Minggu, 08 Januari 2012

KENDURI PUISI "MEMBACA PESAN LANGIT DAM

Pengantar Wacana:

Tanggal 8-9 Januari 2012, di grup Bengkel Puisi Swadaya Mandiri (BPSM) saya memposting sebuah puisi berjudul “Membaca Pesan Langit”, sebagai contoh pmbicaraan di sekitar puisi bening, puisi transparan (buram), dan puisi gelap. Seperti sudah menjadi tradisi, setiap pekan selalu dilakukan KENDURI PUISI, semacam kegiatan mengapresiasi puisi atas puisi yang diposting. Puisi yang saya posting itu memang banyak mengundang  pandangan, pendapat, dan komentar. Komentar serius sebagai sebentuk apresiasi dilakukan oleh Kajitow El-kayeni (esais dan filsuf, dan sekaligus kurator/redaktur BPSM). Berikut ini saya turunkan sebuah puisi yang saya posting dan apresiasi yang dilakukan oleh Kajitow (kepada kawan-kawan lain yang telah memberikan respon saya ucapkan terima kasih). Tulisan ini hendaklah dipandang sebagai upaya pendokumentasian, dan diharapkan kepada semua sahabat kiranya mulai memberanikan menulis hasil apresiasi dengan serius.

MEMBACA PESAN LANGIT


(Sajak Karya Dimas Arika Mihardja)

dalam kalam malam aku berdiam
tak pernah diam; sungguh aku paham apa yang kalian pikirkan
segala maksud yang bersembunyi di balik selimut kata-kata
tersebab aku mahamengerti segala gerak hati
tak ada ruang bagi tempat bersembunyi

segala bunyi, doa dan puja-puji aku tak perlukan
aku telah ada dengan kehendakku, sendiri
tak berbagi; tetapi kasihku tak pernah berlebih
rasa sayangku tak berbilang
tak pernah berkurang

berpalinglah hanya kepadaku
saat padam lampu
saat gulita pandangmu
lalu katakan apa yang kalian kerjakan
dan jangan menuliskan satu kebohongan
satu huruf pun!

pukul 23:03
08/12/2012

Pembacaan Kajitow El-kayeni:

puisi ini sebenarnya terang dan mudah dipahami pesannya. yang menjadikan puisi ini rumit adalah kesan paradoks yang ditimbulkannya. dari tubuh puisi bisa ditarik pemaknaan, aku lirik di sana adalah gambaran dari tuhan. sebab yang maha mengerti dengan hati hanyalah tuhan. gerak hati mungkin bisa terbaca dari isyaratnya tapi tidak bisa benar-benar dimengerti. apakah penyair benar-benar mewakili hakikat tuhan? semua tentu saja sebatas pengetahuan penyair terhadap tuhannya. pengetahuan itu mungkin sebagian besar di dasarkan atas wahyu yang diturunkan untuk umat dari nabinya tuhan. wahyu, yang dengannya penyair memahami tuhan itu seperti apa. hakikat tuhan tentu saja tetap menjadi misteri besar. atau bisa disebut rahasia di atas rahasia. jika kehidupan dan segala yang bersifat materi atau rohani itu adalah rahasia, maka kehidupan dan keadaan tuhan di atas rahasia itu. apa pun yang bisa menggambarkan tentang tuhan adalah bohong. karena tuhan seharusnya tak tergambarkan oleh penggambaran apa pun. hanya saja untuk mendekatkan pemahaman atas keberadaannya ada cara-cara manusiawi yang diberikan kepada manusia untuk mengenalinya. sebatas kemampuan manusia. agar manusia memiliki gambaran meskipun itu jauh dari keadaan yang sebenarnya.

paradoks sebagaimana diketahui adalah dua hal yang seolah bertentangan tapi sama-sama mengandung kebenaran. kesan itulah muncul dari puisi ini begitu mengamati judul "membaca pesan langit." siapa yang membaca pesan ini? jika tuhan sebagaimana yang dikehendaki penyair dengan subyek "aku lirik" itu tentu isi puisi akan berlawanan dengan judulnya. tapi jika penyair yang membaca pesan itu kenapa tubuh puisinya dipenuhi kode bahasa yang referen kepada tuhan? inilah paradoks yang saya maksud itu. dua hal bertentangan yang mengandung kebenaran. (1) aku lirik sebagai manifestasi dari tuhan sedang menguraikan isi pesan sebagaimana yang dimaksud judul puisi, pesan dari langit, yakni pesan dari tuhan. meski tuhan tidak mengambil tempat apalagi butuh terhadap makhluknya, karena itu mustahil jika tuhan membutuhkan tempat. maka langit dijadikan simbol yang menggambarkan keagungan dan ketinggian. langit di sini juga bukan langit secara hakiki. langit hanya lambang untuk penggambaran tadi. (2) tetapi di sisi lain akan muncul kontradiksi, jika "aku lirik" di sana mewakili tuhan maka itu kontra dengan judulnya, karena tuhan sudah dilambangkan langit kenapa harus membaca pesan langit yaitu dirinya sendiri? berarti puisi ini terdiri dari dua bagian, satu bagian judul dengan ide sendiri, bagian lain adalah tubuh puisi dengan ide yang yang sendiri.

di sinilah penyair bersembunyi dalam puisinya. tuhan yang tergambar dalam puisi adalah tuhan maknawi. tuhan yang sebenarnya sedang tersenyum melihat penyair yang telah meresapi pesan "dalam kalam malam." tuhan yang sebenarnya masih menunggu dengan sabar terhadap kajitow yang kelak kembali menangis tengah malam. lalu apakah tuhan di sana adalah penyair? tentu saja bukan. tuhan tetap tuhan meski bersifat maknawi dalam puisi. penyair tetap penyair meski bersembunyi dalam puisinya. yang membaca pesan itu adalah penyair, isi pesan yang dibacanya adalah monolog aku lirik yang merupakan manifestasi dari tuhan. jadi kesan paradoks yang muncul dalam puisi ini dengan sendirinya menyatu dalam judul itu sendiri. tubuh puisi adalah isi pesan, yang membaca pesan itu adalah penyairnya. maka kesan paradoks tadi telah gugur dengan sendirinya karena tercapai kesimpulan. penyair bersembunyi di belakang puisi, bukan bersembunyi di belakang subyek seperti biasanya. tapi ini persembunyian yang sangat jauh. maka puisi ini dan penyairnya sebenarnya saling mengintai. satu-satunya yang bisa merujuk keberadaan penyair ya kesan paradoks yang ditimbulkan oleh judul dan tubuh puisi.


dalam kalam malam aku berdiam
tak pernah diam; sungguh aku paham apa yang kalian pikirkan
segala maksud yang bersembunyi di balik selimut kata-kata
tersebab aku mahamengerti segala gerak hati
tak ada ruang bagi tempat bersembunyi

puisi ini memang bukan khotbah jumat, tapi lambang-lambang yang dikandungnya merujuk pada dalil-dalil yang tersurat. yang kesemuanya itu mencerminkan pengalaman batin yang dalam mengenai hakikat ketuhanan. terkandung pula gambaran, penyair meskipun bukan seorang dai atau bergelar kiyai namun memiliki pengetahuan yang cukup mengenai agama. kenapa hanya cukup? ilmu yang dimiliki manusia diibaratkan tuhan seperti jarum yang dimasukkan ke dalam lautan luas. sisa air yang melekat pada jarum itu sebagai pembanding dari hakikat ilmu yang sebenarnya. maka cukup tadi kembali pada diri penyair sebagai manusia. karena kalau lebih, wadak manusianya tidak akan kuat. cukup tadi adalah batas terjauh yang bisa dicapai manusia dilihat dari keumuman. ada orang yang mampu menghafal berton-ton kitab kuning kata seorang guru spiritual saya. ada orang yang mampu menduga perkara yang belum terjadi. ada orang yang mencapai pengetahuan rohani tingkat tinggi sehingga dikatakan fana fillah. hal demikian tentu atas kehendak tuhan juga. tapi sekali lagi kembali kepada standar umum. ilmu yang bermanfaat itu minimal bagi diri sendiri. maka cukup tadi kembali pada diri penyairnya.

