Selasa, 22 Februari 2011

SEKAPUR SIRIH, CATATAN JURI LOMBA BACA PUISI HISKI BUNGO

TULISAN ini kuberi nama Sekapur Sirih catatan juri lomba baca puisi oleh HISKI Komisariat Bungo. Sahdan, untuk memperingati hari Pahlawan, Hari PGRI, dan sekaligus Bulan Bahasa, HISKI Komisariat Bungo yang belum genap berusia satu semester telah mulai menunjukkan kiprahnya. Ada dua agenda yang digelar, yakni Lomba Baca Puisi untuk guru dan dosen, lomba baca cerpen untuk pelajar SMP dan SMA serta Workshop penulisan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurutku, dua agenda acara ini layak mendapatkan catatan baik dari segi tatalaksana lomba maupun dari materi lomba itu sendiri. Catatan ini difokuskan pada Lomba Baca Puisi yang diikuti oleh guru dan dosen di kota ini.

Baca puisi (poetry reading) di hadapan audien hakikatnya masuk dalam wilayah performance. Dalam baca puisi, pembaca berusaha merealisasikan kembali perwujudan bunyi yang semula tertuang dalam bentuk ideografi. Pembaca puisi berupaya mengungkapkan suatu ide dengan perantaraan bunyi-bunyi bahasa yang indah dan mengesankan. Bunyi bahasa yang indah adalah bunyi bahasa yang euphonic, musical, ritmis, ornamentic dan symbolic yang “mengenakkan” pendengaran kita (volume suara yang sangat mengesankan, tidak terlalu kuat, tidak terlalu lemah, tidak terlalu kecil, tidak terlalu besar, tidak menyakitkan telinga). Keindahan bunyi itu juga disebabkan oleh realisasi bunyi yang bersifat artikulatif.

Pembaca puisi harus mampu mengucapkan bunyi-bunyi vokal: a, i, u, e, o dan bunyi-bunyi konsonan seperti k, l, m, r, d, dan seterusnya sesuai dengan proses kewajaran. Apabila volume suara sudah cukup dan artikulasinya sudah tepat, aspek lain yang harus diperhitungkan adalah bunyi pembawaan (performance). Bunyi ini didukung oleh bunyi-bunyi kuantitatif: panjang-pendeknya ucapan, keras-lemahnya tekanan, lama-singkatnya ucapan yang umumnya disebut tempo. Peranan subjektif dan kreatif ikut menentukan sukses-tidaknya dalam membaca puisi secara estetis.

Aspek lain yang penting dikuasai oleh pembaca puisi adalah aspek dinamis. Aspek dinamis ini lebih sulit diketahui secara langsung oleh pembaca puisi. Aspek dinamis biasanya dipakai untuk membaca persamaan dan perbedaan, perulangan, dan selingan bunyi yang tampil pada larik-larik puisi. Bagian-bagian yang perlu mendapatkan tekanan dinamis adalah bagian-bagian puisi yang perlu mendapatkan intensifikasi pengertian. Lambang-lambang yang menyatakan berbagai perasaan, misalnya bimbang, ragu-ragu, kepastian, harapan,dan sebagainya direalisir dengan memperkecil aspek dinamisnya, yakni dengan cara melemahkan pembacaan, mengurangi tekanan, melambatkan tempo, dan meninggikan nada pengucapan. Semua ini berkaitan dengan penjiwaan puisi.

Setiap pembaca puisi harus memperhatikan (1) pemanfaatan alat ucap, (2) menguasai faktor kebahasaan, dan (3) menguasai performance. Pertama, pemanfaatan alat ucap. Setiap orang yang normal memiliki alat ucap. Yang menjadi masalah ialah bagaimana pembaca puisi dapat memanfaatkan alat ucap secara maksimal dalam membaca puisi secara estetis? Alat ucap itu dimanfaatkan untuk merealisasikan faktor kebahasaan seperti lafal, intonasi, dan jeda.

Kedua, penguasaan faktor kebahasaan seperti lafal, intonasi, dan jeda. Pelafalan ialah usaha untuk mengucapkan bunyi-bunyi bahasa, baik suku kata, kata, frasa, maupun kalimat. Pelafalan dalam membaca puisi maksudnya ialah pelafalan bunyi bahasa sesuai dengan jiwa dan tema puisi. Intonasi dalam pembacaan puisi menyangkut ketepatan penyajian tinggi-rendah irama puisi. Irama ini dapat diperoleh dengan mempertimbangkan berbagai jenis tekanan, yaitu (1) tekanan dinamik (tekanan pada aspek yang ditekankan), (2) tekanan nada (tinggi-rendahnya pengucapan), dan (3) tekanan tempo (panjang-pendeknya pengucapan).

Ketiga, penguasaan performance meliputi (1) sikap wajar dan tenang,(2) gerak-gerik dan mimik, (3) volume suara, dan (4) kelancaran dan kecepatan. Pembaca puisi yang baik bisa bersikap wajar dan tenang; gerak-gerik dan mimiknya (ekspresi wajah) menggambarkan bahwa ia dapat memahami dan menghayati puisi yang dibacanya dan secara tepat dapat mendukung (menghidupkan) puisi yang dibacanya; pembaca puisi yang berpengalaman dapat menyesuaikan volume suara dengan tempat, jumlah penonton, dan ada-tidaknya pengeras suara. Kelancaran, kecepatan, dan ketepatan pembacaan puisi dapat mendukung kesuksesan dalam membaca puisi cecara estetis.

Bagaimanakah cara agar pembaca puisi penampilannya komunikatif, indah, dan memikat penikmat? Pembaca puisi minimal harus memiliki (1) penghayatan, (2) pelafalan, dan (3) penampilan. Penghayatan adalah pengalaman batin. Pembaca puisi sebaiknya memahami dan menghayati apa yang dirasakan oleh penyair pada saat menciptakan puisinya, memahami dan menghayati persoalan yang ditulis di dalam puisi, menangkap nada dan suasana puisi yang dibacanya. Selain itu, pembaca puisi perlu menguasai pelafalan yang meliputi kejelasan ucapan, artikulasi, kemerduan, dan kesesuaian tekanan dinamik (keras-lamah), tekanan tempo (cepat-lambat), tekanan nada (tinggi-rendah), dan modulasi (perubahan bunyi desah, gestur,dll.), tidak mengkorupsi dan menambah kata. Aspek penampilan meliputingerak kecil, gerak besar, dan mimik. Oleh karena itu, untuk mendukung penampilannya, pembaca puisi perlu menciptakan kondisi psikologis seperti pemusatan pikiran, percaya diri, dan memiliki pemahaman yang tepat secara kontekstual.

Berikut ini dikemukakan catatan lomba baca puisi yang diikuti oleh guru dan dosen serta resep jitu untuk membaca puisi secara estetis.

1. Berhasil-tidaknya penampilan baca puisi secara estetis bergantung apakah pembaca puisi memiliki rasa percaya diri (PD). Percaya diri ini merupakan gejala psikologis yang berkaitan dengan luas-sempitnya wawasan, pengetahuan, dan pengalaman si pembaca puisi. Semakin luas wawasan, pengetahuan, dan pengalaman maka semakin besarlah rasa percaya dirinya. Peserta lomba baca puisi di Bungo perlu meningkatkan rasa PD serta diimbangi dengan pemahaman yang lebih baik atas puisi yang dibaca. Lumayan banyak peserta baca puisi yang terjebak pada kekeliruan saay melafalkan kata "sayang" pada rangkaian frase "sepuluh tahun yang lalu dia terbaring, tapi tidak tidur, sayang (pengucapan "sayang" dalam konteks ini mengarah pada sikap "menyayangkan" atas sesosok jasad yang elok, masih muda, dan banyak dijadikan dambaan, tetapi kenyataan menunjukkan wajah rupawan dan penuh semangat itu kini terbujur sebagai mayat. Sayang kan?
2. Untuk membaca puisi secara estetis diperlukan pemahaman terhadap isi puisi yang akan dibaca. Pembaca puisi yang memiliki pemahaman isi puisi secara tepat dimungkinkan dapat membaca puisi secara tepat pula. Pemahaman terhadap isi puisi merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh pembaca puisi. Dengan dasar pemahaman itulah si pembaca puisi dapat menghayati isi puisi. Sikap "menyayangkan" pemuda tampan yang jadi korban saat pertempuran, dan bahkaan diidenifikasi sebagai "pahlawan tak dikenal" pada sajak Toto Sudarto Bachtiar jika bisa dibawakan dengan tepat niscaya akan menumbuhkan simpati.
3. Membaca puisi secara estetis menuntut penguasaan penampilan (ekspresi). Suasana sedih, gembira, murung, atau marah dapat diekspresikan dengan berbagai cara: sorot mata, raut wajah, dan gerakan tangan dan kaki. Ekspresi yang baik tentulah bertolak dari tema, nada, dan suasana puisi. Para peserta lomba perlu banyak mengasah kepekaan berbagai rasa ini saat mengikuti lomba baca puisi.
4. Penguasaan irama (ritme) pembacaan dengan memperhatikan berbagai variasi pembacaan dapat menunjang keberhasilan penampilan baca puisi secara estetis. Bedakan pembacaan tanda baca koma, titik, tanda seru, tanda tanya dalam larik-larik puisi.
5. Membaca puisi dengan perasaan atau tidak tentu sangat berbeda. Pemanfaatan emosi haruslah tepat takarannya. Makin wajar emosi, makin berhasil dalam penampilan. Andai peserta lomba bisa sedikit bersikap "santai", tenang, dan berani bergaya tutur niscaya akan memberikan nuansa yang lain.
6. Penguasaan panggung dan arena juga perlu disiasati oleh pembaca puisi. Kuasailah arena dengan berbagai cara, misalnya berjalan ke kanan, ke kiri, atau ke belakang dengan langkah dinamik dan ritmik.
7. Atur nafas baik-baik, jangan sampai terputus atau terbatuk dan dapat merusak suasana dan keindahan baca puisi. Nafas yang baik digunakan oleh pembaca puisi adalah nafas diafragma, bukan nafas dada.
8. Pusatkan pikiran dan perhatian (konsentrasi) hanya pada pembacaan puisi, jangan memperhatikan hal-hal lain di luar pembacaan puisi. Jangan terganggu oleh suara orang lain.
9. Ketika tampil membaca puisi, usahakan berkas puisi jangan menutupi wajah, sehingga menghalangi penonton menikmati ekspresi pembaca puisi.

Demikian catatan ringkas ini dibuat sebagai sebentuk pertanggungjawaban profesional selalu dewan juri.



Dewan Juri
Dimas Arika Mihardja (Ketua/ anggota)
Ramayani (anggota)
Asro Al-Murtawy (anggota)

WACANA BESAR DI BALIK "BUNGKAM MATA GERGAJI" GUMAM ALI SYAMSUDIN ARSY

Catatan: Dimas Arika Mihardja

ALI SYAMSUDIN ARSY (ASA) kembali bergumam, berkutat pada gumam, melakukan perjalanan ulang-alik seraya berkubang dalam kreativitas yang menderas dan layak dijadikan fokus kajian. ASA membawa fenomena baru dalam khasanah kesusastraan Indonesia. Dalam kaitan ini saya pernah menulis esai yang antara lain menyatakan:

Buku ASA, “Negeri Benang Pada Sekeping Papan”, “Tubuh di Hutan Hutan”, dan “Istana Daun Retak” menunjukkan kubu yang berbeda jika dibanding dengan kubu sastrawan sebelumnya yang merambah dunia bahasa lengkap dengan maknanya sebagai wawasan estetik dalam berkarya. Ketika penyair lain memilih karya yang menjaga keteraturan, keseimbangan, keselarasan, dan kepaduan pada sisi lain ASA berani menerobos belantara penciptaan dengan melawan arus. ASA memperkenalkan wawasan estetik kekacauan, ketidakteraturan, asimetri, aharmoni, dan sebagainya ke dalam karya yang berbeda. ASA menamakan karyanya sebagai “gumam” yang menurut penerbit ‘lahir dari seorang pencatat yang murung dan gusar. Mencoba bersikukuh pada kemanusiaan dan menolak untuk dikalahkan oleh kesia-siaan’.

Kini ASA sedang menyiapkan serial gumam selanjutnya yang diberi tajuk "Bungkam Mata Gergaji". Tajuk ini rasanya tak lagi bergumam, melainkan telah merambah ke eksploitasi bunyi jerit tertahan sehingga nyaris merupakan seruan: "Bungkam Mata Gergaji". Seperti apakah "Bungkam Mata Gergaji" ini tampil dan dikemas? Apakah ASA masih konsisten dengan estetika disharmoni, asimetri, dan dekonstruksi? Marilah kita tilik sebuah gumam panjangnya dalam kutipan berikut ini:

