian itu setara dengan Salman Rushdi yang menulis Ayat-ayat Setan serta pembuat kartun tentang Nabi Muhammad SAW di Denmark. Mereka menuntut Pikiran Rakyat agar mencabut pemuatan puisi tersebut serta meminta maaf secara terbuka kepada umat Islam, selain itu mereka juga mendesak Pikiran Rakyat agar memberhentikan redaktur budaya (yang meloloskan puisi tersebut) serta mencekal tulisan-tulisan Saeful Badar di Pikiran Rakyat.



Seluruh tuntutan dan desakan mereka yang mengatasnamakan ormas-ormas Islam itu dikabulkan. Sehari setelah pemuatan puisi “Malaikat”, Pikiran Rakyat secara resmi meminta maaf di halaman pertama. Besoknya dimuat juga penyataan resmi ormas-ormas Islam yang mengutuk puisi karya Saeful Badar itu. Beberapa hari kemudian Rahim Asyik, redaktur budaya yang memuat puisi tersebut, diberhentikan dari kedudukannya sebagai redaktur budaya. Di Tasikmalaya, penyair Saeful Badar menggigil ketakutan. Bukan hanya karena tulisan-tulisannya akan dicekal Pikiran Rakyat, namun isu yang kemudian merebak di tengah masyarakat menjadi sangat liar. Saeful Badar diisukan sebagai penyebar aliran sesat, dan sekretariat Sanggar Sastra Tasik (SST), di mana Saeful Badar tinggal, juga dituduh sebagai markas aliran tersebut. Tidak semua masyarakat berkesempatan membaca puisi ”Malaikat” secara langsung, namun mereka mendapatkan isunya yang sudah bermetamorfosis sedemikian rupa dari mulut ke mulut. Selama beberapa hari sekretariat SST dijaga polisi berpakaian preman, yang baru belakangan diketahui maksudnya untuk berjaga jika ada serangan dari kelompok Islam keras. Maklum pada waktu itu Tasikmalaya sedang marak dengan aksi-aksi anarkis terhadap kelompok Ahmadiyah dan Wahidiyah, yang dianggap sesat.



Kasus puisi ”Malaikat” ini kemudian menjadi panjang dan lucu. Banyak orang membicarakannya, mulai dari tukang-tukang becak di pinggir jalan sampai para sastrawan di milis-milis. Ada yang merasa bersimfati pada nasib Saeful Badar yang hidupnya kemudian menjadi sangat tertekan, ada juga yang menyayangkan kenapa dia mau saja disuruh minta maaf dan mengaku salah sekedar untuk meredakan amarah ormas-ormas Islam itu. Ada yang menganggap puisi itu memang gawat, banyak juga yang berpendapat puisi itu biasa-biasa saja, hanya berfantasi tentang malaikat dengan imaji anak-anak dan tidak akan sampai membahayakan iman pembacanya. Ada yang berteori tentang masalah tafsir terhadap teks, ada yang menghubungkannya dengan fenomena sastra kelamin dan gerakan syahwat merdeka, ada juga yang melihat bahwa Saeful Badar hanyalah korban eforia kelompok tertentu yang sedang semangat-semangatnya meberantas kesesatan, hingga persoalan apapun akan dihubung-hubungkan dengan moral dan agama.







2

Dalam tulisan ini saya tidak bermaksud membahas puisi ”Malaikat” karya Saeful Badar yang sempat menghebohkan itu. Namun dengan terjadinya kasus tersebut banyak teman kemudian berpikir tentang pentingnya organisasi profesi bagi para sastrawan seperti yang sudah dilakukan oleh profesi-profesi lain di Indonesia. Seorang teman kemudian menyebut dokter, insinyur, pengusaha, advokat, guru, paranormal, atlit, pengamen, pengemis, preman, satpam dan lain-lain yang sudah membentuk organisasi atau wadah bagi profesi mereka. ”Lalu fungsinya untuk apa?” tanya saya. Teman tadi dengan semangat menjelaskan bahwa wadah atau organisasi ini sangat penting, misalnya untuk membela para sastrawan yang terkena masalah seperti Saeful Badar. Dengan adanya organisasi kita bisa membelanya secara formal lewat jalur hukum. Lalu dia pun mengusulkan nama Indonesian Writers United (IWU) untuk nama organisasi tersebut. Wah, mirip klub sepakbola terkenal dari Inggris dong. Lalu terpikirlahlah nama-nama lain yang mungkin lebih membumi, lebih akrab dan merakyat, misalnya Perserikatan Sastrawan Indonesia Baru (PERSIB), Perserikatan Sastrawan Setengah Baya (PERSIBAYA), Perserikatan Sastrawan Pura-pura (PERSIPURA), Perserikatan Sastrawan Jahiliyah (PERSIJA), Perserikatan Sastrawan Rakyat Jelata (PERSIRAJA), Perserikatan Sastrawan Islam (PERSIS), Perserikatan Sastrawan Ilmu Kebal (PERSIK), Perserikatan Sastrawan Indonesia Miskin (PSIM), Perserikatan Sastrawan Indonesia Sejahtera (PSIS), Perserikatan Sastrawan Muda Selalu (PSMS), Perserikatan Sastrawan Dangdut Sejati (PSDS), Perserikatan Sastrawan Takut Razia (PERSITARA), Perserikatan Sastrawan Kalah Bersaing (PERSIKAB), Perserikatan Sastrawan Enak Makan (PERSEMA) atau Perserikatan Sastrawan Asoy Deh (PSAD).



Setelah sejumlah nama organisasi yang terkesan lokal dan bahkan sangat dangdut memenuhi kepala saya, tiba-tiba sejumlah pertanyaan bermunculan. Apakah menulis karya sastra bisa disebut sebagai profesi? Lalu apakah profesi atau profesional itu? Apakah pekerjaan sastrawan termasuk amatir atau profesional? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini tidak bisa saya jawab. Saya merasa bahwa penyair berbeda sekali dengan dokter, insinyur, advokat, guru, satpam, pengusaha atau pengemis. Jika dokter, insinyur, advokat, guru, satpam, pengusaha atau pengemis hidup dari apa yang dikerjakannya, atau dengan kata lain dari jasa yang diberikannya, saya merasa bahwa sastrawan (lebih-lebih penyair) tidak selalu demikian. Jika dokter, insinyur, advokat atau guru bekerja setiap hari atau dengan jadwal yang jelas, saya merasa bahwa sastrawan (lebih-lebih penyair) tidak selalu harus menulis setiap hari atau bekerja dengan jadwal dan disiplin yang rutin. Bahkan banyak penyair yang hanya menghasilkan satu dua puisi dalam setahun. Begitu juga dengan novelis, banyak yang karyanya baru bisa diselesaikan setelah memakan waktu bertahun-tahun, termasuk riset yang tentu memerlukan biaya. Lalu selama sekian tahun bekerja keras menyelesaikan karya tersebut siapa yang menanggung kebutuhan hidupnya sehari-hari? Kalau memang profesional ia seharusnya hidup dari apa yang dikerjakannya.



Setelah diganggu dengan pertanyaan-pertanyaan di atas, saya kemudian berpikir jangan-jangan sebutan yang paling cocok bagi sastrawan Indonesia bukanlah profesional, melainkan amatir. Toh istilah amatir bukanlah sesuatu yang jelek atau rendah serta tidak ada hubungannya dengan pencapaian kwalitas karya seseorang. Sebuah karya sastra yang serius bisa saja ditulis oleh seorang yang merasa dirinya amatir. Bukankah amatir berasal dari kata amore yang berarti cinta dan ini sangat erat hubungannya dengan kesukaan, kesenangan, kecintaan serta pengorbanan pada pekerjaan yang ditekuni. Memang amatir kesannya cuma sekedar hobi, namun hobi yang ditekuni dengan serius serta penuh cinta bisa saja hasilnya jauh lebih dahsyat dari pekerjaan profesional yang dijalani karena kewajiban semata.



Tiba-tiba saja saya jadi teringat pada Umar Kayam, Budi Darma, Y.B. Mangunwijaya, Sapardi Djoko Damono, Taufiq Ismail, Saini KM, Abdul Hadi WM, Darmanto Yt, Goenawan Mohamad, Seno Gumira Ajidarma, Bakdi Soemanto dan Ahmad Tohari. Para sastrawan terkemuka kita ini sebenarnya orang-orang amatir juga. Mereka umumnya mempunyai profesi resmi di luar kesukaannya menulis karya sastra, baik sebagai dosen, guru besar, arsitek, pastor, manager perusahaan, wartawan atau redaktur yang memberinya penghasilan tetap setiap bulan. Saya juga teringat pada Gus Dur yang menekuni hobinya mengurus Nahdlatul Ulama (NU) selama belasan tahun dengan penuh cinta, meskipun tanpa menerima gaji. Sesuatu yang tentu saja sulit jika dilakukan oleh seorang profesional. (Eh, saya juga teringat pada Pak Harto yang menekuni hobinya menjadi presiden selama puluhan tahun, meskipun untuk mempertahankan hobi yang dicintainya tersebut beliau harus menghalalkan segala cara).



3

Dengan gambaran yang saya kemukakan di atas, apakah para sastrawan Indonesia yang menurut saya cenderung amatir ini membutuhkan organisasi atau wadah formal untuk berserikat? Saya sulit membayangkannya jika organisasi sastrawan tersebut berskala nasional seperti halnya organisasi-organisasi profesi lain. Apakah organisasi ini bersifat struktural dengan membuat cabang di tingkat provinsi, kabupaten/kota hingga kecamatan seperti halnya ormas atau partai politik? Apakah organisasi sastrawan ini perlu kantor untuk sekretariat, lalu kalau perlu kantor dari mana dananya? Kalau untuk profesi lain seperti guru mungkin lebih mudah dengan memotong gaji para anggota sebagai iuran bulanan, dan dengan dana tersebut roda organisasi bisa dijalankan. Lalu siapakah yang akan menjadi pengurusnya? Apakah struktur pengurusnya harus lengkap mulai dari pusat hingga anak cabang di kecamatan? Kalau mau mengadopsi organisasi amatir seperti Persatuan Tinju Amatir Indonesia (PERTINA), biasanya merekrut ketuanya dari kalangan pejabat atau politisi agar mudah dalam mendapatkan subsidi, sementara para petinju tugasnya hanya berlatih saja. Atau akan meniru organisasi profesi seperti PGRI, IDI, IKADIN dan sejenisnya yang dikelola secara mandiri? Kalau dikelola secara mandiri berarti harus memikirkan sumber dananya, apakah dengan cara memotong honor setiap tulisan para anggota yang dimuat atau royalti bagi mereka yang bukunya terbit? Lalu bagaimana teknisnya jika buku tersebut diterbitkan dan dibiayai sendiri oleh pengarangnya?



Sementara kalau kepengurusan organisasi tersebut melibatkan pejabat atau politisi seperti model PERTINA, PBSI, PSSI dan sejenisnya, apakah para sastrawan siap jika sekali waktu organisasinya tersebut dijadikan organ politik atau ”dijual” untuk kepentingan dukung-mendukung dalam Pilpres, Pilkada atau Pemilu? Dengan kata lain apakah para sastrawan siap menjadi broker politik sebagai konsekwensi berorganisasi dengan melibatkan pejabat dan politisi? Apakah para sastrawan siap menjadi jurkam jika ketuanya ternyata ingin mencalonkan diri menjadi presiden seperti yang terjadi di PBSI? Apakah para sastrawan juga siap membela jika ketuanya justru malah masuk penjara karena korupsi seperti yang berkali-kali dialami ketua PSSI misalnya?



4

Untuk pertanyaan-pertanyaan di atas tidak perlu dicari apa jawabnya dulu, namun cukup direnungkan saja dalam-dalam. Pekerjaan sastrawan, seperti yang saya singgung di atas, jelas berbeda sifat dan semangatnya dengan pekerjaan profesional yang dilakukan dokter, insinyur, advokat, guru atau pengusaha misalnya. Begitu juga dalam upaya membentuk organisasi, kepentingannya akan sangat berbeda pula. Menurut saya, ketika sastrawan berniat membentuk sebuah organisasi maka tujuan utamanya haruslah untuk kepentingan proses kreatif dan apresiasi, bukan untuk maksud lain. Tujuan utamanya haruslah untuk meningkatkan kreativitas dalam berkarya dan bagaimana menghasilkan karya-karya yang baik, lalu memikirkan bagaimana karya-karya tersebut bisa memasyarakat. Jika dua hal ini yang menjadi tujuan utama, maka rasanya kurang begitu perlu organisasi formal yang berskala nasional dibentuk. Para sastrawan rasanya sudah cukup dengan menghidupkan komunitas-komunitas yang ada di daerah sebagai laboratorium proses kreatif mereka sekaligus wadah untuk apresiasi masyarakat. Yang penting ada komunikasi yang baik antar komunitas di berbagai daerah sehingga terjalin sebuah ikatan atau jaringan yang sifatnya ”batin”. Ikatan atau jaringan yang bersifat batin atau spiritual ini jauh lebih efektif dalam membangun komunikasi, silaturahmi, kebersamaan, solidaritas dan toleransi antar sastrawan dan juga calon sastrawan di manapun berada, selain untuk kepentingan meningkatkan proses kreatif itu sendiri.