bait awal dari puisi ini bisa juga dijadikan refleksi atas keberadaan penyair. aku lirik di sana mengatakan tengah berdiam dalam kalam malam. "berdiam" di sini secara harfiah lebih dekat pada makna bertempat tinggal. tetapi bahasa telah berbelok di sini. dalam logika tidak mungkin tuhan mengambil tempat seperti yang sudah dibicarakan di atas. maka berdiam di sini meluncur kembali pada musabab pesan ini terbaca, yaitu pada momen dimana penyair menangkap pesan tersebut. "dalam kalam malam" dengan maksud dalam bahasa sunyinya malam. penyair di tengah kesunyian malam mengheningkan diri sehingga menangkap pesan dari keadaan sunyi tadi. pesan spiritual yang bermuara pada pemberi pesan yaitu tuhan. pesan ini bisa disebut juga sebagai ilham, selaras dengan ayat, fa-alhamaha fujuuroha wataqwaaha (maka dia memberikan ilham kepada jiwa mengenai tindak ingkar dan tindak taqwanya jiwa). jadi tidak benar jika penyair bersembunyi di balik aku lirik secara langsung. penyair bersembunyi di balik puisi. dengan kata lain yang bercerita mengenai isi pesan itu memang penyair tapi bukan penyair yang sedang memberikan pesan. secara sederhana pesan itu hanya berbunyi: hakikat tuhan. dan hakikat itu dijabarkan sedemikian rupa dari sudut pandang penyair mengenai tuhan yang dikenalnya. maka tidak bisa dikatakan aku lirik adalah penyair atau aku lirik adalah tuhan. tetapi yang mungkin dikejar oleh logika adalah, aku lirik manifestasi dari tuhan berdasarkan pengetahuan penyair akan tuhannya.

manifestasi dari tuhan versi penyair tadi selaras dengan sifat tuhan dalam terminologi keislaman. yaitu, "tak pernah diam; sungguh aku paham apa yang kalian pikirkan." tak pernah diam dalam banyak artinya: terus berkata, terus bergerak, terus berupaya. sejalan dengan sifat mutakaliman (keadaannya terus berkata-kata), 'aliman (keadaannya mengetahui), qodiron (keadaannya berkuasa). di samping terus berkata, aku lirik juga meliputi segala sesuatu maka dikatakannya, "tak ada ruang bagi tempat bersembunyi." ini juga pemaknaan atas kesimpulan, tuhan tidak mengambil tempat, tapi mustahil segala yang ada tidak mengambil tempat? maka jalan damainya adalah tuhan meliputi segala sesuatu tapi tidak bertempat pada sesuatu. dengan bahasa hudan, tuhan menubuh pada dunia, kesadaran menubuh pada bahasa. karena tuhan meliputi segala sesuatu, maka sudah sepantasnya tidak ada tempat sembunyi bagi si sesuatu tadi. ditambah lagi karena sifat maha mengerti yang dimiliki tuhan tadi sehingga apa pun yang ada dan belum ada sudah diketahui. termasuk yang terdetik dalam hati manusia. hati di sini bukan hati dari segi fisik. hati di sini adalah hal ghaib yang jauh lebih luas dari dunia. karena logikanya, dunia tidak akan mampu menampung cahaya tuhan, tapi hati bisa melakukannya.


segala bunyi, doa dan puja-puji aku tak perlukan
aku telah ada dengan kehendakku, sendiri
tak berbagi; tetapi kasihku tak pernah berlebih
rasa sayangku tak berbilang
tak pernah berkurang

yang dimaksud dengan baris pertama dalam bait ke dua ini adalah segala yang menyangkut upaya lahiriah, yang terwujud dalam doa dan pujian itu tidak dibutuhkan oleh tuhan. di sini dikatakan segala bunyi, dengan begitu mengandung maksud, dengan mode doa dan pujian seperti apa pun, tuhan tidak butuh semua hal itu. karena tuhan memang tidak butuh apa pun selain dirinya. "aku telah ada dengan kehendakku, sendiri." kata aku lirik. karena ada dengan sendirinya maka dia tak butuh apa pun yang telah diadakan olehnya (makhluk). dipuji atau tidak tuhan tetap tuhan, disembah atau tidak, tuhan tidak pensiun, dibutuhkan atau tidak, tuhan tetap eksis dengan kesempurnaannya. keperluan doa, pujian, usaha yang baik itu kembali pada manusia tidak ada efeknya sedikitpun pada tuhan. itulah yang dijelaskan dengan "sendiri" dalam arti berdiri sendiri tanpa butuh sesuatu yang lain. sendiri dalam arti unik dan berbeda dengan yang lain. sendiri dalam arti tidak terpengaruhi oleh kepentingan-kepentingan apa pun. sendiri dalam arti terbebas dari tuntutan-tuntutan apa pun yang membuatnya terbebani.

sendiri itu pun terkandung makna tunggal sebagaimana baris selanjutnya, "tak berbagi; tetapi kasihku tak pernah berlebih." ini juga kembali pada sifat tuhan, dia tunggal dalam zatnya, tunggal dalam sifatnya, tunggal dalam perbuatannya. ini makna dari esa itu. dalam zat tak terbagi, berbeda dengan kita yang memiliki bagian-bagian anggota tubuh. dalam sifat tak terbagi, berbeda dengan kita yang sering berubah-ubah sifatnya. dalam perbuatan tak terbagi, dalam arti tidak bertahap, berbeda dengan kita yang membangun bangunan mesti bertahap dulu. yang cukup mengejutkan dalam baris ini adalah ketika sampai pada pemahaman, "tetapi kasihku tak pernah berlebih." apa maksud dari tak pernah berlebih di sana? bukankah kasih tuhan itu sangat luas. bahkan yang diturunkan ke dunia ini baru satu persen saja. sehingga binatang pun bisa mengasihi anaknya hanya karena satu persen ini. tapi kenapa dikatakan tak pernah berlebih? dalam konteks bahasa indonesia, kasih dan sayang tidak berbeda. tapi ketika merujuk pada bahasa arab ada perbedaan antara rahman (kasih) dengan rahim (sayang). kenapa bahasa arab? sesuai terminologi keislaman tadi. wahyu yang diterima oleh nabi orang islam dalam bahasa arab. maka untuk memahami keislaman sedikit-banyak harus merujuk ke sana. itu juga karena keterbatasan bahasa kita dalam menerjemahkan bahasa arab yang menjadi bahasa wahyu tadi.

setelah dikembalikan pada konteks bahasa arab, maka kasih yang dikehendaki di sini adalah rahman. dan rahman ini dicukupkan untuk seluruh penduduk dunia. baik yang beriman maupun tidak. baik hewan maupun manusia. seluruh penghuni dunia mendapatkan rahman (kasih) ini. maka wajar ada koruptor tetap sehat dan nyaman, ada atheis yang makmur, ada materialis yang sukses. itu semua karena rahman yang bersifat mencukupi tadi. maka dikatakan "tetapi kasihku tak pernah berlebih." kasihnya tuhan cukup, tak berlebih. kasih itu adalah rahman tadi untuk keperluan dunia. sedang rahim (sayang) diberikan bagi yang mau beriman dan patuh saja, kelak di kehidupan akhirat. maka dikatakan, "rasa sayangku tak berbilang." ini untuk menunjukkan luasnya kasih sayang tadi. sebenarnya di dunia pun kasih tuhan tak berbilang juga. namun seperti dibicarakan tadi itu baru satu persen. apalagi jika sembilanpuluh sembilan persen dan hanya dibagikan kepada kelompok yang beriman serta taat saja. logika sederhananya, jika satu saja cukup untuk sekian banyak, apalagi jika sembilan puluh sembilan hanya untuk sebagian dari jumlah tadi. maka ungkapan "tak berbilang" ini untuk menyatakan keadaan yang sebenarnya sangat sulit dipahami. begitu juga dengan penegasan "tak pernah berkurang." ini untuk menguatkan gambaran sebelumnya, yaitu tak berbilang tadi. selain sangat melimpah-ruah, sayang tuhan kelak di akhirat itu tidak akan berkurang meski dikalkulasi dengan seluruh komputer yang ada di dunia. karena sangat banyaknya, dengan bahasa yang tidak efektif senada dengan, sungguh amat sangat banyak sekali.