Bungkam Mata Gergaji

Hutan belantara rimba raya terlanjur hangus bertunggul-tunggul, sudah sangat gundul, negeri kitakah yang tiba-tiba menjelma hutan belantara rimba raya sebagai tebaran pesona dari berpuluh penampilan agar tetap menjadi yang terbaik walaupun tengadah kulit tangan keriput tak pernah dihiraukan sampai tuntas, sesekali datang juga berkunjung tetapi hanya cuci muka agar tetap bersih putih dan tak pernah mau peduli sampai mendatangkan kebahagiaan ke akar-akar, selalu saja menggantung di cabang-cabang di ranting-ranting, “Kami sudah berikan yang terbaik kepada mereka dan semoga mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya.” Benar. Dan itu sekali saja, ketika datang liputan berita dalam tayangan-tayangan kaca serta lembar-lembar cetak terbaca, namun sebenarnya di balik itu permohonan demi permohonan melebihi apa yang terbaik dari pemberian, “Akh, sekedar untuk bernapas satu hari saja cukuplah sudah, tetapi kami memerlukan uluran tangan dari para dermawan sekalian karena bencana itu terlalu hebat dan sangat memukul rasa kemanuasiaan kami sehingga tak sanggup bila hanya dibebankan kepada satu atau sebagian kecil dari kekayaan negara, kita harus saling membantu dan saling memberikan perhatian, sepenuhnya ya sepenuhnya,” hutan belantara yang rimbun semak belukar di bagian lambung kiri itu merambat sampai ke gurun-gurun jauh, sangat jauh, bahkan duri-duri tajam setajam sinar pembelah sukma pun melakukan tugasnya dalam hitungan teramat cepat secepat kilasan cahaya, dari dalam hutan pula orang-orang yang dahulu memberikan dukungan tiba-tiba menghilang di kejauhan gelap malam, hai apa kabar bulan, hai apa kabar matahari, hai, orang-orang bebal, masihkah kalian membiarkan keculasan itu melingkar di leher sebagai kalung keberuntungan karena kenistaan sebagian dari mereka dijadikan alasan untuk menghidupi sekelompok orang lain dengan penuh semangat dan tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, keuntungan demi keuntungan dengan cara membagikan sekelingking saja sedang empat jari yang lain adalah untuk pribadi dan dibagi-bagi dengan alasan “Yang kerja juga perlu makan, tetapi makan kami tentu saja tidak akan sama dengan mereka yang kini sedang menadahkan nganga di kejauhan, terlihat lunglai tanpa daya apa-apa, ayo kawan-kawan kita cari lagi tempat-tempat tertimbunnya karun-karun itu,” hutan penuh wajah-wajah mempesonakan dirinya di depan cermin besar yang kita namakan bangsa berbudaya, bangsa bermartabat, tetapi ketika persoalan membentur hidung bibir gigi telinga rambut tulang kaki mata bulu-bulu jantung kulit hati sumsum sari pati, akh semua unsur dalam persekongkolan, lenyaplah segala upaya hutan yang tumbuh di kepala mereka, sedang kita tandus-tandus saja, hutan bertemu di mandulnya oleh bungkam mata gergaji, tebaran pesona, memamah batu memamah kabar memamah kepal-kepal memamah wajah-wajah di teriknya panas matahari, “Ayo kawan-kawan kita lumpuhkan kekuatan orang-orang di luar pagar dengan bunyi pesta-pesta, kita kerjakan apa yang kita mampu, jangan hiraukan mereka yang tidak dapat bagian dari keculasan ini, jangan biarkan mereka membawa duri-duri di tangan, duri itu kita yang punya,” bungkam mata gergaji, dan pohon-pohon berjatuhan, tumbang di genggam tebaran pesona, tebaran pesona, tebaran pesona, hutan bertebaran batu-batu hutan berserakan kutu-kutu hutan kehilangan datu-datu hutan ditinggalkan mantra-mantra hutan mengecewakan warna-warna hutan berloncatan makna ke dahan makna hutan tanpa daya hutan kehilangan cerita demi cerita hutan berselimut kabut-kabut pesona hutan gundul dari Selatan ke muara dari Timur ke muara dari Barat ke muara dari Utara ke muara hutan hanya bersisa kulit-kulit cakar buaya hutan sebagai lemari kaca tebaran pesona namun tak mampu lagi memberikan hijaunya tak mampu lagi memberikan sari pati akar-akarnya tak mampu lagi menahan deras arus-arus menerpa hutan yang ada adalah hiasan-hiasan purba tersisa, “Kita harus manfaatkan keberadaannya dengan sebaik-baiknya, orang-orang asing telah menyatakan siap dengan segala upaya, alat-alat berat telah pula menunggu di luar batas garapan, jalan-jalan akan melewati melintang-lintang saling tumpang saling meliuk saling membuka, kesepakatan untuk itu telah kita siapkan berkas-berkasnya di bagian administrasi kami, ya telah kami siapkan segala sesuatunya, kami yang mengaturnya, ini bagian dari kesepakatan kita bersama, karena kita satu, maka cara pengaturannya pun harus satu saja, satu saja, pemanfaatannya kita sebar ke seluruh wilayah, dan kami telah mengaturnya, serahkan saja kepada kami, kami lebih paham tentang pembagian seperti ini, karena di wilayah lain pun telah pula kami lakukan, semua berjalan lancar, kami sangat memahami keperluan wilayah lain, dan kami ahlinya dalam soal membagi-bagi,” hutan semakin terbakar hutan semakin gelisah hutan semakin gerah hutan semakin dikecewakan, bungkam mata gergaji, paru-paru terpampang dengan bolongan-bolongan dengan derap ringkik bertebaran debu di kejauhan, “Kemana lagi kita menghindar, kemana lagi kita menghindar, ya kemana lagi, bukit telah lama lenyap sebagai bukit, guntung telah lama lenyap sebagai guntung, lembah telah lama lenyap sebagai lembah, jurang pun memasang taring-taringnya, kemana lagi kaki menginjak pergi kemana lagi napas memburu pergi kemana lagi, “Di sini, sesuai pantauan satelit dengan tingkat kecanggihan luar biasa, lapisan demi lapisan buminya lapisan demi lapisan tanahnya adalah bagian dari pesta-pesta kita, laporkan saja warna-warna di permukaan yang ternyata tampak sangat tidak menguntungkan, simpan pundi-pundinya,” hutan semakin terbakar dan hutan semakin meranggas, dibungkam mata gergaji.

Satu mata gergaji belum mewakili seluruh rotasi. Satu mata gergaji belum mampu menghentikan revolusi.

Potongan-potongan kepingan-kepingan unsur-unsur bagian-perbagian sudut-sudut bergerak secara garis lurus untuk belah membelah bergerak untuk pecah memecah tidak lain hanya untuk membentuk satu kesatuan sakit melilit-lilit. Sengaja menciptakan. Yap. Sakit berkepanjangan. Persekongkolan, diam-diam atau terang-terangan. Satu kesatuan bergerak tanpa dipandu karena memang merupakan ketentuan dari hasrat bahkan saling tumpang saling sikut saling tikam, “Tetapi, seluruh mata gergaji tetaplah melukai,” bungkam mata gergaji telah melibas setiap bayang-bayang dari berjuta harapan, harapan yang dihamparkan oleh banyak telapak tangan terbuka dan sangat terbuka, tetapi bungkam mata gergaji adalah rahasia dari kekuasaan genggam di kepal-kepal tangan bergetar, urat syaraf pun terhentak tiba-tiba, genggam yang sejalan dengan kebiri di lingkup nafsi-nafsi. Mata gergaji bergerak di antara kerumunan orang-orang jalanan di antara runtuhnya gubuk-gubuk,”Ayo, kita harus berkorban untuk kedamaian bangsa ini dan kita menjadi bagian dari keindahan yang memang sepantasnya dilaksanakan. Ayo, menyingkirlah kalian sebelum kami singkirkan,” mata gergaji bergerak dengan kaki-kaki, mata gergaji bergerak dengan tulang-tulang, mata gergaji bergerak dengan mata terpejam, mata gergaji terus melibas mata pencaharian. Bahkan tak akan dibiarkan bertumbuhan tunas-tunas bermekaran.

Rute perjalanan mata gergaji boleh jadi ada di halaman parkir kantor polisi, atau bahkan dalam bilik jeruji besinya. Rute perjalanan mata gergaji boleh jadi ada di kamar-kamar yang disebut sebagai kejaksaan, bahkan sampai di sudut-sudut lacinya. Rute perjalanan mata gergaji, konon menurut berita miring yang beredar ada pula di atap gedung khusus pemberantasan korupsi, bersama dengan akar-akar gantung di lilitan pohon hiasnya. Rute perjalanan mata gergaji kadang kala singgah pula di istana pimpinan negara beserta patung-patung di luasnya halaman taman sarinya. Rute perjalanan mata gergaji bercokol di emper-emper kumuh yang namanya mahkamah agung, serta bentangan tali-tali layangan yang tersangkut di pojok jendelanya. Rute perjalanan mata gergaji sesekali duduk lesehan di bulu-bulu mata para hakim dan di saku baju pengacaranya. Rute perjalanan mata gergaji tidak kalah sengit ketika tersangkut berjuntai di ujung paku-paku tiang gedung perwakilan rakyat, akh itukan katanya saja. Rute perjalanan mata gergaji berpindah-pindah, berloncatan, kadang tak beraturan, tetapi selalu berlindung di balik keteraturannya. Rute perjalanan mata gergaji, akh, rute demi rute berjalan menggelinding melompat silang sana silang sini nongkrong di sana sabet sebelah sini, sikat di akar gantung tarik di jebakan lainnya, jerat-jerat bungkam mata gergaji.

Semakin ganas semakin terbuka semakin lenyap semakin pupus semakin tertutup semakin melegakan semakin ditertawakan semakin dilupakan semakin membingungkan semakin tidak jelas semakin jengkel semakin dipesta-pestakan semakin gila semakin waras semakin baik semakin rusak; bungkam ke kiri ternyata dibungkam dari kanan, bungkam di atas ternyata malah dibungkam pula dari bawah. Akh, rute perjalanan mata gergaji.

Sejarah terukir di atas batu, anak-anak zaman mempertanyakan keberada an nya, atas kehadirannya, “Mengapa sampai kini yang terlihat jelas, dan teramat jelas, hanya ketidakseimbangan dan ketidaksesuaian. Selalu saja ketidakpuasan pada pihak tertentu, dengan berbagai alasan. Menghindar dari segala pertanyaan dan membungkam semua bentuk jawaban. Sebelum menari, sebelum waktu mempersunting penampilan, di balik layar, di balik panggung, di balik susunan dialog, penawaran terhadap tujuan untuk menjadi lebih baik dari yang sudah diupayakan ternyata semakin merumitkan kadar gula di kandungan cuaca. Sebelum puisi menari maka persiapan untuk menjadi yang terbaik di antara yang baik-baik adalah sebuah upaya bijaksana.” Terus terang ia ungkapkan di hadapan khalayak yang ketika itu terlihat hanya cuap-cuap belaka. Lorong sempit, jalan tikus di parit-parit. Kumal. Berdebu Lumpur. Kumuh lusuh dan rusuh. Tarian mata-mata gergaji. Ada angin tertikam di pojok waktu, dan ukiran sejarah terbengkalai berserak di pinggir-pinggir jalan. Semakin lama semakin mengaburkan persoalan di antara derap kaki-kaki para pejalan, terseok ketika kalah usai berperang. Ia telah dengan sangat berani dan lantang mempersunting embun di permukaan daun bergoyang. Berlari sebelum puisi menghampiri. Entah untuk hari ini atau sampai ke batas entah yang tak juga bertemu. Kosong dalam sekap-sekap rindu. Wajahnya mulai tampak dalam buram di balutan, hutan-hutan kita tak berfungsi untuk kemakmuran yang rata oleh lubang-lubang galian, persetan bagi mereka yang mencibirkan hati ketika menyaksikan perjalanan panjang, sebelum mata-mata gergaji itu menari. Adakah yang namanya belas kasih tanpa berharap imbalan lebih dari yang diberikan. Oh, cuaca cuaca cuaca, selalu cuaca bertuba. Biasanya ada luka di buhul menara, dan pikiran yang dirajut dalam kerangka sejarah kepurbaan, kita tetap saja terkepung dalam kemiskinan. Alam ini untuk siapa, dan sebenarnya punya siapa, tentu saja bukan penonton atas runtuhnya pesona, kaki-kaki bukit melangkah pada tujuan tak menentu arah. Oh, lihatlah sebaris puisi mulai menata kaki-kaki, sebelum menari. Kerak bumi, lapisan demi lapisan, terbongkar. Kita diam. Kita menjadi bisu. Kita tak mampu berbuat apa-apa. Ini wilayah kita. Ini daerah kita. Bersiap untuk sebuah kepunahan dan kita selalu terjajah. Wacana demi wacana, kekalutan pun sengaja diciptakan. Bualan demi bualan, penjarahan pun sengaja dibiarkan. Lolos melenggang di depan mata. Teramat dinistakan. Kita menjadi orang-orang yang rapi bersidekap dan hanya memerahkan retina mata, berucap pun tersumbat dalam dekapnya sekat-sekat. Tarian mata-mata gergaji. Bila ada yang memulai untuk merintangkan jalan dan akan berhadapan dengan semua kekuatan maka kekuasaan untuk menahan laju pergerakan itu senantiasa selalu sejalan beriring bersama yang namanya masing-masing kepentingan membenturkan dirinya pada persoalan yang sama dan akhirnya terlihat percik-percik pergesekan masing-masing pihak padahal semua itu terjadi akibat dari kekerasan dan tekat masing-masing hasrat, percik-percik itu akan menyulut gelora-gelora lain di jalurnya masing-masing pula maka tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan kobaran-kobaran yang lebih besar dan menjalar di semua sektor di semua wilayah, emosi dari percik-percik itu adalah sesuatu yang terjadi terkadang bukan kehendak oleh si penyulut tetapi boleh jadi kobaran dilemparkan secara membabi buta dan tak tahu ke mana arah bola api panas itu membenturkan kepentingannya, “Jangan mendekat nanti engkau ikut terbakar,” suara seperti itu sebenarnya boleh jadi sebagai pancingan untuk menghadirkan derap langkah orang-orang yang sebelumnya tidak mengetahui maka menjadi meluas dan tepuk tangan serta bersiap saling terkam pun tak akan terhindarkan, “Ayo, mari kemari kita nikmati kekacauan ini, ayo ke sini, ada kegaduhan yang menjalar dengan sendiri-sendiri, dan kita tinggal memanen, walau itu akan dilakukan sampai beberapa tahun kemudian,” suara itu mulai menyulut api-api. Semakin lama api itu semakin merambat, kadang ada yang berjalan dengan sangat cepat, terkadang ada pula dengan begitu lambat, sampai berpuluh-puluh tahun baru dapat diketahui bahwa telah ada pergerakan di kantong-kantong pergerakan dan semua orang menjadi terperanjat.

