Oleh: Suparti
Senantiasa hidup bermasyarakat dalam sebuah lingkungan merupakan
suatu hal yang lumrah dan memang harus dalam menjalani hidup di muka
bumi. Dengan adanya bermasyarakat, maka terjadilah pergaulan antar
manusia dalam bermacam-macam budaya yang ada. Dari bermasyarakat pula
dapat diketahui bagaimana budaya atau peradaban yang ada pada suatu
tempat dalam suatu daerah/wilayah.
Suatu peradaban banyak sekali termuat dalam media massa terutama
media cetak atau media tulis. kita dapat menemukannya di koran, majalah,
tabloit, ataupun buku, dapat berupa artikel, cerpen, puisi, dan
sebagainya.
Berbicara tentang puisi memang tak akan pernah ada habisnya. Mengapa
demikian? Karena pemahaman/pengkajian puisi tidak hanya sebatas
kata-katanya atau kalimat-kalimatnya. Unsur-unsur yang dikaji dalam
sebuah puisi adalah tema, rasa, nada, amanat, diksi (pilihan kata),
imajinasi, dan gaya bahasa yang digunakan. Dari puisi pula dapat kita
ketahui peristiwa apa saja yang tercantum di dalamnya.
Menurut pendapat saya, puisi adalah wakil dari perasaan seseorang
yang ditujukan pada orang lain dan biasanya disampaikan melalui bahasa
tulis. Menurut ahli, William Wordsworth menjelaskan bahwa puisi adalah
peluapan yang spontan dari perasaan-perasaan yang penuh daya, memperoleh
asalnya dari emosi atau rasa yang dikumpulkan kembali dalam kedamaian.
H.B. Jassin menjelaskan bahwa puisi adalah pengucapan dengan perasaan
yang didalamnya mengandung pikiran-pikiran dan tanggapan-tanggapan.
Pemuisi biasanya menggunakan bahasa atau kata yang sedikit namun
mempunyai arti yang banyak. Misalnya, frase “beranda rumah cinta”
mengarah ke sebuah gambaran tempat cinta yaitu hati (Reparasi dan
Apresiasi ala Bengkel Puisi Swadaya Mandiri : 33). Frase “beranda rumah
cinta” bisa saja berarti beranda rumah yang dicinta atau grup beranda
rumah cinta (tempat puisi berkumpul dan bergumul) bagi yang mengetahui
atau bisa saja memiliki arti yang lain.
Puisi sebagai cermin peradaban? Menurut saya, iya (setuju dengan
pendapat/esai Dimas Arika Mihardja). Karena puisi selalu menggambarkan
atau menerangkan tentang peristiwa atau unsur-unsur kehidupan
masyarakat. Menurut saya, puisi berkembang searah dengan perkembangan
zaman. Dan ini menunjukkan bahwa puisi terus mengalir dalam kehidupan
masyarakat.
Puisi mewakili perasaan sastrawan juga dapat mewakili perasaan
masyarakat luas, sebagaimana dijelaskan oleh Dimas Arika Mihardja :
Teks puisi memliki keunikan dalam pemaparan bahasa sebagai cara
ungkap berbagai masalah kehidupan. Berbagai masalah kehidupan, baik
berupa peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sesuatu yang
dialami oleh sastrawan, masalah sejarah-sosial-politik-ekonomi-budaya,
maupun berbagai fenomena kehidupan yang menjadi bahan renungan, hayatan,
pemikiran sastrawan diekspresikan secara unik dan menarik (Reparasi dan
Apresiasi ala Bengkel Puisi Swadaya Mandiri : 18).
Untuk menjelaskan bahwa puisi sebagai cermin peradaban, mari kita
pahami tentang peristiwa yang terjadi dalam puisi Pilkada dan Pilkoplo
karya Dimas Arika Mihardja yang ditulisnya dalam buku Sajak Emas:
PILKADA DAN PIL KOPLO
“Pilkada, pemilihan kepala daerah”, katamu
Senja itu. asap mengepul di cerobong mulutmulut berdebu
Tas plastik dan selembar uang limapuluhribuan berhamburan
Mencari alamat rakyat. Suarasuara di panggung terbuka hanya berjanji
Untuk diingkari. Suara mereka adalah lagu dangdut
Bergoyang di tengah lapang dengan loudspeaker
Memecahkan kesunyian
Meresahkan binatang peliharaan
“pil koplo, adalah obat mujarab ketika rakyat muntah”, jelasmu
Di pasarpasar sembari berteriak “hayo siapa jauh mendekat.
Siapa dekat merapat. Siapa rapat kian terdekap”
Di mata penjual obat, semuanya nomor Satu
pil koplo yang di oplos dari berbagai macam obat
hanyalah racun yang membuat kepala puyeng
pilkada dan pil koplo, keduanya racun!
Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, Jambi 2010
Puisi yang berjudul Pilkada dan Pilkoplo di atas terdiri dari 3 bait,
dan masing-masing bait menerangkan begian-bagian yang berbeda namun
saling berkaitan. Dalam puisi tersebut, penulis menggunakan kata kias
sebagai penekanan atas tujuan akan pentingnya hal yang ia sampaikan
melalui tulisan puisinya.
Bait pertama, menjelaskan tentang pilkada dan hal-hal yang sering
terjadi di kalangan masyarakat. Diterangkan bahwa setelah terbenamnya
matahari, maka mereka (tim sukses pilkada) mendatangi rumah rakyat satu
persatu. Mereka memberikan sekantong plastik bahan makanan atau selembar
kain dan uang lima puluh ribuan kepada setiap satu kepala keluarga,
meminta satu, dua, bahkan tiga suara sekaligus bergantung berapa jumlah
anggota keluarga yang ada pada satu kepala keluarga tersebut.
Pada bait pertama juga terlihat jelas tentang mereka yang melakukan
kampanye di beberapa tempat, yang bertujuan menarik, memicu, dan merayu
perhatian dan minat rakyat. Kampanye yang dilakukan penuh dengan janji
dan iming-iming. Kalau saya ibaratkan, janji yang manisnya melebihi madu
dan iming-iming yang tingginya terkira. Janji dan iming-iming disebar,
disemai, ditanam di setiap rumah warga. Janji penuh semangat sEtiap kali
kampanye. Namun setelah terpilih, janji janji dan iming-iming itu
dicabut, dikumpulkan, dan disimpan dalam keranjang sampah. Janji tinggal
janji, tiada terbukti dan hanya memenderitakan rakyat.
Bait kedua, menjelaskan tentang obat yang sangat ampuh, obat yang
bisa membuat orang lupa diri bahkan mati jika tidak bisa menahan diri
untuk menghindari. Selayaknya pilkada, pilkoplo pun dijual bebas
pasar-pasar bahkan di lingkungan masyarakat lainnya. Penjual pilkoplo
pun sama dengan calon dalam pilkada (menjual suara). Tak tahu apapun
bahan/zat yang dimasukkan ke dalam pilkoplo, tetap saja mereka
menjualnya dengan bebas sehingga berakibat fatal bagi yang mengkonsumsi.
Bait ketiga, hanya ada satu baris. Pernah saya baca di media internet
'Biasanya satu bait puisi terdiri dari empat baris. Namun ada juga
puisi yang satu baitnya berisi lebih dari empat baris'. Namun karena
satu kalimat ini bagian dari sebuah puisi, tetap saja saya sebut sebagai
bait. Pada bait ketiga ini menjelaskan tentang persamaan antara pilkada
dan pilkoplo yaitu sama-sama membuat rakyat resah dan gelisah serta
menderita karena mereka (pilkada dan pilkoplo) adalah racun.
Puisi yang berisi tentang pilkada dan pilkoplo di atas, menjelaskan
tentang masalah kemanusiaan yang banyak bahkan sering terjadi di
kalangan masyarakat. Dalam pilkada sering terjadi ketidakjujuran yang
menyebabkan hal-hal negatif _ paling sering terjadi adalah korupsi.
Sedangkan pilkoplo adalah salah satu jenis narkoba yang sangat
meresahkan masyarakat. Puisi tersebut adalah salah satu contoh bahwa
puisi adalah cermin peradaban, dan masih banyak lagi cermin peradaban
dari puisi lainnya.
Jambi, 22 maret 2013
Kamis, 21 Maret 2013
MEMAHAMI BAHASA FIGURATIF PUISI DIMAS ARIKA MIHARDJA
Oleh: Samsinar
Puisi merupakan pernyataan dari keadaan serta kualitas hidup manusia. Puisi juga merupakan suatu pengalaman,baik pengalaman pribadi, sosial masyarakat, religius dan terutama suatu pengalaman yang terjadi di sekeliling penulis. Puisi merupakan suatu genre sastra yang paling banyak menggunakan kata kias, Puisi juga merupakan bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya. Dan tentu saja pengalaman yang paling berkesan bagi sang penulis, baik secara langsung maupun tak langsung yang dialaminya. Puisi digali dari kehidupan. Jadi, antara hidup dan puisi tidak ada jarak pemisah, hidup adalah manifestasi puitis.
Dalam menulis puisi,seharusnya penulis mampu memberi suatu figuratif atau perlambangan. Puisi tersebut diungkapkan melalui perlambangan agar puisi tersebut terasa jauh lebih indah. Keindahan bahasa tentu saja menjadi ciri khas suatu puisi. Jika bahasa yang digunakan dalam puisi tersebut indah, maka timbullah makna puisi yang indah. Perlambangan dalam sebuah puisi hendaknya harus sesuai dengan apa yang ingin dilambangkan. Misalkan ketika ingin melambangkan suasana marah maka figuratif atau lambang yang dapat digunakan seperti kata api. Puisi mengekspresikan pemikiran yang membangkit akan perasaan, yang merangsang imajinasi pancaindra dalam susunan panca indra. Semua itu merupakan sesuatu yang penting, yang direkam dan diekspresikan, dinyatakan dengan menarik dan member kesan. Puis itu merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan. Segala ulangan susunan baris sajak yang nampak di baris lain dengan tujuan menambah kebagusan sajak, itulah yang dimaksud dengan korespondensi (Slametmuljana, 1956: 113).
Qasidah cinta semata
(I)
kulidahkan bahasa sajadah
bagi sang guru batinku
(II)
Aku datang mendekap mesjid
Menguntai wirid
(III)
Sajadah basah
Airmata semata
(IV)
Kupadamkan api benci di hati
Kupadamkan
(V)
Kupahamkan api sufi di hati
Kupahamkan
(VI)
Kusahamkan iman di hati
Kusahamkan
(VII)
Kumakamkan dendam di hati
Kumakamkan
(VIII)
Rebana bertalu-talu menghalau risau
Rebana berdentam-dentam menikam dendam
(IX)
Engkau sungguh maha pualam
Tak pernah diam
Sungaiputri, 1993
Qasidah merupakan Istilah yang berasal dari kata qasada yang salah satu bentuk infinitifnya ialah qasid atau qasidah dan berarti “dimaksudkan”, “disengaja”, dan ‘ditujukan kepada sesuatu’.
“qasidah cinta semata” pada puisi ini seseorang bermaksud menyatakan isi hatinya.
(I)
kulidahkan bahasa sajadah
bagi sang guru batinku
figuratif atau perlambangan pada bait pertama baris pertama ini terdapat pilihan diksi “kulidahkan bahasa sajadah” yang memberikan lambang bahwa penyair berbicara dengan bahasa khusus yaitu berupa doa. Perlambangan pada kalimat “bagi sang guru batinku” ini menggambarkan doa yang dipanjatkan tersebut tertuju kepada tuhan.