berpalinglah hanya kepadaku
saat padam lampu
saat gulita pandangmu
lalu katakan apa yang kalian kerjakan
dan jangan menuliskan satu kebohongan
satu huruf pun!

dalam bait terakhir, pemahaman mengenai hakikat ketuhanan tadi bergerak pada wilayah rohani yang lebih khusus. setelah menjabarkan mengenai sifat-sifat yang dimiliki tuhan, penyair yang bersembunyi tadi menggambarkan pesan yang dibacanya dari tuhan. pesan yang terdetik dalam hatinya. pesan yang merupakan ilham dan dimiliki oleh setiap manusia yang mau mengheningkan hatinya. gerakan tadi menggenapkan pembacaan pesan kepada sikap sosok dengan kata ganti orang kedua jamak "kalian" untuk memalingkan hatinya kepada satu tujuan, yakni tuhan. berpaling di sini juga selaras dengan "kalam malam" tadi. dalam keheningan seseorang akan merasakan ketidakberdayaannya. namun ketika sampai "saat padam lampu," muncul gambaran lain, apakah padam lampu di sana itu hanya sebagai penegasan dari waktu malam? artinya ketika umumnya manusia memadamkan lampu untuk tidur, momen itulah yang dikehendaki oleh "aku lirik" agar sosok kalian tadi menghadapkan hatinya. karena pada momen tersebut biasanya manusia menjadi soliter. sehingga dalam kesunyian tadi manusia mencapai puncak kesadarannya mengenai hakikat kehidupan. peristiwa padam lampu itu dikuatkan dengan baris sesudahnya yaitu, "saat gulita pandangmu." kalimat gulita pandangmu baerkaitan dengan kalimat perintah "berpalinglah." ketika manusia mengalami gulita pandang kepada tuhanlah tempat untuk mengahadap. gulita pandang ini menyoal hati. sesuai sifat hati yang peragu, banyak sekali gangguan yang membuat pandangan batin gelap sehingga tertutupi oleh kenyataan semu.

hati yang dalam bahasa arab disebut qolb (yang berbolak-balik) tidak pernah dalam keadaan stabil. kehidupan dunia yang penuh dinamika membuat manusia cenderung berpikir praktis tanpa perlu repot-repot menengok hati. keadaan demikian tentu saja membuat hati gelap, bahkan mungkin keras dan kasar. pada momen sunyi seperti itulah manusia berada pada puncak kesadarannya. bahwasanya banyak hal semu di dunia ini yang membuat pandangan hati menjadi gekap gulita. kesadaran akan hal ini akan mendorong sebuah pengakuan dari ketidakberdayaan manusia. kesadaran itu pula yang membuat manusia dalam momen khusus tersebut gelisah. baris selanjutnya "aku lirik" memerintahkan kepada sosok yang diwakili pronomina jamak, kalian untuk melakukan pengakuan atas seluruh perbuatan mereka. "lalu katakan apa yang kalian kerjakan" sebenarnya kata ganti orang di sini sangat kontras, dalam baris awal ada kata ganti milik orang kedua tunggal "-mu" sekarang berganti dengan kata ganti orang ke dua jamak "kalian". bisa jadi ini keterpelesetan saja, atau jika ini memang atas dasar pertimbangan dan kesadaran, tentu tersembunyi maksud dari perbedaan tadi. bisa jadi puisi ini adalah monolog penyairnya, artinya yang membaca pesan dalam kalam malam tadi adalah penyair, aku lirik terbentuk oleh sudut pandang penyair, maka kata ganti orang yang berwujud -mu terrefleksi juga kepada penyairnya. pada kata "pandangmu" merujuk kepada hati yang tunggal sedangkan kalian merujuk pada seluruh anggota tubuh dan itu dengan bentuk jamak. memang ini pemaknaan yang agak menjauh dari konteks; penyairnya sedang sembunyi di balik puisi; penyairnya tidak hadir secara langsung di dalam puisi, tapi mungkin ini adalah alternatif dari munculnya gen bebas dalam puisi ini.

kemudian yang hendak ditegaskan oleh aku lirik adalah mengenai kejujuran. pengakuan atas segala perbuatan tadi harus didasari rasa jujur. karena berbohong pun percuma saat tidak ada yang bisa disembunyikan dari tuhan. hal itu ditegaskan dengan kalimat, "dan jangan menuliskan satu kebohongan / satu huruf pun!" pada baris ini juga terlihat kontras dengan baris sebelumnya yaitu dengan kalimat perintah "katakan." tetapi bisa dipahami bahwa "menuliskan" di sini telah berbelok dari pemahaman atasnya. makna "menuliskan" itu bisa jadi menghendaki kegiatan lain semisal pengakuan atas perbuatan tadi sehingga dikatakan seperti menulis. atau menulis di sini adalah menulis dalam catatan kesalahan. artinya manusia memang tidak menulis catatan itu, tapi malaikat. namun di sini seolah ada opsi yang digambarkan "dan jangan menuliskan satu kebohongan." masih juga dikuatkan "satu huruf pun!" kebohongan dari pengakuan perbuatan tadi hendaknya tidak ditutup-tutupi, tidak perkara yang paling sepele sekalipun. terlepas dari gen bebas yang membuat pembacaan atas puisi terjeda. puisi ini adalah katarsis bagi jiwa yang gelisah. penyair bersembunyi dan seolah terpisah dari puisinya. yang membuat penyair terlihat adalah adanya kesan paradoks seperti yang telah dibicarakan sebelumnya.

Penutup Wacana:
Demikianlah Kenduri Puisi yang berlangsung di BPSM. Bagi sahabat yang tertarik membaca secara lengkap dan mengikuti riuh-rendah pembicaraan secara lengkap, silakan bergabung pada posting puisi “Membaca Pesan Langit” di grup BPSM atau mengunjungi blog http://bengkelpuisidimasarikamihardja.blogspot.com. Terima kasih.

Senin, 02 Januari 2012

LOGIKA DALAM PUISI

Esai: Kajitow El-kayeni

Adalah  sebuah rahasia besar mengenai bagaimana manusia itu menghisap bahasa ke dalam dirinya. Bahasa tidak saja sebagai hubungan kausal atas interjeksi, tidak sekedar pendefinisian sesuatu sekaligus pembedaan atasnya. Tetapi bahasa yang mengeram dalam tubuh manusia itu bergerak seiring pergerakan imajinasinya. Sesuai teori interjeksi, ketika manusia mendapatkan pengaruh internal berupa rasa lapar misalnya, ia akan berkata, “Aku lapar.” Ketika ada pengaruh eksternal seperti dipukul, manusia akan berteriak, “Aw!” atau “Ouch!” Bahasa yang dikenali bergerak karena pengaruh dari dalam dan luar diri manusia ini sebenarnya bisa bergerak sendiri. Pengaruh rangsangan itu mungkin tetap ada sebagaimana wejangan ayah saya Loektamadji A. Poerwaka, bahwa bahasa itu aksidensi bukan substansi. Tetapi pengaruh rangsangan itu lebih bersifat menyublim dan bersatu dengan bahasa itu sendiri. Ia tidak menunggu rangsangan tapi bergerak seiring rangsangan itu.