Kerja sebuah gergaji adalah sistem bergerak untuk menjadi terpisah, menjadi berseberangan, saling berhadap-hadapan. Sama-sama merasakan luka berkepanjangan, luka dari bungkam mata gergaji. Sakit yang dirasakan bersama-sama. Luka untuk bersama-sama. Bila ada satu mata gergaji maka ia akan dikuti oleh gerak mata gergaji yang lain. Sistem, sebagai tameng ampuh dalam mempertahankan, sistem sebagai tameng untuk menyerang. Sedangkan kerja sebuah gergaji adalah sebagai pemisah. Untuk apa persatuan, bila di dalam system persatuan itu sendiri ada pihak dominan karena sikap ketidak-adilan yang diberlakukan. Untuk apa persatuan bila cara kerja bungkam mata gergaji terlalu sering menyakitkan, selalu memamerkan bentuk-bentuk keculasan, selalu mempertontonkan bahwa yang seharusnya dilindungi ternyata dijadikan tumbal berbagai kekuatan, sebagai korban kekuasaan;
di semua bidang, karena bungkam mata gergaji
menciptakan sesuatu yang
sepotong-sepotong
terpisah-pisah
terpecah-pecah
Kekasih. Rindu ini menggumpal di remang cahaya. Bukan bunga yang akan dibawa, tetapi hanya. Kekasih, ada sekuntum puisi mekar di ujung jemari manisku. Telapak tanganku mencoba membuka, adakah suara rindu itu menggema. Lihatlah ke atas sana, langit cerah secerah rindu yang kini ada di depan bayang matamu, kelopak rindu pun berpuisi dalam tingkah menawan. Kekasih. Perjanjian semacam apa yang harus diperdengarkan sebelum dunia menyambut tangisan si kecil melamunkan harap-harap di garis hidup dan kehidupan. Adakah rindu yang disimak-urai dalam dekap penuh wangi dan lincahnya puisi-puisi menari-nari. Bila bungkam datang maka terimalah ia dengan puisi bertubi-tubi karena bungkam biasanya bergerak dengan begitu cepat dan kadangkala ada pula secara lambat merambat-rambat. Bungkam bergerak agar laju deru pihak lawan terhambat. Bungkam merupakan bagian dari kekuasaan, bungkam adalah kesepakatan, bungkam adalah mematikan, bungkam adalah tikaman, bungkam adalah menyingkir dan enyahkan, bungkam adalah berbalik tangan, bungkam adalah memalingkan, bungkam adalah melemahkan, tumpul sampai ke pangkal-pangkal dermaga-dermaga hujan pun mampu dipindahkan karena bungkam tak lepas pula mantra segala mantra, bungkam tak lepas pula dengan serangan di balik perdu semak belantara. Dalam tayangan bait-bait puisi. Meliuk menari menikam melilit , “Hei, mari kemari. Di sini menari puisi-puisi,” suara-suara itu gemerincing di liuk perjalanan sepi. Lembut tapi menikam. Tak tampak wajah dan raga badan. “Sesampai di tujuan engkau lepaskan runcing ujung pucuk daun, selembut bulu-bulu daun bertengger seperti yang telah diketahui oleh banyak orang. Ada luka berlari di tengah jalan saat terik matahari panasnya bukan kepalang. “Kami di sini sedang berseru, padamu negeri. Kami di sini sedang berkata, padamu negeri. Kami di sini sedang berkumpul, untukmu negeri. Sudah sepantasnya suara-suara kami disimak dan dihayati secara seksama. Jangan tidur dengan dengkur sebagai tameng dan lemparan pernyataan-pernyataan yang selalu membingungkan. Kami tidak membutuhkan alasan demi alasan, yang kami perlukan adalah hentikan tangis anak-anak kami yang kelaparan. Hentikan tangis anak-anak kami yang tidak lagi memiliki tempat tinggal. Hentikan langkah anak-anak kami yang mengais dari belas kasihan cacian-makian orang-orang berseragam apik, kami perlukan bukan tebaran-tebaran cerlang gambar-gambar di pinggir-pinggir jalan sebagai pajangan. Kami telah kepalkan tangan, tapi suara kami dibalas dengkur berkepanjangan. Kami adalah orang-orang pinggiran tersisih dari negeri kami sendiri, kami telah berhadap-hadapan dengan sesama turunan kami sendiri, masa-masa sulit zaman perjuangan dahulu kembali hadir di pelupuk mata kami, kini tak ada lagi yang peduli.” Akh, seperti pesona, bertebaran di mana-mana. Langit sebentar lagi membuka. Tangan-tangan kekar mencengkram tiang-tiang pondok kami. Tiang-tiang patah pun, pondok-pondok lusuh pun, “Semua diharap hidup dalam sabar yang panjang, dan menikmati kesabaran dalam buncah-buncah gemeriak di ubun-ubun. Semua harus siap dikorbankan demi sebuah yang dinamakan kedamaian, demi yang dinamakan keindahan, demi yang disebut-sebut sebagai penghargaan.” Dan ternyata langit benar-benar membuka. Perselisihan yang memuncak beban di pundak para pendaki gunung menapak satu-satu anak tangga lumut hijau pemandangan jauh ke lubuk dalam kerdil diri menjulang tinggi alangkah sejuk dan sepi di puncak semakin meruncing gelegak di dada terasa pecah menyeret langkah menuju dendam berkepanjangan, setelah menyaksikan orang-orang dengan ringan langkah menuju bungkam di pantai gurun hutan gunung lembah ngarai semenjak perselisihan itu pula maka tidak ada yang membuka jendela kamar dalam perigi mereka sembunyi dalam sunyi mencoba semedi di tikungan jalan desa-desa menyebarkan aroma pertikaian sebab tak jelas, sebagai alasan yang dikemukakan, tetapi orang-orang dengan senjata di tangan masing-masing sudah bosan dengan segala macam penjelasan, orang-orang sudah muak dengan segala macam pembelaan yang pada intinya hanyalah berlaku sebagai peredam sementara, sementara kekuasaan berjalan, setelah itu akan ada harapan baru, tetapi menjadi seiring-sejalan walau dalam bentuk dan pelaku yang berbeda tetapi sifatnya sama, yaitu “Maaf saja tidak ada bukti kuat bahwa semua itu merugikan negara. Telah ditutup semua kemungkinan penyelidikan. Apa pun yang menyangkut persoalan itu, maka sampai di sanalah adanya.” Lihatlah betapa enteng dan betapa mudahnya mengatakan itu. Seakan mereka tak dapat disentuh lagi, padahal perselisihan terus saja terjadi. Senandung luka, luka lama luka lama. Senandung luka, luka lama luka lama. Sampai di mana muara kasih sampai di mana muara kasih. Senandung teruslah bergema, gema di angkasa raya gema di angkasa raya. Oh, luka yang terus membuka luka yang terus membuka. Bicaralah wahai luka karena ternyata diam itu tak bisa berbuat apa. Ternyata diam itu membuat tawa semakin menjadi di arena mereka di ladang mereka di sungai mereka di udara mereka di kasur mereka tawa yang semakin melebarkan jarak antara kita sesama. Di sepanjang perjalanan mata luka itu mata menyala di goresnya. “Terlalu lama kami dilecehkan. Terlalu lama kami menahan beban. Terlalu lama kami sempoyongan. Tanah kami jadi lahan orang-orang yang kami sendiri tidak pernah mengenal mereka. Yang hadir pada kami adalah orang-orang asing belaka. Telah lama kami tak dapat berbuat apa-apa. Sungai kami dijadikan sumber mata pencaharian mereka. Telah lama kami menahan luka. Kepal dan suara kami dianggap angin hampa udara. Terlalu lama terlalu lama terlalu lama terlalu lama.” Lunglai kaki di padang hijau tapi tak merasakan sejuk hijaunya. Para penyihir pun

Usai menyimak gumam "Bungkam Mata Gergaji" kita selaku pembaca masih melihat dan merasakan adanya keresahan. Keresahan itu tampaknya membebani pemikiran penyair ini dari waktu ke waktu. Perasaan yang membebani itu terkait dengan berbagai persoalan hidup dan kehidupan yang mengepung dan menelikung serta mengurung penyair ASA, "sikap memberontak" lalu diledakkan dengan cara meledek dengan gaya reolusi. Ya, ASA melalui gumam "Bungkam Mata Gergaji" meneriakkan dan sekaligus melepaskan beban yang menghimpit selama waktu yang lama.

Gumam yang semestinya lebih mengarah ke kedalaman ucapan yang tak jelas, geremengan, ngoceh ke sana ke mari,nyentil dan nyindir apa pun yang dipandang tidak beres, pada wacana ini menggelegar serupa bunyi eksplosif, terekspresi dengan runtut, tertip, bersumber dari daya pikir dan nalar yang waras, diungkapkan membentuk grand discourse (wacana besar) tentang fenomena hidup dan kehidupan di tanah yang dipijaknya.Dalam gumam ini ASA tentu saja tak hanya menjungkirbalikkan dan berakrobat dengan kata melainkan juga mewacanakan persoalan besar tentang keindonesiaan melalui simbol-simbol, metafora, dan diksi yang meletupkan kesumpekan,kegundahan, protes, dan sekaligus menyodorkan perenungan yang mendalam. Kita nikmati nukilan di akhir gumam ASA ini:

Semua harus siap dikorbankan demi sebuah yang dinamakan kedamaian, demi yang dinamakan keindahan, demi yang disebut-sebut sebagai penghargaan.” Dan ternyata langit benar-benar membuka. Perselisihan yang memuncak beban di pundak para pendaki gunung menapak satu-satu anak tangga lumut hijau pemandangan jauh ke lubuk dalam kerdil diri menjulang tinggi alangkah sejuk dan sepi di puncak semakin meruncing gelegak di dada terasa pecah menyeret langkah menuju dendam berkepanjangan, setelah menyaksikan orang-orang dengan ringan langkah menuju bungkam di pantai gurun hutan gunung lembah ngarai semenjak perselisihan itu pula maka tidak ada yang membuka jendela kamar dalam perigi mereka sembunyi dalam sunyi mencoba semedi di tikungan jalan desa-desa menyebarkan aroma pertikaian sebab tak jelas, sebagai alasan yang dikemukakan, tetapi orang-orang dengan senjata di tangan masing-masing sudah bosan dengan segala macam penjelasan, orang-orang sudah muak dengan segala macam pembelaan yang pada intinya hanyalah berlaku sebagai peredam sementara, sementara kekuasaan berjalan, setelah itu akan ada harapan baru, tetapi menjadi seiring-sejalan walau dalam bentuk dan pelaku yang berbeda tetapi sifatnya sama, yaitu “Maaf saja tidak ada bukti kuat bahwa semua itu merugikan negara. Telah ditutup semua kemungkinan penyelidikan. Apa pun yang menyangkut persoalan itu, maka sampai di sanalah adanya.” Lihatlah betapa enteng dan betapa mudahnya mengatakan itu. Seakan mereka tak dapat disentuh lagi, padahal perselisihan terus saja terjadi. Senandung luka, luka lama luka lama. Senandung luka, luka lama luka lama. Sampai di mana muara kasih sampai di mana muara kasih. Senandung teruslah bergema, gema di angkasa raya gema di angkasa raya. Oh, luka yang terus membuka luka yang terus membuka. Bicaralah wahai luka karena ternyata diam itu tak bisa berbuat apa. Ternyata diam itu membuat tawa semakin menjadi di arena mereka di ladang mereka di sungai mereka di udara mereka di kasur mereka tawa yang semakin melebarkan jarak antara kita sesama. Di sepanjang perjalanan mata luka itu mata menyala di goresnya. “Terlalu lama kami dilecehkan. Terlalu lama kami menahan beban. Terlalu lama kami sempoyongan. Tanah kami jadi lahan orang-orang yang kami sendiri tidak pernah mengenal mereka. Yang hadir pada kami adalah orang-orang asing belaka. Telah lama kami tak dapat berbuat apa-apa. Sungai kami dijadikan sumber mata pencaharian mereka. Telah lama kami menahan luka. Kepal dan suara kami dianggap angin hampa udara. Terlalu lama terlalu lama terlalu lama terlalu lama.” Lunglai kaki di padang hijau tapi tak merasakan sejuk hijaunya. Para penyihir pun.

Gumam ASA yang terangkum dalam buku ini tidak lagi bersandar pada estetika asimetri, disharmoni,dan dekonstruksi,melainkan menawarkan gaya baru sebagai bentuk temuan kreativitasnya yang menderas. Apakah sesuatu yang baru itu? Hampir seluruh gumam di dalam buku ini lebih mengendap, lebih mengarah ke konstuksi wacana besar tentang keindonesiaan yang resah-gelisah-tak tentu arah-bikin gerah-serba salah, kekacauan yang rapih, ketidakadilan yang di"damaikan" dalam format keseragaman, dan bergagai ketimpangan yang mengurung serta menekan. Semua itu lantas "diledakkan" melalui konstruksi wacana besar sebagai buah jeritan kemanusiaan yang nyata. Dalam konteks ini, ASA mewakili berbagai pihak yang realitasnya "menjerit"lantaran luka dan deritanya.

Dapat ditambahkan, hal yang menjadi sesuatu yang baru dalam karya-karya ASA ialah "nafas panjang" gumamnya.Bahkan saking panjangnya, di dalam gumam terdapat beberapa gumam lagi. Dalam Gumam "Ragam Jejak Rentak-rantak", misalnya, di dalamnya terdapat gumam-gumam seperti: Seorang telah lama berdiri di depan sebuah kelas; Adakah halaman demi halaman buku itu terbaca sampai tuntas; Sungai-sungai pun ikut merasakan kepedihan di pundaknya; Sebuah kejujuran; Runtuhkan langit, kuasai bumi (dalam perang dunia yang akan datang); Puisng-puing Istana Raja; "Kakek,di mana kami harus minum"; dan Nenek telah berpesan. ASA menumpuk wacana demi wacana ke dalam sebuah wacana yang lebih besar. ASA tak lagi bicara soal manusia Indonesia, melainkan juga telah merambah ke arah perang dunia.

Dalam catatan ini, saya akhirnya mendapatkan kesan bahwa ASA dari waktu ke waktu senantiasa digelisahkan oleh sesuatu.Sesuatu yang menggelisahkan itu tak hanya berada dalam alam pemikirannya, dunia kreatiitasnya,melainkan terbuahkan pada karya-karya yang disebutnya sebagai gumam. Gumam ASA kali ini tak semata dipendam dalam suara yang tak jelas (geremengan, atau dalam bahasa Jawa disebut Ngomyang) melainkan dieksplosifkan sebagai jeritan luka yang begitu nganga terbuka. merekam kepedihan manusia,dan mengabadikan pemikiran briliant sebagaiingatan bagi berbagai pihak. Saya ucapkan selamat menerbitkan kumpulan gumam, jangan cemas, setiap lembar dalam buku itu akan tuntas dibaca dan dimaknai. Salam DAM.

MENIKMATI "ASAP", NOVEL PERDANA EWA

Masyarakat fesbuker mulai tahu bahwa Ersis Warmansyah Abbas (EWA) adalah penulis produktif. Tulisannya beraneka ragam: puisi, esai motivasi, esai tentang menulis, menulis dan menulis. EWA memang lalu eksis di bidang tulis-menulis. Buku-buku yang semula dibidani sendiri lalu diterbitkan dan dipasarkan. Satu buku yang kali ini saya resensi ialah "Asap", sebuah novel perdana yang dibidani sendiri oleh EWA (Diterbitkan oleh Wahana Jaya Abadi, 2010). Maksud dibidani sendiri di dalam konteks ini ialah: menulis sendiri, mengeditori sendiri, melayout sendiri, memeriksa sendiri, dan sekaligus menjadi kritikus sendiri. Setelah selesai, draft buku itu lantar diberikan kepada penerbit untuk mencetak (dan mungkin untuk produksi mungkin dibiayai sendiri.