(II)
Aku datang mendekap mesjid
Menguntai wirid
Figuratif atau perlambangan pada bait kedua baris pertama ini terdapat pilihan “mendekap mesjid” pada kalimat “aku datang mendekap mesjid” yang menunjukkan lambang bahwa penyair berdiam di mesjid untuk menguntai atau membaca wirid.
(III)
Sajadah basah
Airmata semata
Perlambangan pada bait ketiga ini menunjukkan bahwa penyair berdoa hingga menyebabkan sajadah telah basah yang dikarenakan airmata.
(IV)
Kupadamkan api benci di hati
Kupadamkan
figuratif atau perlambangan pada bait keempat ini terdapat pilihan diksi ”kupadamkan api benci” yang melambangkan “menghilangkan rasa benci” di hati.
(V)
Kupahamkan api sufi di hati
Kupahamkan
Perlambangan pada bait ini terdapat diksi “kupahamkan api sufi di hati” yang menunjukkan bahwa penyair mencoba untuk mengerti tentang isi hatinya.
(VI)
Kusahamkan iman di hati
Kusahamkan
perlambangan pada bait ini terdapat diksi “kusahamkan iman di hati” yang menunjukkan suatu lambang bahwa penyair menyimpan iman kepercayaan di hatinya.
(VII)
Kumakamkan dendam di hati
Kumakamkan
Perlambangan pada bait ini terdapat diksi “kumakamkan” menunjukkan atau melambangkan “membuang atau menghilangkan”, jadi maksud dari “kumakamkan dendam di hati” yaitu “menghilangkan rasa dendam di hati”.
(VIII)
Rebana bertalu-talu menghalau risau
Rebana berdentam-dentam menikam dendam
Perlambangan pada bait ke delapan baris pertama ini terdapat diksi “Rebana bertalu-talu menghalau risau” melambangkan seolah-olah ada perasaan yang menggebu-gebu untuk mengusir rasa kerisauan sang penyair. Pada baris ke dua terdapat diksi “Rebana berdentam-dentam menikam dendam” melambangkan perasaan yang menggebu-gebu untuk menghilangkan rasa dendam.
(IX)
Engkau sungguh maha pualam
Tak pernah diam
Bait puisi yang terakhir ini menunjukkan bahwa penyair menganggap tuhan maha pualam yang tak pernah diam untuk menyaksikan umatnya.
Perlambangan atau imajinatif pada suatu puisi sangat diperlukan agar puisi tersebut terasa lebih indah.
Jambi, 21 maret 2013
Puisi merupakan pernyataan dari keadaan serta kualitas hidup manusia. Puisi juga merupakan suatu pengalaman,baik pengalaman pribadi, sosial masyarakat, religius dan terutama suatu pengalaman yang terjadi di sekeliling penulis. Puisi merupakan suatu genre sastra yang paling banyak menggunakan kata kias, Puisi juga merupakan bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya. Dan tentu saja pengalaman yang paling berkesan bagi sang penulis, baik secara langsung maupun tak langsung yang dialaminya. Puisi digali dari kehidupan. Jadi, antara hidup dan puisi tidak ada jarak pemisah, hidup adalah manifestasi puitis.
Dalam menulis puisi,seharusnya penulis mampu memberi suatu figuratif atau perlambangan. Puisi tersebut diungkapkan melalui perlambangan agar puisi tersebut terasa jauh lebih indah. Keindahan bahasa tentu saja menjadi ciri khas suatu puisi. Jika bahasa yang digunakan dalam puisi tersebut indah, maka timbullah makna puisi yang indah. Perlambangan dalam sebuah puisi hendaknya harus sesuai dengan apa yang ingin dilambangkan. Misalkan ketika ingin melambangkan suasana marah maka figuratif atau lambang yang dapat digunakan seperti kata api. Puisi mengekspresikan pemikiran yang membangkit akan perasaan, yang merangsang imajinasi pancaindra dalam susunan panca indra. Semua itu merupakan sesuatu yang penting, yang direkam dan diekspresikan, dinyatakan dengan menarik dan member kesan. Puis itu merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan. Segala ulangan susunan baris sajak yang nampak di baris lain dengan tujuan menambah kebagusan sajak, itulah yang dimaksud dengan korespondensi (Slametmuljana, 1956: 113).
Qasidah cinta semata
(I)
kulidahkan bahasa sajadah
bagi sang guru batinku
(II)
Aku datang mendekap mesjid
Menguntai wirid
(III)
Sajadah basah
Airmata semata
(IV)
Kupadamkan api benci di hati
Kupadamkan
(V)
Kupahamkan api sufi di hati
Kupahamkan
(VI)
Kusahamkan iman di hati
Kusahamkan
(VII)
Kumakamkan dendam di hati
Kumakamkan
(VIII)
Rebana bertalu-talu menghalau risau
Rebana berdentam-dentam menikam dendam
(IX)
Engkau sungguh maha pualam
Tak pernah diam
Sungaiputri, 1993
Qasidah merupakan Istilah yang berasal dari kata qasada yang salah satu bentuk infinitifnya ialah qasid atau qasidah dan berarti “dimaksudkan”, “disengaja”, dan ‘ditujukan kepada sesuatu’.
“qasidah cinta semata” pada puisi ini seseorang bermaksud menyatakan isi hatinya.
(I)
kulidahkan bahasa sajadah
bagi sang guru batinku
figuratif atau perlambangan pada bait pertama baris pertama ini terdapat pilihan diksi “kulidahkan bahasa sajadah” yang memberikan lambang bahwa penyair berbicara dengan bahasa khusus yaitu berupa doa. Perlambangan pada kalimat “bagi sang guru batinku” ini menggambarkan doa yang dipanjatkan tersebut tertuju kepada tuhan.
(II)
Aku datang mendekap mesjid
Menguntai wirid
Figuratif atau perlambangan pada bait kedua baris pertama ini terdapat pilihan “mendekap mesjid” pada kalimat “aku datang mendekap mesjid” yang menunjukkan lambang bahwa penyair berdiam di mesjid untuk menguntai atau membaca wirid.
(III)
Sajadah basah
Airmata semata
Perlambangan pada bait ketiga ini menunjukkan bahwa penyair berdoa hingga menyebabkan sajadah telah basah yang dikarenakan airmata.
(IV)
Kupadamkan api benci di hati
Kupadamkan
figuratif atau perlambangan pada bait keempat ini terdapat pilihan diksi ”kupadamkan api benci” yang melambangkan “menghilangkan rasa benci” di hati.
(V)
Kupahamkan api sufi di hati
Kupahamkan
Perlambangan pada bait ini terdapat diksi “kupahamkan api sufi di hati” yang menunjukkan bahwa penyair mencoba untuk mengerti tentang isi hatinya.
(VI)
Kusahamkan iman di hati
Kusahamkan
perlambangan pada bait ini terdapat diksi “kusahamkan iman di hati” yang menunjukkan suatu lambang bahwa penyair menyimpan iman kepercayaan di hatinya.
(VII)
Kumakamkan dendam di hati
Kumakamkan
Perlambangan pada bait ini terdapat diksi “kumakamkan” menunjukkan atau melambangkan “membuang atau menghilangkan”, jadi maksud dari “kumakamkan dendam di hati” yaitu “menghilangkan rasa dendam di hati”.
(VIII)
Rebana bertalu-talu menghalau risau
Rebana berdentam-dentam menikam dendam
Perlambangan pada bait ke delapan baris pertama ini terdapat diksi “Rebana bertalu-talu menghalau risau” melambangkan seolah-olah ada perasaan yang menggebu-gebu untuk mengusir rasa kerisauan sang penyair. Pada baris ke dua terdapat diksi “Rebana berdentam-dentam menikam dendam” melambangkan perasaan yang menggebu-gebu untuk menghilangkan rasa dendam.
(IX)
Engkau sungguh maha pualam
Tak pernah diam
Bait puisi yang terakhir ini menunjukkan bahwa penyair menganggap tuhan maha pualam yang tak pernah diam untuk menyaksikan umatnya.
Perlambangan atau imajinatif pada suatu puisi sangat diperlukan agar puisi tersebut terasa lebih indah.
Jambi, 21 maret 2013
Rabu, 20 Maret 2013
MEMAHAMI "WAJAH IBU" DIMAS ARIKA MIHARDJA
Oleh : WINDA SARI (RRA1B11056)
Puisi bagi saya merupakan ungkapan isi hati dari hasil renungan yang sedang dirasakan dan di iringi dengan pemilihan kata – kata yang indah. “Puisi sesungguhnya bukan sekedar eksperesi kreatif yang menyampaikan suara hati “(Taufik Ismail : 2006) ekspreasi kreatif itu tidak hanya mampu mengekspresikan melalui sebuah renungan, kata – kata saja tetapi harus kita ekspresikan melalui sebuah tulisan.
“Puisi ialah Ekspresi pemikiran yang membangkitkan imajinasi panca indera dalam suasana yang berirama, "( Rahmat Joko Pradopo ). Nilai makna sebuah puisi mampu menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap nilai – nilai yang ada dalam puisi tersebut seperti dalam puisi di bawah ini :
Wajah Ibu
Pepohonan rindang daun adalah engkau, ibu
Tak lelah mengairi dan mengalirkan embun di musim kemarau
Engkaulah, wajah yang bukan sekedar wajah
Semata tengadah pada bulan merah jambu
Sebisa pasrah pada buaian rindu
Telaga warna adalah wajahmu, ibu
Meronda kenangan menyulam riak
Dan ombak kasih sayang , engkau ngalir
Dalam nadi menjadi energi mewarnai pelangi
Dangau persinggahan adalah juga wajahmu, ibu
Sebuah tikar kesabaran tergelar
Di altar persembahan
Ibu ialah laut biru
Di laut hatiku
Bengkel puisi swadaya mandiri, jambi 2010
Apakah yang menarik dari puisi Dimas Arika Mihardja diatas ? Puisi selalu mempunyai makna tersendiri, terkadang seseorang membuat sebuah puisi terinspirasi dari karya orang lain. Ada juga yang terinspirasi dari idenya sendiri. Setiap puisi pasti memiliki pemilihan kata –kata yang indah , mampu menjadi ciri khas dari puisi itu sendiri Reevers ( Dalam Herman). ( Waluyo 1995 : 22 ) menyatakan bahwa “puisi merupakan jenis karya sastra yang bersifat imajinatif. Penulis tidak bisa asal – asal memilih kata, dan berimajinasi apabila sebuah puisi pemilihan kata –katanya tidak tepat, maka makna puisi tidak memiliki kesinambungan antara kata yang satu dengan yang lain. Apabila pemilihan kata tidak tepat, maka puisi tersebut tidak memiliki makna dan pembaca akan tidak mengerti dengan makna puisi yang akan di sampaikan terkesan gelap.
Puisi yang di tulis oleh Dimas Arika Mihardja bertajuk “Wajah Ibu, Sajak Emas” ini hadir bermakna kias, sehingga sulit di mengerti. apabila hanya dibaca sekilas saja tidak adanya penghayatan dari pembaca maka pembaca tidak dapat menangkap makna yang tersirat dalam puisi tersebut.