Saya tidak hendak mengatakan bahwa bahasa bersifat aktif dan bergerak sendiri sebagaimana keyakinan Hudan Hidayat, namun lebih kepada bahasa di sini memiliki gerakan yang unik. Ia tidak saja mempecundangi logika yang mengekangnya, ia bahkan berkelit dari kejaran logika ketika ia telah menubuh pada konvensi lain. Peranan bahasa di sini menjadi bolak-balik. Sekali waktu ia patuh pada konvensi baru yang disetubuhinya itu, sehingga ia mempecundangi logika. Kali lain dia bergerak dinamis bersama logika dan tak terkekang oleh konvensi itu. Konvensi yang disetubuhi bahasa itu adalah konvensi sastra ketika bahasa dijadikannya media, seperti puisi misalnya. Di dalam puisi, bahasa akan mengucur bersama rangsangan internal yaitu ide.

Banyak orang berkeyakinan jika puisi tidak mungkin terkejar oleh logika bahasa, karena bahasa telah berkelit di sini. Ia bersembunyi di dalam sistem lain yang unik dan otonom. Kenapa bahasa bisa menjadi begitu radikal seolah kacang yang lupa pada kulitnya? Itu karena sistem baru tadi menghendaki gerakan bebas bahasa, sistem itu membiarkan bahasa menari seliar imajinasi yang menyeruak dari dunia ide tadi. Sistem itu dikenal dengan sistem metaforikal. Sistem pemaknaan bahasa secara khusus ketika bahasa dijadikan media oleh puisi. Puisi memang memiliki sistem komunikasi berbeda dibanding komunikasi formal. Meskipun puisi memakai bahasa sebagai struktur dasarnya, tetapi puisi membelokkan sebagian kaidah bahasa itu sehingga dari pembengkokan tadi muncul nilai estetis. Yang kerap kali muncul (sejauh yang dapat saya lacak) adalah anggapan bahwa puisi tidak memakai aturan logis karena ia menggunakan bahasa dengan makna metaforikal bukan bahasa dengan makna literal. Artinya bahasa memang media yang digunakan oleh puisi, tetapi puisi memiliki sistem sendiri yang berbeda dari aturan logis bahasa (logika bahasa). Bahasa terlahir akibat keterusikan seseorang atas sistem fisiologisnya, sehingga awal kata yang terlahir adalah reaksi atas diri yang terusik baik dari dalam atau luar diri (teori interjeksi). Sementara Ernst Cassirer (1874-1945) menambahkan, bahasa adalah upaya manusia dalam mengenali benda-benda di dunia dengan prinsip identitas dan/atau perbedaan.

Saya sadar puisi menggunakan bahasa sebagai media, bukan sebagai upaya representasi atas dunia sebagaimana kehendak bahasa. Puisi adalah upaya kongkretisasi imajinasi estetis, dalam hal ini ia menggunakan benda-benda dalam puisi hanya sebagai simbolisasi. Sedangkan bahasa adalah perwujudan dari interjeksi dan pengenalan benda-benda untuk klasifikasi. Yang menjadi permasalahan adalah, jika logika tidak digunakan sebagai dasar pertimbangan bahasa yang digunakan puisi, lalu dengan apa kita bisa mengukur satu kesatuan metafor dalam satu puisi (atau klausa) itu lebih baik dari kesatuan metafor pada puisi lain? Harus ada standar yang memungkinkannya menjadi tolok ukur penggunaan sistem kebahasaan dalam puisi. Karena tanpa peran logika, berarti puisi tidak memiliki ukuran penalaran dan berarti puisi tidak bisa dipelajari karena ia sebuah sistem yang ngawur. Dan kalau begitu seluruh konvensi yang melahirkan teori-teori itu tidak berakar dan sulit dicarikan titik temu. Dengan sendirinya segala rumusan mengenai puisi runtuh dan tidak dapat dipertanggung-jawabkan dalam bingkai commonsense.

Maka dari itu logika harus ada dalam puisi. Karena dengannya kita mengambil tolok ukur untuk menilai satu puisi lebih baik daripada puisi lain.

Logika yang merupakan salah satu ilmu dalam filsafat menghendaki proses serta bermuara pada pertimbangan dialektis setiap kali berhadapan dengan permasalahan, sehingga darinya didapati sebuah solusi. Meskipun logika memang bukan hanya milik filsafat saja, ia juga dimiliki disiplin ilmu lain seperti matematika. Logika tidak mengenal salah dan benar, tapi keakuratan dari segi penalaran. Tolok ukur logika didasarkan pada pembenaran paradigmatik (pembenaran yang diterima oleh orang banyak). Sebuah tesis dikombatkan dengan antitesis sehingga terlahir sintesis. Pembenaran itu bukan untuk menilai salah dan benar, karena filsafat hanya mengenal sesat pikir. Artinya pembenaran yang menjauh dari pembenaran paradigmatik dikatakan sesat pikir atau tidak rasional.

Puisi dengan sistem komunikasi uniknya juga memiliki sistem logika sendiri. Logika di sini harus mengikuti proses tertentu karena puisi memiliki sistem kebahasaan berbeda dari komunikasi formal. Sistem itu adalah pemaknaan dari segi metaforikalnya. Mustahil puisi tidak memiliki tolok ukur logis, karena sebagai salah satu unsur sastra, puisi harus memiliki dasar pijakan kemudian diberikan nilai kepadanya. Nilai ini tentu bukan dari segi ukuran, seperti misalnya seseorang yang bersedih, berapa derajat ukuran sedihnya? Seseorang yang sedang bahagia, berapa banyak satuan bahagianya? Itu jelas tidak mungkin karena apa yang bisa dianalisa hanya terkait hal kongkret yang bersifat mungkin, sesuatu yang abstrak tentu hanya bisa dibandingkan untuk memperoleh perbandingan titik puncak. Seumpama penyair Chairil Anwar sedang bersedih di “Senja di Pelabuhan Kecil,” bagaimana jika dibandingkan dengan kesedihan Pablo Neruda dengan puisi “Malam ini, Dapat Kutulis...” Perbandingan itu untuk menngukur daya hisap yang diciptakan kedua puisi berdasarkan keberhasilan membentuk citraan juga unsur-unsur lainnya. Bukan dari besar ukuran kesedihan yang dirasakan oleh kedua penyairnya.

Untuk itulah puisi harus memiliki sistem logika sendiri, tanpa dasar pijakan itu puisi tidak memiliki integritas. Ia hanya akan menjadi bunga kata-kata milik pemabuk dan pengigau yang tidak memiliki ukuran dalam penilaian. Maka logika yang telah mengikuti sistem komunikasi unik dalam puisi terlebih dahulu harus mengelompokkan bagian-bagian yang menyusun tubuh puisi. Karena struktur metaforikal dalam pemahaman mentah memang tidak terjangkau logika. Seperti ketika menanyakan kadar nilai estetis, kadar tingkatan imanjinasi, kadar perasaan, kadar kedalaman kontemplasi.

Unsur puisi yang sejati atau unsur yang pertama (1) adalah tema, ia tidak dalam bentuk kongkret tapi membutuhkan unsur kongkret untuk mewujudkannya. Ia adalah hal abstrak yang bersembunyi dalam tubuh kongkret yakni bentuk teksnya. Dari tema inilah segala hal berpusat kepadanya. Unsur yang ke dua (2) adalah sistem unik tadi. Puisi menggunakan sarana pengkiasan untuk menyampaikan maksud. Di samping juga perlambangan untuk menyembunyikan subyek yang dikehendaki. Dengan bahasa populer, puisi mengatakan ini tapi menghendaki itu. Kadar kiasan ini pun berbeda-beda dan perlu dibagi terlebih dahulu. Karena dasar pijakan pemaknaan harus terbaca dari tubuh puisi secara utuh. Dari kecenderungan, kadar kiasan pada puisi itu ada yang sedikit, yaitu pada puisi terang atau diafan. Ada yang kadarnya menengah yaitu puisi realis pada umumnya. Ada yang tinggi yaitu pada puisi absurd, abstrak dan surealis. Bentuk kiasan secara mentah tidak bisa dirunut dengan logika, karena ia hanya bayangan dari maksud yang sebenarnya. Struktur pengkiasan ini harus dipisahkan karena terlebih dahulu sebelum logika masuk dan berfungsi sebagai tolok ukur penilain puisi.