Dari segi tampilan, buku ini sebenarnya tidak memberikan informasi yang jelas apakah novel, kumpulan tulisan pemikiran tentang berbagai hal yang mendapatkan perhatiannya. Cover "Asap" secara visual judul ASAP yang berlatar gambar asa dan dipadupadan semacam puisi "Alam adalah kehidupan/tanda-tanda KebesaranNya". Tata letak (layout) yang dirancang sendiri oleh EWA lumayan baagus, hanya fonasi (pemilihan huruf) arial untuk keseluruhan teks mengesankan novel ini terasa kaku, kurang "lentur atau luwes", dan ukuran huruf teks terkesan terlampau besar untuk novel berjenis karya sastra (meski untuk mata tua sepertiku jenis huruf ini lumayan membantu).

MUATAN novel ini dimulai dengan subsjudul seperti ini: Lapangan Murdjani, laboratorium, Cempaka, Rawang, Pekonina, Manajemen Mata, Universitas Pendidikan Banjarbaru, Kolam Belanda, Profesor kancil, Danau Cinta, Densiko, Tahura Sultan Adam, Sergapan Subuh, Menanam Meratus, Komet, Batu Akik, Menunggu, Kapak Perang, Teh Telur, Operasi Pembebasan, Munafik Pendidikan, Thai Box, Merah Putih, dan Mabuk Kecubung. Kesan yang buru-buru meuncul dari membaca judul ini ialah seperti rasa permen: asin-asem-manis-realistis-magis-mengiris. Semua itu didedahkan oleh EWA dalam latar alam yang sedang tidak bersahabat. Peribahasa mengatakan ada api ada asap. Peribahasa itu bisa dilanjutkan "ada nasi ada harap".

Jika pembaca pernah mencermati novel "Laskar Pelangi"-nya Andrean Hirata, maka novel "Asap"-nya EWA ini mendapatkan apa yang disebut hipogram. Novel ini berlatar dunia pendidikan. Jika "Laskar Pelangi" berlatar SD Muhammadiyah di Belitong, novel "ASAP" berlatar di sebuah pergurun tinggi plus mahasiswa yang bergerak sebagai aktivisnya. Intinya, novel ini lebih mengisahkan sepak terjang mahasiswa selaku aktivis lingkungan yang gencar melakukan aksi terhadap phak-pihak yang layak dikritisi.

Novel "Asap" dikemas serupa repertoar yang secara lincah-cerdas mengungkapkan berbagai fenomena yang layak didedahkan dengan bahasa yang lincah. Kelincahan itu tampil dari kalimat-kalimat pendek yang beruntun dan berangkai seperti kita baca pada bagian pembuka novel ini:

BULAN Agustus puncak musin (musim? DAM) kemarau. Matahari membakar. Gambut kerontang. Kebakaran terjadi di mana-mana. Asap menjadi 'penguasa' tahunan. Pandangan terbatas. Tidak nyaman kemana-mana (ke mana-mana, DAM). Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru baru beroperasi pukul 11.00 WITA ketika matahari mampu menembus asap. Aktivitas kehidupan terbelenggu (hal. 1).

Dalam satu paragraf ini saja saya temukan dua kali kesalahan tulis, yakni "musin" (mestinya "musim") dan "kemana-mana" mestinya "ke mana-mana" ("ke" merupakan kata depan yang dalam tata tulisnya mestinya dipisahkan. Kesalahan kecil serupa ini merupakan "kecelakaan" dan risiko sebab novel ini senyatanya tidak memanfaatkan profreaders--pembaca profesional dan naskah ini dilay-out sendiri oleh pengarangnya.

EWA yang penyuka celana jins dan berambut panjang ini adalah Presiden Lembaga Pengkajian Kebudayaan dan Pmbangunan Kalimantan (LPKPK), Pemimpin Umum Bandjarbaore Post, dan beberapa media lokalis lainnya itu menutup novel "Asap" seperti ini:

Mentari membakar.Suara azan mengalun dari menara mesjid. Anggota Markas Gerilya bersepakat: Melanjutkan aksi membongkar kedok PT CMC. Mereka berjanji dengan saling mengepalkan tangan.

Anak-anak muda tersebut dapat pelajaran berharga. Apa yang menurut mereka sudah direncanakan begitu rapih, cermat,dan aplikabel, ternyata mental pada realitas.

Kehidupan adalah pembelajran. Mereka bertekad membelajarkan diri memperjuangkan kebenaran.

Tak pelak lagi, novel ini sarat nilai-nilai edukasi. Nilai edukasi ini tentu saja lekat dengan keseharian EWA sebagai pendidik. Akhirnya, nover setebal 240 halaman ini, sebagai novel perdana, pantas disambut, sebab di akhir novel EWA merasa perlu menginformasikan seperti ini:

NB: Pembaca sekalian, Bagaimana usaha dan aksi Markas Gerilya membongkar kecurangan PT CMC? Bagaimana percintaan Pekonina dengan Lawe? Pasti lebih seru. Mencekam dan mencerahkan. Tunggu novel kedua: ISOLA.

Begitulah pembacaan selintas novel "ASAP" karya EWA yang lucunya sampai mengirimi novel yang sama sampai dua kali! Salam kreatif selalu.

Sabtu, 19 Februari 2011

DI BERANDA: MEMBACA DIRI MELALUI PUISI

BERANDA BUDAYA

BERANDA. Bermula duduk di beranda selepas senja di kediaman Dimas Arika Mihardja, tempat Bengkel Puisi Swadaya Mandiri melaksanakan aktivitasnya. Dimas Arika Mihardja sang pemilik bengkel, seperti biasa, ngobrol bersama koleganya: ada penyair, ada pelukis, ada aktivis teater. Obrolan biasanya bermuara pada aktivitas berkesenian, perilaku pelaku budaya, prestasi, dan banyak hal yang remeh-temeh seputar kehidupan yang semakin sulit. Di tengah obrolan santai itu, muncul pertanyaan yang mengagetkan ”3 Juli Pak De ulang tahun, mau bikin acara apa nih?”.

Pertanyaan sederhana itu lalu tumbuh membenih di hati, berkelindan di batin, dan membuahkan kesadaran yang juga sederhana bahwa ”ambang senja mulai tiba”. Senja merupakan ambang batas antara ”terang” siang dan ”gelap” malam. Di antara masa ”terang” dan ”gelap” terbentang aneka nuansa rasa: ada cemas, gelisah, resah, pasrah, dan terasa juga gairah. Satu usul muncul ”Bikin bae buku puisi seperti buku Negeri Angsa Putih” atau ”Kenduri Puisi”. Buku Negeri Angsa Putih (Bngkel Puisi Swadaya Mandiri-Daya Kreativitas Insani, 2007) memuat puisi-puisi karya mahasiswa, alumni dan dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Jambi untuk menandai ulang tahun Dimas Arika Mihardja. Buku Kenduri Puisi (Penerbit Ombak), 2008) dibidani oleh Dimas Arika Mihardja untuk ulang tahun Diah Hadaning.

SENJA. Senja bagi sebagian besar kreator senantiasa dijadikan obsesi dalam penulisan kreatif puisi. Hampir setiap penyair selalu terobsesi untuk memotret lanskap senja. Lantaran Dimas Arika Mihardja tergolong sebagai Networker kebudayaan, maka untuk memperingati ulang tahunnya yang setengah abad terpikirlah hal yang juga sederhana yakni membudayakan saling berkabar, bersilaturahmi, dan mengabadikan persahabatan melalui jejaring budaya. Melalui jejaring budaya dapat dilacak kemajuan dan capaian estetik puisi-puisi yang digubah oleh penyair di Indonesia. Selanjutnya, lewat tangan Dimas Arika Mihardja diajaklah mitra dan sahabat kreator se nusantara untuk mengirimkan karya terbaiknya untuk dibukukan.

Buku ini dapat dipandang sebagai media bertegur sapa di beranda budaya, membahasakan diri, dan mengekspresikan pemikiran reflektif tentang hidup dan kehidupan bersama dalam konteks ke-bhineka-an (baca: keberagaman). Senja tidak saja memiliki aneka ”warna”, melainkan juga kaya akan nuansa. Panorama senja alangkah beraneka dan mempesona. Senja bisa begitu nyata tidak saja di kota-kota, melainkan di dalam ”kata”, sebab di dalam setiap kata ada nyawa. Diajaklah kawan-kawan sastrawan dan bukan sastrawan di berbagai kota melalui jejaring budaya (email, facebook, YM, surat, dll. ) untuk menyumbangkan puisinya. Kepada setiap penyair yang karya-karyanya dimuat dalam buku ini saya ucapkan banyak terima kasih. Oleh karena ada beberapa penyair yang tidak mengirimkan biodata kepengarangannya, maka demi keseragaman, dengan permohonan maaf di dalam buku ini tidak disertakan biodata pengarang secara khusus.

Akhirnya, terimakasih atas sumbangsih karya dari sahabat-sahabat sastrawan. Buku ini kami persembahkan sebagai bentuk tegur sapa sahaja, semoga berpendaran makna silaturahmi di antara kita. Kami aturkan maaf atas segala khilaf, semoga segalanya dapat menjadikan kita lebih menjadi manusia yang setia mengembala kata di luasnya makna tegur sapa. Kemudian, biar lengkap silakan baca pengantar berikut ini.




SILATURAHMI BUDAYA:
SAAT DIMAS ARIKA MIHARDJA BERKACA

Oleh: Dr. Sudaryono, M.Pd )

Hakikat buku adalah wacana. Hakikat manusia bertegur sapa. Untuk melengkapi tegur sapa dan wacana, kami seleksi sejumlah catatan terkait dengan karya dan kekaryaan Dimas Arika Mihardja (DAM). Disadari bahwa karya dan kekaryaan DAM belumlah memiliki makna apa-apa. Ketika usianya berada di ambang sore dan mengarah ke rembang senja, ternyata belum ada yang pantas dicatat dan diberi tempat. Karya dan prestasinya biasa-biasa saja. Karya-karyanya memang selalu mengalir. Kekaryaannya memang selalu hadir. Namun, untuk apa sebenarnya catatan pengantar ini dibuat?

Tulisan ini serupa cermin yang dapat memantulkan kembali sebentuk wajah—terlepas apakah wajah itu pantas bercermin atau tidak. Sebagai semacam catatan reflektif, mungkin dapat dimaknai sebagai silaturahmi sederhana melalui puisi. Puisi “Silhuet: lanskap senja” (Negeri Angsa Putih, 2007: 51) dipilih untuk mengawali catatan reflektif ini hanya ingin mengabarkan bahwa :

kata-kata mengarus dan berpusar
mengalirkan silhuet dan lanskap hidup penuh warna:
mata berkacakaca

terasa ada yang lepas dari jemari
dan meluncur ke angkasa:
hati tersileti

relief dan pahatan begitu tegas
kaligrafi dinding hari:
puisi
Intinya, dunia kehidupan tak sebatas kata, sebab di dalamnya terbentuk wacana tegur sapa. Apakah makna wacana, bagaimana konstruknya, dinamikanya, dan ragamnya? Apa pun wacananya secara sederhana dimaksudkan untuk bertegur sapa, berekspresi, berimpresi, berteriak, berbisik, dan seterusnya. Dalam kata pengantar antologi sajak Dimas Arika Mihardja bertajuk Ketika Jarum Jam Leleh dan Lelah Berdetak (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri—Telanai Printing Graf, 2003) Prof. Dr. Suminto A Sayuti, Guru Besar Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta menulis tentang “Sajak sebagai Bentuk Silaturahmi Kemanusiaan”.

Dengan tegas Suminto A Sayuti menyatakan bahwa sajak yang digubah oleh penyair merupakan satu bentuk komunikasi yang di dalamnya terbayang nilai silaturahmi. Lantaran sebuah sajak mengangkat persoalan manusia dan kemanusiaan, maka silaturahmi kemanusiaan menjadi menonjol dalam pembacaan sebuah sajak. Sajak digubah dari manusia untuk manusia, membicarakan manusia, dengan tujuan agar kemanusiaan semakin kukuh, kuat, dan mengarah sempurna. Menggubah sajak bagi penyair tidak lain bertujuan menyempurnakan kadar kemanusiaannya.

Lantaran arena kehidupan dan dalamnya lautan kerahasiaan hidup ini membawa penyair berada dalam situasi sebagai pencari dan penyelam. Di dalam aktivitas yang demikian itu (menurut amatan dan catatan kritis kritikus) membuat penyair selalu berada dalam situasi batas—ketegangan dan bahagia—antara menemukan dan memproklamasikan penemuannya, antara “gagal” dan meratapi kesia-siaan. Bagi penyair sejati menemukan adalah tujuan utama, dan penemuan itu selalu dimungkinkan karena ia adalah penjelajah dunia baru. Korrie Layun Rampan ketika memberi Kata Pengantar sajak-sajak Dimas Arika Mihardja pada buku Upacara Gerimis (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 1994) menandaskan,

Sebagai penjelajah dan penggali para penyair masing-masing memiliki wilayah pengalaman yang unik dan khas. Itulah sebabnya setiap penyair selalu menumpukan ciptaannya pada keaslian. Phytagoras menyebutnya “keseimbangan dan keteraturan”. Dan di dalam puisi keseimbangan dan keteraturan itu membawa pembaca ke relung kontemplasi yang mengasyikkan tentang sebuah wilayah baru yang menggairahkan—baik karena tantangannya yang dihasilkan transpirasi inovasi, maupun karena getaran estetiknya yang membawa rasa indah ke wilayah yang ajaib. Haldemikian misalnya dapat ditemukan dalam “Upacara Gerimis”, suatu sisi tajam dari garis lembut asosiasi yang mengandung konotasi khas dunia penciptaan.


Pembaca, agar memperoleh referensi pembicaraan Korie Layun Rampan dan memperoleh pemahaman secara komprehensif, berikut ini ditampilkan sajak “Upacara Gerimis” selengkapnya. Sajak inilah yang menginspirasi penyair Acep Syahril menjuluki Dimas Arika Mihardja dengan sebutan “penyair gerimis” (sebuah julukan yang secara metaforis mengandung kata-kata bersayap dan kadang terasa berkonotasi miring) ketika buku Upacara Gerimis diluncurkan di Teater Arena Taman Budaya Jambi. Saat itu Acep Syahril tampil sebagai pembahas utama bersama Hary S. Harjono.