Ada beberapa jenis komunitas yang tumbuh di beberapa daerah. Pertama, komunitas yang berbentuk sanggar. Komunitas jenis ini sifatnya melatih atau membimbing para anggota dalam proses panjang menjadi sastrawan, mulai dari hal-hal teknis menulis, membuka wawasan, meningkatkan apresiasi dengan membaca dan diskusi serta pembinaan yang hubungannya dengan mental. Atau dengan kata lain komunitas jenis ini berfungsi sebagai laboratorium tempat para sastrawan atau calon sastrawan bergesekan secara langsung dalam proses kreatif mereka. Secara organisasi komunitas jenis ini sedikit longgar dan terbuka hingga bisa menarik lebih banyak anggota, mulai dari yang ingin belajar, simpatisan sampai mereka yang berkepentingan dengan sastra seperti siswa, mahasiswa, santri, guru, dosen dan masyarakat umum peminat sastra. Kedua, komunitas yang berbentuk lembaga swadaya. Komunitas jenis ini harus lebih serius organisasinya karena akan menjalin hubungan dan kerjasama dengan lembaga-lembaga lain untuk mengadakan berbagai kegiatan, baik pementasan kesenian, diskusi, seminar, pertemuan sastrawan, festival, pameran, pelatihan serta penelitian. Komunitas jenis ini biasanya tidak melakukan pembinaan secara langsung terhadap anggotanya seperti di sanggar, namun lebih banyak bergerak di bidang wacana, pemikiran, apresiasi, dokumentasi atau penelitian sastra. Ketiga, komunitas yang merupakan gabungan dari dua jenis yang saya sebut di atas, yakni yang bergaya sanggar sanggar dan lembaga swadaya. Apapun jenisnya, apapun titik berat gerakannya bagi saya komunitas yang merupakan laboratorium atau wadah informal seperti inilah yang paling cocok bagi para sastrawan atau calon sastrawan Indonesia yang cenderung amatir, ketimbang organisasi formal dan struktural yang mungkin hanya akan mengurus atau menyentuh hal-hal formal dan permukaan saja.



Jadi masih perlukah dibentuk organisasi sastrawan berskala nasional? Untuk apa? Kasus yang menimpa Saeful Badar bukan hanya mengusik para sastrawan yang tinggal di Tasikmalaya atau Jawa Barat saja, namun juga menimbulkan keprihatinan para sastrawan di manapun berada. Berbulan-bulan setelah kejadian kasusnya masih terus diperbincangkan baik di milis, di media massa atau dalam diskusi-diskusi di berbagai daerah. Ini menjadi bukti bahwa ada ikatan batin yang terjalin diam-diam di antara para sastrawan kita. Ada solidaritas dan keprihatinan bersama. Ikatan batin ini, menurut saya, tidak perlu diformalkan sebagai organisasi resmi, yang mungkin saja akan banyak menghabiskan waktu dan tenaga kita yang sebenarnya diberikan Tuhan untuk berkarya. Meskipun begitu, semuanya saya kembalikan kepada rekan-rekan. []



*) Pokok Pikiran ini disampaikan sebagai kertas kerja pada MusyawarahTemu Sastrawan Indonesia I di Jambi 8-11 Juli 2008 diposting ulang untuk diketahui umum oleh Dimas Arika Mihardja (eks. Ketua Pelaksana TSI I Jambi)

PUISI DARI "KEPAK ANGSA PUTIH" OLEH ACEP SYAHRIL

Jambi, Setengah kilo gram gula batu, satu pak kecil Teh Cap Tang dan sederet cerita budaya kusodorkan ke Mg Alloy. Kedatanganku ke rumah kerjanya selain mengantar pesanannya tadi, aku juga sengaja ingin tau produk baru penyair di kota ini. Sebab sejak 18 tahun lalu Mg Alloy sudah dipercaya oleh teman-teman penyair untuk membidani penerbitan buku-buku sastra, khususnya urusan editing, mengolah cover sekaligus penggandaannya. Lalu pagi itu dari tangannya kuterima sebuah buku kumpulan puisi dengan tampilan lux bertitel “Kepak Angsa Putih” (KAP), terbitan Bengkel Puisi Swadaya Mandiri Jambi. Antologi puisi mahasiswa Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negri Jambi (Unja), yang ditulis 28 mahasiswa semester IV angkatan 2009. Berisi 142 Puisi dengan pengantar Dr.Sudaryono,M.Pd, sebagai dosen pengampu matakuliah penulisan puisi.

Dalam pengantarnya Sudaryono atau Dimas Arika Mihardja menuliskan, bahwa “angsa putih bagi komunitas sastra merupakan simbolisasi cinta, romantika, petualangan, kesetiaan, keanggunan, keyakinan, kesucian dan lainnya. Puisi yang dihasilkan oleh penggubahnya dan dimuat dalam buku ini secara metaforis serupa dengan angsa putih yang tak letih meniti buih kehidupan penuh kerinduan dan keharuan”.

Dan aku tak tau buku yang ada di tanganku pagi itu entah terbitan keberapa dari banyak buku sastra yang dikerjakan Mg Alloy selama ini. Sementara membaca 142 puisi yang terselip di di dalamnya, aku jadi teringat puisi-puisi siswa SMP dan SMA yang hampir setiap minggunya ku kumpulkan dari tiap sekolah yang kudatangi seusai kegiatan apresiasi.

Di situ aku selalu membawa pulang berikat-ikat puisi cinta, patah hati, harapan, ayah ibu, protes sosial, ketuhanan, lingkungan dan atau yang bercerita soal alam, pagi malam dan petang. Mereka menuliskannya dalam bahasa verbal konvensional nyaris tanpa perenungan dan kering wawasan, namun jika dibaca ulang berulang kadang jadi menarik. Aku seolah sedang belajar dari kepolosan dan kejujuran mereka. Hal itu juga kurasakan dari kesetiaan Sudaryono atau Dimas Arika Mihardja yang bertahun-tahun dengan ketelatenannya mengasuh dan mendidik mahasiswanya soal kesetiaan pada hidup, keyakinan, kepekaan serta fikiran-fikiran kritis melalui media penulisan puisi ini.

Seperti dituliskan Nur Juliana pada puisinya “PILKABA (Pemilihan Kepala Rimba) atau Gambaran Pilkada Indonesia ” (KAP, Hal: 94), yang dituliskannya secara verbal itu paling tidak bisa jadi pelajaran bagi para politisi yang sok sosialis dan moralis.


“Ular dari Partai Damai Istirahat

sampaikan misi tak tidur sebelum rakyat makmur
ah ngota
nyatanya habis makan molor
tutup mata lihat kasus century
ngantuk dengar cerita TKI”


atau


“Singa dari Partai Kenyang Selalu
teriakkan janji dijamin rakyat gemuk
alah tu kan katamu
buktinya pasokan sembako ludes kau grogoti
senyum sumringah lihat tangis pengemis
terbahak saksikan busung lapar”


Sementara Putri Rahayu melalui kamera imajinasinya memotret berbagai peristiwa yang terjadi di daerahnya, Jambi. Suatu permasalahan sosial beruntun yang dia rekam dan dia tuliskan dengan satu tarikan nafas. //konstitusi dilelang/angso duo ramai/sepanjang kota baru – arizona/berlari menentang jarum jam// //sedang telanai/sibuk melahirkan cendekiawan/’tukbertemu leninisme//. (Puisi: Tayangan Kecil Negriku, KAP, Hal.108).

Rahayu dalam KAP ini boleh dibilang salah satu calon penyair berbakat, melalui kekuatan imajeri visualnya dia mampu mengekspresikan permasalahan dibalik tembok gedung yang berlatar belakang sosial politik itu secara hiperbol. Permasalahan para pemimpin dalam mengambil keputusan dan kebijakan yang hanya melahirkan kekecewaan di hati masyarakat. Atau telanaipura yang sejak lama dipersiapkan demi kelahiran para cendikia yang diharapkan mampu membagun daerah serta berpihak pada masyarakatnya. Tapi sayang mereka lupa jalan pulang, sebaliknya menjemput faham lain demi kepentingan pribadi dan kelompoknya. Begitu kata Rahayu.

Namun ada yang lebih menarik dan lebih berbakat, yakni Randa Gusmora dengan Sajak Terang Bulan Di Mendalo Yang Hilang (KAP, Hal. 121). Meski pada gayanya sedikit berbau Gunawan Mohammad, tapi sebagai langkah pencarian hal ini sangat menarik. Karena penulisan puisi tidak cukup hanya dengan mengandalkan kekuatan inspirasi, kepekaan insting atau beretorika dengan kata-kata. Tidak. Semuanya harus dimulai dengan membaca, mencari dan meraba untuk menawarkan dunia baru pada pembacanya dengan berbagai pengalaman, atau melalui proses kognitif yang mampu mengkomparasi persoalan menjadi sebuah luapan yang berisi: //emosi ini berperan di waktu pikiran buyar/sajakku hilang//. Sehingga dunia kata-kata yang dibangun berdasarkan imajeri visual serta kekuatan konstruksi jiwa penyairnya, bisa menawarkan aktifitas baru kedalaman otak pembaca, seperti: //dimana bulan sejengkal dari atas/hadir lebih awal sebelum natal//.

Selain Nur Juliana, Putri Rahayu, Randa Gusmora, ditemukan juga Syukria. Sementara Ummi Kalsum tengah belajar konsisten dengan gayanya yang sederhana. Pemula satu ini sepertinya benar-benar menawarkan sesuatu yang utuh, yang belum tampak pada rekan--rekannya yang lain. Sebuah tawaran menarik dari pemikiran jernih dan dingin seperti ungkapan-ungkapan lirisnya yang penuh dan berisi.



Ibu


Karena rindu pada bijakmu
Tiap saat kusunting do’a dari nadiku
Senyummu yang mempesona lewat bingkai usang
Membuat hulu dan muaraku menyatu di taman syurga
Tertirahlah yang damai disisi-Nya
(KAP, Hal. 148)


Ow..ow, manis dan padat sekali do’a ini. Kerinduan dan do’a untuk sosok ibu dari senyum mustajabnya di bingkai yang usang. Do’a yang setiap malam dan siang mengalir dari ruang-ruang latifa paling dalam. Ibu “tertirahlah yang damai disisi-Nya”.


Kata-kata pilihan yang sederhana dengan personifikasi yang lebih sederhana pula, begitu ke lima puisi yang disajikan Ummi Kalsum di KAP ini. Meski untuk sementara ide dan tema yang ditawarkannya masih berkisar diseputar persoalan keseharian serta persoalan batin. Tapi dari kesederhanaanya itu ada konsistensi yang berbeda dari yang lainnya.



*Acep Syahril: Tinggal di Blok Senerang Rt.06/02 Desa Sudikampiran, Kec. Sliyeg, Indramayu – Jawa Barat

Sabtu, 02 April 2011

RUMAH BATU DI PECINAN OLAK KEMANG: SATU PERCIKAN NOLTALGIA

Esai Djazlam Zainal (Melaka, Malaysia)

Terlalu banyak pengertian tentang apa itu puisi hingga karangan yang begitu pendek ditafsirkan dengan panjang melela. Dikatakan puisi pada tingkat awalnya bertugas sebagai suatu pernyataan dari kesadaran masyarakat dan kemudiannya menjadi suatu kuasa yang membantu masyarakat berfikir. Rangkap-rangkap pantun dan gurindam yang sering diulang ungkap merupakan kebiasan-kebiasaan masyarakat menuturkan filosofinya. Dan ini berlarutan dari semasa ke semasa hingga puisi menjadi satu modul pendidikan yang sangat memberangsangkan.

Apabila saya menatap puisi Dimas Arika Mihardja, Rumah Batu di Pecinan Olak Kemang, saya merasa terpanggil untuk meneliti puisi yang saya rasa sangat baik penulisannya. Penyair merakamkan perasaannya dengan lihatan visual yang mengimbau kenangan. Apatah lagi lihatan itu sebuah sejarah kebesaran bangsanya yang seakan pupus daripada ingatan watannya. Dimas menulisnya demikian;

Rumah Batu di Pecinan Olak Kemang


Suraisurai kuda merah hati membawa langkah
memasuki rumah batu di Olak Kemang; kembali genang kenangan
kesultanan raja jambi berenang di aliran batanghari
nempel di dinding rumah batu
kepingkeping rindu

engkau menyambutku di depan gapura berkepala naga
guciguci tua tionghua dab sebatang pohon tua
merekahkan buah kapas putih tyang diterbangkan angin


rumah batu ini dibangun 300 tahun lalu
putih telor menebatkan batubatu bata merah
menjadi beranda rumah batu
tempat mengabdikan jejak rindu: "silakan masuk
ke beranda hatiku, " sambut suara lelaki
kesultanan jambi terdengar serupa derit daun pintu
jerit kisah masa lalu


Sejarah adalah milik semua orang. Setiap orang mempunyai sejarahnya sendiri apatah lagi mengenai bangsanya. Ini adalah fitrah. Bagi penyair, mengimbau sejarah adalah mengenang suka duka dirinya. Apatah lagi kenangan penyair adalah terhadap sebuah kesultanan bagi bangsanya. Walaupun Dimas bukannya asal Jambi ( Dimas dilahirkan di Jogya yang juga mempunyai kesultanan Hemengku Buwono ) kenangan terhadap kesultanan Jambi dan dan tanah Jambi yang dimastautin dan diinjaki sejak 1985, adalah kenangan akrapnya.

Kekayaan interpritasi puisi ini terletak pada bahagian dalamannya. Luarannya hanya lihatan mata kasar. Imej atau gambaran aslinya terungkap secara tersurat mahupun tersirat pada setiap diksi. Lihat rangkap ini

putih telur menebatkan batubatu bata merah
menjadi beranda rumah batu

Sudah tentu penyair mempunyai pengetahuan sejarah tentang pembuatan bangunan jaman lampau. Dengan yang demikian mata rohaninya menembus di sebalik lekatnya ketul-ketul batu menjadi bangunan segagah itu.