Teks puisi di bentuk dan diciptakan oleh penyair tampaknya berdasarkan ungkapan perasaan kagum oleh sosok seorang ibu yang di tulis melalui sebuah karya tulis puisi yang sejalan dengan perasaan penyair kagum dengan sosok ibunya yang selalu ada buat anak- anaknya. Artinya keseluruhan ungkapan kekaguman seorang anaknya terhadap ibunya merupakan perasaan yang wajar bagi seorang anak. Bagi seorang anak harus patuh kepada kedua orang tuanya itu merupakan kewajiban seorang anak khususnya patuh terhadap ibunya seperti teks dalam puisi ini. Sosok seorang ibu yang selalu menjadi tempat berlindung buat anaknya di ibaratkan dalam larik “Pepohonan rindang daun adalah engkau, ibu”. “Tak lelah mengairi dan mengalirkan embun di musim kemarau, “Engkaulah wajah bukan sekedar wajah”, “semata tengadah pada bulan merah jambu, sebisa pasrah pada buian rindu” bait ini secara padat utuh menggunakan kata kias. Dimana sosok seorang ibu tak pernah sirna untuk selalu ada buat anaknya maupun dalam suka dan duka. Ibu senantiasa selalu ada memberikan yang terbaik buat anaknya. Sosok seorang ibu bukanlah sosok yang biasa saja. Tetapi sosok seorang ibu adalah sosok yang luar biasa buat anak-anaknya. Pada “bulan” inilah seorang anak mengungkapkan kerinduan kepada sosok seorang ibu yang selalu menemani perjalanan hidup, memberi nasehat yang tidak akan pernah henti. Bentuk ulang kata “ibu” agaknya menjadi kunci penting sebagai pangkal tolak pemahaman dan penafsiran. Bahwa puisi dimas arika mihardja berdimensi perasaan pribadi ( personal ). Bentuk kekaguman sosok seorang ibu itulah sebabnya “wajah ibu” pada judul puisi dapat dimaknai sebagai sosok ibu dengan menggambarkan “Pepohanan rindang”.
Kita baca dan cermati bait 2 puisi karya Dimas Arika Mihardja dibawah ini:
Telaga warna adalah wajahmu, ibu
Merenda kenangan menyulam riak
Dan ombak kasih sayang, engkau ngalir
Dalam nadi menjadi energi mewarnai pelangi
Kata personalisasi terungkap secara nyata dan jelas pada lirik puisi bait ke 2 ini melalui “Telaga warna adalah wajahmu, ibu “ sebagai lambang sosok seorang ibu diibaratkan. “kenangan indah bersamamu ibu, serta begitu banyak bentuk kasih sayang seorang ibu kepada anaknya selalu mengalir di setiap perjalanan hidup anaknya menjadi sebuah inspirasi dalam kehidupan. Dalam bait ini muncul kata “ibu” lagi yang mendalam bahwa puisi ini mengkaji sosok seorang ibu yang menjadi energi kehidupan yang mewarnai hidup.
Secara fisik bait teks puisi ini terungkap melalui bahasa yang penuh dengan symbol, bahasa kias ini menunjukkan agar kata- kata dalam puisi terlihat indah dan memiliki keunikan dari sebuah symbol tersendiri. Kekaguman sosok seorang ibu di ibaratkan pepohonan rindang dan telaga warna, ombak kasih sayang, dengan persinggahan sebuah tikar kesabaran dan yang terakhir pada kata “ibu” ialah laut biru diluas hatiku”. Ada gaya retorik penyampaian dalam bait kedua ini penyair mengatakan “ sebuah tikar kesabaran tergolong ini menunjukkan bukti kesabaran hati seorang di persembahkan untuk anak- anaknya. Larik “ ibu ialah laut biru” terpapar begitu jelas sosok seorang ibu begitu luas di hati seorang anak seluas laut biru”. Antara bait 1, bait 2, bait 3, bait 4, dan bait 5 mempunyai kesinambungan kata- kata sehingga puisi Dimas Arika Mihardja ini memiliki korespondensi sehingga antara intensifikasi, korespondensi pada puisi ini mampu menarik perhatian pembacanya.
Dari makna puisi yang dapat saya tangkap dari puisi Dimas Arika Mihardja yang berjudul “wajah ibu” membuat saya terinsipirasi dari struktur kata –kata yang ada di dalam puisi tersebut. Selain itu yang bagi saya menarik untuk memahami puisi ini adalah keunikan mengungkapkan bentuk dari perasaan kagum terhadap sosok seorang ibu. Puisi ini memiliki kesan tersendiri buat saya karena selain puisi ini tergolong personalitas. Puisi ini juga mampu membawa pembaca kearah positif bahawa sosok seorang ibu begitu mulia buat anaknya. Dari sebuah pengorbanan ibu melahirkan samapi membesarkan anak- anaknya dengan penuh kasih sayang yang tulus. Jadi wajar kalau ada pepatah mengatakan “surga di telapak kaki ibu”. Semoga dengan hadirnya sebuah puisi dari Dimas Arika Mihardja ini dapat membawa manfaat bagi pembaca untuk menghargai sosok seorang ibu. Puisi ini memberikan kesan dan persaan personalitas ke dalam bahasa kias, namun mampu memikat hati pembaca.
Jambi, 11 Maret 2013
Puisi bagi saya merupakan ungkapan isi hati dari hasil renungan yang sedang dirasakan dan di iringi dengan pemilihan kata – kata yang indah. “Puisi sesungguhnya bukan sekedar eksperesi kreatif yang menyampaikan suara hati “(Taufik Ismail : 2006) ekspreasi kreatif itu tidak hanya mampu mengekspresikan melalui sebuah renungan, kata – kata saja tetapi harus kita ekspresikan melalui sebuah tulisan.
“Puisi ialah Ekspresi pemikiran yang membangkitkan imajinasi panca indera dalam suasana yang berirama, "( Rahmat Joko Pradopo ). Nilai makna sebuah puisi mampu menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap nilai – nilai yang ada dalam puisi tersebut seperti dalam puisi di bawah ini :
Wajah Ibu
Pepohonan rindang daun adalah engkau, ibu
Tak lelah mengairi dan mengalirkan embun di musim kemarau
Engkaulah, wajah yang bukan sekedar wajah
Semata tengadah pada bulan merah jambu
Sebisa pasrah pada buaian rindu
Telaga warna adalah wajahmu, ibu
Meronda kenangan menyulam riak
Dan ombak kasih sayang , engkau ngalir
Dalam nadi menjadi energi mewarnai pelangi
Dangau persinggahan adalah juga wajahmu, ibu
Sebuah tikar kesabaran tergelar
Di altar persembahan
Ibu ialah laut biru
Di laut hatiku
Bengkel puisi swadaya mandiri, jambi 2010
Apakah yang menarik dari puisi Dimas Arika Mihardja diatas ? Puisi selalu mempunyai makna tersendiri, terkadang seseorang membuat sebuah puisi terinspirasi dari karya orang lain. Ada juga yang terinspirasi dari idenya sendiri. Setiap puisi pasti memiliki pemilihan kata –kata yang indah , mampu menjadi ciri khas dari puisi itu sendiri Reevers ( Dalam Herman). ( Waluyo 1995 : 22 ) menyatakan bahwa “puisi merupakan jenis karya sastra yang bersifat imajinatif. Penulis tidak bisa asal – asal memilih kata, dan berimajinasi apabila sebuah puisi pemilihan kata –katanya tidak tepat, maka makna puisi tidak memiliki kesinambungan antara kata yang satu dengan yang lain. Apabila pemilihan kata tidak tepat, maka puisi tersebut tidak memiliki makna dan pembaca akan tidak mengerti dengan makna puisi yang akan di sampaikan terkesan gelap.
Puisi yang di tulis oleh Dimas Arika Mihardja bertajuk “Wajah Ibu, Sajak Emas” ini hadir bermakna kias, sehingga sulit di mengerti. apabila hanya dibaca sekilas saja tidak adanya penghayatan dari pembaca maka pembaca tidak dapat menangkap makna yang tersirat dalam puisi tersebut.
Teks puisi di bentuk dan diciptakan oleh penyair tampaknya berdasarkan ungkapan perasaan kagum oleh sosok seorang ibu yang di tulis melalui sebuah karya tulis puisi yang sejalan dengan perasaan penyair kagum dengan sosok ibunya yang selalu ada buat anak- anaknya. Artinya keseluruhan ungkapan kekaguman seorang anaknya terhadap ibunya merupakan perasaan yang wajar bagi seorang anak. Bagi seorang anak harus patuh kepada kedua orang tuanya itu merupakan kewajiban seorang anak khususnya patuh terhadap ibunya seperti teks dalam puisi ini. Sosok seorang ibu yang selalu menjadi tempat berlindung buat anaknya di ibaratkan dalam larik “Pepohonan rindang daun adalah engkau, ibu”. “Tak lelah mengairi dan mengalirkan embun di musim kemarau, “Engkaulah wajah bukan sekedar wajah”, “semata tengadah pada bulan merah jambu, sebisa pasrah pada buian rindu” bait ini secara padat utuh menggunakan kata kias. Dimana sosok seorang ibu tak pernah sirna untuk selalu ada buat anaknya maupun dalam suka dan duka. Ibu senantiasa selalu ada memberikan yang terbaik buat anaknya. Sosok seorang ibu bukanlah sosok yang biasa saja. Tetapi sosok seorang ibu adalah sosok yang luar biasa buat anak-anaknya. Pada “bulan” inilah seorang anak mengungkapkan kerinduan kepada sosok seorang ibu yang selalu menemani perjalanan hidup, memberi nasehat yang tidak akan pernah henti. Bentuk ulang kata “ibu” agaknya menjadi kunci penting sebagai pangkal tolak pemahaman dan penafsiran. Bahwa puisi dimas arika mihardja berdimensi perasaan pribadi ( personal ). Bentuk kekaguman sosok seorang ibu itulah sebabnya “wajah ibu” pada judul puisi dapat dimaknai sebagai sosok ibu dengan menggambarkan “Pepohanan rindang”.
Kita baca dan cermati bait 2 puisi karya Dimas Arika Mihardja dibawah ini:
Telaga warna adalah wajahmu, ibu
Merenda kenangan menyulam riak
Dan ombak kasih sayang, engkau ngalir
Dalam nadi menjadi energi mewarnai pelangi
Kata personalisasi terungkap secara nyata dan jelas pada lirik puisi bait ke 2 ini melalui “Telaga warna adalah wajahmu, ibu “ sebagai lambang sosok seorang ibu diibaratkan. “kenangan indah bersamamu ibu, serta begitu banyak bentuk kasih sayang seorang ibu kepada anaknya selalu mengalir di setiap perjalanan hidup anaknya menjadi sebuah inspirasi dalam kehidupan. Dalam bait ini muncul kata “ibu” lagi yang mendalam bahwa puisi ini mengkaji sosok seorang ibu yang menjadi energi kehidupan yang mewarnai hidup.
Secara fisik bait teks puisi ini terungkap melalui bahasa yang penuh dengan symbol, bahasa kias ini menunjukkan agar kata- kata dalam puisi terlihat indah dan memiliki keunikan dari sebuah symbol tersendiri. Kekaguman sosok seorang ibu di ibaratkan pepohonan rindang dan telaga warna, ombak kasih sayang, dengan persinggahan sebuah tikar kesabaran dan yang terakhir pada kata “ibu” ialah laut biru diluas hatiku”. Ada gaya retorik penyampaian dalam bait kedua ini penyair mengatakan “ sebuah tikar kesabaran tergolong ini menunjukkan bukti kesabaran hati seorang di persembahkan untuk anak- anaknya. Larik “ ibu ialah laut biru” terpapar begitu jelas sosok seorang ibu begitu luas di hati seorang anak seluas laut biru”. Antara bait 1, bait 2, bait 3, bait 4, dan bait 5 mempunyai kesinambungan kata- kata sehingga puisi Dimas Arika Mihardja ini memiliki korespondensi sehingga antara intensifikasi, korespondensi pada puisi ini mampu menarik perhatian pembacanya.