UPACARA GERIMIS

pasukan hujan berbaris
pandang matanya mengiris nurani
mikrofon tegak di atas kehampaan
menyimpan aneka suara aneka irama
basah disiram resah
komandan upacara—ibu pertiwi
sedang bersedih hati
upacara kenduri tak usai
tak sampai tak terpahami
o, air mataku berlinang
nyanyikan bendera setengah tiang!

1993

Dalam dunia kreatif penciptaan sajak, seorang penyair lazim masuk dalam situasi di ambang batas. Penyair memilih dan memasuki proses marginalisasi, yakni mengambil posisi dan situasi kemanusiaannya pada batas antara dua hal atau lebih, yang saling berbeda, tetapi saling bersintuhan: posisi “tapal batas” (Sajak “Perjalanan, 2—Piek Ardijanto Soeprijadi”). Itulah sebabnya hidup dan kehidupan tak ubahnya sebagai “padang perburuan,” dan tak ada jalan lain kecuali “aku pun pulang” darinya, karena “segalanya tinggal bayang” yang membuat “jasadku mengejang” (Sajak “Pantai Muaro Jelang Senja”). Apalagi ketika “....di balik semak katakata tergambar peta/tahta/dan mahkota/maka kata tanya membentur meja para pemuja/bendabenda/nguap dalam sajak yang sesak/oleh sejuta isak” (Sajak “Catataan Perjalanan (5)”). Sisanya: “inilah sajakku, suara sukma/yang terpadu melagukan namanama/mesra menyentuh kalbu” (Sajak Sederhana Untukmu”). Berikut ini kita simak selengkapnya sajak “Catatan Perjalanan (5)” dan “Sajak Sederhana Untukmu”:

CATATAN PERJALANAN (5)

(di bawah bayang bulan merah darah
dibawa daulat rakyat yang meluapluap
anakanak sejarah berderap
membuka sekatsekat birokrat yang mampat
kota telah berubah belantara
orangorang jadi binatang berbisa
ada juga sejenis trenggiling
yang suka menyelamatkan diri dengan cara tak terpuji)

“pak, bagaimana cara membaca cuaca?”
bertanya seorang anak
suaranya bagai mesiu meledak

sang bapak cepat bisa menebak:
di balik semak katakata tergambar peta
tahta
dan mahkota
maka kata tanya membentur meja para pemuja
bendabenda
nguap dalam sajak yang sesak
oleh segala isak

SAJAK SEDERHANA UNTUKMU

kutulis sajak sederhana untukmu
dan untuk-Mu. Sebuah sajak
mengelopak dalam dada
kupersembahkan untuk-Mu
inilah sajakku. Suara sukma
yang melagukan nama nama
mesra menyentuh kalbu

kuhidangkan lanskap batin diperjamuan
pesta anggur: Santaplah penuh gairah
sebab di sana ada desah sederhana
buat keselamatan perhelatan

makanlah sajakku—anggurnya
mewangi. Santaplah buah yang terhidang
penuh kecintaan, sebab segalanya tersurat
segalanya menggeliat segalanya
untukmu

jika dada rasa sesak
tuak menggelegak
jangan campakkan sajak
sajak-Nya.
Sungaiputri, 1993

Prof. Dr. Suminto A Sayuti secara intens mencermati posisi dan situasi penyair yang berada “di tapal batas” dengan catatan seperti kutipan berikut ini.

Karena sajak merupakan “suara sukma”, maka sangat mungkin posisi dan situasi “tapal batas” pilihan manusia menjadi posisi dan situasi “tiada sangsi” lagi buat “menyanyikan irama wangi melati,” dan “menapaki jalan sunyi” untuk menuju “pelita Nur Ilahi Robbi” (Sajak “Perjalanan (2)—Piek Ardijanto Sorprijadi): sebuah nilai silaturahmi yang transendental. Akibatnya sajak pun menjadi sebuah “relung pertapaan”,” tempat “semua”(-nya) (akan dan telah) “kuakhiri,” sebuah papan yang “terasa” adanya “senyap menyergap,” tetapi sekaligus tersedia “kemerlap bintang di langit wingit” (Sajak “Kupahat Makna”).

Kita simak sajak “Perjalanan 2” selengkapnya.

PERJALANAN 2
: Piek Ardijanto Supriadi

lama kita untai wirid di ujung senja
sementara mega berarak melintas barak
persinggahan kita

jejak siapakah membiak sepanjang pantai

wahai, sejenak kita terhenyak
mendekap debardebar di dada
luka

ayo, dentingkan lagi petikan gitas tuamu
sama kita lagukan irama qasidah cinta

perjalanan kita lah sampai
di tapal batas arasy menghitung puisi
tiada sangsi menyanyikan irama wangi melati
menapaki jalan sunyi
menggenggam pelita Nur Ilahi Robbi

Sungaiputri, 1993

Selanjutnya, Prof. Dr. Suminto A Sayuti memberikan penilaian kritis atas sajak-sajak yang digubah oleh DAM sebagai berikut.

Kesadaran pengambilan situasi dan posisi “tapal batas” tersebut, dengan sendirinya, mempengaruhi perhatian Dimas terhadap realitas kehidupan yang dijadikan fokus atau subjek dalam sajak-sajaknya. Realitas yang ditampilkan dalam sajak-sajaknya pun sejalan dengan situasi dan posisi tersebut. Akan terasa bahwa perambahan proses kreatifnya meniscayakan adanya sikap memihak di satu sisi, dan menggugat di sisi lain. Citraan-citraan yang terasa paradoksal memenuhi hampir seluruh sajak-sajak yang dihimpun dalam antologi ini. Dalam cara yang demikian itulah seorang Dimas membangun tegur-sapa atau silaturahmi dengan khalayak yang mengkondisikan keberadaannya, atau dengan sidang pembaca: pada tirai yang melambai/kuuntai tragedi—demi—tragedi yang tak kunjung usai” (Sajak Pada Tirai yang Melambai”. Demikian, sajak-sajak Dimas tidak lagi “sederhana”, betapa pun dia, sebagai kreator memberi label sajak sederhana.

Untuk sekadar menunjukkan betapa sajak Dimas Arika Mihardja sebagai bentuk tegur-sapa atau silaturahmi dengan khalayak yang mengkondisikan keberadaannya, berikut ini ditampilkan sajak “Pada Tirai yang Melambai”. Sajak ini memenangi lomba menulis puisi sosial yang diselenggarakan komunitas sastra Aceh dan diterbitkan dalam buku Teriak Mereka:

PADA TIRAI YANG MELAMBAI

pada tirai yang melambai
terasa ada badai. lalu mayatmayat terkulai
pucatpasi. tiada suara
tawa atau canda. di sini semua fana semata
hanya seremoni belaka: doadoa sederhana
mengangkasa

pada tirai yang melambai
ada yang tergadai, seperti pantai landai
tempat riak dan ombak berontak
atau saling bantai, tak hentihenti mencumbui
karang, teripang, juga segala bayang

pada tirai yang melambai
kuuntai tragedi—demi—tragedi
yang tak kunjung usai

Menggubah sajak, dalam konteks tertentu, merupakan aktualisasi dari sikap yang “memberontak” (memberontak dalam tanda kutip) terhadap situasi tertentu sebagai manifestasi kreatif. Dunia puitiknya yang terungkap dalam sajak dengan demikian lebih berupa kesaksian atau catatan atas peristiwa yang di dalamnya tertuang adanya koreksi terhadap dunia dan kehidupan. Dalam kaitan ini Suminto A Sayuti (1993) menulis seperti ini,

Bagi Dimas, pemberontakannya lewat penciptaan sajak merupakan upaya nyata, bukan merupakan sesuatu yang semu. Hal ini dapat dilihat, terutama karena tindakan tersebut bermula dari sebuah kesadaran tertentu: “Aku/terus melangkah mengucurkan darah ketika/penyair/ kehilangan katakata karena bahasa telah pecah/ berdarahdarah (Sajak “Aku Senantiasa Menyeru”). Disamping itu, dan karenanya, upaya mengabdi pada nilai kemanusiaan menjadi pegangan yang nyata: sebagai bentuk silaturahmi ketika “telah sekian kali kukunjungi/ makammakam peradaban di altar persembahan”, ternyata “kita” tetap saja “merasa asing oleh derapwaktu/dan tahu jalan yang dituju taktentu”, dan bahkan ketika sudah “berapa ribu kita bercumbu untuk mengurai misteri jarak pendakian”, ternyata tetap saja, “tak satu pun jua arti bisa dipahami”, karena “segalanya melindap” (Sajak “Silaturahmi”).
Dalam Catatan Ringkas terhadap Negeri Angsa Putih (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri—Daya Kreativitas Insani, 2007), kritikus Korrie Layun Rampan memberikan penilaian atas sajak-sajak karya Dimas Arika Mihardja seperti kutipan berikut.

Sebagai penyair yang telah menemukan bahasa dan pengucapan estetiknya sendiri, Dimas Arika Mihardja secara intens menyajikan warna lokal yang kental dengan pengucapan keakuan yang membayangkan nuansa esoterik. Kata-kata dan ungkapan yang kadang ditampilkan dengan bunyi yang bersahutan, mencirikan puisi-puisi kalimat yang merdu, seperti, “kata dan frasa berserak di atas tongkang/ yang diayun gelombang. biduk-biduk sayak/bersajak tentang tempoyak, riak, dan ombak batanghari/ di lapak-lapak pasar lopak yang sesak...”. Dengan kata-kata dan kalimat seperti itu, penyair ini menyajikan sisi lain dari gerakan Afrizalian yang menempatkan benda sebagai persona antropomorfisme, sehingga benda-benda muncul sebagai keakuan atau kekitaan, akan tetapi di dalam sajak-sajak Dimas benda-benda ditempatkan sebagai sarana informasi .... Di samping lirik-liriknya yang liris, sajak doktor puisi ini memberikan perspektif lain dari lirik naratif yang disenyawakan di dalam puisi kalimat yang lentur dan patetik menginformasikan dunia Jambi kiwari. Seperti halnya sajak “Balada Musyafir Gila” yang secara kongkret menginformasikan tentang sebuah antologi “142 Penyair Menuju Bulan” yang disusun oleh Arsyad Indradi, seebuah antologi puisi penyair nusantara (Banjarbaru, Desember 2006, 728 + xiii halaman) yang di dalamnya tercakup puisi Dimas yang berbicara tentang tanah air, nuansa religius, dan “sorga begitu sepi”. Puisi-puisi penyair ini sangat menonjol ditinjau dari segi pengucapan maupun tematik, dan menampakkan perkembangan dari sajak-sajaknya yang dikutip Korrie Layun Rampan untuk buku Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (Gramedia Widiasarana Indonesia).

Sajak-sajak Dimas Arika Mihardja seperti “Sajak Sederhana Untukmu”, “Perjalanan 2”, “Perjalanan 4”, “Kado Ulang Tahun”, “Masjid Agung Al-Fallah”, “Candi Muaro Jambi”, dan “Riak dan Ombak Batanghari” dipilih dan dimuat dalam buku Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (Gramedia Widia Sarana Indonesia, 2000). Angkatan 2000 ini ditandai dengan wawasan estetik berikut: (1) pencerminan karya reformis yang melahirkan revolusi dalam bentuk, (2) pencerminan karya inspiratif yang menawarkan kejenialan ide dan tematik, (3) revolusioner lantaran kekuatan estetiknya (hal. xxxiv). Dalam kata pengantar yang berjudul “Wawasan Estetik Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia” pada halaman x1iv KRL menulis seperti ini,

Para penyair angkatan ini tanpa canggung mempertemukan berbagai unsur vital dari berbagai realitas yang menjadi trend pemikiran abad manusia zaman kita dan menyatakannya kembali dengan pengucapan estetik yang mencirikan penemuan zamannya. Dalam sajak-sajak itu, aku lirik bergeser menjadi aku massal yang mencerminkan peniadaan keakuan, sehingga sajak menjadi netral dalam pemberian tanda dan menyikapi penandaan dari lirik. Sementara keakuan yang masih dipertahankan mencerminkan peleburan dari elan vital individu kepada elan vital massa, benda, atau suatu idea. Sajak-sajak Arif B Prasetya, Cecep Syamsul Hari, Remy Novaris DM, Beni R. Budiman, Tjahjono Widijanto, Tjahjono Widarmanto, Dimas Arika Mihardja, Nenden Lilis A., Omi Intan Naomi, Medy Loekito, Wowok Hesti Prabowo, Sitok Srengenge, Kusprihyanto Namma, Aslan A. Bidin, dan lain-lain menunjukkan sifat-sifat unik pengucapan estetik demikian.

Sebagai pelengkap, berikut ini diturunkan kembali sajak “Perjalanan 4”, “Kado Ulang Tahun”, “Candi Muaro Jambi”, dan “Riak dan Ombak Batanghari”.

PERJALANAN 4
buat Afrizal Malna

dalam sepatu kita isi rindurindu
sokrates netes: mencairkan luka
chairil menggigil saat kaupanggil
dan tardji di manamana menagih janji

puisi jadi basi, tanpa kita sadari
puisi jadi saksi, tanpa kita pahami
puisi jadi melati, tanpa mewangi
puisi jadi belati, menusuk relung hati

satu lagi: kita berpusarpusar di tengah pasar melelang sesuatu
yang telah hilang: kesederhanaan
0, dimana filsafat kausimpan di mana
makrifat kaupahat di mana
“abad yang berlari” di mana
kausembunyikan suarasuara-maknamakna-lukaluka
mikrofon?

o, abad yang berlari
melesat tinggalkan kita
sendiri
Jambi, 1993

KADO ULANG TAHUN
-buat Korrie Layun Rampan-

(17 agustus ialah hari kelahiran
hari kemerdekaan menghirup kehidupan)

padang perburuan, padang perbukuan
ladang pengabdian, pandang menjanjikan
semua tumbuh subur di lahan-lahan garapan

di lahan-lahan harapan, kusimpan puisi kehidupan
kupersembahkan kepada Pujangga Sejati—Allah
ke nama pun kaki melangkah semua mengarah

ke mana pun doa melesat semua jadi berkah
ke manapun mengalir, satu muaranya: cinta
korrie berkayuh di atas perahu kayu
mengalir dari tepian mahakam menuju jakarta
korrie bersimpuh di muka makam menjelang senja

menjelang senja kuuntai doa
semoga bahagia dan sejahtera
Jambi, 1994

MASJID AGUNG AL-FALLAH

sebuah rumah putih tak letih menunggumu
menumpahkan rindu. masihkah engkau berlalu
ketika azan memanggilmu? cucilah dirimu dari kurap waktu
kenapa engkau termangu memandangku?
cuci tangan dan kakimu
masuklah ke serambi hatiku

beribu hari aku berdiri di sini
tetapi kenapa engkau kalap menangkap isyarat?
aku lebih besar dari meja bilyar
tetapi engkau lebih memilih berjudi dengan nasib
berpusar-pusar di tengah pasar
tak letih menawar agar-agar

aku menjulang melebihi gunung kerinci
tetapi engkau masih juga bingung menghitung makna rezeki
aku megah di atas sepucuk jambi sembilan lurah
tetapi engkau masih juga gelisah

pulanglah ke rumah: tumpahkan segala desah
masuklah ke dalam hatimu sendiri
di sana tegak mimbar kayu jati:
agama ageming ati
Islamic Centre, 1994


CANDI MUARO JAMBI

aku dengar keluh batubatu runtuh
berpeluh. tak ada arca atau stupa
hanya ilalang bergoyang terpanggang matahari
sebuah situs tak terurus menggerus hati
pejalan sunyi, sendiri memikul luka diri
mengaca pada bayang batanghari
yang tiada henti merangkum tragedi

aku sendiri membangun candi
dalam mimpi yang sulit diurai
di kedalaman hati: kau tegar
abadi.