Puisi ini dimulai dengan cerita wisata. Ia sungguh lunak dengan rangkaian kata-katanya.

suraisurai kuda merah hati membawa langkah


Lihatan awal terhadap suraisurai kuda merah ini membawa penyair masuk ke dalam dunia nostagia. Ia diikuti dengan;

memasuki rumah batu di olek kemang; kembali genang kenangan
kesultanan raja jambi berenang di aliran batanghari
nempel di dinding rumah batu
kepingkeping rindu

Memasuki baris ketiga penyair telah mula bercerita tentang memasuki batas kenangan iaitu kesultanan Jambi. Berenang di aliran batanghari menimbulkan emosi puitis dengan garapan sejarah. Dinding rumah batu dan keping-keping rindu adalah kombinasi rasa dan kelu. Kenapa rumah batu dan bukan istana ( kraton ) bagi raja. Ini adalah pandangan sifar atau intellectual imagery bagi penyairnya seorang penyair sekaligus doktor dalam kemahirannya iaitu dunia pendidikan puisi.

Rumah batu adalah pandangan hari ini.

Selain rasa, puisi ini dilarik dengan cerita. Suasana atau latar di mana bangunan bersejarah itu terletak, begitu detail dilakar oleh penyair. Lakaran ini mengakrapkan pembaca dengan latar cerita. Lihat betapa telitinya penyair melukis latar.


engkau menyambutku di depan gapura berkepala naga
guciguci tua tionghua dan sebatang pohon tua
merekahkan buah kapas putih yang diterbangkan angin

Saya katakan ini bait yang sangat indah ( bon mot ) iaitu perkataan atau diksi yang dipilih oleh penyair untuk mengungkap sesuatu isu atau pemikiran yang sesuai dan harmonis dengan teknik dan gayanya yang seimbang. Tidak menekankan kepada suatu aspek semata. Keseimbangan, kehaormonian dan ketepatan posisinya menimbulkan rasa puitis dan estatatik. Lihatlah betapa penyair melukiskan " engkau menyambutku di depan gapura berkepala naga ". Gapura berkepala naga tentu memberi gambaran total iaitu sebuah bangunan agam yang bercirikan nuasa cina. Namun dalam baris seterusnya terus dinyatakan, " guciguci tua tionghua " yang menjawap kepada citra kepala naga. Perkataan " tua " pada tionghua diulang sekali lagi dengan " sebatang pohon tua ". Ini menunjukkan betapa lamanya gapura itu berada kerana pohon disampingnya juga telah tua, cuma barangkali tidak sama usianya. Tua juga telah melambangkan sejarah. Lalu disambut dengan " merekahkan buah kapas putih " yang menekankan " putih " menunjukkan tua pada buah kapas yang merekah. Lalu " diterbangkan angin " yang membawa makna diimbau masa yang cukup panjang.

Rasa merasakan penyair tenggelam dalam imbauan yang cukup mengesankan. Mata batinnya terpancar terang lantas menerbitkan kata-kata yang mustahil diungkap oleh orang biasa. Penyair bercakap di bawah sadarnya ketika jiwanya dibisik oleh keterharuan dan keterposonaan. Kerana itulah kata-kata penyair kadangkjalanya ditafsir sebagai kata-kata pendita, manusia yang menyulam bahasanya yang paling dalam dari jiwa.

Sebagai wisata, penyair tentu ingin data pasti tentang gapura. Jelas, penyair menyatakan bahawa ia dibena lebih 300 tahun yang lalu. Lalu di bawah sadarnya seakan ada suara yang menyambutnya datang. " Silakan masuk ke beranda hatiku " kata suara itu. Kenapa hatiku? Bukan beranda rumahku? Gapuraku? Ini adalah bahasa puisi apabila penyair mempersonifikasikan gapura menjadi seakan insan. Memasuki hati insan tentu lebih berarti dari memasuki berada gapura yang telah tua.

Pada keseluruhannya, saya melihat penyair begitu rapi mengadun emosinya dalam menghasilkan puisi ini. Sebuah puisi yang baik terjelma daripada perasaan yang baik. Tanpa berlebih-lebih memberi konotasi, Rumah batu di Pecinan Olak Kemang ini menjadi sebuah karya yang menakjubkan. Unsur keterharuan, kerinduan berlapis-lapis dengan kesadaran menghargai harga sebuah maruah bangsa.

Jumat, 01 April 2011

KEPENYAIRAN DIMAS ARIKA MIHARDJA

Oleh Djazlam Zainal (Melaka, Malaysia)

Mengenali Dimas Arika Mihardja atau nama asalnya Sudaryono ( Dr. ) adalah mengenali sosok tubuh seniman yang sangat mesra dan menyenangkan. Dengan bahasa puitisnya, beliau menakluki jagat raya. Puisinya mengalir terus sejak 2 dekad yang lalu mencakup semua dimensi dan suasana. Suaranya dilantunkan dalam acara baca puisi di mana-mana. Dimas adalah syair hidup yang gemanya cukup santun dan indah.

Dilahirkan di Jogjakarta pada 3 July 1959. Pendidikannya hingga mencapai puncak paling tinggi hingga meraih doktor falsafah bergelar profesor, pada tahun 2002. Pada tahun 1985, beliau berhijrah ke Jambi untuk menjadi dosen di Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Jambi. Desertasi gelar doktornya berjodol, Pasemon dalam Wacana Puisi Indonesia.

Sebagai penyair, Dimas telah mempunyai kumpulan puisinya iaitu Sang Guru Sejati ( 1991 ) Malim Kundang ( 1993 ) Upacara Gerimis ( 1994 ) Potret Diri ( 1997 ) Ketika Jarum Jam Leleh dan Lelah Berdetak ( 2003 ) Sajak Emas - 200 puisi sexy ( 2010 ) Puisinya tersebar dalam media massa lokal Sumatera seperti Jambi, Padang, Palembang, Lampong, Riau, Medan dan Jawa seperti Surabaya, Malang, Semarang, Jogja, Bandung dan Jakarta.

Selain puisi, Dimas menulis cerpen, kritikan dan esei sastra. Sebagai ilmuan, Dimas mengerjakan kajian-kajian ilmiah untuk pelbagai jurnal, pemakalah, juri lomba dan forum. Dimas sangat serius dengan cakupannya.

Memang belum melangit namanya sebanding Ahmadun Yosi Herfanda, Afrizal Noor, Jose Rizal Manua, Djamal D. Rahman, Abidah Al-Khalaque dan sebagainya. Namun sumbangan Dimas terhadap puisi Indonesia selama 25 tahun sangat konsisten. Dimas harus dilihat sebagai dalang di atas panggung yang menggerakkan tangan-tangan wayang dalam aroma pendidikan dan kesenjangan ilmu. Dan rasanya Dimas akan berpautan seperti itu sepanjang usianya sebagai doktor yang menekuni puisi, memberi dan sekaligus menikmati.


Satu dari ratusan puisinya ialah Melawat Langit.


memandang keluasanan angkasa, apakah yang kalian lihat?
barisan awan menjad hujan
cahaya kilat lesat di jantung dan lidahmu

menyebut nama yang mengambang
dalam aroma tembang kasmaran


angkasa itu membiru serupa bentangan kain sutra
apakah kalian betah berlamalama memandangnya?
saat kehausan aku merasa sapuan tangan
melukis namamu, ya, semata namamu



Jambi, 2010


rujukan
1. Sajak Emas - 200 puisi sexy ( 2010 )
2. Pengalaman sekamar dan berwisata bersama ( sekitar Desember 2010 di Aceh )

MENIKMATI DAN MEMAHAMI SEBIJI PUISI NABILA DEWI GAYATRI

Catatan Dimas Arika Mihardja

Sejak awal pesatnya perkembangan Islam dan perlembagaannya pada abad ke-13 – 15 M, Abdul Hadi WM menulis "komunitas-komunitas Islam yang awal telah mengenal tasawuf sebagai bangunan spiritualitas Islam yang kaya dengan kearifan dan amalan-amalan yang dapat menuntun para penuntut ilmu suluk menuju pemahaman yang mendalam tentang tauhid. Sedangkan ahlinya yang dikenal sebagai sufi tak jarang dikenal sebagai wali, guru kerohanian, pemimpin organisasi tariqat, pendakwah dan darwish atau faqir yang suka mengembara sambil berniaga untuk menyebarkan agama Islam ke berbagai pelosok negeri." Dalam kaitan ini, saya menemu sebiji sajak berjudul "Au Mengukirnya" karya Nabila Dewi Gayatri (yang saya kutip di blog Lapak Katakata milik Ardi nugroho).Berikut saya turunkan sebiji sajak itu;

Aku Mengukirnya (Puisi Nabila Dewi Gayatri)

hujan bergerak dalam senja
menyeret aroma luka
tetes air, desau angin mengucurkan namamu
aku mengukirnya
di semua tiang cakra
di setiap kepul doa

menapak hari berlari
jejak hanya sisa serpih
dalam hening aku mengeja
tentang titian cinta yang melebur menjadi kristal garam
tentang tauhidul af'al mengubun menyawung

berlapislah kenangan
tertoreh warna pelangi
di hembus nafas Kekasih aku membaca ayatayat sunyi
yaasiin berhalaku
menderai tak lerai

Allahku,
telah kujurai seribu bintang
telah kusemai garing ilalang
telah kuasah badik hingga cerlang
bermahkota cinta kemilau cahaya

di bumi terjunjung setakzimku berserah
bersaksi di kedalaman
garis batas lam mim telah kuhamparkan lebih dari telanjang!


~ Salam Cinta Pencinta Cinta Bercinta ~



Puisi yang digubah oleh Nabila Dewi Gayatri ini punya tautan dengan sejarah perkembangan tasawuf di indonesia.Kita masih ingat pada tahun 1970an ketika dalam kesusastraan Indonesia muncul gerakan sastra sufistik, yaitu kegiatan penciptaan karya sastra yang berorientasi pada pandangan hidup (way of life), gambaran dunia (Weltanschauung), nilai-nilai, dan estetika yang diajarkan kaum sufi dalam Islam. Sastrawan yang karya mereka memperlihatkan kecenderungan sufistik itu antara lain Danarto, Kuntowijoyo, M. Fudoli Zaini, Taufiq Ismail, Abdul Hadi W. M., Sutardji Calzoum Bachri, Ajip Rosidi, Budiman S. Hartoyo, dan lain-lain. Dalam tahun 1980 dan 1990’an gerakan sufistik dalam kesusastraan dan seni kian meluas meluas. Muncul penulis-penulis muda seperti D. Zawawi Imran, Hamid Jabbar, Ibrahim Sattah, Emha Ainunnadjib, Ahmad Nurullah, Acep Zamzam Noer, Ahmadun Y. Herfanda, Jamal D. Rahman, Soni Farid Maulana, Fatin Hamama dan lain-lain, yang karyanya menampakkan kesinambungan pencarian nilai-nilai dan kesadaran religius sufistik.



Pada akhir 1970an dan awal 1980an para sastrawan mulai sering dan kian kerap mengadakan acara pembacaan sajak-sajak sufi. Di antaranya yang terkenal ialah pembacaan puisi seperti Malam Rumi (1982), Malam Hamzah Fansuri (1984), Malam Iqbal (1987) dan lain-lain yang diselenggarakan di Taman Ismail Matzuki, Jakarta. Sejak itu seni bercorak sufistik seperti musik, tari, dan seni rupa kian sering dipertunjukkan dan dipamerkan di beberapa kota besar. Puncak pagelaran dan pameran karya seni bercorak sufistik tampak dalam dua kali penyelenggaraan Festival Istiqlal pada tahun 1991 dan 1995. Fastival Istiqlal adalah festival kebudayaan Islam terbesar yng diadakan di negeri ini. Dalam penyelenggaraannya yang berlangsung selama satu bulan, banyak sekali karya seni bersorak sufistik ditampilkan, baik yang telah merupakan khazanah seni tradisional atau daerah, maupun karya-karya yang merupakan bentuk ekspresi baru.



Puisi Nabila dewi Gayatri setidaknya "mengukir" kisah perjalanan manusia menuju Sang Maha Pencipta yang menurut wawasan ahli tasawuf memiliki enam tingkatan (enam tingkat perhentian) dalam kehidupan manusia, yang intinya bahwa hidup manusia merupakan perjalanan dari Yang Abadi menuju Yang Abadi. Enam tempat perhentian harus dilalui dalam perjalanannya itu sebelum kembali ke tempat yang kekal. Pertama, sulbi , yaitu ketika manusia masih berupa benih dalam angan-angan orang tuanya dan roh belum ditiupkan oleh Sang Khaliq ke dalam tubuh jasmaninya. Kedua, rahim ibu. Di sini ia tinggal selama lebih kurang sembilan bulan sebagai calon jabang bayi. Ketiga, alam dunia tempat manusia berikhtiar dan berbakti untuk agama, nusa dan bangsa. Keempat, alam kubur. Kelima, hari kiamat, tempat amal baik dan buruknya ditimbang. Keenam, sorga atau neraka jahanam tempatnya yang kekal.