Dalam hal ini saya akan fokus pada puisi realis. Ketika seseorang menunjuk sesuatu sebagai kiasan, struktur tubuh kiasan itu harus koheren dan seimbang. Artinya dalam kesatuan struktur sitaksis dan semantiknya, subyek yang mengkiaskan harus memiliki kesamaan jalur dalam pemaknaan yakni seimbang tadi. Bisa dicontohkan seperti kalimat (1), “Seekor burung terbang ke langit. Meski sayapnya patah ia terus meluncur ke langit.” Seekor burung terbang ke langit adalah struktur tubuh bayangan atau pengkias, di sini ia terdiri struktur subyek, predikat dan keterangan. Keadaan burung (yang patah sayapnya) di sini sebenarnya tidak bisa diukur atau tidak bisa dihakimi dengan logika karena ia hanyalah refleksi atau bayangan. Burung itu tidak kongkret meskipun bisa jadi diambil dari proses mimesis yakni meniru burung yang ada. Dalam kalimat itu, burung hanya bayangan dari subyek sebenarnya yakni tubuh pokok (yang dikiaskan). Kiasan itu digunakan sebagai sistem komunikasi unik karena ia berbeda dari keumuman komunikasi yang bersifat formal. Logika harus menyederhanakan kiasan tadi seperti proses matematis sebelum menghasilkan pemahaman, yaitu dengan merujuk pada keadaan subyek sebagai tubuh pokok (dalam puisi utuh). Ketika pembacaan sampai pada kalimat “Meski sayapnya patah ia terus meluncur ke langit,” struktur pengkiasan tidak ada kesinambungan semantik menurut ukuran logis. Burung yang sudah patah sayapnya bagaimana bisa terbang?

Makna metaforis memang tidak mengacu pada logika, tetapi unsur-unsur pembentuknya adalah juga bahasa yang sama, bahasa yang dimengerti oleh manusia. Dengan begitu unsur-unsur pembentuk metafor tersebut juga dikenai hukum bahasa, yaitu logika bahasa. Kita sebut bagian metafor itu sebagai tubuh bayangan sedang tubuh pokok (subyek yang sebenanrnya) itu adalah hal logis entah hadir atau tidak di dalam teks. Jadi yang dikehendaki logika dalam puisi adalah keseimbangan pengimajian dalam struktur metafor. Misalnya dalam contoh pertama tadi, “Seekor burung terbang ke langit. Meski sayapnya patah ia tetap meluncur ke langit,” dalam struktur metafor ini, kalimat “seekor burung” menjadi subyek pengkias, sedangkan subyek yang dikiaskan bersembunyi dalam “seekor burung.”

            Contoh ke dua (2), “Rembulan pecah di pelataran. Menyentuh tanah dan pepohonan.” Struktur tubuh bayangannya terdiri dari subyek, predikat, dan keterangan. Subyek pengkias dan yang dikiaskan menjadi satu dalam wujud “Rembulan.” Kerja kiasnya yaitu “pecah di pelataran.” Dalam bentuk pemahaman denotatif, rembulan pecah di pelataran itu mustahil diterima nalar. Namun ketika struktur metaforikal tadi dibagi menjadi unsur subyek pengkias, obyek yang dikiaskan, kerja kiasan, hal itu akan bisa dirunut term logikanya. Kata “pecah” dalam kalimat itu bermakna konotatif, ia menjadi logis saat dikembalikan pada pemaknaan lazim, yakni pecah itu bukan pada wujud rembulan sebagai batu. Tapi pecah itu merujuk pada sebagian dari bulan yaitu cahayanya. Maka pecah di sini berarti cahayanya yang melimpah. Bisa juga diartikan cahayanya terang sehingga dikatakan pecah seperti benda yang pecah dan berhamburan. Makna konotatif telah melepaskan pemahaman atas kata menurut keumuman. Makna denotatif bisa disebut sebagai rumah bahasa, sedangkan makna konotatif adalah makna yang telah lepas dari rumah bahasa tadi karena kepentingan kalimat. Dengan kepentingan itu, makna yang dimiliki oleh bentuk konotatif sejalan dengan struktur semantik kalimat.

Di sini saya ingin menyangkal Roland Barthes (1951-1980) yang meyakini bahwa makna konotatif yang disebutnya sebagai operasi ideologi adalah upaya untuk melawan keharfiahan denotasi yang bersifat opresif (menindas). Merujuk pada teori awal penemuan bahasa, makna denotatif adalah makna asli, sedang makna konotatif adalah makna penyimpangan sesudah bahasa memberikan pengertian atas sesuatu. Sangat tidak logis jika makna konotatif dijadikan dasar pertimbangan penelaahan sistem tanda. Padahal dia sendiri mengakui makna denotatif adalah makna primer dan makna konotatif adalah sistem siginifikasi tingkat ke dua. Dengan begitu acuan makna konotatif semestinya merujuk pada makna denotatif sebagai makna primer demi pembacaan sistem tanda secara luas. Meskipun keduanya memiliki wilayah pemaknaan masing-masing. Sebagaimana yang diyakininya makna konotatif dengan sebutan “mitos” yang memiliki sistem petanda dan penanda di dalamnya. Makna konotatif yang diyakininya itu hanya berlaku  pada interaksi antara teks bersama pengalaman personal-kultural penggunanya.

Makna denotatif yang dianggapnya tidak penting itu, tidak serta-merta membuat sistem signifikasi kedua (konotatif) tadi bisa berdiri sendiri. Bahkan saya meyakini dari makna denotatif itulah rujukan dalam memaknai pemaknaan lain meskipun itu secara tidak langsung. Konotasi versi Barthes sangat terbatas atau tertutup sehingga tidak bisa digunakan dalam pemaknaan lain. Konotasi Barthes hanya berhubungan dengan kasus tertentu dan tidak bisa dikembangkan dalam kasus lain. Dan penyempitan ini menurut saya adalah tindakan percuma. Dalam makna metaforikal ini juga merupakan pemaknaan tingkat ke dua setelah makna denotasi, tetapi ia tidak berlepas tangan dan berdiri sendiri. Justru dengan membandingkan atau mengembalikan pada makna asli tadi sebuah rumusan logis bisa didapatkan. Makna metaforikal sejajar dengan makna konotasi versi Barthes yang tertutup itu. Tetapi di sini, makna metaforikal terdiri dari kalimat sempurna, bukan dua kata benda seperti “kambing hitam” menurut konotasi Barthes. Atau jikapun Barthes menunjuk kata “pecah” dalam contoh (2) itu sebagai konotasi versinya, maka tidak diperlukan pengalaman personal-kultural seperti yang dikehendaki dalam konotasi “kambing hitam”-nya itu. Dan makna konotasi (dari pembedahan struktur metaforikal) tadi jelas berbeda dari konotasi tertutupnya itu.

Logika dalam puisi mengarah pada keseimbangan struktur metaforikalnya. Contoh awal (1) itu bisa dikatakan metafornya (secara global) tidak logis karena struktur penyusunnya tidak seimbang dilihat dari bingkai commonsense. Dengan kata lain ia meloncat dari jalur pemaknaan dalam kalimat. Contoh yang ke dua (2) itu bisa dikatakan logis dengan cara melepaskan struktur makna kerja kiasnya merujuk pada kepentingan kalimat.