Jambi, 1994

RIAK DAN OMBAK BATANGHARI

ada masanya engkau bicara kecipak riak
atau teriak ombak dalam sajak
semuanya saling desak
jika ingin bicaralah tentng angin
cuaca dingin atau soal lain:
satwa, aneka derita
doa-doa purba
bersilancar bersama debar
atau menggulung layar

di bidang dadaku tumbuh menyemak pusaran waktu
tetapi selalu lupa kaucumbu
sampan dan perahu melaju di hatiku
sejuta kata mengarus dan berpusar
di pasar: orang-orang saling menawar harga diri
gengsi atau menjajakan mimpi

di urat nadiku budak-budak jambi lasak
mengejar matahari—membakar sesaji
menebar jala—merenda makna
sementara irama gerakku—riak dan ombak itu
terus menderu menghanyutkan mimpimu

Pasar Angso Duo, 1994


Berikut ini dinukilkan dua sajak, yakni “Aku Senantiasa Menyeru” dan “Silaturahmi” agar memperoleh gambaran yang lebih lengkap.

AKU SENANTIASA MENYERU

aku senantiasa menyeru tanpa jemu ketika sawahsawah
rekah dan bumi tengadah memeram wajahwajah
gelisah petani yang menggigil. aku
senantiasa tiada lelah memapah jiwa-jiwa resah
menuju lembahlembah yang dibanjiri darah. aku
terus melangkah mengucurkan darah ketika penyair
kehilangan katakata karena bahasa telah pecah
berdarahdarah

maka aku senantiasa menyeru jiwajiwa batu
agar selalu ingat keringat rakyat yang dengan
tangantangan penuh lumpur mengadukaduk nasib
mengolah masa depan yang suram
aku senantiasa menyeru kamu yang dengan kejam
memakan insaninsan malang

aku senantiasa menyeru kamu yang tanpa ragu
memangsa sesama yang begitu menderita
senantiasa menyeru kamu yang tanpaa perasaan
memakan masa depan demi memuaskan
nafsunafsu menggebu

Malang, 1996

SILATURAHMI

sekian kali kukunjungi
makam-makam peradaban di altar persembahan
kita sama merasa asing oleh derapwaktu
dan tahu jalan yang dituju taktentu

beraparibu kita bercumbu
mengurai missteri jarak pendakian
tapi tak satu jua arti bisa dipahami

di atas geriap sayapsayap keasingan
kembali kueja makna pertemuan ini
hingga waktu enggan berbagi

Sajak “Aku Senantiasa Menyeru” secara khusus dibahas oleh Sutardji Calzoum Bachri sebagaimana dimuat dalam buku Mimbar Penyair Abad 21 (1996, halaman 373—374) dan DAM di undang Dewan Kesenian Jakarta-Taman Ismail Marzuki untuk membacakan sajak-sajaknya, seperti dikutipkan berikut ini:

Menghadapi kehancuran nilai-nilai, konflik dan ketimpangan sosial, serta keterasingan eksistensial sebagai dampak negatif dunia kini yang mereka hidupi, para penyair terkini sering menggoreskan larik-larik muram, kadang mengesankan perlawanan lantang atauoun lembut menyaran, bahkan kadang kepasrahan atau rasa kesia-siaan. Ucap Ari Setya Ardhi: aku menjadi bagian dunia/mendiami jiwa angin yang kehilangan roh/serta mempersiapkan onggokan nisan ke atas keranda (Menjadi Bagian Dunia). Tapi apa artinya harapan/ kalau lumbung menggunung di tanah mereka (Abdul Wachid BS, Keluarga Larut Malam) Dimas Arika Mihardja: maka aku selalu menyeru jiwa-jiwa batu/agar selalu ingat keringat rakyat yang dengan tangantangan penuh lumpur mengadukaduk nasib/mengolah masa depan yang suram/aku senantiasa menyeru kamu yang dengan kejam/memakan insaninsan malang (Aku Senantiasa Menyeru). Nilai-nilai kemanusiaan hancur: gandhi dan theresia mati ditembak di sarajevo (Aslan A. Abidin, Sarajevo Jantung yang Tertembak). Dan Kurnia Effendi berseru: Sungguh, bumi hangus ini bukan tempat bagi kami lagi (Telah Kami Serahkan). Beberapa sajak protes ada yang ditulis dengan bayang-bayang Rendra atau Taufiq Ismail.

Sutardji Calzoum Bachri lalu menutup ulasannya dengan kesimpulan seperti kutipan berikut.

Akhirulkalam, puisi akhir abad yang terhimpun dalam buku ini, pada hemat saya tumbuh wajar, menyambut gayung perpuisian para pendahulunya. Ia tak lepas dari sejarah perkembangan perpuisian sebelumnya dan dalam merespon dunia di zamannya ia tidak tercerabut dari masalah-masalah zaman. Pemanfaatan kreativitas para penyair pendahulu oleh beberapa bakat kuat dari penyair terkini melahirkan puisi-puisi mempesona.

Menurut Suminto A Sayuti, jika benar hakikat sajak adalah menyairkan kehidupan, maka bagi sejumlah penyair, agaknya: kehidupan yang telah, sedang, dan akan dirambah memang beresensikan “sebuah perjalanan”. Pelancongan kultural. Sebuah “perjalanan” pasti ada awal dan akhir, ada terminal atau pelabuhan akhir. Ada masa lalu yang ditinggalkan, masa kini yang dirambah, dan masa depan yang dituju atau dibayangkan. Jadi, penyair tidak lain adalah seorang pejalan, yakni “perjalanan budaya” yang sedang menciptakan sejarahnya sendiri lewat proses kemenjadian terus-menerus. Sejak semula, dalam sejarah “perjalananannya” manusia harus “mengurai misteri jarak pendakian,” karena “segalanya melindap” dan berada “di atas geriap sayapsayap keasingan.” Untuk itu semua, manusia pun harus ingat akan asal-muasal kejadian, sejarah awal kita itu, stasiun, terminal, atau pelabuhan tempat keberangkatan kita, hingga kini seperti tampak pada sajak “Silaturahmi” .

Sajak yang digubah oleh penyair tidak lain merupakan buah pengalaman estetis. Mudji Sutrisno & Prof. Dr. Crist Verhaak (1993) dalam buku Estetika Filsafat Keindahan menjelaskan bahwa “Pengalaman estetis ini menenteramkan dan menggembirakan manusia, karena di dalamnya manusia mengenali hubungan yang akrab dan hangat antara dirinya dengan sumber atau asas segala sesuatu yang menarik, memikat, dan memanggil dia kepada-Nya”. Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Plotinos tentang emanasi di mana segalanya dimulai dari Ada dan akan kembali ke Ada lewat suatu proses “mengalir”. Di dalam “megalir” itulah hadir berbagai ragam pengalaman. Juga termasuk di dalamnya pengalaman estetis. Hal ini sejalan dengan konsepsi kepenyairan yang pernah saya nyatakan pada tahun-tahun awal kepenyairan Dimas Arika Mihardja. Saya nyatakan bahwa proses kepenyairan itu “mengalir”, mengenali arus, tidak melawan arus, dan tidak hanyut di dalam arus kemudian terus mengalir dan mengarus terus-menerus.

Kita simak pandangan kritikus Korrie Layun Rampan ketika menulis Kata Pengantar buku kumpulan sajak DAM berjudul Upacara Gerimis (1994) sebagai berikut:

Pengalaman estetis dimungkinkan karena kreator menangkap dan menerjemahkan dengan ungkapan yang mencerminkan wibawa bahasa sebagai sarana ekspresi. Setiap penyair yang sudah menemukan bahasa memiliki viriousitas dalam usahanya menerjemahkan seluruh kenyataan, sehingga kenyataan itu meyakinkan pembaca, sebagaimana setiap manusia meyakinkan ciptaan sang Khalik. Di sinilah uniknya karya sastra, di sinilah khasnya puisi atau sajak, karena nafasnya bersumber dari roh kata dan bahasa.

Di akhir pembicaraan ini, perlu dikemukakan catatan reflektif tentang Dimas Arika Mihardja (DAM). DAM adalah semacam bendungan yang dapat menampung air dari banjir (luapan emosi, imajinasi, ide, dan pemikiran kreatif penyair). DAM tidak saja menampung air yang melimpah ruah, akan tetapi DAM juga mengalirkannya ke dalam karya kreatif-imajinatif berupa sajak. Sesuai dengan fungsinya, DAM melakukan pembagian air (sajak) secara adil dan seimbang untuk mengairi sawah-sawah yang dilanda kekeringan. Sawah-sawah (baca: khalayak pembaca) yang telah teraliri air dengan cukup, selanjutnya dapat menafasi aneka tetumbuhan dan tanaman (sikap dan perilaku hidupnya) secara lebih bermartabat bagi kehidupanya. Semoga sawah-sawah yang mendapat “jatah” pengairan dari DAM dapat menanam kebajikan dan memanen kebaikan, sebab sejatinya sebuah sajak digubah untuk “memanusiakan manusia”, agar lebih manusiawi sebagai manusia. Dengan kata lain, sajak akan mengukuhkan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan ini harus senantiasa disuarakan seperlunya.

Demikian salam sastra.

“ESTETIKA SEDERHANA” PUISI-PUISI RINI INTAMA, SEBUAH PENGANTAR

Dimas Arika Mihardja *)

APAKAH yang menarik dari puisi? Puisi selalu menawarkan daya tarik berupa tawaran dunia fantasi yang diolah berdasarkan diksi dan imajinasi. Setiap puisi sudah barang tentu terdapat diksi, yakni pilihan kata yang dilakukan oleh penyair. Penyair "setengah mati" mempertaruhkan diri dalam memilih kata-kata yang secara tepat dapat mengabadikan pengalaman dan perasaannya ke dalam teks puisi. Penyair selalu selektif dalam memilih kata. Seleksi yang ketat ini biasanya lalu terkait dengan dunia fantasi yang secara nyata hadir dari pilihan dan penggarapan imajinasi. Penyair menyeleksi kata yang secara fantastis menumbuhkan ruang imajinasi bagi para pembaca puisinya. Melaui diksi dan imaji inilah penyair mengajak para pembacanya memasuki dunia fantasi lewat puisi-puisi yang digubahnya.

Teks puisi memiliki keunikan dalam pemaparan bahasa sebagai cara ungkap berbagai ma­salah kehidupan. Berbagai ma­salah kehidupan, baik berupa peris­tiwa yang terjadi dalam kehidupan se­hari-hari, se­suatu yang dialami oleh sastrawan, masalah sejarah-so­sial-politik-ekonomi-bu­daya, maupun berbagai fenomena kehidupan yang menjadi bahan renungan, ha­yatan, pe­mikiran sastrawan diekspresikan secara unik dan menarik. Keunikan dan daya tarik wacana puisi tersebut realisa­sinya berhubungan dengan misi, visi, dan konsepsi sas­trawan selaku kreator. Penyair yang kreatif akan dapat menghasilkan wacana puisi yang khas, dan dengan demikian memiliki daya tarik tersendiri.

Teks puisi di­bentuk dan dicipta­kan oleh penyair Rini Intama tampaknya berdasarkan de­sakan emosional dan rasional. Puisi karya Rini Intama sejalan dengan wawasan Luxemburg, merupakan se­buah ciptaan, se­buah kreasi, dan bukan sebuah imi­tasi. Oleh karena itu, wajar apa­bila un­sur-unsur pribadi penyair Rini Intama seperti pengetahuan, peristiwa penting yang dialami, visi, misi, dan konsepsinya meronai puisi yang dicipta­kan. Secara fisik, teks puisi karya Rini Intama terungkap melalui pemaparan bahasa yang pe­nuh dengan simbol, bahasa kias, dan gaya bahasa lainnya. Peng­gunaan simbol, bahasa kias, metafora, dan gaya bahasa oleh penyair Rini Intama dimaksudkan untuk me­madatkan dan mengefektifkan pengung­kapan. Dengan pemakaian simbol, bahasa kias, metafora, dan gaya bahasa penyair Rini Intama mencipta­kan puisi yang mengutamakan intensifikasi, korespondensi, dan musikalitas.

Intensi­fi­kasi, korespondensi, dan musikalitas inilah yang tampil dominan dalam karya sastra berbentuk puisi dalam buku ini. Intensifikasi merupakan upaya penyair memperdalam intensitas penuturan dengan berbagai cara pemaparan bahasa. Korespon­densi merupakan upaya penyair menjalin gagasan menjadi satu ke­satuan. Musikalitas meru­pakan upaya penyair mempermanis, mem­perkuat, dan menonjolkan efek puitik kepada hasil kreasinya. Dengan intensifikasi, korespondensi, dan mu­sikalitas yang baik penyair Rini Intama mampu men­ciptakan puisi yang secara fisik berbeda dengan prosa. Jika prosa lebih bersifat menerangjelaskan, maka puisi bersi­fat memusat dalam perenungan. Puisi-puisi Rini Intama menunjukkan corak puisi yang menampilkan intensifikasi, korespondensi, dan musikalitas yang sederhana namun mampu menarik perhatian pembaca.