Alam dunia merupakan perhentian yang penting. Oleh karena itu manusia wajib mengenal dirinya dan dunia tempatnya tinggal itu. “Jalan di hadapan kita sebelum tiba saatnya menempati alam kubur itu teramat jauh dan sukar. Bekal untuk dibawa pulang ke tempat yang abadi tidak dapat dicari di tempat lain kecuali di dunia ini. Kendaraan umurnya tidak dapat dihemat sebab akan berlalu dan manusia tidak mengetahui betapa seatu hembusan nafasnya seperti tapak kaki di jalan dan sehari seperti sebuah padang gurun yang luas… dan satu hembusan nafas yang dihela dari hidupnya seperti sebuah batu yang dibongkar dari rumah kehidupan dan setiap nafas pastilah membinasakan rumah umurnya…” Oleh karena kehidupan di dunia harus dipelihara sebaik-baiknya. Orang yang ingin selamat di dunia dan akhirat harus dapat membebaskan diri dari hidup serba kebendaan.



Abdul Hadi WM yang bayak mengupas tentang tasawuf menyatakan:



Di antara maqam penting yang ingin dicapai oleh seorang penempuh jalan tasawuf ialah mahabba atau `isyq (cinta), fana` (hapusnya diri/nafs yang rendah), baqa` (rasa hidup kekal dalam Yang Satu), ma`rifa (makrifat) dan ittihad (persatuan mistikal), serta kasyf (tersingkapnya penglihatan hati).



Para Sufi merujuk Hadis yang menyatakan, “Syariat ialah kata-kataku (aqwali), tarekat ialah perbuatanku (a`mali) dan hakekat (haqiqa) ialah keadaan batinku (ahwali), Ketiganya saling terkait dan tergantung. Kemunculan tarekat Sufi juga sering dirujuk pada Hadis yang menyatakan, "Setiap orang mukmin itu ialah cermin bagi mukmin yang lain” (al-mu`min mir`at al-mu`minin). Mereka, para Sufi, melihat dalam tingkat laku kerabat dan sahabat dekat mereka tercermin perasaan dan perbuatan mereka sendiri. Apabila mereka melihat kekeliruan dalam perbuatan tetangga mereka, maka mereka segera bercermin ke dalam perbuatan mereka sendiri. Dengan cara demikian ‘cermin kalbu mereka menjadi lebih jernih/terang’. Nampaklah bahwa introspeksi merupakan salah satu cermin paling penting dalam jalan kerohanian Sufi.

Kebiasaan di atas mendorong munculnya salah satu aspek penting gerakan Tasawuf, yaitu persaudaraan Sufi yang didasarkan atas Cinta dan saling bercermin pada diri sendiri. Persaudaraan Sufi inilah yang kemudian disebut Tarekat Sufi.



Munculnya tarekat membuat tasawuf berbeda dari gerakan zuhud (asketiK) yang merupakan cikal bakal tasawuf. Apabila gerakan zuhud mengutamakan ‘penyelamatan diri’ melalui cara menjauhkan diri dari kehidupan serba duniawi dan memperbanyak ibadah serta amal saleh, maka tasawuf sebagai organisasi persaudaraan (tariqa) menekankan pada ‘keselamatan bersama’. Di antaranya dalam bentuk pemupukan kepentingan bersama dan keselamatan bersama yang disebut ithar. Sufi yang konon pertama kali mempraktekkan ithar ialah Hasan al-Nuri, sufi abad ke-9 M dari Baghdad. Tarekatnya merupakan salah satu tarekat sufi awal dalam sejarah.



Yang disebut ithar ialah segala amalan dan perbuatan yang dilakukan untuk kepentingan kerabat dan sahabat dekat, termasuk soal-soal yang berhubungan dengan masalah ekonomi, keagamaan, rumah tangga, perkawinan, pendidikan, dan lain sebagainya. Di antara prakteknya yang berkembang menjadi budaya hingga sekarang, ialah melayani kerabat atau tamu dengan penuh kegembiraan dan sebaliknya sang tamu menerima layanan itu dengan penuh kegembiraan pula. Dalam konteks ini lalu dapat dipahami dan dinikmati "motto" di akhir puisi Nabila dewi Gayatri seperti ini:



~ Salam Cinta Pencinta Cinta Bercinta ~



Terkait dengan larik dan bait sajak Nabila Dewi Gayatri yang bersinggungan dengan "berhala' (bait 3) ada rujukan dan referensi penting seperti kutipan pandangan Abdul Hadi wm berikut:



Para Sufi menuturkan hikmah dalam berbagai bentuk pengucapan sastra. Bukan hanya dalam bentuk prosa seperti risalah atau khitabah. Bentuk penuturan estetik yang dipilih antara lain kisah perumpamaan (alegori), epik kerohanian, adab, cerita berbingkai,humor, sajak-sajak pujian (diwan, qasidah), sajak-sajak cinta mistikal (ghazal), satire atau sindirian (hija`), dan lain sebagainya. Karya-karya mereka relevan dibaca kembali untuk membenarkan pemahaman kita, yang terlanjur keliru dan menyesatkan serta ahistoris tentang tasawuf.. Contohnya saja di Barat. Di sana ahli tasawuf atau Sufi lebih dikenal sebagai sekelompok penari yang gemar akan ekstase dan sehari-hari kerjanya hanya demikian. Gambaran seperti itu antara lain dijumpai dalam buku James Morier Haji Baba of Ispahan. Di negeri kita sendiri kegiatan kaum Sufi dan ahli tarekat sering dikaitkan dengan praktek pedukunan, klenik, paranormal atau nujum. Padahal bukan itu tasawuf yang sebenarnya.

Tasawuf sering pula dipandang sebagai sumber kemunduran Islam, suatu kesimpulan yang naif dan tidak didasarkan argumentasi yang jelas. Dalam kenyataan faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran Islam sangat kompleks dan saling menjalin satu dengan yang lain. Di antara faktor-faktor itu termasuk faktor budaya, politik dan ekonomi. Tasawuf sendiri sebagai gerakan keagamaan mengambil corak beragam, ada yang aktif dan militan, ada yang memang pasif dan eskapis. Ada yang mengambil bentuk gerakan Tarekat, ada yang mengambil bentuk Falsafah dan gerakan Budaya. Dan adalah tidak adil apabila kita melupakan sumbangan besar mereka dalam penyebaran agama Islam, khususnya di di negeri-negeri Islam bagian timur.

Pun tidak adil melupakan sumbangan yang mereka di bidang seni, bahasa, sastra, kebahasaan, arsitektur dan berbagai kepakaran;. Besarnys umbangan itu tercermin dalam kemasyhuran nama tokoh-tokohnya dan penerimaan luas masyarakat Muslim terhadap pemikiran dan kiprah mereka dalam bidang spiritulitas. Di antara tokoh-tokoh masyhur yang menghiasi lembaran sejarah kebudayaan dan peradaban Islam ialah Mansur al-Hallaj, al-Ghazali, al-Qusyairi, Ibn al-'Arabi, Ibn Sina, Omar Khayyam, Atar, Rumi, Jami', Mulla Sa'di, Hafizh, Suhrawardi, Ghalib, Hamzah Fansuri, Mohammad Iqbal dan lain-lain. Sufi dikenal dengan banyak nama: darwisy, `urafa (ilmunya disebut irfan) atau ahli suluk, seperti dikenal di Jawa dan Madura. Sekalipun gerakan mereka sering dituduh menyimpang dari agama, terutama oleh ulama fiqih dan modernis, namun mereka tetap tegar dalam keyakinan mereka dan pengaruh ajaran mereka tidak menyebabkan eksistensi keberadaan masyarakat Muslim terganggu selama beberapa abad. Para Sufi bahkan aktif memimpin gerakan jihad, misalnya menentang kolonialisme pada masa penjajahan. Mereka juga sering muncul sebagai pemimpin gerakan pembaharu. Syekh Junaid al-Baghdadi mengatakan : "Sistem tasawuf kami terikat pada Islam, al-Qur'an dan Sunnah Rasul."



Dari awal sampai akhir puisi yang digubah oleh Nabila Dewi Gayatri bermuara pada simpulan seperti dinyatakan oleh Abdul Hadi WM berikut:



Para Sufi memang suka mengembara dari satu tempat ke tempat lain sejak dulu sampai kini. Mereka berjalan dengan tujuan banyak: mencari guru, kawan seperjalanan, murid yang mau mendengarkan ajarannya serta menyebarkan agama dan memperbanyak jumlah orang Islam. Pada abad ke-13 dan 14 M. dunia Islam diharu biru oleh banyak peperangan, antara lain Perang dan penaklukkan tentara Mongol. Para Sufi berhasil menyelamatkan kebudayaan dan peradaban Islam yang telah hancur berkeping-keping. Mereka pergi mencari tempat-tempat yang aman sebagai pos-pos perhentian dalam perjalanan mereka. Pos-pos perhentian ini berfungsi banyak: sebagai surau, pesantren, tempat penampungan para pengungsi dan perlindungan para pedagang. Di pos-pos perhentian inilah mereka mengkonsolidasikan kekuatan dan penyebaran dakwah Islam, menghimpun calon-calon syuhada dan ulama-ulama yang militan. Di pos-pos perhentian itu pulalah mereka mendirikan ta`ifa (organisasi dagang) bersama para saudagar, bekas tentara yang tidak aktif lagi, pengrajin, seniman, tabib, ilmuwan, pelaut, pelayar dan lain-lain.

Namun perjalanan dan pengembaraan di alam dunia hanyalah sarana untuk memulai perjalanan yang lebih tinggi. Perjalanan manusia yang sejati menurut Rumi ialah “Perjalanan dari diri ke Diri' yaitu “Dari diri yang rendah, (yaitu hawa nafsu) menuju diri yang lebih tinggi (yaitu Diri Rohani). Perjalanan seperti itu "Bagaikan perjalanan tebu mencari gula, perjalanan sebutir pasir yang menyimpang dari jalan yang lazim kemudian masuk ke dalam kerang dan kelak menjelma mutiara."



Demikianlah catatan ringan sebiji puisi karya Nabila Dewi Gayatri. Entah mengapa saya "jatuh hati' pada puisi Nabila dewi gayatri yang satu ini. Sebuah puisi yang tak hanya indah, melainkan menawarkan perenungan yang menggugah sesuai dengan alam pikir dan dzikir para sufi. Puisi yang bercorak sufistik seperti ini perlu dimasyarakatkan sebab kelak puisi yang transendental ini akan monumental dan universal: abadi di hati bagi yang meyakini.



Salam DAM

Selasa, 15 Maret 2011

ESTETIKA KESUFIAN "TUHAN, KITA BEGITU DEKAT" ABDUL HADI WM

Oleh Puji Santosa


1. Pendahuluan

Abdul Hadi W.M. adalah salah seorang penyair yang telah menghasilkan beberapa kumpulan sajak, antara lain, Terlambat di Jalan (1968), Laut Belum Pasang (1971), Cermin (1975), Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975), Meditasi (1975), Tergantung Pada Angin (1977), dan Anak Laut Anak Angin (1984). Salah satu sajak Abdul Hadi W.M. yang menarik dan kuat sehingga mengangkat dirinya sebagai penyair sufistik adalah sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat". Sajak ini dibuat oleh Abdul Hadi W.M. pada tahun 1976 yang dimuat dalam kumpulan sajak Tergantung Pada Angin (1977). Kemudian sajak tersebut dimuat kembali dalam kumpulan sajak Anak Laut Anak Angin (1984). Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" tersebut dipilih sebagai sampel dalam analisis sajak berdasarkan teori semiotika Riffaterre dalam memahami estetika kesufian.

Model penelitian sajak dengan menggunakan metode analisis semiotika Riffaterre di Indonesia pernah diterapkan oleh Rachmat Djoko Pradopo (1994) terhadap sajak "Dewa Telah Mati" karya Subagio Sastrowardojo, dan Faruk Ht (1996) yang menganalisis sajak "Aku" karya Chairil Anwar. Oleh karena itu, pemilihan sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" sebagai sampel penelitian dengan menggunakan pendekatan semiotika Riffaterre di dalam memahami estetika kesufian didasarkan pada pertimbangan sebagai berikut.

1. Sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" memberikan nuansa sufistik yang bersifat Islami yang harus dibaca dalam dua tataran semiotik.
2. Sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" memiliki kekayaan referensi atau acuan sehingga membuat asyik menelusuri benang-benang tenunan maknanya.
3. Sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" dipandang sebagai karya puncak Abdul Hadi W.M. dalam penghayatannya sebagai umat Islam yang religius, imanen, dan transendental dari dimensi estetika kesufian.
4. Kajian sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" dengan menggunakan pendekatan semiotika Riffaterre sepengetahuan penulis belum pernah dilakukan oleh orang lain sehingga mendorong penulis untuk mencoba menerapkan teori semiotika Riffaterre tersebut.


2. Kerangka Teori

Kata semiotika dalam bahasa Indonesia diturunkan dari bahasa Inggris: semiotics, yang berasal dari bahasa Yunani: semeion, yang berarti: tanda (Teeuw, 1984:47). Nama lain semiotika adalah semiologi. Para penutur bahasa Inggris dan di lingkungan kebudayaan Amerika nama semiotika sudah menjadi istilah yang umum. Istilah semiotika ini menjadi populer berkat buah pemikiran seorang filsuf dan ahli logika Charles Sanders Peirce. Ia menyamakan pengertian semiotika dengan logika (van Zoest, 1993:1). Peirce mengembangkan semiotika dalam hubungannya dengan filsafat pragmatisme. Sedangkan di lingkungan kebudayaan Perancis dan para penutur bangsa Eropah yang lain, nama semiologi lebih dikenal dan dipahaminya. Hal ini berkat jasa baik "Bapak Semiotika Modern" (van Zoest, 1992: 1), Ferdinand de Saussure, yang berhasil meletakkan dasar-dasar semiologi kebahasaan dan psikologi sosial bagi perkembangan ilmu semiotika.