****




Kajitow
Filsuf

Sabtu, 31 Desember 2011

KENDURI PUISI

Dimas Arika Mihardja

Pengantar:

Sebagai refleksi pergantian tahun 2011-2012, sengaja saya memposting puisi yang saya tulis spontan di dinding BPSM. Usai Baca Doa bersama warga RT menjelang pergantian tahun. Puisi yang saya tulis spontan (langsung di dinding BPSM) ini kuanggap sebagai anak kandung kehudupan. Tidak setiap anak kandung lahir dengan sempurna. Selalu saja ada sesuatu yang mengganggu, mungkin penampilannya yang mengesalkan (belum sampai mengesankan), mungkin suaranya yang tercekat dan tak terucap, meski dominasi "ar" pada setiap diksinya menggelepar). Justru itu, dengan cara dan gaya saya tentunya sekadar menyediakan konsumsi untuk disantap dalam Kenduri Puisi.

Puisi yang disantap dalam kenduri, bisa jadi tak mengenakkan dan tak menyamankan selain lantaran penyajiannya kurang pas, cita rasanyapun bisa jadi hambar, dan menu makanan itu terasa kurang nilai nutrisi dan gizinya. Namun, begitulah puisi, selalu saja menyediakan ruang teka-teki. Hayo, silakan menjawab teka-teki dalam puisi ini seraya belajar beraapresiasi. Astry Anjani jangan biasakan duduk manis. Imron Tohari, kemukakan hasil resepsi dan persepsimu dan jangan ragu. Kajitow El-kayeni, ini ruang gelanggang berperang mengadu pandangan. Hadi Napster, tunjukkan bahwa dirimu bisa menjadi sparing partnerku. Azie Nasrullah bukanakah corak puisi seperti ini keseukaanmu? Lutfi Mardiansyah, jangan hanya duduk menyendiri santalah hidangan ini dan berbagilah padaa warga BPSM untuk lebih bersinar di tahun baru nanti. Bung Mahbub Junaedi, buktikan bahwa dirimu tidak kapok.

Silakan ini Kenduri Puisi. Berikut ini dikemukakan sebuah puisi yang saya tulis beserta komentar yang mengiringinya, biar kenduri puisi tampak utuh-menyeluruh, saya tampilkan komentar Kajitow El-Kayeni  lalu disusul  komentar lain secara silih berganti. Kita simak dulu puisi yang saya tulis itu.


REFLEKSI ANGKA DAN AROMA
[GETAR ANGKA 2011~2012 LEMBAR MAWAR]

angka kalender bergetar
tanggal lembar demi lembar
2011 nyaris menggelepar

di altar 2011~2012 seulas senyum hambar
seperti masakan tanpa ketumbar
pandang mata pun nanar

kalender bergetar
angka dan senyum saling tawar
entah, apakah setelahnya seharum mawar?

akhir desember 2011


 Kajitow El-Kayeni:

sebagaimana tertulis pada judulnya, puisi ini adalah refleksi dari dunia batin penyairnya. refleksi di sini terfokus pada momen khusus pergantian tahun itu. hal itu terbaca dari angka 2011 dan 2012. secara simbolis diungkapkan dengan penjelasan di bawah judul dengan kiasan getar angka 2011 yang bisa diartikan sebagai kilas balik pada tahun tersebut. "getar" di sana terayun kembali pada perasaan penyairnya, yakni kilas balik itu membuatnya tergetar sehingga hatinya gelisah dan mengucurkannya melalui bahasa. getar itu pula yang membuatnya memiliki harapan yang lebih baik untuk tahun depan. hal itu dikiaskan dengan2012 lembar mawar. hal ini kontras dengan penafsiran atas penanggalan suku maya yang dihubungkan dengan kiamat itu. sekaligus sebagai anti tesis, bahwa di tahun itu segalanya baik-baik saja, bahkan penyair mengharapkannya sebagai "lembar mawar" yaitu sebagai dorongan untuk berbuat lebih baik lagi. mawar yang sering didaulat penyair sebagai lambang keindahan dan cinta-kasih. mawar yang identik dengan kebahagiaan. mawar yang tidak saja mewakili kelembutan tapi juga ketegaran dengan durinya. mawar yang menjadi primadona dan tak habis dijadikan lambang kebaikan itu diambil oleh penyairnya guna mewakili harapan-harapannya di masa mendatang: usai perguliran tahun.

puisi ini terdiri dari tiga bait pendek dan rima akhir yang membuatnya jelas mempertaruhkan temanya. puisi yang dengan gamblang bisa ditunjuk ke mana arahnya. meski tidak menggunakan bahasa lugas tapi pemaknaan terhadap puisi ini tidak diperlukan bantuan kamus apalagi studi filologi panjang untuk menguaknya. interpretasi sederhana dengan memisahkan faktor eksternal telah cukup untuk memaknainya. terkadang saat membaca puisi, faktor eksternal seperti nama besar penyairnya, kepentingan tertentu, korelasi emosional tidak membuat penafsiran merdeka dan obyektif. sering terbaca sebuah penafsiran seperti budayawan ignas kleden misalnya terhadap puisi sutardji dalam satu kesempatan menjadi berbeda dalam kesempatan lain. karena faktor eksternal ini ikut bermain di dalamnya. dan itu menjadi terlihat lucu ketika terbayang kali pertama ulasan mengenai puisi sutardji itu mempertanyakan pertanggungjawabannya dalam bingkai commonsense, kali lain dalam pidato kebudayaan mendapatkan pujian sebagai puisi yang bagus dan sarat makna. hal yang kontras dan tidak konsisten tersebut mungkin bisa diterima asal memberikan bukti yang logis. tapi kejadian itu menjadi lucu dan mencoreng konsistensi seorang pengamat sastra sepertinya.

dalam menghayati puisi REFLEKSI ANGKA DAN AROMA ini saya akan mengenyampingkan faktor eksternal tersebut. yang saya hadapi adalah puisi ini dengan kelebihan dan kekurangannya. puisi ini berdiri sendiri dan terlepas dari penyairnya. jika baik hasil yang didapat maka itu kembali pada puisi, jika jelek hasilnya itu juga semata berpulang ke puisi dan untuk dijadikan bahan perbandingan bagi khalayak.

seperti yang saya katakan, puisi ini mempertaruhkan temanya. kebiasaan puisi sebagai dunia misterius yang penuh kias dan perlambangan tidak sepenuhnya berlaku untuk puisi ini. ada kias dan perlambangan tapi tidak pelik apalagi misterius. dengan pokok tema yang jelas,puisi harus memiliki visi dan misi yang jelas pula karena sejak awal sudah terbaca tanpa kerumitan yang berarti. meski saya tidak mengatakan puisi ini adalah puisi terang dengan bahasa lugas, tetapi tema yang dikehendaki oleh puisi ini tak ubahnya ia adalah puisi terang, puisi diafan. biasanya puisi semacam itu memang memiliki tema yang kuat sehingga ingin fokus pada tema tadi dalam penyampaian. kali ini apakah tema yang dipertaruhkan itu layak akan terbaca dari interpretasi dari tubuhnya.

angka kalender bergetar
tanggal lembar demi lembar
2011 nyaris menggelepar

dalam bait pertama, puisi ini menceritakan tentang pergantian hari yang lumrahnya terjadi. sebuah peristiwa biasa yang tidak memiliki nilai transeden atau sublim. pergantian hari yang disimbolkan dengan angka kalender. titik puncak dari pergantian itu menyentuh pergantian tahun, angka 2011 yang dikatakan penyairnya "nyaris menggelepar" itu adalah gambaran dari sudah dekatnya pergantian tahun tersebut. bagi banyak orang, pergantian tahun tentu sesuatu yang luar biasa dalam arti hari spesial karena terjadi setahun sekali. meski itu bukan hari suci atau hari yang memiliki nilai filosofis, tapi pergantian tahun adalah satu-satunya hari yang diterima oleh semua agama dan golongan sebagai hari suka cita. hari untuk memulai awal yang lebih baik lagi. pergantian tahun yang dimulai dengan pergantian hari itu mencapai titik kulminasi sehingga dikatakan nyaris menggelepar, yakni nyaris berganti. bait awal ini sebagai pengantar ide pokok, dengan kata lain penyair ingin mengatakan pergantian tahun sudah sangat dekat, tahun 2011 sebentar lagi akan berganti.