Hal yang pertama dan utama mendapatkan perhatian ialah konsep “estetika sederhana” (sederhana dalam tanda petik) sebuah puisi. Penampilan puisi dapat amat beragam, seperti halnya penampilan dan perilaku seseorang yang juga beragam. Ada seseorang yang berpenampilan perlente, cantik, modis, dan mengikuti trend masa kini lengkap dengan asesoris dan make up dan busana yang glamour. Sebaliknya,ada seseorang yang suka penampilan sederhana, tidak “neko-neko”, tidak banyak ulah, lembut tutur katanya, sopan, beradab, dan menjunjung tinggi norma-norma. Pertanyaan sederhana, apakah seseorang yang berpenampilan modis seperti ilustrasi pertama lebih bergaya dan lebih memukau jika disbanding seseorang yang berpenampilan sederhana? Apakah puisi harus modis dan mengikuti trend masa kini? Apakah di balik kesederhanaan puisi tidak ditemukan sesuatu yang istimewa?

Dalam artikelnya yang terkenal, Linguistics and Poetics, Jacobson menerangkan bahwa ada enam fungsi bahasa yang berbeda, yang merupakan faktor-faktor pembentuk setiap jenis komunikasi verbal. “ADDRESSER (PENGIRIM) mengirimkan suatu MESSAGE (PESAN) kepada seseorang ADDRESEE ( ORANG YANG DIKIRIMI); Agar operatif, pesan tersebut memerlukan CONTEXT (KONTEKS), sehingga dipahami oleh yang dikirimi dan dapat diverbalisasikan; suatu CODE (KODE) secara penuh atau paling tidak sebagian, umum bagi pengirim dan yang dikirimi (atau dengan kata lain bagi pembuat kode dan pengarti kode); dan akhirnya, suatu CONTACT (KONTAK), suatu saluran fisik dan hubungan psikologis antara pengirim dan yang dikirimi, memungkinkan keduanya memasuki dan berada dalam komunikasi. Dalam hal ini Rini Intama melalui teks-teks puisi yang ditulisnya melakukan komunikati dengan para pembacanya. Dalam proses komunikasi ini tidak dinafikan fungsi bahasa sebagai medianya.

Finochiaro membedakan fungsi bahasa menjadi lima kelompok. Kelompok itu adalah sebagai berikut (1) fungsi personal, yakni merupakan fungsi bahasa untuk menyatakan diri, baik berupa pikiran maupun berupa perasaan; (2) fungsi interpersonal, yakni merupakan fungsi yang menyangkut hubungan antarpenutur atau antarpersona untuk menjalin hubungan sosial; (3) fungsi direktif, yakni merupakan fungsi bahasa untuk mengatur orang lain, menyuruh orang lain, memberikan saran untuk melakukan tindakan, atau meminta sesuatu; (4) fungsi referensial, yakni merupakan fungsi bahasa untuk menampilkan suatu referen dengan menggunakan lambang bahasa; dan (5) fungsi imajinatif, yakni merupakan fungsi bahasa untuk menciptakan sesuatu dengan berimajinasi.

Apabila dikaji lebih lanjut, meskipun terdapat beragam pendapat dan klafisikasi fungsi bahasa dari para pakar, dapat dinyatakan bahwa bahasa dalam gubahan Rini Intama berfungsi mengkomunikasikan tiga hal, yakni pikiran, perasaan, dan sikap terhadap delapan tema yang diusungnya. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa bahasa dalam kehidupan manusia memiliki fungsi simbolik, emotif, dan afektif. Dengan bahasa manusia hidup dalam dunia pengalaman nyata dan dunia simbolik yang dinyatakan dengan bahasa. Manusia mengatur pengalaman yang nyata ini dengan berorientasi pada dunia simbolik. Selain itu, manusia memberi arti bagi yang indah dalam hidup ini dengan bahasa. Dari sanalah tercipta karya yang mengungkapkan nilai-nilai estetik, antara lain berupa puisi. Secara ringkas dapat dinyatakan bahwa dengan bahasa manusia dapat mengungkapkan pikirannya, mengekspresikan perasaannya, dan menyatakan sikapnya.

Ekspresi pikiran, perasaan, dan sikap penyair Rini Intama dapat dilacak pada delapan tema dengan sub-sub judul berikut: (1) KEPADA CINTA, memuat puisi “Ada Apa Denganmu Amara?”, “Di tepi Dermaga”, “Surat Kecil Buat Amara”, “Kekasih”, “Senyum Langit Menggodaku”, “Debar”, “Bungkam”, “Merajuk”, “Kita Memang Tak Bicara”, “Duduklah di Seberangku”, “Murung”, dan “Renjana”; (2) KEPADA PEREMPUAN, memuat puisi “Sajak Gemulai Tarian Naz”, “Sajak Sang Perempuan”, “Perempuan Dalam Sketsa Sunyi”, “Lukisanku Belum Usai”, “Lukisan Sebuah Masa”, “Nurani”, dan “Gelas Terakhir”; (3) KEPADA TUHAN, memuat puisi “Bertasbih”, “Azan”, “Doa”, “Dzikir”, “Tuhan Tak Marah”, “Sajak Kematian”, “Pemakaman”, “Lembah Keramat”, “Lima November”, dan “Seperti Apa Surga Itu Adinda?”; (4) KEPADA ALAM, memuat “Hutanku”, ”Lagu Sang Hujan”, “Bulan Memucat”, “Sajak Pelangi”, “Sajak Semut”, “Metamorfosa”, “Debu”, dan “Hening”; (5) KEPADA RINDU, memuat “Kisah Langit”, “Sajak Maaf”, “Kekasih”, “Surat Pada Mei”, “Tentang Rindu Kotamu”, “Menunggu”, “Sabar”, dan “ Sajak Rindu Petikan Dawaimu”; (6) KEPADA SAHABAT, memuat “ Puisi Buat Sahabat”, “Kado Sang Terdakwa”, “Langit Jingga”, “Sajak Sebutir Debu”, “Sajak Terima Kasih”, “Jeda”, “Menulis Bersama”, “Pagi Riang”, “Aku Membaca”, “Hujan”, “Dialog Secangkir Kopi”, dan “Kutulis Besar Kecil Huruf Mei”; (7) KEPADA KISAH KISAH, memuat “Kisah Pesawat Kertas”, “Kisah Kecil”, “Berhenti Pada Sebuah Titik”, “Lukisan Sang Dewi”, “Kisah Pemetik Teh di Bukit Berkabut”, “Coretan kisah”, “Sang Penyair”, “Sajak Nelayan Tua”, “Sajak Sang Lelakon”, “Kelapa Gading”, “Sajak Sang Pemikir”, “Sajak Sang Lelaki”, dan “Sajak Hampa”; dan (8) KEPADA NEGERI memuat “Kidung Negeri”, “Tangisan Ibu”, “Mimpi Anak Negeri”, dan “Sajak Luka”.

Puisi yang menjunjung estetika sederhana, seperti juga seseorang yang berperilaku sederhana, meliliki nilainya tersendiri. Sosok wanita yang berpenampilan sederhana, tanpa make up misalnya, dari perspektif tertentu memiliki keindahannya tersendiri. Demikian juga puisi yang ditulis dengan estetika sederhana memiliki nilai tersendiri. Puisi-puisi Rini Intama yang termuat di dalam buku ini terbagi secara tematik ke dalam 8 tema. Tema-tema ini oleh penyair Rini Intama diekspresikan melalui berbagai macam fungsi bahasa seperti fungsi personal, yakni merupakan fungsi bahasa untuk menyatakan diri, baik berupa pikiran maupun berupa perasaan, misalnya, dapat kita lacak dan simak melalui tema cinta dan rindu; fungsi interpersonal, yakni merupakan fungsi yang menyangkut hubungan antarpenutur atau antarpersona untuk menjalin hubungan sosial, misalnya melalui tema kepada perempuan dan kepada sahabat; fungsi direktif, yakni merupakan fungsi bahasa untuk mengatur orang lain, menyuruh orang lain, memberikan saran untuk melakukan tindakan, atau meminta sesuatu, misalnya dapat dibaca melalui tema kepada negeri; fungsi referensial, yakni merupakan fungsi bahasa untuk menampilkan suatu referen dengan menggunakan lambang bahasa, misalnya dapat dilacak melalui tema kepada kisah, kepada alam, dan kepada Tuhan; dan fungsi imajinatif, yakni merupakan fungsi bahasa untuk menciptakan sesuatu dengan berimajinasi, yang dapat kita lacak di setiap puisi karya Rini Intama.

Tema apapun yang diungkapkan oleh penyair menjadi menarik bergantung bagaimana penyair mengemasnya ke dalam teks puisi. Pengemasan teks puisi Rini Intama lebih berpenampilan sederhana dalam hal peng­gunaan simbol, bahasa kias, metafora, dan gaya bahasa. Dengan pemakaian simbol, bahasa kias, metafora, dan gaya bahasa penyair Rini Intama mencipta­kan puisi yang secara sederhana menampilkan intensifikasi, korespondensi, dan musikalitas. Puisi-puisi karya Rini Intama menampilkan intensifikasi, korespondensi, dan musikalitas yang relatif mudah dicerna oleh pembaca. Artinya, pembaca dapat menyerap, merasakan, menikmati irama puisi-puisi karya Rini Intama. Itu bermakna proses komunikasi teks puisi telah terjadi. Menyimak puisi-puisi yang termuat di dalam buku ini, setidaknya niat penyair Rini Intama untuk “menggaet” atau ingin mengajak sebanyak mungkin pembaca dapat terpenuhi. Tujuan memperluas daya jelajah puisi ke tengah-tengah masyarakat pembaca yang luas dapat tercapai dengan puisi yang digubah dengan “estetika sederhana”. Dalam “estetika sederhana” ini, penyair tidak sekadar mengemas gagasannya secara lugas, melainkan juga memanfaatkan sarana bahasa kias. Dalam “estetika sederhana” ini penyair Rini Intama ingin mengajak setiap pembaca puisinya merasa “intim” dengan puisi-puisinya. Puisi yang dapat diintimi oleh pembaca adalah juga menunjukkan bahwa puisi itu komunikatif.

Demikianlah, seorang Rini Intama telah menyediakan teks-teks puisi dengan estetika sederhana dan mengajak kita berkomunikasi menangkap lanskap kehidupan yang didedahkan. Komunikasi batiniah yang ditopang spiritualitas menghadapi hidup dan kehidupan niscaya akan banyak mendatangkan manfaat. Selamat membaca dan menggali hikmah positif yang terdedah melalui komunikasi puitik puisi-puisi karya Rini Intama. Saat kita menyelam dan menyelami kedalaman maknanya, percayalah,kita akan tercerahkan oleh estetika sederhana yang dipilih penyairnya.
Salam budaya.

*) Penulis adalah pengajar puisi di Universitas Jambi, penyair, dan pemerhati seni budaya

MEMASUKI PINTU-PINTU PUISI, MEMAHAMI DUNIA IMAJINASI

Oleh: Dr. Sudaryono, M.Pd


Aku telah terbuka perlahan-lahan, seperti sebuah pintu, bagiku
satu persatu aku terbuka, bagai daun-daun pintu,
hingga akhirnya tak ada yang bernama rahasia;
begitu sederhana: sama sekali terbuka


(“Penyair” karya Sapardi Djoko Damono, Tonggak 2, hlm. 408—409)


Penyair dan Puisi: Pintu Terbuka
Puisi sederhana gubahan penyair Sapardi Djoko Damono ini sengaja diturunkan sebagai pangkal tolak pemikiran diskursif bahwa menghadapi dunia puisi haruslah siap menghadapi aneka kemungkinan. Melalui puisi bertajuk “Penyair” Sapardi Djoko Damono telah bertindak jujur, membuka diri dan hatinya secara terus terang, serta membuang jauh-jauh segala yang bernama rahasia. Segala rahasia tersibak bersama terkuaknya “pintu-pintu” kejujuran. Memang modal penyair dalam menulis puisi ialah kejujuran, bukan menyembunyikan sesuatu. Namun demikian, meskipun dilandasi oleh sebuah kejujuran, puisi tetaplah menawarkan misteri melalui aneka imajinasi.

Harus diakui bahwa puisi menampilkan perilaku “aneh tapi nyata”. Ternyata, puisi memiliki pintu-pintu. Pintu-pintu itu memiliki lubang kunci yang mengarahkan langkah kita memasukinya. Anehnya, melalui lubang-lubang pintu itu kita “diusik” untuk memasuki dunia imajinasi yang penuh misteri. Kita diajak memasuki dunia kreativitas tanpa batas. Dunia yang pada awalnya penuh dengan rahasia, tetapi kemudian setelah pintu-pintu pemaknaan tersibak, maka terkuak pula misteri maknanya. Kita diajak memasuki dunia penyair dan puisi yang penuh kemungkinan. Adalah “aneh tapi nyata” ketika penyair melalui puisi-puisi yang digubahnya membuat kita takjub, terheran-heran, terpukau, terpesona dan secara spontan menyatakan afirmasi: “luar biasa”. Pernyataan seperti ini relevan ditujukan pada puisi gubahan Utomo Soconingrat—Penyair cilik dari Jambi yang “aneh bin ajaib”.

Penyair cilik kelahiran 13 Oktober 1999, anak pasangan penyair E.M. Yogiswara dan penari Lilik Bekti Lestari ini telah mempublikasikan puisi-puisinya di rubrik budaya surat kabar yang ada di Jambi. Selaku orang tua, E.M. Yogiswara memberikan support positif, misalnya mengantarkan puisi-puisi gubahan anaknya ke redaktur budaya surat kabar yang ada di Jambi. Untungnya, E.M. Yogiswara juga bekerja sebagai redaktur di harian Jambi Ekspres, sehingga ada peluang untuk memperkenalkan (mempublikasikan) puisi yang ditulis oleh si Tomo ini. Tentu Ayah dan ibunya juga yang membantu menuliskan kembali puisi Si Tomo ini ke dalam program Microsoft Word. Selain menulis puisi, “anehnya” si Tomo ini suka membaca puisi di panggung apresiasi. Kepiawaiannya membaca puisi ini ditampilkannya di Panggung Apresiasi Temu Sastrawan Indonesia yang digelar di Jambi 7—11 Juli 2008, sampai-sampai penyair Asrizal Nur (Depok) ketika itu tertarik akan mengajaknya tampil di Taman Ismail Marzuki.