Dalam pertumbuhan selanjutnya, semiotika dikembangkan menjadi sebuah disiplin ilmu tersendiri, antara lain, Charles Morris, Roman Jakobson, Jonathan Culler, Roland Barthes, Umberto Eco, Jurij J. Lotman, dan Michael Riffaterre. Kemudian, teori semiotika yang akan diacu dalam analisis sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" adalah teori semiotika yang dikembangkan oleh Michael Riffaterre dalam bukunya Semiotics of Poetry (1978). Ia menganggap bahwa puisi adalah sebagai salah satu wujud aktivitas bahasa. Sebagai salah satu wujud aktivitas bahasa, puisi berbicara mengenai sesuatu hal dengan maksud yang lain. Artinya, puisi berbicara secara tidak langsung sehingga bahasa yang digunakan pun berbeda dari bahasa sehari-hari. Laras bahasa puisi tersebut disebabkan oleh penggubahan (displacing) makna, penciptaan (creating) makna baru, dan perusakan (distorting) makna kebahasaan sehari-hari. Bahasa sehari-hari itu bersifat mimetik sehingga membangun arti (meaning) yang beraneka ragam dan menampakkan adanya keterpecahan atau ketakgramatikalan (ungramatikalitas). Sebaliknya, bahasa puisi itu bersifat semiotik sehingga membangun makna (significance) tunggal dan memusat.

Sebagai wujud ekspresi kebahasaan, puisi hanya dapat dipahami maknanya apabila pembacanya mengusai konvensi bahasa. Pertama kali yang harus dimiliki pembaca adalah menguasai kode bahasa puisi yang dibacanya. Namun, pembacaan atas dasar konvensi bahasa itu, yang oleh Riffaterre disebut dengan pembacaan heuristik (1978: 5), tidaklah mencukupi untuk memahami makna yang sesungguhnya sebuah puisi. Dari pembacaan heuristik itu selanjutnya pembaca harus bergerak lebih jauh ke pembacaan hermeneutik (1978:6). Pembacaan hermeneutik ini mendasarkan pada konvensi sastra dan budaya. Artinya, dari pemahaman makna kebahasaan yang masih beraneka ragam dan menampakkan adanya keterpecahan (semiotika tataran pertama), pembaca puisi harus bergerak lebih jauh untuk memperoleh kesatuan makna puisi secara menyeluruh (semiotika tataran kedua). Gerak pembacaan puisi lebih jauh itu dimungkinkan karena pembaca didorong oleh adanya hambatan dalam pembacaan semiotika pada tataran yang pertama tersebut. Dalam pembacaan semiotika tataran pertama yang bertumpu pada tahap pembacaan heuristik itu banyak ditemukan arti yang beraneka ragam, keterpecahan makna, dan tampak berserak-serak tak beraturan atau ungramatikalitas (ketakgramatikalan). Itulah sebabnya pembacaan harus dilakukan dalam dua tataran.

Selanjutnya, Riffaterre menjelaskan bahwa memahami puisi itu seperti sebuah donat. Sesuatu yang hadir secara tekstual adalah daging donatnya. Sedangkan sesuatu yang tidak hadir secara tekstual adalah ruang kosong berbentuk bundar yang berada di tengahnya dan sekaligus menopang dan membentuk daging donat menjadi donat. Adapun ruang kosong yang tidak hadir secara tekstual itu menentukan sebuah puisi menjadi puisi. Ruang kosong seperti itu oleh Riffaterre disebut sebagai hipogram. Hipogram ini oleh Riffaterre dibedakan atas dua jenis, yaitu hipogram potensial (yang terkandung dalam arti kias atau majas bahasa sehari-hari, seperti presoposisi dan sistem deskriptif) dan hipogram aktual (yang berupa teks-teks atau wacana yang sudah ada sebelumnya yang dapat menjadi referensi atau acuan puisi tersebut).

Ruangan kosong berbentuk bundar yang berfungsi untuk menopang daging donat dan membuat donat menjadi donat itu sekaligus merupakan pusat makna dari sebuah puisi. Pusat makna seperti itu oleh Riffaterre disebut sebagai matriks. Seperti halnya hipogram, matriks ini tidak hadir dalam sebuah teks. Namun, aktualisasi dari matriks itu dapat hadir dalam sebuah teks yang berupa model. Model ini berupa kata atau kalimat tertentu yang bersifat puitis. Model (atau dapat disebut sebagai pola dasar yang pertama) itu selanjutnya diperluas pengertian dan konteksnya sehingga menurunkan teks puisi secara keseluruhan. Sebuah model dapat sebagai tanda (kata atau kalimat) yang benar-benar puitis apabila mengacu pada sebuah hipogram tertentu atau bersifat hipogramatik. Artinya, model itu akan sangat bersifat puitis sebagai sebuah tanda apabila memiliki kekayaan referensi. Oleh karena itu, kesatuan tekstual puisi yang diturunkan dari matriks dan dikembangkan dari model di atas, menurut Riffaterre, merupakan sebuah struktur yang seringkali terdiri dari satuan-satuan yang beroposisi secara berpasangan (oposisi biner atau binari). Hubungan antarsatuan itu seringkali juga merupakan hubungan ekuivalensi atau kesejajaran makna.

3. Pembacaan Heuristik

Pembacaan heuristik adalah pembacaan yang didasarkan pada konvensi bahasa yang bersifat mimetik (tiruan alam) dan membangun serangkaian arti yang heterogen, berserak-serakan atau ungramatikalitas. Hal ini dapat terjadi karena hanya didasarkan pada pemahaman arti kebahasaan yang bersifat lugas atau berdasarkan arti denotatif dari suatu bahasa. Agar lebih jelasnya, perhatikan sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" berikut.


Tuhan, Kita Begitu Dekat


Tuhan
Kita begitu dekat
Sebagai api dengan panas
Aku panas dalam apimu

Tuhan
Kita begitu dekat
Seperti kain dengan kapas
Aku kapas dalam kainmu

Tuhan
Kita begitu dekat
Seperti angin dan arahnya
Kita begitu dekat

Dalam gelap
Kini aku nyala
Pada lampu padammu


(Abdul Hadi W.M., 1977, Tergantung Pada Angin)



Judul sajak di atas, "Tuhan, Kita Begitu Dekat", sebagai indeks terhadap teks karena merupakan "nama" teks yang bersangkutan, dan dapat dipahami dari makna kebahasaannya sebagai berikut.

Kata Tuhan berarti: sesuatu yang diyakini, dipuja, disembah oleh manusia sebagai Yang Maha Kuasa atau Maha Perkasa. Kata Tuhan adalah sebutan untuk khalik atau Sang Pencipta sebagai pujaan atau sembahan manusia dalam bahasa Melayu (Indonesia). Dalam bahasa Inggris kita temukan padanan kata Tuhan adalah: god, Latin: Yehuah, Cina: Deo, dan Arab: Allah Ta'ala. Kata kita yang berarti: kata ganti untuk orang pertama jamak, bukan mereka atau aku dan engkau (sekalian). Kata kita tersebut membayangkan adanya manusia, entah lelaki atau perempuan, entah tua atau muda, yang lebih dari seorang. Kata begitu artinya: (1) seperti itu; demikian itu; (2) sangat; terlalu; (3) segera setelah .... Kata dekat artinya: (1) pendek, tidak jauh (jarak atau antaranya); (2) hampir; (3) berhampiran (dengan); (4) akrab; melekat; intim; rapat (tentang hubungan dan lain sebagainya); dan (5) menjelang. Kalimat dalam judul sajak tersebut diulang kembali pada larik pertama dan kedua bait pertama, kedua, dan ketiga. Perulangan kalimat itu berfungsi sebagai penegas pengertian makna hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan.

Sebagai api dengan panas merupakan perumpamaan hubungan antara Tuhan dengan kita (manusia). Kata sebagai merupakan alat metafora untuk memperbandingkan secara tidak langsung antara dua benda atau lebih. Kata sebagai itu berarti pula sama pengertiannya dengan kata seperti, semisal, seumpama, dan seibarat. Kata api berarti cahaya yang berasal dari sesuatu yang terbakar atau nyala. Sedangkan kata dengan berarti lagi pula, serta, dan sekalian atau bersamaan. Kata panas berarti terasa seperti terbakar atau terasa dekat dengan api.

Aku panas dalam apimu merupakan kalimat metafora yang dibangun dari kata-kata aku, panas, dalam, dan apimu. Kata aku berarti orang pertama tunggal. Secara memesis kata aku tersebut membayangakan adanya seseorang, entah lelaki atau perempuan, entah di mana, entah tua atau muda, dan entah kapan terjadi. Sebagai kata ganti atau sebutan orang pertama tunggal, kata aku jelas menunjukkan adanya manusia. Kata panas dan api artinya sudah diterangkan di muka. Kata dalam artinya di atau berada. Kata -mu sebagai kependekan dari kata kamu atau kata klitik yang menunjukkan kepunyaan atau kepemilikan.

Kalimat pernyataan Seperti kain dengan kapas dibangun dari kata-kata: seperti, kain, dengan, dan kapas. Kata seperti sebagai alat perbandingan sama pengertiannya dengan kata: sebagai, semisal, seumpama, dan seibarat. Kata kain berarti barang yang ditenun dari bahan kapas, dan kata kapas berati serat berbulu putih yang dapat dipintal menjadi benang atau kain. Kata dengan, seperti diterangkan di muka, berarti lagi pula, serta, dan sekalian, atau bersamaan. Kalimat perumpamaan: “Seperti kain dengan kapas” membayangkan hubungan antara kain dan kapas sangat melekat atau menyatu.

Aku kapas dalam kainmu merupakan pernyataan tokoh aku (manusia) yang secara metaforis membayangkan hubungan antara aku (manusia) dengan Tuhan yang diibaratkan sebagai hubungan antara kapas dalam kain yang melekat atau menyatu. Persatuan dari dua unsur yang telah menjadi satu itu tampaknya sulit untuk dipisahkan karena antarunsur sudah melebur menjadi satu kesatuan yang bersifat tunggal, utuh, dan terpadu.

Seperti angin dan arahnya merupakan perumpamaan secara langsung antara angin dengan arahnya. Kata angin berarti udara yang bergerak atau hawa dari suatu cuaca. Kata arah berarti jurusan, tujuan atau maksud yang dituju. Kalimat itu membayangkan adanya angin yang digerakkan menuju pada suatu titik atau sasaran tertentu. Dalam bait ini terjadi perulangan kalimat "kita begitu dekat" yang berfungsi sebagai penegas maksud, yaitu kedekatan manusia dengan Tuhan.

Kesan heterogenitas dan keterpecahan makna dalam pembacaan heuristik dalam sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" tersebut semakin kuat terlihat pada bait terakhir. Dalam gelap berarti berada di suatu tempat yang tidak ada cahayanya atau kelam. Frasa "dalam gelap" tersebut membayangkan seseorang yang berada di suatu tempat kelam, entah di mana dan kapan, yang tidak ada cahayanya. Tiba-tiba muncul kalimat "Kini aku nyala/ Pada lampu padammu" yang tidak diketahui hubungannya dengan frasa “dalam gelap”. Kata kini berarti waktu sekarang ini. Kata nyala berarti api yang hidup, berkobar-kobar, yang bercahaya dan panas. Kata pada berarti kepada, tertuju, atau terpusat. Sedangkan kata lampu berarti alat penerang, entah yang berasal dari neon listrik, entah petromak, entah lilin yang terbakar, entah obor, atau entah lampu minyak yang lain. Kata padam berarti mati, gelap, tidak ada cahaya.

Kalimat: “Kini aku nyala pada lampu padammu” terasa ambigu dipahami secara harfiah. Kalimat tersebut dapat menjadi: “Kini/ aku nyala/ pada lampu/ padammu” atau “Kini aku/ nyala pada/ lampu padammu”. Dua cara pemahaman tersebut jelas menimbulkan arti ganda. Ada frasa “kini aku” dan mungkin pula ada frasa “aku nyala” yang keduanya memiliki pengertian berbeda. Kalimat itu jelas membayangkan adanya ketakgramatikalan susunan persyaratan kalimat bahasa Indonesia. Munculnya keterangan keadaan "dalam gelap" dan keterangan waktu "kini" yang secara tiba-tiba muncul menunjukkan adanya ketakgramatikalan. Munculnya keterangan tujuan "pada lampu padammu", siapa yang dituju atau dimaksudkan oleh-mu itu tidak jelas bentuk dan wujudnya, makhluk (manusia--aku, kita) atau Tuhan. Dan mengapa "lampu padammu"? Adakah Tuhan is the dead?



4. Pembacaan Hermeneutik

Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan yang bermuara pada ditemukannya satuan makna puisi secara utuh dan terpadu. Puisi harus dipahami sebagai sebuah satuan yang bersifat struktural atau bangunan yang tersusun dari berbagai unsur kebahasaan. Oleh karena itu, pembacaan hermeneutik pun dilakukan secara struktural. Artinya, pembacaan itu bergerak secara bolak-balik dari satu bagian ke keseluruhan dan kembali ke bagian yang lain dan seterusnya. Pembacaan ini dilakukan pada interpretasi hipogram potensial, hipogram aktual, model, dan matriks.


4.1 Hipogram Potensial
Hipogram potensial adalah segala bentuk implikasi dari makna kebahasaan, yaitu yang berupa presuposisi dan makna konotatif yang sudah dianggap umum. Implikasi itu tidak dapat ditemukan dalam kamus, baik kamus ekabahasa maupun kamus dwibahasa, karena implikasi bukan berdasarkan pada arti denotatif kebahasaan. Implikasi itu sebenarnya telah ada pada pikiran penutur bahasa pada umumnya.