Dari makna puisi yang dapat saya tangkap dari puisi Dimas Arika Mihardja yang berjudul “wajah ibu” membuat saya terinsipirasi dari struktur kata –kata yang ada di dalam puisi tersebut. Selain itu yang bagi saya menarik untuk memahami puisi ini adalah keunikan mengungkapkan bentuk dari perasaan kagum terhadap sosok seorang ibu. Puisi ini memiliki kesan tersendiri buat saya karena selain puisi ini tergolong personalitas. Puisi ini juga mampu membawa pembaca kearah positif bahawa sosok seorang ibu begitu mulia buat anaknya. Dari sebuah pengorbanan ibu melahirkan samapi membesarkan anak- anaknya dengan penuh kasih sayang yang tulus. Jadi wajar kalau ada pepatah mengatakan “surga di telapak kaki ibu”. Semoga dengan hadirnya sebuah puisi dari Dimas Arika Mihardja ini dapat membawa manfaat bagi pembaca untuk menghargai sosok seorang ibu. Puisi ini memberikan kesan dan persaan personalitas ke dalam bahasa kias, namun mampu memikat hati pembaca.
Jambi, 11 Maret 2013
Senin, 11 Maret 2013
MEMBACA MANKA DAN STILISTIKA ANTOLOGI "SKETSA SAJAK" DIMAS ARIKA MIHARDJA
Oleh: Arie Permana Putra
Dalam dunia sastra tentunya kita mengenal apa itu puisi. Puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan bait dan larik (KBBI, 2008:-). Dalam pengertian lain seperti yang diungkapkan oleh Edwin Arlington Robinson (Cole, 1931:25) menyebutkan “poetry has two outstanding characteristic. One is that it is, after all, undefineable, the other is that it is eventually unmistakable”. Puisi dikatakan memiliki karakter yang tidak dapat didefenisikan atau justru ketika didefenisikan maka pemaknaan itu tidak ada yang salah.
Pradopo (2002:7) juga menyimpulkan bahwa “puisi memiliki unsur-unsur emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan panca indera, susunan kata, kata-kata kiasan, kepadatan dan perasaan pengarang semua hal tersebut terungkap dalam media bahasa”. Jadi ada semacam pemaknaan yang memerlukan pendekatan melalui sistem tanda yang lebih di kenal dengan semiotika, karena menurut Pradopo (1991:278) menyatakan lagi bahwa “karya sastra merupakan sistem tanda”
Saya sebagai orang yang masih belum mengerti benar dunia perpuisian disini berupaya untuk mengutarakan pendapat dan pemikiran saya. Sebenarnya bidang dan kegemaran saya adalah menulis lagu yang juga mengadopsi teknik dan cara penulisan puisi, dimana dalam menulis sebuah lirik lagu juga mamakai media bahasa yang bentuknya sama persis dengan puisi, yakni bahasanya terikat oleh irama, matra, rima serta penyusunan bait dan larik. Semi (1988:106) mengatakan “lirik adalah puisi yang pendek yang mengekspresikan emosi”. Dari pernyataan ini dapat dilihat kesaamaan antara lirik lagu dan puisi. Hanya saja dalam pembuatan lirik lagu harus benar-benar memperhatikan harmonisasi huruf vokal di akhir tiap-tiap bait, bahasa yang ditulis juga bahasa dengan metafora yang sederhana dan tidak serumit puisi.
Dalam dunia perpuisian nama Dimas Arika Mihardja memang tidak diragukan lagi, beliau juga termasuk kedalam sastrawan angkatan 2000 (Milenium), setiap tahunnya (saat ulang tahun) sesuai dengan informasi yang saya dapat, Dimas Arika Mihardja atau disingkat DAM sering menerbitkan antologi puisinya, baik yang tunggal maupun kompilasi atau bercampur dengan puisi dari penyair lain. Puisi-puisi DAM memang memiliki stilistika yang berbeda dari penyair lainnya, dari segi keindahan bunyi (eufoni) puisi-puisi DAM cukup menarik, ini dapat dilihat di setiap akhir larik bait puisi DAM yang jika dibaca akan menimbulakan efek harmonisasi bunyi. Bunyi memang memegang peranan penting dalam keindahan suatu puisi demi untuk mempermudah menentukan makna dan kepuitisannya. Eufoni adalah keserasian dari percampuran bunyi sehingga menghasilkan bunyi yang harmonis. Wellek (1993:197) mengatakan “kualitas bunyi ini merupakan unsur yang di manipulasi dan dimanfaatkan oleh pengarang agar dapat menggambarkan perasaan indah”.
Pemilihan bahasa kiasan yang beragam dan sedikit nakal membuat keunikan tersendiri dalam puisi-puisi DAM. Saya juga menemukan beberapa bahasa kiasan yang menjadi mayoritas yakni kata “senja”, “basah”, “sajak”, “beranda”, “rumah” dan lain-lain. Pemilihan bahasa kiasan ini semakin memperkuat pengalaman menulis puisi DAM yang luar biasa dan sudah di bilang sangat mapan. Hanya saja bagi orang yang belum mengerti betul tentang puisi akan sangat kesulitan memahami makna dari bahasa kiasan di dalam pusi-puisi DAM. Karena di setiap bait puisi banyak di temukan kata-kata benda, penunjuk waktu dan lain-lain yang tentunya mempunyai makna tersendiri dan akan menimbulkan penafsiran yang berbeda dari pembacanya. Butuh konsentrasi dan penjiwaan yang tinggi agar bisa mengerti apa makna yang ditulis dalam puisi tersebut. Ditambah lagi dengan bait nya yang panjang, butuh kejelian dan ketelitian agar dapat memahami bagian demi bagian dari bait-bait puisi tersebut. menurut William J. Grace dalam Sayuti (1985:14) “watak puisi lebih mengutamakan intuisi, imajinasi dan sintesa dibanding denga prosa yang lebih mengutamakan pikiran, kontruksi dan analisis”. Jadi wajar jika butuh perhatian khusus agar bisa memahami puisi lebih mendalam.
Dari segi tematik puisi-puisi DAM banyak membahas tentang kehidupan sosial, religius, sejarah budaya daerah dan kasih sayang (cinta). Seperti yang terdapat dalam puisi berjudul “Sajak 11 September” puisi ini membahas tentang tragedi kemanusian yang terjadi atas pengeboman gedung WTC, entah siapa yang salah dalam kejadian itu tentunya masih menjadi tanda tanya besar bagi saya dan mungkin peristiwa itu juga menjadi kegelisahan tersendiri bagi DAM.
Menanggapi esai yang ditulis oleh Puja Sutrisna “Mengembarai Sketsa Sajak DAM: Bercinta Dengan Tuhan?” di bagian tertentu saya setuju, dimana fenomena munculnya polemik yang diprakarsai Emha Ainun Nadjib dkk. Membuat gagasan “angkatan independen” atau “angkatan kontekstual” menjadi pembeda dengan angkatan sebelumnya baik itu masa imperium Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bahcri. Tapi di bagian pernyataan “kerinduan akan mitos kejayaan nama besar sastrawan sebelumnya, kecuali menjadi stagnasi penyair juga hanya akan melahirkan penyair-penyair bebek (membebek idolanya)” saya agak kurang setuju dengan pendapat ini karena setiap penyair-penyair baru pasti membutuhkan rekreasi atau semacam pengaruh (inspirasi) dari penyair yang sudah mapan sampai pada titik tertentu ia akan menemukan gaya menulis puisinya sendiri. Dalam dunia sastra ini lazim terjadi dan bukan tabu lagi, tapi tentunya dengan etika tertentu. Seperti halnya belajar, tentunya kita butuh guru dan petunjuk sebelum kita benar-benar menguasai ilmu tersebut. Jika penyair baru tersbut benar-benar serius dan konsisten menekuni dunia perpuisian seperti yang dilakukan DAM bukan tidak mungkin dia akan menemukan gaya menulis puisi sendiri tanpa harus mebebek idolanya, dan semua memang butuh proses dan pengalaman.
Mengenai media yang digunakan dalam menyebarluaskan karya-karya sastra berbentuk puisi, langkah yang dilakukan DAM sudah sangat tepat dan “up to date” , facebook sangat dikenal di seluruh dunia dan telah menghubungkan banyak orang di semua belahan dunia, jadi dengan mudah kita bisa memposting karya-karya sastra berbentuk puisi tersebut untuk mendapat respon dan penilaian dari orang lain, baik yang berkompeten atau sekedar iseng. Dengan kemajuan teknologi ini pastinya ada dampak positif dan negatif nya. Tapi apapun itu jika dilakukan atas dasar demi kemajuan sastra tidak ada salahnya, tujuan kita adalah menggunakan teknologi tersebut untuk mempermudah berbagi karya sastra puisi dengan banyak kalangan, baik yang masih awam maupun yang memang berkecimpung di dunia kesusastraan Indonesia.
Telanaipura Jambi
9 Maret 2013
Dalam dunia sastra tentunya kita mengenal apa itu puisi. Puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan bait dan larik (KBBI, 2008:-). Dalam pengertian lain seperti yang diungkapkan oleh Edwin Arlington Robinson (Cole, 1931:25) menyebutkan “poetry has two outstanding characteristic. One is that it is, after all, undefineable, the other is that it is eventually unmistakable”. Puisi dikatakan memiliki karakter yang tidak dapat didefenisikan atau justru ketika didefenisikan maka pemaknaan itu tidak ada yang salah.
Pradopo (2002:7) juga menyimpulkan bahwa “puisi memiliki unsur-unsur emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan panca indera, susunan kata, kata-kata kiasan, kepadatan dan perasaan pengarang semua hal tersebut terungkap dalam media bahasa”. Jadi ada semacam pemaknaan yang memerlukan pendekatan melalui sistem tanda yang lebih di kenal dengan semiotika, karena menurut Pradopo (1991:278) menyatakan lagi bahwa “karya sastra merupakan sistem tanda”
Saya sebagai orang yang masih belum mengerti benar dunia perpuisian disini berupaya untuk mengutarakan pendapat dan pemikiran saya. Sebenarnya bidang dan kegemaran saya adalah menulis lagu yang juga mengadopsi teknik dan cara penulisan puisi, dimana dalam menulis sebuah lirik lagu juga mamakai media bahasa yang bentuknya sama persis dengan puisi, yakni bahasanya terikat oleh irama, matra, rima serta penyusunan bait dan larik. Semi (1988:106) mengatakan “lirik adalah puisi yang pendek yang mengekspresikan emosi”. Dari pernyataan ini dapat dilihat kesaamaan antara lirik lagu dan puisi. Hanya saja dalam pembuatan lirik lagu harus benar-benar memperhatikan harmonisasi huruf vokal di akhir tiap-tiap bait, bahasa yang ditulis juga bahasa dengan metafora yang sederhana dan tidak serumit puisi.