di altar 2011~2012 seulas senyum hambar
seperti masakan tanpa ketumbar
pandang mata pun nanar

menarik saat sampai bait ke dua, stagnasi pemaknaan terhindari di sini. gambaran pergantian tahu yang iedntik dengan suka-cita menjadi murung di sini. "di altar 2011~2012 seulas senyum hambar," katanya. seulas senyum itu adalah obyek yang dibicarakan dalam puisi. aku lirik bersembunyi ke dalam kata ganti orang ketiga yang jika dinyatakan akan berwujud dia. seseorang yang diceritakan itu memandang pergantian pergantian tahun dengan pemahaman yang kontras. hal ini tampak dari senyumnya yang hambar. ia tersenyum tapi hambar karena tidak menghayati senyumannya. hal itu dijelakan dengan kiasan seperti masakan tampa tumbar. memang ada masakan yang tidak membutuhkan tumbar, tetapi khusus dalam puisi ini masakan yang dikehendaki adalah yang seharusnya membutuhkan tumbar. tentu saja hal itu akan membuat masakan hambar, kurang rasa. kiasan inilah yang digunakan untuk menggambarkan kurangnya rasa dalam senyuman sosok yang dibicarakan itu. hal itu semakin kuat dengan gambaran, "pandang mata pun nanar." senyuman hambar itu merupakan gambaran dari ketidak-jelasan terwujudanya harapan di tahun baru. pandangan di sini berarti jangkauan atau rencana yang hendak diwujudkan oleh sosok yang dibicarakan dalam puisi.

ada indikasi sosok yang digambarkan dalam puisi ini adalah seseorang yang memiliki sudut pandang berbeda dan bisa jadi itu adalah perwakilan dari penyairnya. aku lirik yang bersembunyi dalam sosok yang diceritakan itu sebenarnya terayun kembali pada diri penyair seolah refleksi itu sendiri. seperti yang pernah saya katakan, penyair itu memiliki ruang khusus dalam hatinya. dengan itu dia mengambil sudut pandang yang berbeda dari keumuman bahkan bisa jadi yang bertolak belakang. tahun baru yang seharusnya menjadi penuh suka-cita digambarkan dengan murung dalam puisi ini, "seulas senyum hambar," katanya. sosok itu tersenyum tapi hambar dan tidak ada penjiwaan. sosok itu tersenyum karena terbawa oleh keadaan sekitarnya yang sedang bersuka cita. ia tidak benar-benar tersenyum karena ia bahagia, tetapi senyumnya itu karena faktor eksternal yang mempengaruhinya. dan faktor itu adalah keadaan riuh-gempita disekitarnya. euforia pergantian tahun yang masuk sampai desa-desa terpencil mengakibatkan sosok itu tersenyum hambar.

kalender bergetar
angka dan senyum saling tawar
entah, apakah setelahnya seharum mawar?

kembali pengulangan maksud terjadi dalam bait ketiga. jika di bait awal "angka kalender bergetar" dimaksudkan untuk mewakili pergantian hari, kali ini bersifat umum yaitu pada "kalender bergetar"itu mewakili seluruh tahun. artinya tahun yang nyaris terlewat itu dikatakan bergetar. entah karena euforia atau karena ada permasalahan lain sehingga pada tahun yang diwakili kalender itu dikatakan bergetar. repetisi ini tentu dilakukan untuk tujuan menguatkan maksud meskipun tercium indikasi lain, repetisi ini sebenarnya karena terseret oleh rima akhir. artinya kalimat kalender bergetar itu muncul bukan saja disebabkan oleh tuntunan perulangan untuk menguatkan maksud, tetapi juga terkandung sinyalemen ia ada karena kloningan semata.

dalam pandangan orang ketiga itu angka dan senyum saling tawar, dengan kata lain angka yang mewakili pergantian hari (sekaligus pergantian tahun) itu dikatakan saling tawar dengan senyumannya. kehambaran senyum tadi disebandingkan dengan perguliran angka yaitu hari menjelang pergantian tahun. senyum itu menjadi keterangan bahwa pada hari tersebut (yang digambarkan dengan angka) sosok orang ketiga tadi tidak benar-benar bahagia. ada sesuatu yang membuatnya risau. hal itu diterangkan dengan, "entah, apakah setelahnya seharum mawar?" jawaban dari teka-teki tentang senyum yang hambar itu terjawab sudah. sosok orang ketiga itu dirundung keraguan. "entah," katanya. hal ini mencerminkan adanya kegamangan menjelang pergantian tahun itu. banyak orang mungkin bersuka-cita dan optimis, atau justru menganggapnya sesuatu yang biasa. tapi sosok yang diceritakan dalam puisi ini menghadapi kemuraman karena ia ragu-ragu mengenai kejadian di tahun baru berikutnya. ini juga menunjukkan kemungkinan besar yang diceritakan dalam puisi ini mewakili diri penyairnya. ia merasa ragu apakah tahun berikutnya bisa lebih baik dengan kias "seharum mawar." keraguan ini membuatnya kurang menghayati senyumannya. ia memang tersenyum, tapi dalam senyum itu terkandung kemuraman. senyum yang mewakili keraguan akan keentahan.

puisi ini telah berkelit dari kelugasan pemaknaan terhadap dirinya. ia memang mempertaruhkan tema, tapi pergantian tahun yang seharusnya dipenuhi euforia dan dan kegilaan itu ditepisnya dengan menyuguhkan kemuramaman. pemilihan tema tentang pergantian tahun tidak menajdi kendala meski itu harus mempertaruhkan dirinya. penyair berhasil membuat sudut pandang berbeda dan itu merupakan angle yang menarik karena puisi memiliki keunikannya. tapi yang membuat puisi ini lemah, sudut pandang itu tidak tergelar sempurna. terciptanya sudut pandang itu adalah point yang dimiliki puisi ini, tetapi yang membuatnya lemah adalah pembentukan tubuh puisi terasa dipaksakan. diksi-diksi yang dipilih dicocokkan dengan bunyi akhir sehingga sudut pandang muram yang hendak ditunjukkan sebagai hal kontras tidak berkekuatan maksimal. repetisi yang terjadi pada bait ketiga itu juga tidak menunjukkan efesiensi, meskipun mungkin dibentuk untuk menguatkan. puisi ini juga gagal menyuguhkan imaji yang membangun. diksi seperti bergetar, menggelepar, nanar terasa berlebihan. kata itu mengkloning dirinya demi menyuguhkan bunyi akhir yang menawan tapi tidak tepat-guna. kata itu seolah ditempelkan saja meski ia berkesuaian dengan arah pemaknaan tapi tidak berkekuatan maksimal. puisi terkekang oleh bunyi baris akhirnya. seperti seorang bisu yang hendak berteriak. ia terkekang oleh keadaannya sendiri.

sejujurnya saya masih mempelajari kaitan puisi mblening, humor atau yang melukiskannya dengan gaya absurd, abstrak, impresionis, futuris dan sebagainya dengan tujuan yang hendak dikejar oleh puisi: demi memanusiakan manusia. sebagai salah satu unsur sastra, puisi pun memang layak untuk dinikmati dengan riang, dengan guyon, dengan gaya-gaya beraneka itu. tapi melihat banyak penyair yang cenderung senang "bersolek" sehingga perlu dipertanyakan tujuannya menjadi seorang penyair. saya memang dipengaruhi kuat oleh pikiran rendra, meskipun saya tidak mengkultuskannya sedemikian rupa seperti yang dilakukan oleh beberapa pihak. cukup lama saya menyelami pikiran hudan yang mengambalikan seni kepada seni. sedikit banyak saya menimbang bahwa ada hal-hal agung dalam puisi yang tidak bisa dijalankan dengan sudut pandang hudan. saya menyebutnya esensi yang berkait dengan roh kepenyairan. sesudah iwan fals menolak bantuan amerika, rendra melakukan hal yang sama. beberapa penyair (ada indikasi oleh pihak utan kayu cs) menerima gelontoran dana yang ditaksir mencapai sembilan miliar itu (mungkin pertahun).