"Tuhan, Kita Begitu Dekat" yang menjadi judul dari puisi di atas sebenarnya sudah mengimplikasikan adanya hubungan kedekatan antara Tuhan dengan manusia. Tuhan yang disapa oleh manusia dengan rasa kebersatuannya ditunjukkan dengan kata kita yang berarti aku dengan Engkau. Akunya adalah manusia sedangkan Engkau adalah Tuhan. Selain menujukkan adanya hubungan antara aku dengan Engkau, kata Kita juga menunjukkan adanya persamaan atau kebersatuan antara Aku dengan Engkau. Dalam dunia kebatinan Jawa hubungan, persamaan dan kebersatuan antara aku dengan Engkau, ditunjukkan dengan pandangan filsafat "Manunggaling kawula lan Gusti" (bertunggalnya hamba dengan Tuhan). Kesatuan ini harus dipandang sebagai wujud kesatuan spritual, bukan kesatuan harfiah antarunsur. Karena dalam dunia sufi atau kebatinan hubungan kedekatan antara aku dengan Engkau ditunjukkan dengan adanya paham wujudiyah, peleburan dua (atau lebih) bentuk atau sifat ke dalam satu kesatuan yang utuh (Hamzah Fansuri, Rumi, dan Syamsuddin Al-Sumatrani) atau disebut pula anna al-hak (Al Hallaj).

Kalimat yang menjadi judul sajak itu juga menunjukkan adanya pernyataan atau kesaksiaan manusia atas keberadaannya dengan Tuhan. Sebagai manusia yang sudah memiliki derajat insan kamil, sudah sampai pada tahap makrifat, dapat menyaksikan kehadiran Tuhan yang berada di dekatnya. Kesaksian atas kedekatan hubungan manusia dengan Tuhan merupakan pengalaman spritual seseorang dalam menghayati agamanya secara religius dan imanen. Seperti ungkapan yang sering kita jumpai sehari-hari: "Tuhan beserta kita". Ungkapan kalimat bijak itu berarti: di mana dan kapan pun kita berada di situ juga ada Tuhan. Jadi, ungkapan kalimat bijak itu secara jelas menyadarkan kita bahwa Tuhan selalu menyertai kita di mana dan kapan pun kita berada.

Secara spritual Tuhan dipahami oleh manusia sebagai Alif Lamm Miim (Hanya Tuhan yang mengetahui maksudnya, Al Quran, Surat Al Baqarah ayat 1). Namun, para sufi memahaminya dalam empat hal, yaitu:

1. Dzat, yang bukan berawal dan berakhir, bukan rupa, bukan warna, bukan wujud, bukan materi, keadaan yang tenang, tenteram, kasih, damai, dan bahagia;
2. Sifat, sifat dinamis dari Tuhan yang maha bijakasana, maha berkehendak, maha berkuasa, maha adil, maha pengasih, dan maha penyayang;
3. Asma, nama Tuhan yang baik-baik, seperti Allah Ta'ala, Yehuah, Deo, dan God; dan
4. Afngal, pakartining karsa, terbabarnya kehendak, hadirnya nasib dan takdir baik dan buruk.


Walaupun dzat, sifat, asma, dan afngal dapat dibedakan menurut pengertiannya, tetapi keempatnya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan (Utomo, 1997:39). Dzat meliputi sifat, sifat menyertai asma, dan asma menandai afngal. Pemahaman tentang Tuhan yang demikian itu oleh manusia menjadi hidup yang dinamis.

Kalimat: "Tuhan, kita begitu dekat" tersebut diulang kembali pada bait pertama, kedua, dan ketiga yang mengimplikasikan betapa pentingnya pewartaan ada hubungan kedekatan antara aku dengan Engkau itu. Selain untuk menjelaskan betapa penting hubungan antara aku dengan Engkau tersebut dilanggengkan (diabadikan) juga oleh sebuah penegasan kembali bahwa kedekatan hubungan antara aku dengan Engkau sebagai paham bertunggalnya kehidupan manusia dengan Tuhan. Dalam filsafat Jawa diungkapkan: Urip iku siji, asale saka Gusti Allah, baline marang Allah. Asale saka Urip, baline marang Urip (Hidup itu satu, asalnya dari Tuhan dan kembalinya kepada Tuhan. Asalnya dari Hidup dan kembalinya kepada Hidup). Tuhan dalam filsafat Jawa ini diartikan sebagai Hidup Abadi (Urip Langgeng), tempat asal dan kembalinya hidup (sangkan paraning dumadi).

"Sebagai api dengan panas" mengimplikasikan hubungan antara api dengan panas yang sulit untuk dipisahkan, menyatu atau saling melekat. Demikian pula kalimat "Aku panas dalam apimu" mengimplikasikan hubungan kedekatan antara unsur benda api yang dibandingkan dengan unsur benda panas, dan antara aku dengan -mu (Tuhan). Hubungan yang melekat dan menyatu antara api dengan panas sebagai metafora hubungan kedekataan antara Aku dengan Engkau (manusia dengan Tuhan). Hubungan kedekatan itu dapat dijelaskan dengan mengajukan pertanyaan: Bagaimana ada panas tanpa api? Jawabnya: Api dapat ada tanpa adanya panas, tetapi panas ada karena adanya api. Api merupakan unsur alam kedua setelah suasana, air, dan tanah. Di sini api merupakan unsur yang dominan dari unsur panas. Hal itu dikarenakan oleh keberadaan panas yang merupakan bagian dan sangat bergantung dari keberadaan api. Dengan metafora "Sebagai api dengan panas/Aku panas dalam apimu" dapat dipahami bahwa manusia merupakan bagian dari Tuhan, dan keberadaan manusia sangat bergantung pada keberadaan Tuhan. Dengan demikian keberadaan Tuhan itu sendiri tanpa bergantung pada keberadaan manusia. Tuhan merupakan causa prima (penyebab pertama dan utama) keberadaan manusia. Tuhan terlebih dahulu ada sebelum diciptakannya manusia.

Demikian juga kalimat yang menyatakan "Seperti kain dengan kapas/Aku kapas dalam kainmu" dan "Seperti angin dan arahnya" juga mengimplikasikan kedekatan hubungan antara satu benda dengan benda lainnya yang menyatu dan sulit untuk dipisahkan. Kalimat-kalimat di atas sebagai metafora hubungan antara manusia dengan Tuhan yang menyatu (bertunggal) dan sulit untuk dipisahkan. Metafora di atas menunjukkan adanya paham kesatuan wujud (kebertunggalan). Keterjalinan hubungan antara manusia dengan Tuhan diibaratkan seperti hubungan antara api dengan panas, kain dengan kapas, dan angin dan arahnya.

Untuk menjelaskan paham kesatuan wujud hubungan antara aku dengan Engkau yang dimetaforakan "Seperti kain dengan kapas/ Aku kapas dalam kainmu" dapat diajukan pertanyaan: bagaimana kain dapat ada? Kain ada karena ada kapas yang dipintal (ditenun) menjadi kain. Kapas hanya merupakan unsur pembentuk kain. Keberadaan kain sangat bergantung pada keberadaan kapas yang dipintal menjadi kain. Kapas yang tidak dipintal tidak akan menjadi kain. Jika kapas diartikan sebagai metafora manusia, kain metafora kehidupan, dan Tuhan pemilik kehidupan. Jadi, metafora di atas diartikan bahwa manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan milik Tuhan, sebab tubuh atau badan manusia sebagai kendaraan Tuhan.

Sementara itu, metafora di atas juga secara nyata menunjukkan jalan bagi manusia apabila manusia ingin meleburkan diri ke dalam unsur ketuhanan. Manusia harus dapat menghilangkan sifat-sifat yang melekat pada diri manusia sebagai syarat finalnya. Hal ini dianalogikan dari kapas yang melebur menjadi kain. Jika kapas ingin melebur menjadi kain, harus dihilangkan sifat kekapasannya. Sifat kekapasan menunjukkan sifat lahir manusia (badan wadag, jasmani), sedangkan kain menunjukkan sifat kerohaniahan manusia (jasmani halus, phisikis). Kain dan kapas juga sebagai simbol, sampai meninggal pun manusia tidak dapat meninggalkan kain (kafan) dan kapas sebagai pembungkus jenazah. Dalam pemahaman spritual ini kain dan kapas merupakan simbol kesatuan wujud antara manusia dengan Tuhan.

"Seperti angin dan arahnya" mengimplikasikan hubungan dua unsur yang sulit untuk dipisahkan pula. Angin (dalam spritual Jawa dipahami sebagai wadag suasana atau bayu) merupakan unsur alam pertama selain api, air, dan tanah. Angin dan arah memang tidak dapat dipisahkan. Keberadaan angin karena digerakkan menuju ke suatu arah tertentu. Arah selalu mengikuti angin bergerak. Ke mana pun angin bertiup, ke situlah arah mengikutinya. Jawatan metereologi dan geofisika setiap hari memantau arah dan angin bertiup sebagai ramalan cuaca.

Metafora di atas menjelaskan bahwa manusia dapat hidup karena digerakkan oleh dinamika hidup yang menuju (mengarah) kepada sumber hidup sejati. Di muka telah diterangkan bahwa Tuhan adalah hidup abadi, yang berarti pula menjadi dinamika hidup sejati, sumber hidup, yang menghidupi segenap makhluk, dan arah yang menjadi tujuan hidup manusia kembali kepada pemilik kehidupan. Dengan metafora ini secara jelas diterangkan bahwa Tuhan sebagai pemiliki, penggerak, yang menghidupi semua kehidupan, dan sumber hidup itu merupakan arah yang harus dituju manusia sesuai dengan petunjuk (arahan) Tuhan. Sesuai dengan firman Tuhan dalam Al Quran Surat Al Fatihah: Ihdinash shiraathal mustaqiim (Tunjukkanlah kami ke arah jalan yang benar) menjadi pedoman hidup manusia kembali kepada Tuhan.

"Dalam gelap" mengimplikasikan suatu keadaan di mana manusia berada dalam situasi yang gelap, yang tidak ada cahayanya. Sebagai simbol, "dalam gelap", berarti: berada pada tataran atau level primitif. Artinya, manusia belum dapat menemukan jalan kebenaran sesuai dengan petunjuk (arahan) dari Tuhan. Atau dapat juga diartikan bahwa manusia belum memiliki kesadaran atas keberadaan Tuhan. "Kini aku nyala/Pada lampu padammu" mengimplikasikan setelah kehadiran nabi atau rasul sebagai Utusan Tuhan yang membawa agama wahyu, manusia telah menemukan pencerahan atau sinar terang menuju jalan kebenaran yang sesuai dengan petunjuk dari Tuhan. Agama wahyu yang dibawa oleh nabi atau rasul Tuhan itu mampu menyalakan rasa (yang dimiliki manusia) keimanan manusia terhadap Tuhan. Di sini berarti manusia telah menemukan kesadaran atas keberadaan Tuhan sehingga "Kini aku nyala/ pada lampu padammu" lebih berarti dan bermakna penemuan kembali iman manusia yang telah lama hilang.

Keadaan gelap dan terang tersebut dapat diumpamakan sebuah lampu senter. Cahaya dari lampu senter memancar ke satu jurusan, yakni ke arah jalan kembali kepada Tuhan. Di belakang lampu senter tersebut keadaan gelapnya, dan di samping kiri kanan lampu senter itu setengah gelap. Cahaya lampu senter merupakan simbol keimanan dan kesadaran manusia atas keberadaan Tuhan setelah mendapatkan pencerahan dari Nabi dan Rasul. Di belakang dan kiri kanan lampu senter itu mirip dengan keadaan manusia dalam gelap atau tidak memiliki kesadaran atas keberadaan Tuhan yang senantiasa berada di dekatnya.
Pernyataan-pernyataan dalam puisi "Tuhan, Kita Begitu Dekat" tersebut terdapat beberapa oposisi, yaitu oposisi antara "Tuhan" (Kau, -Mu) dengan "manusia" (aku) atau "Khalik" dan "makhluk". Oposisi tersebut dimetaforakan dengan beberapa oposisi pula, yaitu oposisi antara api dengan panas, kain dengan kapas, angin dengan arahnya, dan gelap dengan lampu, serta nyala dengan padam. Hubungan antara Aku (manusia) dengan panas, kapas, angin, gelap, dan padam terbangun atas pertalian atau ekuivalensi metaforis (kesebandingan). Hubungan antara Tuhan (Kau, -Mu) dengan api, kain, arah, lampu, dan nyala terbangun atas pertalian atau ekuivalensi metaforis (kesebandingan). Sedangakn hubungan antara api dan panas, kapas dan kain, angin dan arah, gelap dan lampu, dan nyala dan padam terbangun atas pertalian atau ekuivalensi metonimi (keterkaitan). Antara Tuhan dan Aku dipisahkan oleh sebuah jarak dan dihubungkan oleh "nyala" atau "cahaya". "Nyala" atau "cahaya" tersebut berupa rasa iman atau kerinduan pertemuan antara Aku dan Tuhan.
Bentuk oposisi dalam sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" karya Abdul Hadi W.M. tersebut di atas dapat disederhanakan sebagai berikut.