Dalam dunia perpuisian nama Dimas Arika Mihardja memang tidak diragukan lagi, beliau juga termasuk kedalam sastrawan angkatan 2000 (Milenium), setiap tahunnya (saat ulang tahun) sesuai dengan informasi yang saya dapat, Dimas Arika Mihardja atau disingkat DAM sering menerbitkan antologi puisinya, baik yang tunggal maupun kompilasi atau bercampur dengan puisi dari penyair lain. Puisi-puisi DAM memang memiliki stilistika yang berbeda dari penyair lainnya, dari segi keindahan bunyi (eufoni) puisi-puisi DAM cukup menarik, ini dapat dilihat di setiap akhir larik bait puisi DAM yang jika dibaca akan menimbulakan efek harmonisasi bunyi. Bunyi memang memegang peranan penting dalam keindahan suatu puisi demi untuk mempermudah menentukan makna dan kepuitisannya. Eufoni adalah keserasian dari percampuran bunyi sehingga menghasilkan bunyi yang harmonis. Wellek (1993:197) mengatakan “kualitas bunyi ini merupakan unsur yang di manipulasi dan dimanfaatkan oleh pengarang agar dapat menggambarkan perasaan indah”.
Pemilihan bahasa kiasan yang beragam dan sedikit nakal membuat keunikan tersendiri dalam puisi-puisi DAM. Saya juga menemukan beberapa bahasa kiasan yang menjadi mayoritas yakni kata “senja”, “basah”, “sajak”, “beranda”, “rumah” dan lain-lain. Pemilihan bahasa kiasan ini semakin memperkuat pengalaman menulis puisi DAM yang luar biasa dan sudah di bilang sangat mapan. Hanya saja bagi orang yang belum mengerti betul tentang puisi akan sangat kesulitan memahami makna dari bahasa kiasan di dalam pusi-puisi DAM. Karena di setiap bait puisi banyak di temukan kata-kata benda, penunjuk waktu dan lain-lain yang tentunya mempunyai makna tersendiri dan akan menimbulkan penafsiran yang berbeda dari pembacanya. Butuh konsentrasi dan penjiwaan yang tinggi agar bisa mengerti apa makna yang ditulis dalam puisi tersebut. Ditambah lagi dengan bait nya yang panjang, butuh kejelian dan ketelitian agar dapat memahami bagian demi bagian dari bait-bait puisi tersebut. menurut William J. Grace dalam Sayuti (1985:14) “watak puisi lebih mengutamakan intuisi, imajinasi dan sintesa dibanding denga prosa yang lebih mengutamakan pikiran, kontruksi dan analisis”. Jadi wajar jika butuh perhatian khusus agar bisa memahami puisi lebih mendalam.
Dari segi tematik puisi-puisi DAM banyak membahas tentang kehidupan sosial, religius, sejarah budaya daerah dan kasih sayang (cinta). Seperti yang terdapat dalam puisi berjudul “Sajak 11 September” puisi ini membahas tentang tragedi kemanusian yang terjadi atas pengeboman gedung WTC, entah siapa yang salah dalam kejadian itu tentunya masih menjadi tanda tanya besar bagi saya dan mungkin peristiwa itu juga menjadi kegelisahan tersendiri bagi DAM.
Menanggapi esai yang ditulis oleh Puja Sutrisna “Mengembarai Sketsa Sajak DAM: Bercinta Dengan Tuhan?” di bagian tertentu saya setuju, dimana fenomena munculnya polemik yang diprakarsai Emha Ainun Nadjib dkk. Membuat gagasan “angkatan independen” atau “angkatan kontekstual” menjadi pembeda dengan angkatan sebelumnya baik itu masa imperium Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bahcri. Tapi di bagian pernyataan “kerinduan akan mitos kejayaan nama besar sastrawan sebelumnya, kecuali menjadi stagnasi penyair juga hanya akan melahirkan penyair-penyair bebek (membebek idolanya)” saya agak kurang setuju dengan pendapat ini karena setiap penyair-penyair baru pasti membutuhkan rekreasi atau semacam pengaruh (inspirasi) dari penyair yang sudah mapan sampai pada titik tertentu ia akan menemukan gaya menulis puisinya sendiri. Dalam dunia sastra ini lazim terjadi dan bukan tabu lagi, tapi tentunya dengan etika tertentu. Seperti halnya belajar, tentunya kita butuh guru dan petunjuk sebelum kita benar-benar menguasai ilmu tersebut. Jika penyair baru tersbut benar-benar serius dan konsisten menekuni dunia perpuisian seperti yang dilakukan DAM bukan tidak mungkin dia akan menemukan gaya menulis puisi sendiri tanpa harus mebebek idolanya, dan semua memang butuh proses dan pengalaman.
Mengenai media yang digunakan dalam menyebarluaskan karya-karya sastra berbentuk puisi, langkah yang dilakukan DAM sudah sangat tepat dan “up to date” , facebook sangat dikenal di seluruh dunia dan telah menghubungkan banyak orang di semua belahan dunia, jadi dengan mudah kita bisa memposting karya-karya sastra berbentuk puisi tersebut untuk mendapat respon dan penilaian dari orang lain, baik yang berkompeten atau sekedar iseng. Dengan kemajuan teknologi ini pastinya ada dampak positif dan negatif nya. Tapi apapun itu jika dilakukan atas dasar demi kemajuan sastra tidak ada salahnya, tujuan kita adalah menggunakan teknologi tersebut untuk mempermudah berbagi karya sastra puisi dengan banyak kalangan, baik yang masih awam maupun yang memang berkecimpung di dunia kesusastraan Indonesia.
Telanaipura Jambi
9 Maret 2013
Jumat, 01 Maret 2013
"MEDITADI RINDU" MICKY HIDAYAT
Oleh: Dimas Arika Mihardja
Pengenalan Awal, Ikhwal “Meditasi Rindu”
Buku ”Meditasi Rindu” (Tahura Media, 2008) merangkum 108 sajak pilihan yang ditulis antara tahun 1980 sampai 2008 menunjukkan dedikasi seorang Micky Hidayat memilih dunia penyair sebagai pilihan. Micky Hidayat telah merambah dunia bahasa lengkap dengan maknanya sebagai wawasan estetik dalam berkarya. Buku ”Meditasi Rindu” mewakili kubu penyair yang menjunjung tinggi harmoni, keteraturan, disiplin yang ketat, dan percaya atas kekuatan bahasa sebagai pengungkap makna yang dapat menyegarkan sukma.
Dalam konteks ini dapat dikemukakan bahwa pada awal mula segala seni sastra adalah religius. Itulah sebabnya mengapa para estetikus abad-abad lampau telah mencoba menerangkan apakah seni itu. Seni, sambil memperhitungkan adanya berbagai trend, dalam keadaannya yang murni, lazim ditanggapi sebagai kekayaan rohaniah manusia yang memberikan satu pesona, satu pengalaman tak sehari-hari, sesuatu yang transendental, yang dalam bahasa Plato merupakan bayangan Keindahan Sejati, yang oleh Bergson maupun Iqbal ditanggapi kurang lebih sebagai ilham Ilahiat yang bahkan layak diperbandingkan dengan ilham kerasulan.
Walhasil, seni itu sesuatu yang luhur. Kenapa? Sebab watak seni sastra menuntut kejujuran (hanya melahirkan yang memang hidup dalam jiwa), menuntut simpati kemanusiaan (berbicara dari hati ke hati secara jujur dan bukan dari ideologi ke ideologi), dan yang mengungkapkan haru (bukan “kepedihan”). Dengan demikian, seni susastra memang bergerak pada “arus bawah” hidup dan memunculkan ke permukaan undangan ke arah kedalaman. Arus bawah ini dikenal dengan istilah religiusitas (bukan beragama). Haru itu sendiri, memang agaknya tak lain dari rasa hening yang aneh (yang sering tak disadari) yang menyebabkan orang tersentak dan menyebut: “Allah”. Dalam religiusitas, terdapat nilai ibadah.
Seni puisi di satu pihak harus mampu mengajak seseorang beriman, mengagungkan Allah, dan di pihak lain ia harus mampu mengasimilasi sifat-sifat Allah pada diri manusia seperti cinta kasih, penyayang dan lain sebagainya yang mampu membawa kedamaian bagi umat manusia. Hal ini tidak berarti penyair berkarya untuk menyaingi Allah, tetapi ia berkarya untuk menyesuaikan diri secara lebih baik dengan tata ciptaan-Nya. Secara maknawi, karya puisi tidak dimaksudkan menambah jumlah pemeluk, melainkan memperdalam serta mempermudah hubungan manusia dengan Allah, terlepas dari segala penyakit hipokrisi.
Komunikasi antara manusia-penyair dengan Allah realisasinya bisa meluas, bisa pula menyempit perspektifnya. Secara luas, bentuk komunikasi antara manusia-penyair dengan Allah teraktualisasi dalam bentuk kekaguman manusia-penyair akan berbagai bentuk ciptaan Allah (Allah adalah Maha Kreator yang mampu menciptakan alam semesta beserta isinya). Manusia-penyair, dalam konteks ini hanyalah peniru secara mimesis. Dari tangan manusia-penyair lalu lahir berbagai karya yang secara mimesis tidak dimaksudkan menandingi kreativitas Allah, melainkan sebagai semacam perpanjangan tangan. Hitung-hitung manusia-penyair bertindak sebagai kafilah di bumi yang dengan suntuk mengangungkan berbagai Keindahan Ciptaan Allah.
Selain itu, manusia-penyair ternyata juga merupakan makhluk individu dan makhluk sosial dalam pranata sosiologis. Secara individual, manusia-penyair memiliki atensi pada masalah-masalah personal sebagai pangkal tolak konsepsi estetis dalam setiap berkarya. Dalam perspektif individual pula, manusia-penyair selalu dirundung kegelisahan untuk berdekatan dengan Sang Khalik. Lantaran Sang Khalik sifatnya serba “Maha”, secara personal manusia terkadang serupa debu di “terompah-Nya”. Manusia lantas merasa kecil, kotor, dan silau oleh Cahaya Maha Cahaya. Manusia secara personal juga terkadang penasaran untuk menyibak rahasia ciptaan-Nya: alam semesta beserta isinya acapkali membuat manusia “terluka” oleh berbagai penyebab. Selain itu,secara watak personal manusia ialah memiliki rasa ingin tahu segalanya, termasuk rahasia-Nya.
Secara sosial, manusia-penyair langsung atau tidak langsung terlibat dalam kancah persoalan sosial kemasyarakatan. Itulah latar belakang kenapa hampir setiap manusia-penyair selalu tertarik memperbincangkan dan mengusung persoalan personal dan persoalan sosial ke dalam puisi yang diciptakannya. Terminologi Islami untuk mengangkat dan dekat dengan persoalan sosial itu, habluminnanas, menjadi proyek penulisan yang tidak pernah habis dijadikan entry penulisan puisi. dalam perspektif ini manusia-penyair lantas berhubungan dengan aneka persoalan manusia di dunia: keadilan-ketidakadilan, keburukan-kebaikan, kemiskinan-kekayaan, material-spiritual, jasmani-rohaniah, dan oposisi binner lainnya dalam konfrontasi tiada henti.