Dalam satu hal, saya seperti Stephen Spenders lebih menyukai puisi-puisi yang ditulis oleh penyair di awal karir kepenyairan, sebab puisi-puisi yang ditulis pada awal karier kepenyairan terasa lebih murni, lebih jujur, lebih spontan, dan jauh dari manipulasi (begitu sederhana: sama sekali terbuka). Karya-karya (puisi) yang dihasilkan oleh penyair usia muda seperti John Keats (Inggris), Arthur Rimbaud (Perancis), atau Chairil Anwar (Indonesia) mewakili kebanggaan bangsanya. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana jika kita “tidak menganggap ada” atau mencoret puisi-puisi mereka begitu mereka menulis puisi di usia dini, apakah sejarah perpuisian Inggris, Perancis, atau Indonesia dapat ditulis? Kita dalam konteks ini tidak dapat meremehkan usia muda, sebab di usia muda ini juga tersedia nilai-nilainya. Dalam konteks memberikan nilai inilah, atau tepatnya, memberikan penghargaan bagi karya anak bangsa inilah tulisan apresiatif ini dibuat.

Buah Kreasi “Anak Kecil” dan “Sang Nabi”
Ketika menulis puisi, ada dua pendekatan yang dapat dilakukan oleh kreator. Dua pendekatan itu, pinjam terminologi Sapardi Djoko Damono, ialah sudut pandang “anak kecil” dan sudut pandang “Sang Nabi”. Secara pragmatis, ketika kita menganlisis secara kritis wacana puisi, dua pandangan itu dapat diibaratkan sebagai pintu. Pintu-pintu itu seperti imajinasi Sapardi Djoko Damono digambarkan: terbuka perlahan-lahan .... satu persatu terbuka .... hingga akhirnya tak ada yang bernama rahasia; begitu sederhana: sama sekali terbuka. Dalam alam pikir anak kecil yang penuh fantasi atau khayalan berpendar aneka imajinasi yang luar biasa. Dalam bayangan anak kecil, sebuah sapu bisa berubah menjadi pesawat terbang, bisa berubah menjadi kuda, dan dapat berubah secara imajinatif menjadi “apa saja” sesuai dengan apa yang dikhayalkan, dibayangkan, atau diangankan. Gambaran angan yang berujud imajinasi itu begitu menonjol di kepala anak kecil. Selain itu, dengan kekayaan imajinasinya itu si anak kecil asyik dalam konteks permainan yang ia ciptakan.

Melalui alam pikir anak kecil yang suka berkhayal, berimajinasi, dan berangan-angan dapat dihasilkan kekayaan penggambaran yang memiliki makna. Demikianlah, ketika kreator menggunakan pendekatan “bermain-main” dalam menulis puisi dan berusaha menjauhkan diri dari kesan “main-main” dengan kesengajaan serta dilambari oleh orisinalitas pengungkapan yang jujur akan terbuahkan aneka puisi yang penuh dengan imajinasi. Imajinasi ini dibuahkan melalui upaya pemaksimalan aktivitas psikis berkayal, melamun, merenung, dan memikirkan satu hal. Pada puisi “Matahari” Utomo Soconingrat menampilkan pemikiran khas anak-anak yang penuh dengan pertanyaan. Dan kita orang yang lebih tua sering terkejut menerima pertanyaan atau pernyataan seperti ini “Matahari/sampai kapan kau menyinari bumi/Jangan pergi dari bumi/Kalau kau tak ada bumi bak kubur/ Gulita dalam gelap”.... Sampai kapan kau menjadi sumber kami/Jangan alfa memberi cahayamu/Jika kau tak ada bumi mati// Matahari/sampai kapan apimu meredup/Gaib bersama bumi//.

Serentetan pertanyaan dan pernyataan khas anak kecil tersebut mengandung kemurnian pemikiran, jujur, dan jernih. Logika yang dipakainya juga mengesankan adanya konsep berpikir pada tataran kongkret hingga abstrak. Kita, orang tua sering dibuat terkejut oleh imajinasi anak kecil yang liar tetapi dapat dipahami. Kita terkejut membaca ungkapan “Kita tidur di bumi/Bangun di akhirat/Kelak kita dilempar di dua pintu/Neraka atau surga (“Dua Pintu Kita”). Kita selaku orang tua kaget dan berusaha memahami maksud ungkapan “Kita tidur di bumi/Bangun di akhirat”. Kehidupan di bumi hanyalah sementara dan kehidupan yang sejati dan abadi adalah di akhirat. Hidup sementara digambarkan dengan diksi “tidur di bumi” dan kehidupan abadi diwakilkan melalui diksi “Bangun di akhirat”. Bagaimana mungkin ungkapan religius seperti itu meruak dari alam pikir anak kecil? Hal ini tidaklah mengherankan, justru di benak anak kecil gambaran surga dan neraka begitu jelasnya. Yang membuat kita tersentak ialah diksi “tidur di bumi”, “bangun di akhirat”, dan “dilempar di dua pintu”. Diksi-diksi ini khas, unik, dan menarik perhatian.

Di dunia anak kecil sering kita jumpai pertanyaan-pertanyaan. Melalui pertanyaan-pertanyaan inilah sesungguhnya sang anak menggali hakikat atau substansi sesuatu. Dalam puisi bertajuk “Anak Kecil Kehilangan Ibunya” selain narasinya runtut kita dapati serangkaian pertanyaan khas anak kecil: “Kenapa ibu dimasukkan di lubang/ Kenapa ibu tidur di tanah/ Kenapa ibu ditimbun/Kenapa ibu diinjak-injak/Kenapa ibu dikasih bunga”. Serangkaian pertanyaan ini secara filosofis mengandung dan mengundang jawaban mengenai substansi yang dipertanyakan. Lantaran pemahaman anak kecil terbatas, maka pertanyaan yang mengandung jawaban hakiki banyak dilontarkan. Aneka pertanyaan itu pada akhirnya menggiring si anak memiliki pemahaman dan pengalaman yang kongkret.

Selain puisi dibuahkan kreator dari sudut pandang “anak kecil” yang penuh imajinasi, puisi juga dihasilkan melalui pendekatan “sang nabi”. Apabila puisi dihasilkan melalui sudut pandang “anak kecil” tercipta puisi yang kaya imajinasi, lincah, tak terduga, mengejutkan, dan menyenangkan, maka di pihak lain puisi yang dihasilkan dari sudut pandang “sang nabi” berisi fatwa-fatwa agamais yang religius sifatnya. Puisi-puisi yang digubah dengan sudut pandang “sang nabi” berisi dengan aneka ajaran dan pesan moral. Penyampaian ajaran dan pesan moral ini realisasinya dapat terungkap secara sederhana, namun di pihak lain dapat pula terungkap secara kompleks. Religius yang bertaraf permulaan tampil melalui kesederhanaan, sedangkan religiusitas yang bertaraf tinggi cenderung menggambarkan kompleksitasnya (berbagai tingkatan: syariat, tariqat, hakikat, dan makrifat, dan berbagai paham serta keyakinan lainnya).

Puisi yang tergolong berpendekatan “sang nabi” yang digubah oleh Utomo Soconingrat adalah “Menuju Jalan Pintumu”, “Anak Kecil Kehilangan Ibunya”, “Melihat Kebesaranmu”, “Tobat di Perut Paus”, “Subuh”, “Yang Maha Esa”, “Berpuasa”, “Ramadhan”, termasuk puisi yang diandalkan sebagai judul buku “Dua Pintu Kita”. Pada puisi “Melihat Kebesaranmu”, misalnya, kita baca repetisi “Ya Allah/sinarilah pikiranku dengan sifat-Mu”. Lantaran Allah itu tak terlihat, maka pada sajak ini ditampilkan hal-hal yang dapat dilihat sebagai representasi kebesaran Allah. Hal-hal yang dapat dilihat itu berupa benda-benda galaksi yang memperlihatkan kebesaran Allah seperti matahari, merkuri, venus, bumi, mars, jupiter, saturnus, neptunus, pluto. Untuk melihat kebesaran Allah juga ditampilkan hasil karya teknologi yang dihasilkan oleh manusia seperti ungkapan berikut: “apolo yang mendarat di bulan/ fiking yang mendarat di mars/ voyager telah diluncurkan/ke jupiter dan saturnus” (dan manusia juga ciptaan Allah).

Mengapa Utomo Soconingrat yang tergolong belia ini telah merambah pemikiran tentang dunia akhirat? Apakah puisi yang bertema Ilahiah ini digubah dengan sengaja? Bagaimanakah realisasi pemahaman keyakinan ini merasuki puisi-puisi yang digubah? Sekali lagi, seperti dinyatakan di awal tulisan ini, bahwa kita tidak boleh memandang rendah usia muda. Persoalan keyakinan, pemaknaan, dan pemahaman masalah ketuhanan bukanlah semata urusan orang tua, terlebih orang tua yang mendekati liang lahat. Masalah ketuhanan, keyakinan, pemahaman mengenai ketuhanan tentulah menjadi persoalan semua orang, termasuk anak usia muda. Dalam konteks ini kesederhanaan atau kompleksitas penggarapan tema ini tidak perlu dipermasalahkan benar.

Secara substansial, setiap umat manusia adalah tempat khilaf dan salah kemudian atas kesadaran tentang salah dan khilaf ini manusia lantas meminta ampun dan berserah diri kepada Allah. Hal ini tampil melalui puisi kutipan “Menuju Jalan Pintu-Mu ini: “Ya, Allah, taburkan ampunku/Jauhkan kami dari durhaka dan iri dengki/Jauhkan pikiranku dari kegelapan/Bersihkan pikiranku dari mimpi dunia/Sucikan hatiku dari kotoran/Tuntun langkahku, agar ku tak sesat/Menuju Pintu-Mu....”. Hal yang menarik, penyair cilik ini menggubah fabel dan parabel melalui cerita nabi Yunus sebagaimana terbaca pada puisi berjudul “Tobat Di Perut Paus”. Puisi ini digubah berpangkal tolak dari sudut pandang bahwa puisi yang baik adalah puisi yang mengandung nilai, ajaran, atau hikmah. Melalui puisi yang digubah, kreator bermaksud menyampaikan ajaran yang berkaitan dengan pemikiran religius. Yang menarik, puisi ini digubah berdasarkan referensi historis, yakni sejarah nabi Yunus. Puisi lain yang juga digubah berdasarkan referensi pengetahuan keilmuan ialah puisi berjudul “Megaloceras”. Lantaran puisi ini digubah berdasarkan referensi, maka tidaklah mengherankan jika di akhir puisi perlu ditambahkan “catatan kaki”.

Tiga Dimensi Tematis
Secara kategoris, dalam penulisan puisi kreator bertolak dari tiga dimensi tematis: religiusitas, personal (individual), atau sosial. Tiga dimensi ini secara visual dapat diskemakan dengan segitiga sama sisi seperti ini:{{ALLAH)--(MANUSIA) -- (KEHIDUPAN)}.

Skema ini disebut dengan “SEGITIGA SAMA SISI” dalam proses kreatif penciptaan puisi. Pada sudut paling atas segitiga adalah ALLAH (representasi MISTERI ILAHI); sudut bawah—kiri adalah MANUSIA (representasi MISTERI manusia); dan sudut kanan—bawah adalah KEHIDUPAN SOSIAL (representasi MISTERI kehidupan) dan bidang yang berada di tengah-tengah segi tiga adalah lingkaran MISTERI.

Dalam hubungan antara manusia dengan Ilahi terentang misteri. Pemahaman, penghayatan, dan keyakinan manusia terhadap Sang Ilahi merentangkan hubungan misterius dalam berbagai tingkatan: syariat, tariqat, hakikat, dan makrifat, dan berbagai paham serta keyakinan lainnya. Dalam hubungan antara manusia dengan kehidupan juga merentangkan sejumlah misteri: ada-tiada, berada-mengada, ada-bersama, ada-sendiri, dll. Demikian pula hubungan antara manusia, Ilahi, dan kehidupan terdapat misteri dan manusia secara filosofis-transendental selalu berupaya memahami hakikat hidup, asal muasal hidup, rona hidup, tujuan hidup, kualitas hidup, dan lainnya.

Secara triadik, di dalam segitiga sama sisi ini terdapat LINGKARAN MISTERI yang tidak habis digali selama proses kreatif penciptaan puisi. Konsepsi estetik ini, lebih lanjut memang menjadi urusan masing-masing kreator. Setiap kreator memiliki pandangan yang beragam tentang bagaimana ia menghasilkan puisi. Konsepsi estetik ini merupakan wujud nyata visi sastrawan pelahirnya. Puisi yang digubah oleh Utomo Soconingrat secara tematis berkenaan dengan tiga dimensi, yakni persoalan personal-individual, persoalan sosial, dan persoalan religius (dalam pengertian yang luas). Tiga persoalan yang merupakan tematis puisi tersebar pada 30 sajak dalam buku ini. Dalam hal ini perlu kembali diingatkan ungkapan lama yang menyatakan bahwa tema boleh sama, namun yang menarik adalah bagaimana tema itu diekspresikan oleh penggubahnya ke dalam puisi. Ini berarti bahwa daya tarik puisi terutama bukan terletak pada tematiknya, melainkan pada daya tarik ekspresinya.

Menghadapi sejumlah puisi yang terhimpun dalam buku ini ada beberapa ingatan dan catatan. Pertama, puisi yang memuisi adalah puisi yang “pintar bermain” dalam imajinasi pembaca. Puisi tersebut benar-benar “memainkan” perasaan dan tanggapan pembaca. Pembaca diajak masuk dunia “permainan” yang menyenangkan yang pada akhirnya menerima sesuatu sebagai renungan. Kedua, baik dan buruknya puisi tidak semata-mata terletak pada persoalan yang diungkapkan, melainkan yang lebih penting lagi ialah pada bagaimana mengungkapkan. Pernyataan ini berimplikasi pada hal ketiga, bahwa puisi yang baik ialah puisi yang komunikatif-estetis-kontemplatif. Puisi yang baik “dapat dipahami” oleh pembaca, mengandung estetika yang menawan, serta menawarkan perenungan secara tenang. Hal yang keempat, kita perlu mengenal pendekatan menulis puisi agar dapat memberikan pemahaman yang tepat terhadap “apa yang dimaui” oleh kreator. Akhirnya, kelima, dapat dikemukakan bahwa dunia puisi adalah dunia yang penuh teka-teki. Penuh misteri. Itulah sebabnya, puisi dapat bertahan di akhir zaman. Salam budaya!