Tuhan >< manusia Kau/-Mu >< aku (Engkau) >< (aku) Khalik >< makhluk kain >< kapas api >< panas arah >< angin lampu >< gelap nyala >< padam



Oposisi tersebut mampu menjelaskan di mana kedudukan, peran, dan fungsi manusia dalam hubungannya dengan Tuhan. Manusia hanya berkedudukan sebagai makhluk yang berperan sebagai individu, seperti unsur kapas, panas, dan angin dalam situasi gelap karena padamnya lampu. Kedudukan Tuhan jelas sebagai khalik, Sang Pencipta Alam Semesta, yang berfungsi sebagai kain penyatu, api pencerahan, petunjuk arah jalan kebenaran dan kebajikan, lampu penerang kegelapan, dan nyala iman manusia yang telah lama padam. Dengan melihat kedudukan dan peran atau fungsi masing-masing itu hendaknya manusia mampu menempatkan dirinya di tengah-tengah semesta alam. Oleh sebab itu, Jalal Ad-din Rumi mengatakan bahwa manusia bukan hanya mikrokosmos melainkan juga makrokosmos (Kartanegara, 1986: 57). Sekalipun manusia itu kelihatannya muncul sebagai makhluk ciptaan Tuhan, namun sesungguhnya Tuhan itu mencipta demi kepentingan hidup manusia. Hubungan timbal-balik seperti itulah sebenarnya yang membangun hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan. Dengan jalan seperti itulah dapat kita rasakan betapa dekatnya hubungan kita dengan Sang Maha Pencipta Alam Semesta, karena kita bagian dari alam dan alam merupakan bagian tak terpisahkan dari manusia.


4.2 Model, Matriks, dan Hipogram Aktual
Papaparan hipogram-hipogram potensial pada tahap pembacaan hermeneutik di atas telah berhasil mendapatkan kesatuan dunia imajiner sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat". Dalam sajak itu terbangun adanya citra kerinduan manusia terhadap Sang Khalik atau Tuhan. Seperti halnya manusia pengembara yang telah lama meninggalkan kampung halamannya. Pada suatu saat manusia pengembara itu rindu terhadap kampung halamannya, asal-mulanya dahulu. Demikian juga manusia, hidup di dunia ini merupakan pengembaraan setelah terusir dari kampung halamannya (surga, firdaus), seperti yang tersirat pada kisah Adam dan Hawa yang terusir dari surga (Hadi, 1999:193). Ia rindu pada surga yang menjanjikan suasana bahagia, tenang, damai, dan diliputi penuh kasih sayang. Kerinduan itu oleh Abdul Hadi W.M. diwujudkan dengan beberapa metafora yang menunjukkan kedekatan hubungan antara api dengan panas, kain dengan kapas, angin dengan arah, gelap dengan lampu, dan nyala dengan padam. "Nyala lampu" berfungsi sebagai simbol "pencerahan" wilayah "gelap". Secara signifikan "nyala lampu" merupakan personifikasi bernyalanya rasa keimanan manusia kepada Tuhan. Hubungan kedekatan antara manusia (aku) dengan Tuhan dapat terjalin erat yang didasarkan pada dimensi keimanan manusia kepada Tuhan. Hanya rasa keimananlah yang mampu mendekatkan hubungan antara manusia dengan Tuhan.

Bangunan imajiner sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" karya Abdul Hadi W.M. itu tentu belumlah sepenuhnya utuh sebagai satuan makna yang menjadi pusatnya. Hal ini disebabkan belum ditemukannya model dan matriksnya. Model merupakan aktualisasi pertama dari matriks. Aktualisasi pertama dari matriks ini berupa kata atau kalimat tertentu yang khas dan puitis. Kekhasan dan kepuitisan model itu mampu membedakan kata atau kalimat-kalimat lain dalam puisi tersebut. Eksistensi kata itu dikatakan puitis bila tanda itu bersifat hipogramatik dan karenanya monumental. Artinya, kata atau kalimat itu mengandung pancaran makna kata yang bersifat membias ke mana-mana.
Ada dua tanda yang tampaknya monumental dalam sajak "Tuhan, kita begitu dekat", yaitu (1) judul sajak itu sendiri, "Tuhan, Kita Begitu Dekat", dan (2) kalimat terakhir dalam sajak itu, "Dalam gelap kini aku nyala pada lampu padammu". Kedua kalimat itu agak sulit dibedakan kekuatan puitisnya. Kedua-duanya bersandar pada dua wacana yang sama-sama kuatnya seperti dua sisi mata uang. Yang pertama bertolak dari wacana religius Islami ketauhidan, sufisme dan keagamaan ihwal pewartaan hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan. Oleh karena itu, kalimat tersebut digunakan sebagai judul sajak yang memiliki nilai puitis yang bersifat hipogramatik dan monumental. "Tuhan, Kita Begitu Dekat" adalah aktualisasi pertama dari matriks. Perulangan sebanyak tiga kali pada bait pertama, kedua, dan ketiga, secara tegas dan jelas menunjukkan betapa penting dan puitisnya kalimat tersebut.
Selain hal di atas, model pertama kalimat puitis "Tuhan, Kita Begitu Dekat" menunjukkan hubungan kedekatan yang terasa intim antara manusia dengan Tuhan. Dari kalimat tersebut kemudian melahirkan kalimat-kalimat puitis yang lain, seperti "Sebagai api dengan panas/ Aku panas dalam apimu", "Seperti kain dengan kapas/ Aku kapas dalam kainmu", "Seperti angin dan arahnya/ Kita begitu dekat". Kalimat "Tuhan, Kita Begitu Dekat" menjadi muara atau tumpuan dari kalimat-kalimat puitis yang lainnya. Kalimat "Tuhan, Kita Begitu Dekat" juga mampu menggaungkan kembali wacana-wacana puitis yang telah terbangun sebelumnya. Untuk membuktikan hal ini maka akan ditelusuri pada kajian hipogram aktual.
Model kedua berangkat dari wacana religius modern yang mengabarkan keimanan manusia yang menyala dengan terangnya setelah mendapatkan pencerahan atas petunjuk Tuhan melalui para nabi dan rasul. "Dalam gelap kini aku nyala pada lampu padammu" menyiratkan urutan perjalanan spritual manusia dari gelap menuju kepada terang. Gelap dan terang ini mengingatkan kita pada sajak Chairil Anwar "Lagu Siul I & II" yang sering dikutip sebagai sajak yang bernuansakan sufistik (Hadi, 1999:143--148). Mari kita perhatikan sajak Chairil Anwar yang telah menjadi obsesi Abdul Hadi berikut.



LAGU SIUL



I

Laron pada mati
Terbakar pada sumbu lampu
Aku juga menemu
Ajal dicerlang caya matamu
Heran! Ini badan yang selama berjaga
Habis hangus di apimu
'Ku kayak tidak tahu saja.


II

Aku kira
Beginilah nanti jadinya:
Kau kawin, beranak dan bahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.


Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.


Jadi baik kita padami
Unggunan api ini
Karena Kau tidak akan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka.



28 November 1945



Abdul Hadi W.M. benar-benar terobsesi secara kreatif oleh sajak Cahiril Anwar "Lagu Siul" sejak duduk di bangku SMP (Hadi, 1999:143), yakni jauh hari sebelum diciptakannya sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" tersebut. Dari hasil pembacaan sajak Chairil Anwar itulah sehingga muncul kalimat: "Dalam gelap kini aku nyala pada lampu padammu". Unsur-unsur yang terlihat jelas dari sajak Chairil dalam sajak Abdul Hadi itu adalah: (1) dari api tetap menjadi api, (2) dari sumbu lampu menjadi lampu, (3) dari padami yang diterjemahkan menjadi padammu, (4) dari unggunan api yang oleh Abdul Hadi diterjemahkan menjadi nyala, dan (5) dari laron pada mati terbakar, ajal cerlang, habis hangus, dan terpanggang tinggal rangka diterjemahkan menjadi dalam gelap. Meskipun tokoh Ahasveros dan Eros itu simbol religius agama Yahudi, bersumber pada Bibel, Kitab Ester, Abdul Hadi tidak mempersoalkan hal itu. Ia hanya mengangkat hakikat gelap dan terang serta nyala lampu pada sajak tersebut ke dalam pemahaman religius sajaknya. Dengan demitefikasinya itu Abdul Hadi mampu membuat sajak "Tuhan, kita begitu dekat" tersebut utuh terpahami sebagai dunia otonom, teks yang berdiri sendiri tanpa dikaitkan dengan tokoh mitologi agama Yahudi.

Matriks yang menjadi "roh" dari puisi sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" adalah pencerahan keimanan manusia kepada Tuhan. Semangat pencerahan keimanan manusia kepada Tuhan itu terbangun dari ungkapan kalimat "Sebagai api dengan panas/ Aku panas dalam apimu" yang ekuivalensi maknanya dengan kalimat "Dalam gelap/ Kini aku nyala/ Pada lampu padammu". Api, panas, lampu, dan nyala merupakan simbol penerangan dan sekaligus pembebasan jiwa yang terbelenggu oleh kegelapan. Hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan yang dimetaforakan dengan api, panas, lampu, dan nyala adalah semangat pencerahan keimanan sekaligus pembebasan jiwa yang terbelenggu oleh kegelapan dunia yang fana. Hanya dengan pencerahan keimanan dan pembebasan jiwa yang terbelenggu kegelapan itulah yang mampu mendekatkan hubungan antara manusia dengan Tuhan.

Hipogram aktual yang mampu menggaungkan wacana-wacana sebelumnya adalah pewartaan tentang hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan. Hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan, "Tuhan, kita begitu dekat", pada masa dahulu telah diwartakan oleh para penyair sufi, seperti Al Hallaj, Ibn Arabi, Faridudin Attar, Jalal Ad-din Rumi, M. Iqbal, Hamzah Fansuri, Syamsuddin Al-Sumatrani, dan para suluk atau mistikus dari Jawa seperti Sunan Bonang, Syeh Sitti Jenar, Mangukunegoro IV, dan Ronggowarsito. Mereka semua mewartakan kedekatan hubungan manusia dengan Tuhan dalam bingkai paham bertunggalnya hamba dan Tuhan.

Sejumlah pewartaan hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan dalam Al Quran terungkap dalam Surat 28: 88, "Kullu syai-in haalikun illaa wajhahuu", artinya: Segala-galanya hilang kecuali wajah Allah yang hidup kekal. Juga ada pula hadis nabi yang berbunyi: "Man'arafa nafsuhu faqad'arafa rabbahu", artinya: Barang siapa mengenal dirinya, dialah yang mengenal Tuhannya. Selain itu, juga terdapat sebuah ayat dalam Al Quran yang menyatakan secara tegas hubungan kedekatan antara manusia dan Tuhan, yaitu Surat 50/Qaaf : 16, yang berbunyi: "Nahnu aqrabu ilaihi min hablil wariid", artinya: Kami lebih dekat dengan manusia dari pada pembuluh darah yang ada di urat lehermu.

Kedekatan hubungan antara manusia dan Tuhan juga ditulis oleh Dr. S. Radhakrishnan (terjemahan Iwan Nurdaya Djafar) sebagai berikut. "Kehadiran dari yang bersifat Tuhan telah dipahamkan dalam kata-kata yang berbeda. Kita mengatakan: Itu seni para nabi. Budha berkata bahwa setiap orang memiliki esensi pencahayaan. Jesus berkata bahwa kerajaan Tuhan ada dalam dirimu. Nabi Muhammad bersabda bahwa Tuhan lebih dekat untukmu dari pada urat nadi di lehermu. Terhadap semuanya ini orang menyetujui kehadiran satu elemen ketuhanan dalam diri manusia."

Ungkapan khas para sufi dan para suluk dari Jawa adalah "Kalbu mukmin baitullah" artinya: di dalam hati orang yang beriman terdapat singgasana Tuhan. Hanya di dalam kalbu atau hati orang-orang yang beriman itulah singgasana Tuhan. Sebab hanya orang-orang yang berimanlah yang dapat menemukan Tuhan di dalam hati sanubarinya. Dalam konsep mistikus Jawa tersebut, Tuhan diartikan sebagai Dzat yang inmateriil, tidak berunsur, tidak dapat diraba, tidak dapat dilihat, dan hanya dapat dirasakan oleh kalbu. Cedhak tan sesenggolan adoh tan antara (dekat tidak bersentuhan, jauh tidak ada batasnya). Hanya mata hati yang suci yang mampu melihat kehadiran Dzat Tuhan, yang dalam bahasa sufi disebut al-insan al-kamil. Para sufi itu juga sering menggambarkan "Tuhan, kita begitu dekat" dengan metafora "Seperti bunga dengan harumnya, madu dengan lebahnya, dan sungai dengan alirannya" atau kadang pula dengan simbol laut seperti dalam syair "Laut Mahatinggi" Hamzah Fansuri (Hadi, 1995: 136--144). Salah satu bait dari syair karya Hamzah Fansuri tersebut berbunyi sebagai berikut.