Pengenalan Lanjut, Menikmati Rindu
Rindu, barangkali merupakan fenomena manusiawi. Rasa rindu, secara manusiawi merupakan gejolak rasa manusiawi yang tumbuh sebagai manifestasi hubungan antara manusia dengan manusia lain, hubungan antara manusia dengan “kekasih”nya, dan hubungan antara manusia dan “sesuatu” yang didambakannya. Manifestasi rindu antara manusia dengan manusia aalain itu termanifestasi sebagai dampak adanya rasa perhatian, dukungan, kasih sayang, cinta, kepercayaan, pengertian, kebahagiaan, kekuatan, doa, semangata, inspirasi, sumber energi dan kreativiats kepenyairan. Micky Hidayat lahir dari keluarga penyair. Ayahandanya, Hijaz Yamani dipandangnya sebagai “hamparan sajadah kebijaksanaan yang menerangi semesta rindu” (iii). “Sajak Untukmu” yang mengawali bagian “Aku Ingin Menjadi Penyair Yang” (Sajak-sajak 1980—1983) merupakan “sapa pembuka”:
bila kuseru-seru namamu dalam setiap rinduku
adalah rinduku yang mengharap kehadiranmu
bila kurindu-rindu dirimu dalam setiap sepiku
adalah kesepianku ingin selalu bersamamu
bila sepi jadi pisau menikam dan melukaiku
adalah ketidakberdayaanku di hadapanmu
bila lukaku meneteskan darah di batu
adalah kekerasan hatiku mencintaimu
bila ternyata kau tak mencintaiku
aku tetap menulis sajak-sajak untukmu
(“Sajak Untukmu”, halaman 2)
Sajak sapa pembuka ini tentu saja merujuk pada engkau personal (sahabat, kekasih, keluarga, ayah-bunda, dan bisa jadi Allah) dan sekaligus menyapa pembaca buku ini. Micky Hidayat ingin mengatakan kepada semuanya bahwa ia “Ingin Menjadi Penyair Yang” (hal. 10). Puisi ini tentu saja berkorespondensi dengan “Sajak Untukmu”, sebab bagi Micky “aku tetap menulis sajak-sajak untukmu” – apa pun yang terjadi, sajak dijadikan media pemgungkap rindu. Apa pun yang terjadi, bagi Micky Hidayat acap memasang kata-kata kunci di hampir seluruh sajaknya: rindu, sepi, luka dan cinta. Secara eksplisit, Micky menulis selengkapnya seperti ini:
aku ingin jadi penyair yang
setia mencintai bunga
tak peduli wangi yang disemburkannya
hanya meracuni taman angan-anganku
aku ingin jadi penyair yang
memeluk mesra keindahan bulan
tak peduli tanganku yang hampa
hanya mampu menggapai batas udara
aku ingin jadi penyair yang
senantiasa menunjukkan ketegaran
seperti matahari yang terus tengadah
tak pernah mengeluhkan lelah
aku ingin menjadi penyair yang
kuasa mengarungi keluasan laut tiada tara
tak peduli kedahsyatan badai dan ombaknya
menenggelamkanku ke dalam dasarnya
aku ingin jadi penyair yang
hidup seperti burung-burung
bebas terbang ke mana suka
bebas melesat ke segenap penjuru cakrawala
bebas mengarungi bentangan bumi
bebas hinggap ke dahan-dahan pohonan
sambil terus berkicau
dan bernyanyi sepanjang musim
aku ingin jadi penyair yang
menulis puisi tak sekedar bermain kata-kata
tapi untuk menyegarkan sukma
(“Aku Ingin Jadi Penyair Yang”, halaman 10—11).
Penyair kelahiran Banjarmasin 4 Mei 1959 ini melakukan meditasi melalui sajak-sajak berkecenderungan lirik sebagai aktualisasi dan mediasi religiusitasnya memasuki dunia sakral. Pernyataan ini dengan ringkas termuat dalam ”Komentar para Sahabat” di halaman 175, penulis menyatakan bahwa ”sajak-sajak Micky Hidayat terkesan kuat dan memikat. Kuat lantaran pilihan tematiknya digali dari sumber yang tak pernah kering: kreativitas dan kontemplasi. Sajak-sajaknya memikat lantaran dieksplorasi dengan pola ungkap yang menawan. Alhasil, sajak-sajak Micky Hidayat kental dan kenyal disantap: gurih, sedap, dan nikmat. Dari tangan kreatif Micky Hidayat terdedah puisi yang puitis, dan berkecenderungan sufistik, imajis, metaforis, platonis, atau metafisis. Micky telah menemukan ’tanah pilih’ dalam kesusastraan Indonesia”.
Micky Hidayat tampak intensitasnya sebagai penyair pada masa 1980-an. Dekade ini menggambarkan kesan kuat adanya kecenderungan sajak-sajak sufistik dan Micky Hidayat merupakan salah satu eksponen yang berhasil menggubah sajak-sajak jenis ini. Sajak-sajak bercorak sufistik ini tampaknya juga menjadi pilihan dua penyair yang dikagumi oleh Micky Hidayat, yakni ayahnya sendiri (Hijaz Yamani, almarhum) dan Ajamuddin Tifani (almarhum). Bentuk kekaguman Micky Hidayat kepada almarhum Hijaz Yamani dapat dilacak pada judul sajak yang sekaligus dijadikan judul bukunya, yakni ”Meditasi Rindu”.
Bagi Micky Hidayat, ”meditasi rindu” lebih didasari semangat atau spirit ruhaniah, batiniah, atau spiritual dalam konteks hubungan antara ”kawula—Gusti”. Dalam hubungan antara manusia (”m” kecil) dan Sang Maha Pencipta, penyair Micky Hidayat selaku manusia selalu berusaha memposisikan dirinya sebagai makhluk yang haus akan misteri Sang Maha Pencipta sembari diam-diam berusaha kreatif melakukan penciptaan sembari mengagungkan dengan rasa kagum. Wawasan estetik sajak-sajak yang digubah oleh Micky Hidayat bertolak dari konsepsi pada umumnya yang mengutamakan adanya balance, symetri, dan unity. Wawasan estetik demikian ini lebih menonjolkan keseimbangan, keselarasan, dan kepaduan subjek—objek, subjek—subjek, dan subjek—segala misteri.
Dengan wawasan estetik demikian itu menjadikan sajak-sajak gubahan Micky Hidayat tampil tertib, teratur, dan didukung pemanfaatan bahasa sebagai wahana ungkap sesuatu yang bermakna. Bahasa dimanfaatkan untuk mengungkapkan makna seperti diekspresikan pada baris-baris terakhir sajak ”Aku Ingin Jadi Penyair Yang” berikut: aku ingin jadi penyair yang/menulis puisi tak sekadar bermain kata-kata/tapi untuk menyegarkan sukma. Ungkapan ini jelas, bahwa dunia sajak diabdikan kepada upaya ”menyegarkan sukma”. Jadi, bidang garapan sajak-sajak Micky Hidayat bersandar pada tema spiritual, batiniah, atau ruhaniah. Di sinilah kekuatan sajak-sajak Micky Hidayat: sajak-sajaknya yang berkecenderungan sufistik terasa lebih mengesankan ketimbang sajak-sajak sosialnya.
Melalui ”Meditasi Rindu” Micky Hidayat telah meriwayatkan secara relatif lengkap perjalanan batinnya sebagai penyair yang membahasakan ruhani. Seorang Micky Hidayat telah menemukan ”tanah pilih” yakni dunia kreatif penciptaan puisi yang bertolak dari wawasan estetik bahwa berkarya adalah untuk ”menyegarkan sukma”. Puisi yang menyegarkan sukma harus dibangun berdasarkan keselarasan, keseimbangan, dan kesatuan antara gagasan dan bahasa sebagai pengucapan. Bahasa merupakan mediasi penyampaian makna, sebab Micky Hidayat ”ingin jadi penyair yang tak sekadar bermain kata-kata”.
Komposisi Buku “Meditasi Rindu”, Menyigi Substansi
Buku “Meditasi Rindu” terpapar dalam lima bagian. Bagian 1 “Aku Ingin Jadi Penyair Yang” menghimpun sajak-sajak yang ditulis antara tahun 1980—1983, yakni: “Sajak Untukmu”, “Tangkap Aku, Kekasihku”, “Fantasi Malam’, “Bicara Pada Batu”, “Mabuk Aku”, “Sungai Martapura”, “Bayangan”, “Interlude (1)’, “Aku Ingin Jadi Penyair Yang”, “Ada Yang Memisah Kita”, “Belati”, “Angin”, “Batas”, “Lelah”, “Ektase Puisi, 1”, “Interlude 2”, “Kemerdekaan Gelatik”, “Mata Pisau”, ‘Masuklaah, Pintu Masih Terbuka”, “Di Kaki Malam”, “Lagu Lapar”, “Sajak Petualang”, “The Power of Love (1)”, “The Power of Love (2)”, “Cerita tentang Musim”, “Interlude (3), “Yang Bernama”, “Ektase Puisi, 2”, “Pelayaran”, dan “Muhammad”. Sajak-sajak dalam bagian ini, seperti dirujuk oleh tajuk-tajuk puisi secara substansial mengungkapkan persoalan personal dan sosial yang dibingkai benang : rindu, luka, sedih, dan cinta. Sajak-sajak ini merupakan pengendapaan pemikiran Micky terkait kegelisahannya dalam merindu—yang dengan itu ia ingin menyapa dan mempersembahakan sajak-sajaknya itu kepada pembaca (baik pembaca awam, pembaca apresiatif, maupun pembaca kritis).
Bagian kedua diberi tajuk “Sajak Cinta: Interlude” yang merangkum sajak-sajak yang ditulis antara kurun 1984—1988). Bagian ini merangkum 30 sajak yang didominasi sajak-sajak sosial seperti: "Lanskap Kota", "Terminal", "Seperti Laut", "Pergi", "Ziarah", "Perjalanan", "Sehabis Percakapan" , "Malam Jakarta", "Berkali-kali Aku Mabuk", "Instrumentalia Jakarta", "Tubuhmu yang Terpahat di Batu Dasar Kali", "Diskotek Tanamur", "Persenggamaan Matahari dan Bulan", "Sajak Perpisahan", "Lukisan Bapak", "Fantasia Gunung Tangkuban Perahu', "Memo Jakarta", dan "Membaca Sajak Afrizal Malna". Meski sajak-sajak ini bersetting dunia luar dalam konteks sosial, hal yang menonjol, persoalan dunia luar itu menyatu dalam pengendapan kontemplasi Micky Hidayat. Seperti telah dikemukakan, sajak-sajak sosial Micky Hidayat ibarat “lebah tanpa sengat”, aspek kritis dan kritiknya pada dunia luar kurang bergigi, sebab telah dipadupadan dengan refleksi personal penyairnya.
Bagian ketiga diberi tajuk “Aku Berguru pada Sajak”, merangjum 15 sajak yang dirtuis pada kurun 1989—1995. Dalam bagian ini secara eksplisit Micky Hidayat seakan-akan berteriak lantang untuk menyatakan ketidaksanggupannya menghadapi dunia luar yang mengepung. Persoalan sosial dirasakannya nsebagai “penjara” bagi individualitas penyair. Kita baca sebuah sajaknya selengkapnya:
Aku Tak Sanggup Lagi
Aku tak sanggup lagi memandang dunia
dengan segala warnanya
Sebab langit telah membutakan mataku
dan matahari yang terus memburu kematianku
Aku tak sangup lagi mendengar segala doa
dan pekik-tangis duka
Sebab awan hitam telah menyumbat telingaku
Begitu pun hujan yang tak henti-henti
mengguyur tubuhku
1989
Apa yang menarik dari puisi bertitimangsa 1989 ini? Jika pada sajak-sajak Micky sebelumnya ada kecenderungan menulis dengan tipografi huruf kecil di awal larik, pada sajak ini mulai digunakannya huruf kapital di awal larik. Apakah ini menunjukkan proses kreatif yang menunjukkan progres kepenyairannya atau hanya kebetulan saja? Hal ini tentu saja menarik untuk ditelisik secara khusus, apakah peneraaan huruf kapital sebagai upaya memperjelas pengungkapan atau hanyalah mood sesaat?
Bagian empat buku diberi tajuk “Meditasi Rindu” yanag merangkum 14 sajak bertitimanagsa antara 1996—2001. Bisa jadi, bagian ini diandalkan oleh penyair dan editor buku, sebab bagian ini dijadikan judul utama antologi. Ternyata, dalam bagian ini ada sebuah sajak yang relatif panjang—lebih panjang jika dibandingkan kecenderungan sajak-sajak Micky Hidayat bertajuk “Meditasi Rindu”. Sajak panjang ini didedikasikan kepada ayahandanya yang juga penyair, yakni Hijaz Yamani. Tampaknya, Hijaz Yamani—meskipun telah almarhum—bagi Micky Hidayat mewariskan sajak-sajak yang selalu dibacanya. Ia membaca sajak sebagai jejak dan warisan yang tak pernah selesai dibaca, bahkan Micky Hidayat terang-terangan menyatakan “belajar dari sajak”.
Buku “Meditasi Rindu” ditutup bagian kelima, yakni “Telah Kuhapus Kata-kata” yang menghimpun 19 sajak yang bertitimangsa 2002—2008. Tajuk bagiaan ini agaknya diambil dari sebuah judul sajak sama, yakni “Telah Kuhapus Kata-kata” yang selengkapnya saya kutipkan sebagai penutup tulisan ini:
Telah Kuhapus Kata-kata*)
telah kuhapus kata-kata yang pernah kutuliskan
sebab tak ada lagi yang bisa kutawarkan
selain kesunyian dan kecemasan
atau kekosongan dan kekecewaan
hingga langit yang kutasbihkan
pecah berkeping dan jatuh di lautan
telah kuhapus kata-kata yang pernah kuucapkan
sebab laut jiwaku tak kuasa menterjemahkan
rahasia angin, badai, dan gelombang
sebab perahu jiwaku yang retak makin gamang
putar haluan atau meneruskan saja pelayaran
telah kuhapus kata-kata
dan biarlah segalanya kulupakan
sebelum matahari, bulan, dan bintang-bintang
tak lagi memancarkan sinarnya
pada diriku yang tiada
2007
*) 100 Puisi Indonesia Terbaik—Anugerah Sastra Pena Kencana (Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008).
Puisi ini ntak pelak lagi sebagai pamungkas dari seranagkaian prosesi sajak-sajak yang dimuat dalam buku ini. Hal yang menarik, sajak ini tampaknya berkorespondensi dengan sebuah sajak di halaman 170 bertajuk Sajak Tak Berisi yang ditulis tahun 2008. Sajak Tak Berisi benar-benar tak berisi, sebab hanya ditampilkan judul “Sajak Tak Berisi’ dan angka tahun 2008. Apakah ini sebentuk skeptisisme, nihilisme, atau justru frustrasi? Salam budaya!
Jambi, Februari 2013
Rujukan
Hidayat, Micky. 2008. Meditasi Rindu. Banjarmasin: Tahura Media.
HABIS GELAP, TERBITLAH HARAP*)
Oleh: Dimas Arika Mihardja *)
HABIS GELAP, TERBITLAH TERANG. Begitulah frasa ajaib warisan R.A. Kartini sejak dikenal sebagai perintis emansipasi wanita—tak hanya di Indonesia, melainkan juga dalam skala dunia. Setidaknya surat-surat Kartini yang lalu terhimpun dalam sebuah buku menjadi jejak historis pemikiran kaum Hawa tentang banyak hal. Srikandi dari Jepara itu melalui penguasaan terhadap bahasa Belanda—yang ia peroleh dengan gigih melalui bangku sekolah—di kemudian hari menjadikan namanya “harum” sebagai wanita pemikir dalam konteks gerakan emansipasi wanita.
Secara metaforis frasa “Habis Gelap” lalu diikuti “terbitlah terang” menunjukkan sebuah lanskap serupa silhuet—perpaduan antara gelap dan terang, yang menampilkan suatu sosok. Artinya, sebuah sosok itu berada antara gelap dan terang dalam sosok profil wanita yang mewacanakan pemikiran bahwa wanita tidak bisa dipandang sebelah mata (sebab jika dipandang sebelah mata, apalagi sebelah mata dipejamkan, itu genit namanya). Bagi saya, Suryatati A. Manan merupakan silhuet antara gelap dan terang, yang mencitrakan sosok perempuan yang hingga hari ini mendapatkan resepsi dan apresiasi melalui banyak hal dan banyak perspektif seperti ditunjukkan oleh sejumlah puisi yang dimuat dalam buku ini.
Bukanlah menjadi rahasia jika kesuksesan yang diraih di dunia ini, dalam konteks keberadaban, didukung oleh sosok wanita, bahkan wanita sebagai pelaku dan motor penggeraknya. Selain Kartini, kita dapat mencatat sosok Cut Nyak Dhien, Kemalahayati, Dewi Sartika, hingga pejuang memberantas kemiskinan kota. Sosok dan kiprah wanita menurut catatan historis telah dilakukan sejak zaman kerajaan besar di Jawa. Dari satu sumber yang terpercaya, sepak terjang wanita terkait emansipasi dan segala urusan kehidupan dapat ditilik dari pandangan berikut ini.
Jika emansipasi dikonstruksikan sebagai konsep penyetaraan hak dan kedudukan antara pria dan wanita untuk berperan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan, maka sesungguhnya hal seperti itu sudah terjadi dan melembaga jauh sebelum era Kartini. Kita tentu masih ingat kalau Majapahit sebagai kerajaan yang pernah menguasai hampir seluruh kawasan Asia Tenggara hingga ke Formosa dibagian Utara dan Madagaskar di Barat, ternyata dalam silsilah kerajaan Majapahit pernah diperintah 2 dua perempuan masing-masing “Tribhuwanatunggadewi (1328-1350) M”. dan Kusuma Wardhani (1389-1429) M.
Catatan sejarah yang lebih tua dari Majapahit dikenal pula sosok perempuan sebagai panutan yang sangat dihormati yaitu Fatimah Binti Maimun. Nama tokoh ini ditemukan dalam prasasti makam yang terletak di Leran (dekat Gresik) dalam prasasti tersebut selain nama, juga keterangan wafat yaitu tahun 1028 M. Bukan hanya itu dalam catatan sejarah yang lebih tua lagi dari semua yang dikemukakan di atas, dikenal juga wanita kesohor dari kerajaan Kalingga (Holing/Keling), masa keemasan kerajaan ini justru berpuncak ketika “Ratu Sima” berkuasa yang diperkirakan berlangsung pada abad VII M. Dalam masa itu menurut sejarah, rakyat sungguh-sungguh sangat merasakan nuansa kemakmuran dan keadilan(Emansipasi Wanita di Balik Kepeloporan Kartini, Sumber : Majalah Gema Bersemi edisi 03/2010).
***
HABIS GELAP, TERBITLAH HARAP. Benarkah persoalan wanita telah selesai? Benarkah setelah habis gelap akan terbit harap? Ya, harapan adalah penanda kehidupan. Banyak persoalan wanita dan perjuangan perempuan yang harus terus digelorakan. Satu bentuk upaya menggelorakan itu ialah diterbitkananya buku ini. Buku antologi puisi ini serupa resepsi dan apresiasi sosok wanita dalam sebuah silhuet. Dengan momen ini buku ini nantinya dapat sebagai perwujudan dedikasi, pengabdian, penghormatan (pengorbanan tenaga dan pikiran) sosok perempuan bernama Suryatati A. Manan untuk Tuhan , keluarga , sesama, masyarakat (Kemanusiaan) , bangsa dan negara. Buku puisi ini setidaknya menjadi tumpuan harapan bagi eksistensi wanita di dunia kepenyairan. Wanita penyair dalam perspektif sastra Indonesia tampak belum mengemuka—meski ada sejumlah penyair yang telah eksis di dunia kepenyairan, seperti terangkum dalam buku ini.
Buku ini boleh dipandang sebagai sebentuk keberagaman harapan perempuan, yakni mengenai apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan, apa yang dirisaukan, dirindukan, diharapkan, dan segala macam manifestasi harapan sebagai insan berbudaya, berakal budi, dan bercita rasa. Membaca buku ini, kita dapat “menyauk” berbagai wacana refleksi kaum wanita dalam aneka sudut pandang dan kehalusan rasa. Semua itu dibuahkan dari sebuah inspirasi memandang sebuah silhuet sosok wanita bernama Suryatati A. Manan. Sebuah resepsi dan apresiasi hakikatnya merupakan upaya memberikan harga sepantasnya. Secara pribadi, saya meresepsi dan mengapresiasi sosok Suryatati A. Manan sebagai sosok wanita penyuka puisi dari “Negeri pantun” dan “Kota Gurindam”. Perhatiannya pada sastra dan budaya pada umumnya tampak melalui berbagai upaya mengangkat harkat dan martabat sastra (budaya) Melayu melalui berbagai peristiwa budaya dalam konteks lokal dan regional. Upayanya itu alih-alih meneruskan ungkapan Hang Tuah: “Takkan Melayu Hilang di Bumi”. Begitulah sedikit “Kata Penutup” untuk buku ini, semoga bermanfaat sebagai upaya pemartabatan diri dan kedirian kita selaku manusia yang insya Allah terjauh dari sikap pendewaan pada sosok seorang wanita bernama Suryatati A. Manan, melainkan sebagai upaya pendewasaan pekikiran. Tabik.
Salam Budaya,
Jambi, 24 Februari 2013
*) KATA PENUTUP BUKU PUISI DEDIKASI Suryatati A. Manan
Oleh: Dimas Arika Mihardja *)
HABIS GELAP, TERBITLAH TERANG. Begitulah frasa ajaib warisan R.A. Kartini sejak dikenal sebagai perintis emansipasi wanita—tak hanya di Indonesia, melainkan juga dalam skala dunia. Setidaknya surat-surat Kartini yang lalu terhimpun dalam sebuah buku menjadi jejak historis pemikiran kaum Hawa tentang banyak hal. Srikandi dari Jepara itu melalui penguasaan terhadap bahasa Belanda—yang ia peroleh dengan gigih melalui bangku sekolah—di kemudian hari menjadikan namanya “harum” sebagai wanita pemikir dalam konteks gerakan emansipasi wanita.
Secara metaforis frasa “Habis Gelap” lalu diikuti “terbitlah terang” menunjukkan sebuah lanskap serupa silhuet—perpaduan antara gelap dan terang, yang menampilkan suatu sosok. Artinya, sebuah sosok itu berada antara gelap dan terang dalam sosok profil wanita yang mewacanakan pemikiran bahwa wanita tidak bisa dipandang sebelah mata (sebab jika dipandang sebelah mata, apalagi sebelah mata dipejamkan, itu genit namanya). Bagi saya, Suryatati A. Manan merupakan silhuet antara gelap dan terang, yang mencitrakan sosok perempuan yang hingga hari ini mendapatkan resepsi dan apresiasi melalui banyak hal dan banyak perspektif seperti ditunjukkan oleh sejumlah puisi yang dimuat dalam buku ini.