Wujudmu itu jadikan mata
Matamu itu jadikan nyawa
Nyawamu itu lenyapkan sana
Pada laut yang maha bercahaya


(Fansuri dalam Hadi, 1995: 137)

5. Simpulan

Pembacaan sajak "Tuhan Kita Begitu Dekat" karya Abdul Hadi W.M. dengan pendekatan semiotika yang dikembangkan Riffaterre membuahkan sebuah pemahaman makna secara total. Pada tahap pembacaan semiotika pertama (heurestik atau pada level kebahasaan) membuahkan sebuah heterogenitas yang ungramatikal, terkoyak-koyak dan tidak terpadu. Seolah-olah tidak ada kesinambungan antara baris demi baris atau bait demi bait dalam sajak tersebut. Akan tetapi, setelah diadakan pembacaan yang lebih jauh pada pembacaan semiotika tingkat kedua (hermeneutik) diperoleh sebuah makna yang padu tentang pewartaan hubungan kedekatan antara manusia dengan Tuhan yang dipandang dari dimensi estetika kesufian.
Kalimat "Tuhan, kita begitu dekat" dalam sajak tersebut menjadi model pertama matriks yang mampu menggaungkan wacana-wacana yang ada sebelumnya. Dengan matriks pencerahan keimanan manusia kepada Tuhan mampu merekatkan hubungan manusia dengan Tuhan, baik secara imanen maupun secara transendental, dalam wacana estetika religius kesufian.
Sajak "Tuhan, Kita Begitu Dekat" karya Abdul Hadi W.M. tersebut menunjukkan betapa kuat pengaruh dari puisi-puisi sufi, baik citraannya, pemakaian lambang, maupun metaforanya. Dalam sajak Abdul Hadi itu memberi gambaran upaya manusia untuk bertunggal dengan Tuhan, yakni suatu jalan kerohanian menuju kembali kepada Tuhan yang berangkat dari ajaran tauhid Islam. Karya semacam ini mencerminkan perenungan yang dalam dan keluasan berpikir serta wawasan yang jauh tentang semesta raya seisinya. Selain itu, tampak juga adanya upaya penyair mencari kebenaran yang memadukan antara zikir dan pikir secara sunggguh-sungguh dan maksimal. Pesan pembebasan dan pencerahan jiwa yang terbelenggu kegelapan menjadikan sajak itu semacam profetik (kenabian) dan apokaliptik (kewahyuan). Kegembiraan spritual dan kearifan dalam menyikapi kehidupan yang tercermin sajak itu menjadikan hidup senantiasa optimis, tanpa mengenal putus asa karena senantiasa bertakwa dan beriman.



[]

Senin, 14 Maret 2011

"KALALATU", ANTARA BALADA DAN MANTRA

Jika Ajip Rosidi punya “Jante Arkidam” dan Rendra punya “Balada Terbunuhnya Atmo Karpo” atau “Mencari Bapa”, seorang Arsyad Indradi (Penyair dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan) punya “Bagandang Nyiru”, “Kakek Adul”, “Nama Terpuji”, “Terbang Burung”, “Nini Aluh”, “Harumi Tanah Banyu”, “Nisan Berlumur Darah”, “Dundang Duka Seribu Burung”, dan lain-lain. Balada selalu menarik dibicarakan karena di dalam puisi jenis ini tampil karakter tokoh atau sesuatu yang ditokohkan. Ajip Rosidi menampilkan karakter Jante Arkidam, yang digali dari khasanah budaya Pasundan, Jawa Barat. Rendra menampilkan sosok manusia Jawa dalam sajak-sajak balada yang digubahnya.

Dalam proses kreatif penulisan sajak, atau dalam perkembangan seorang penyair dalam dunia kreatif, hampir dapat dipastikan pernah memilih balada sebagai cara ungkap. Ajip Rosidi meskipun pernah menghasilkan “Jante Arkidam”, tidak dikenal sebagai penyair balada, ia lebih intens menghasilkan sajak-sajak lirik-naratif-imajinatif. Berbeda dengan Ajip, Rendra sangat kuat mengekpresikan ide-idenya melalui puisi berjenis balada.

Di dunia kepenyairan Indonesia, Rendra boleh jadi tergolong penyair yang paling kuat menulis balada, terbukti banyak sajak yang ditulis Rendra, misalnya “Balada Orang Tercinta”, “Balada Sumilah”, “Balada Lelaki Tanah Kapur”, dan lain-lain. Rendra kuat menghasilkan sajak balada, sebab latar belakang penguasaan teater meronai balada-balada yang ditulisnya. Balada memang dekat dengan kemampuan olah teater. Penyair yang juga menguasai teater biasanya berhasil menulis sajak jenis balada ini.

Arsyad Indradi, sebagai penyair yang tumbuh dan besar di daerahnya berhasil menulis sajak-sajak berjenis balada yang dibaurkan dengan mantra dalam bahasa Banjar—dan penyair ini bermukim di Banjarbaru Kalimantan Selatan. Sajak-sajak bahasa Banjar dan terjemahan dalam bahasa Indonesia dihimpun dalam buku Kalalatu (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, 2006). Buku ini memuat 70 sajak yang ditulis dekade 1990-an hingga 2000-an. Kalimantan dalam peta sastra nusantara tak bisa diremehkan, sebab di pulau ini ada Korrie Layun Rampan, Ajamudin Tifani (almarhum), Hamami Adaby, Micky Hidayat, dan tentu saja Arsyad Indradi.

Balada yang disuguhkan dalam buku Kalalatu ini tentu saja tidak menampilkan pengertian balada secara teoretis, melainkan penyair Arsyad Indradi hanya mengambil dan menampilkan ruh balada dan dipadukannya dengan kekuatan mantra. Dengan kata lain, balada yang diciptakan oleh penyair Banjarbaru ini telah mengalami apa yang disebut eksplorasi intuisi dan imajinasi, serta melakukan sintesis baik pada lapisan bunyi (lapisan lambang-lambang bahasa sastra), lapisan arti (sejumlah makna yang terpendar oleh lambang kebahasaan), maupun lapisan dunia metafisis (dunia pengucapan, tujuan, dan efek yang difungsikan) dan dikawinkan dengan sajak berjenis mantra.

Seterusnya, sebagai hasil kreasi, sajak-sajak balada dan mantra karya Arsyad Indradi menampakkan adanya keaslian (orisinalitas), kejelasan (lantaran pilihan kata yang tepat, penggunaan metafor, dan kesatuan imaji), memukau (lantaran permainan bunyi, pemanfaatan gaya bahasa, foreshadowing, dan penggunaan enjambemen), sugestif (dapat merangsang secara asosiatif dan memberikan daya ajuk), asosiatif, dan menampilkan cerita secara runtut. Marilah kita simak balada yang memiliki kekuatan magis seperti mantra yang digubah oleh Arsyad Indradi.

Dalam sajak “Bagandang Nyiru” (menabuh tampah), tampil tokoh Ainun, Juhri, Kakek Adul, dan Nini Aluh. Ainun digambarkan sebagai teman sepermainan Juhri dan Juhri mewakili tokoh yang bisa dijadikan teladan, “Juhri yang berkaki panjang sebelah/ tapi pintar bagimpar dan bagipang/ di kampung namanya terpuji”. Masyarakat memandang hormat dan bersahabat pada Juhri yang membawa “handayang dan suluh/Riuh bergendang tampah sambil memanggil nama Juhri/”. Ciri khas balada dan mantra tampil melalui repetisi seperti ini: “Sungai semakin mengalir deras Juri pulang/ Juhri pulang/ Juhri pulang/ Juhri merasa semakin juga terbawa arus/... Juhri pulang/ Kau dimana Juhri/ Cepat pulang”. Sosok Kakek Adul dan Nini Aluh ditampilkan sebagai tokoh masyarakat yang mewakili “tuo-tuo tengganai” atau “pemangku adat” yang disegani. Peristiwa tragis yang menimpa Juhri lantaran hanyut di sungai dikemas secara halus, namun tragik. Di sini juga tampak muatan lokal (local colour) yang disajikan secara arif oleh penyairnya.

Tokoh Kakek Adul selanjutnya tampil mendominasi pada sajak berjudul “Kakek Adul”. Siapa Kakek Adul, apa masalahnya, dan bagaimana keberadaannya? Kakek Adul digambarkan sebagai cermin: “Kakek cermin bagi kami”. Hal ini disebabkan bahwa Kakek Adul adalah representasi adat-istiadat, sumber petuah, sumber berbagai ajaran tentang kehidupan. Kita simak: Bila tinggi sekolahnya jangan dilupakan juga/ adatistiadat dan petuah orang bahari/ Hidup ada aturannya tungai/ Jika terlanggar pamali/ Ini dikatakan tahyul/ Permisi lewat di hadapan orang tua/ Pamali duduk di muka pintu waktu hari senja/ Anak beriman ingat dengan waktu/ Pelihara sangkar bumi dan sangkar langit/ kita di dalamnya di bibir tiada lepas dengan thayyibah/ di ruas jari kita jangan tertinggal tasbih/ Bila tidur bantal kita syahadat/ Selimut kita zikir...”. Kakek Adul adalah sosok manusia yang arif, disegani, dan penyayang anak-cucu, dan dijadikan acuan dalam menjalani kehidupan.

Tokoh Nini Aluh, sebagaimana juga tokoh Kakek Adul, merupakan wakil dari sosok orang tua yang nasihat-nasihatnya pantas diteladani lantaran memiliki kesaktian. Sosok Nini Aluh ini secara lengkap dapat kita tangkap melalui penggambaran: “Di banua banyak orang berobat pada nenek/ Jika kena pulasit parang maya atau termakan racun/ Dan beliauu seperti membuangi klimpanan/ Cah jika ular saja tidak mempan mematuk beliau/ dimasukkan beliau dalam tapih”. Kekuatan balada dan mantra, antara lain tampil melalui deskripsi atau narasi dengan eksplorasi intuisi dan imajinasi, serta melakukan sintesis baik pada lapisan bunyi (lapisan lambang-lambang bahasa sastra), lapisan arti (sejumlah makna yang terpendar oleh lambang kebahasaan), maupun lapisan dunia metafisis (dunia pengucapan, tujuan, dan efek yang difungsikan). Kita simak sajak “Nama Terpuji” berikut:

Harum setanggi pudak melati berenteng di gelung dua
Bergelang emas berkalung emas bersusun bertingkattiga
Berwajah cantik berharta banyak apalah artinya
Apalah artinya jika adat budi bahasa
tidak dipakai tidak dijaga
Banyak orang berperilaku banyak menenam nyiur
Padahal handayangnya gugur memperapas

Peribahasa menyatakan “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan nama”. Manusia mati meninggalkan nama ini dijadikan entry bagi penyair untuk mengekspresikan pemikirannya. Sajak yang mengandung ajaran luhur seperti itu, tampil juga dalam sajak “Sayang Gunung” seperti ini:

Bumi yang dipijak
Langit yang dijunjung
Siapalah lagi yang memelihara
Jika kita juga tidak ikut membangun
Rusaklah binasa
Jauhkan bencana

Sayang gunung
Sampai jauh batas suara burung
Sayang gunung
Sayangi tanah air hutan belukar
....
Seterusnya, sebagai hasil kreasi, sajak-sajak balada dan mantra karya Arsyad Indradi menampakkan adanya keaslian (orisinalitas), kejelasan (lantaran pilihan kata yang tepat, penggunaan metafor, dan kesatuan imaji), memukau (lantaran permainan bunyi, pemanfaatan gaya bahasa, foreshadowing, dan penggunaan enjambemen), sugestif (dapat merangsang secara asosiatif dan memberikan daya ajuk), asosiatif, dan menampilkan cerita secara runtut. Kita simak beberapa penggalan berikut ini.

“Berdeburan angin beruap panas/ Diketinggian gunung hauqalah bau harum/ kembang alo kautsar semerbak/ Kupegangi erat jazim dalam dadaku/ Kuiringi kemana terbang hinggap kupukupu...Jangan sungkan masuklah/ Beradab dengan shalawat/ Nyalai karmanya dengan ma’rifatullah/ Bukai jendelanya dengan nuruttajali” (“Terbang Burung”).

Sementara itu, sajak yang kental nuansa mantranya tampak pada sajak “Darah” seperti ini: Adalah langit darah berdarah/ Tak habishabis jadi laut berabadabad telah/ tak berpus di atasnya rajah perahu Nuhmu/tak singgahsinggah pada dermaga darahku/Hu Allah darahku hanyut dalam darahmu/ kutubku tenggelam dalam kutubmu/ menghemas napas darahku membatubara/ dikunci rahasia Alifmu Alif Alif/ darh Adamku yang terdampar di bumi/yang rapuh berabadabad mencari darah hawaku/ yang rapuh tersesat di belantaramu meraung/ darah laparku mencakarcakar mencari darahku/ beri aku barang setetes Hu Allah/ getar alir napas menyeru darahmu mengalir darah mataku/ mengalir darah musafir di sajadahmu/ mengalir menuju rumahmu.

Kekuaatan magis dengan pola ungkap mantra, seperti pernah dilakukan oleh penyair Sutardji Calzoum Bachri dengan “O, Amuk, Kapak”-nya, dapat kita rasakan dalam larik-larik sajak “Darah” berikut:

darah hidupku Hu Allah
darah matiku Hu Allah
darah hidupmatiku Hu Allah
darah raungku Hu Allah
darah cakarku Hu Allah
darah laparku Huu Allah
darah hausku Hu Allah
darah ngiluku Hu Allah
darah rinduku Hu Allah
....

semesta bergoncang Hu Allah
arasy pun bergoncang Hu Allah
darahku aujubilah
darahku astafirullah
darahku subhanallah
Allah

Sajak “Darah” yang berdarah-darah ini niscaya memiliki kekuatan magis setara dengan sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri. Arsyad Indradi dalam sajak “Darah” ini berhasil menggali potensi budaya Melayu dengan tradisi mantranya. Ciri-ciri mantra yang memukau (lantaran permainan bunyi, pemanfaatan gaya bahasa, foreshadowing, dan penggunaan enjambemen), sugestif (dapat merangsang secara asosiatif dan memberikan daya ajuk), dan membius lantaran ketepatan ungkapan dengan kata-kata kongkret. Tak pelak lagi, sajak “Darah” mewakili keberhasilan Arsyad Indradi sebagai penyair yang pantas diperhitungkan. Sekian, salam budaya.