Bukanlah menjadi rahasia jika kesuksesan yang diraih di dunia ini, dalam konteks keberadaban, didukung oleh sosok wanita, bahkan wanita sebagai pelaku dan motor penggeraknya. Selain Kartini, kita dapat mencatat sosok Cut Nyak Dhien, Kemalahayati, Dewi Sartika, hingga pejuang memberantas kemiskinan kota. Sosok dan kiprah wanita menurut catatan historis telah dilakukan sejak zaman kerajaan besar di Jawa. Dari satu sumber yang terpercaya, sepak terjang wanita terkait emansipasi dan segala urusan kehidupan dapat ditilik dari pandangan berikut ini.
Jika emansipasi dikonstruksikan sebagai konsep penyetaraan hak dan kedudukan antara pria dan wanita untuk berperan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan, maka sesungguhnya hal seperti itu sudah terjadi dan melembaga jauh sebelum era Kartini. Kita tentu masih ingat kalau Majapahit sebagai kerajaan yang pernah menguasai hampir seluruh kawasan Asia Tenggara hingga ke Formosa dibagian Utara dan Madagaskar di Barat, ternyata dalam silsilah kerajaan Majapahit pernah diperintah 2 dua perempuan masing-masing “Tribhuwanatunggadewi (1328-1350) M”. dan Kusuma Wardhani (1389-1429) M.
Catatan sejarah yang lebih tua dari Majapahit dikenal pula sosok perempuan sebagai panutan yang sangat dihormati yaitu Fatimah Binti Maimun. Nama tokoh ini ditemukan dalam prasasti makam yang terletak di Leran (dekat Gresik) dalam prasasti tersebut selain nama, juga keterangan wafat yaitu tahun 1028 M. Bukan hanya itu dalam catatan sejarah yang lebih tua lagi dari semua yang dikemukakan di atas, dikenal juga wanita kesohor dari kerajaan Kalingga (Holing/Keling), masa keemasan kerajaan ini justru berpuncak ketika “Ratu Sima” berkuasa yang diperkirakan berlangsung pada abad VII M. Dalam masa itu menurut sejarah, rakyat sungguh-sungguh sangat merasakan nuansa kemakmuran dan keadilan(Emansipasi Wanita di Balik Kepeloporan Kartini, Sumber : Majalah Gema Bersemi edisi 03/2010).
***
HABIS GELAP, TERBITLAH HARAP. Benarkah persoalan wanita telah selesai? Benarkah setelah habis gelap akan terbit harap? Ya, harapan adalah penanda kehidupan. Banyak persoalan wanita dan perjuangan perempuan yang harus terus digelorakan. Satu bentuk upaya menggelorakan itu ialah diterbitkananya buku ini. Buku antologi puisi ini serupa resepsi dan apresiasi sosok wanita dalam sebuah silhuet. Dengan momen ini buku ini nantinya dapat sebagai perwujudan dedikasi, pengabdian, penghormatan (pengorbanan tenaga dan pikiran) sosok perempuan bernama Suryatati A. Manan untuk Tuhan , keluarga , sesama, masyarakat (Kemanusiaan) , bangsa dan negara. Buku puisi ini setidaknya menjadi tumpuan harapan bagi eksistensi wanita di dunia kepenyairan. Wanita penyair dalam perspektif sastra Indonesia tampak belum mengemuka—meski ada sejumlah penyair yang telah eksis di dunia kepenyairan, seperti terangkum dalam buku ini.
Buku ini boleh dipandang sebagai sebentuk keberagaman harapan perempuan, yakni mengenai apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan, apa yang dirisaukan, dirindukan, diharapkan, dan segala macam manifestasi harapan sebagai insan berbudaya, berakal budi, dan bercita rasa. Membaca buku ini, kita dapat “menyauk” berbagai wacana refleksi kaum wanita dalam aneka sudut pandang dan kehalusan rasa. Semua itu dibuahkan dari sebuah inspirasi memandang sebuah silhuet sosok wanita bernama Suryatati A. Manan. Sebuah resepsi dan apresiasi hakikatnya merupakan upaya memberikan harga sepantasnya. Secara pribadi, saya meresepsi dan mengapresiasi sosok Suryatati A. Manan sebagai sosok wanita penyuka puisi dari “Negeri pantun” dan “Kota Gurindam”. Perhatiannya pada sastra dan budaya pada umumnya tampak melalui berbagai upaya mengangkat harkat dan martabat sastra (budaya) Melayu melalui berbagai peristiwa budaya dalam konteks lokal dan regional. Upayanya itu alih-alih meneruskan ungkapan Hang Tuah: “Takkan Melayu Hilang di Bumi”. Begitulah sedikit “Kata Penutup” untuk buku ini, semoga bermanfaat sebagai upaya pemartabatan diri dan kedirian kita selaku manusia yang insya Allah terjauh dari sikap pendewaan pada sosok seorang wanita bernama Suryatati A. Manan, melainkan sebagai upaya pendewasaan pekikiran. Tabik.
Salam Budaya,
Jambi, 24 Februari 2013
*) KATA PENUTUP BUKU PUISI DEDIKASI Suryatati A. Manan
Kamis, 07 Juni 2012
SEJUMPUT MARHAMAH
: illustrasi dari puisi Kisah Sila dan Turahmi di Rumah Makrifat
karya, Yessika Susastra,Jambi.
Oleh: Moh Syahrier Daeng
Suatu hari Rasulullah SAW bersabda di antara para sahabatnya :
" Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada sejumlah orang yang
bukan Nabi- nabi dan tidak pula syuhada, tetapi sangat disenangi para
Nabi-nabi dan syuhada lantaran kedudukan istimewa yang diberikan Allah
kepada mereka ".
Para sahabat bertanya : " Ceriterakan kepada kami, siapa mereka itu ? ".
Rasulullah menjawab : " Mereka adalah satu golongan yang dengan rahmat
Allah saling mencintai, padahal antara mereka tidak ada ikatan darah,
dan tidak pula dipertalikan oleh harta dengan saling memberi di antara
mereka. Demi Allah, wajah- wajah mereka, cahaya mereka berada dalam
cahaya. Mereka tidak takut atau khawatir ketika orang-orang lain pada
ketakutan, mereka tidak berduka cita ketika orang-orang lain pada
berduka cita " (HR.Abu Daud).
Perjalanan kita kali ini ke taman
bunga yang pagarnya cinta yang senantiasa dipupuk kesetiaan yang
harumnya merebak bersama arah angin, melintasi ruang, menyilang waktu
yang dilembabkan oleh gerimis subuh sebelum kita merentang sayap,
terbang bersama burung-burung meninggalkan sarangnya dan kita pasrahkan
sekeping napas ini kepada tentu menentu, hingga yang tersisa hanya
secarik riwayat bagi mereka yang menyulam kenangan.
Sungguh,
saya masih membayangkan puisi " Kisah Sila dan Turahmi di Rumah Makrifat
" yang dipajang oleh penulisnya dua pekan yang lalu dan baru sekarang
bisa kukisahkan sedikit makna, lantaran begitu luasnya ruang yang akan
dimasuki :
di beranda dada, sila duduk bersila
dan turahmi tidak lagi sendiri, sebab terasa ada sayap-sayap kehangatan
di luas sajadah motif kembang, pintu ka'bah
kubah dan lampu gantung
Bagi saya, cukup satu bait saja dari puisi ini sudah terlalu luas untuk
diselami. Tidak ada keberanian saya untuk mengusik puisi yang gaya
bahasanya melenggang seperti anak dara yang sedang kasmaran, yang
kerangkanya tersusun rapi berkat asuhan dari arsitektur puisi, esei dan
keluh-kesah, yang alurnya meliuk laksana Sungai Batanghari yang airnya
tenang di tengah, deras di tepi. O puti, betapa engkau telah melahirkan
puisi-puisi.
Puisi ini telah mengusung tema sangat besar, yaitu
" MARHAMAH " (kasih sayang). Ketika marhamah ini diserahkan kepada bumi
dan langit, mereka tidak sanggup memikulnya. Diserahkan lagi kepada
segenap makhluk, pun mereka tidak mampu mengangkat beban. Tetapi manusia
berjanji dan menyatakan kesanggupannya, maka sejak itu, Allah
menjadikan cinta sebagai jalan sillaturrahmi (rentang tali kasih
sayang).
Kata " marhamah " hanya satu kali disebut dalam Al
Qur'an : WATAWASAO BIL MARHAMAH ( Al Balad :17), artinya :
berpesan-pesanlah pada kasih sayang. Pokok marhamah kemudian berkembang
menjadi beberapa cabang, di antaranya adalah sillaturrahmi. Seterusnya
kata sillaturrahmi menjadi simbol rahmatan lil alamin. Saya sebut
simbol, karena hanya sedit orang yang memahami makna sillaturrahmi dan
lebih sedikit lagi yang mampu mengamalkannya, kecuali mereka yang
mendapat petunjuk dan hidayah dari Allah SWT. Begitulah mutiara yang
sedikit menjadi mahal nilainya.
-------------------
Puisi ini dibuka dengan sepotong kalimat : " di beranda dada , ........ "
Apa hubungannya dada dengan marhamah ? Salah satu jalan untuk mencapai
taqwa melalui marhamah yang terminalnya di rongga dada, tersembunyi di
lubuk yang paling ceruk. Tidak ada yang tahu kedudukannya kecuali kita
sendiri serta Yang Maha Melihat. Maka ketika berkhutbah, Rasulullah
bersabda : " Taqwa itu di sini ", sambil menunjuk dadanya. Dengan
demikian, marhamah juga terletak di dada, bukan di lembaran, tidak juga
di ucapan yang manis-manis jambu. Bukan di keramaian pesta dan upacara
pamer lupa diri, kesombongan, merasa lebih dari yang lainnya, merasa...
merasa , entahlah !
Ada 3 komponen dalam bangunan sillaturrahmi, yaitu :
MARHAMAH : getaran belas kasihan yang mendorong kesediaan memberi maaf
dan mengulurkan tangan kepada orang lain.
MAWADAH : kecendrungan hati mencintai, menyayangi orang lain
MU'ATHAFAH : kesediaan hati mundur untuk memberi dan berbagi kesenangan
kepada orang lain.
Oleh sebab itu dalam Surah Al Balad disebut adanya " Aqabah " (jalan
susah) untuk mencapai marhamah : " Tahukah kamu jalan susah itu ? " (
12), yaitu :
Mencapai dan memberikan kemerdekaan (13)
Memberi makan ketika kelaparan (14)
Menyantuni keluarga anak yatim (15)
Menyantuni fakir miskin (16)
Pada akhirnya apa yang kita cintai ada dalam kandungan diri kita
sendiri, yaitu di antara jepitan tulang-tulang rusuk dan yang paling
dekat ke urat leher yang tanpa kita sadari. Di situlah muatan yang
sesungguhnya : " Tidak memuat bumi Ku dan langit-langit Ku, tetapi hati
hamba Ku yang mukmin dapat memuatku (Hadis Kudsi).
Izinkan saya
tutup kisah dengan doa cinta Rasullullah SAW : " Ya Allah, berikan
rezeki kepadaku cinta kepada Mu dan cinta kepada orang-orang yang
mencintai Mu. Cinta kepada apa yang mendekatkan aku kepada Mu dan cinta
kepada Mu itu lebih kucintai dari pada air dingin " . ALLAHUMMA ANTA
MAKSUDIN WARIDHAKA MATLUBI.
Langganan:
Postingan (Atom)