peristiwa semacam ini membuat saya sadar bahwa rendra yang dulu tidak saya senangi dengan polah kritisnya itu ternyata benar. esensi dalam kepenyairan adalah inti yang mutlak dimiliki oleh setiap penyair. jika hanya menjadi penyair salon saja, hakikat dan tujuan dalam berpuisi tidak tercapai maksimal. bisa jadi tujuan bersastra itu diwujudkan dengan guyon, humor, selengean. tapi apa hal-hal serius semacam ini bisa dilakukan dengan gaya demikian? sastra memang milik orang banyak, rendra, saya dan beberapa orang yang kaku lain mungkin hanya sebagian kecil. tapi untuk itulah kami ada sebagai pengingat agar penyair kita tidak mudah dibeli oleh uang dan tekanan politik. bertahun-tahun kita saling bertengkar dengan sesama. saat lekra memimpin, taufik ismail cs disudutkan. saat menikebu di atas angin, pramoedya ananta toer dikucilkan. begitulah yang terjadi selama ini. sesama kita saling mencakar karena tidak memiliki esensi. penyair mabuk, kata saya dalam sebuah puisi. karena saya prihatin banyak komunitas sastra yang sekedar menjadi kumpulan hura-hura, ajang foto, dan seks bebas. selebihnya nol besar

mungkin karena itulah saya sulit menerima pandangan yang mengatakan puisi tidak sekedar pertaruhan tema. karena puisi bukan ajang seni saja bagi saya, tetapi sebuah perspektif luhur yang menjembatani antara penyair dan kemanusiaan. puisi bukan hal guyon, tapi merupakan sarana untuk berteriak dengan bahasa ambigu. penyair sejati tidak sedang mempertunjukkan perlawakan dalam pentas sastra, tetapi ia berada di depan moncong meriam ketidak-adilan. dunia selalu memiliki sisi ketidak-adilan, dunia yang sengaja diciptakan tuhan dalam keadaan retak. dalam keyakinan saya, penyair adalah salah satu pihak yang berdiri dengan sifat kesatria untuk mengembalikan dunia itu pada bentuk idealnya. dunia yang penuh kedamaian seperti kehendak sleuruh umat manusia


 Lutfi Mardiansyah:

tugas penyair hampir tidak jauh berbeda dengan tugas power rangers, yakni amar ma'ruf nahi munkar, menegakkan nilai2 kebenaran demi merombak nilai2 yg salah. termasuk, secara kontekstual, masalah tahun baru. orng gegap gempita melakukan perayaan, tnpa menangkap esensi apa d balik peristiwa tanggalnya tahun lama terbitnya tahun baru. bukankah, waktu yg berlompatan pergi itu justru menyeret kita ke dalam kondisi yg lebih dekat dengan kematian. dan inikah yg qta rayakan? renungkan lg segala apa yg kita lakukan. seharusnya kita berefleksi saat ini, bercermin diri. dan puisi, salah satu sarana utk menegakkan nilai2 yg benar itu utk merombak nilai2 yg selama ini dianggap benar. merujuk puisi ini, seluruh larik dan baitnya menunjukkan itu, menunjukkan kpda qta bahwa kita harus menyikapi perguliran ini dengan lebih bijak lg. (mas Dimas Arika Mihardja, menyeruput kopi)

puisi "refleksi angka dan aroma" ini kental sekali dengan rima yg bikin pembaca (saya) sedikit bergetarrrrrrrrr. diksi yg dipilih sangat murung dan menggelisahkan, seperti "bergetar", "menggelepar", "hambar". gelisah ini diteguhkan lagi di larik terakhir: entah, apakah setelahnya seharum mawar? kontadiktif bukan dengan gegap gempita orang2 kebanyakan? orng kbanyakan hura-hura, sedangkan puisi ini mengajak kita utk gelisah, utk mencari knp rasa gelisah itu muncul. aku memilih gelisah saja.


 Dimas Arika Mihardja:

Saya sudah menbaca dengan tuntas uraian mas Kajitow El-kayeni dan memahami sepenmuhnya seluruh apa yang dikemukakan. Dalam kajaian puisi, hal yang dilakukan oleh mas Kajitow itu dapat disebut sebagai "hasil paraafrase" atas puisi yang hendaka dikaji. Parafrase yang dikemukakaan secara runtut itu memberikan gambaran mengenai substansi "isi" yang disebutnya sebagai tema. Dalam pikiran mas Kajitow, tema merupakan sesuatu hal yang selalau dipandang penting. Hal itu tampak sekali dalam beberapa esai yang ditulisnya.

Hasil parafrase sebuah puisi, yang mengedepankan pentingnya tema mungkin dapat diterima dan harus dilakukan oleh setiap pengkaji. Lebih-lebih jika pengkaji menerapkan metode strukturalisme (dana berbagai varian perkembangannya seperti strukturalisme-semiotik, strukturalisme-genetik, strukturalisme-dinamik, hingga kajaiana dekonstruksi atas sebuah puisi). Dalam kajian puisi, apa yang rtelah dipaparkan mas Kajitow itu perlu ditindaklanjuti dengan pertanggungjawaban secara teoretis dan secara empiris. Dulu, dari nenek moyang hinggaa guru-guru di sekolah, setiap mengapresiasi selalu saja berburu tema, mengungkapkan amaknat, dan nilai-nilai.

Dalam perkembangan perpuisian Indonesia, tampaknya, tema tidaka selalu ditempatkan sebagai sesuatu yang penting. Misalnya, di antara berbagai ragam puisi, kita mengenal puisi suasana, puisi yang melukiskan peristiwaa dan kesan terrtentu tanpa harus dibebani oleh tema. LUmayan banyak puisi Indonesia, sebut saja di banyak puisi Sapaerdi Djoko Damono mulai asyik dengan lukisan suasana, permainana imaji, dan menomorsekiankan tema. Terkaait dengan hal ini, saya bertanya kepada mas Kajitow, dalam perspektif luas, apakah tema puisi itu mutlak harus ada dan dipandanag penting? Apakah tidak ada kemungkinan lain, misalnya, ada puisi yang sekedar menyuguhkan homor, sindiran, protes, nakal (mbeling) yang semua jenis ini tidak disukai oleh mas Kajitow? Apakah setiap penyair harus mengungkapkan tema, menyampaikan pesan-pesan (moral), dan tiadak ada kemungkinan puisi itu melukis sesuatu yang absurd, abstrak, impresionis, futuris dan lain sebagainya? Maaf, semua tulisan ini tidak bermaksud membela, melainkan menciptakan diskursus yang senantiasa menumbuhsuburkan wacana kritis. Bagaimana mas Kajitow? Bagaimana respon kawan-kawan lainnya seperti saudara Fauzi Nurbain, Puja Sutrisna, Mahbub Junaedi, dan lainnya?

Hore, asyik nih mas Kajitow mulai terpancing hehehehehe. Saya hidup di dua dunia (pendidik dan kesenian) karenanya saya juga peduli pada banyak aspek yang bermuara memanusiakan manusia. Lho, saya kan jebolan dan anak buah Drijarkara yang memang gencar mengkampanyekan "memanusiakan manusia". Nah, terkait dengan puisi yang saya posting mendadak ini, sesungguhnya, saya hendak mengajak berpikir dan mengarah ke wacanaa besar "Tanggung Jawab Penyair". Makanya, saya akan belajar bertanggung jawab atas apa yang sudah saya tulis. Hayo, masak lupa visi-misi BPSM: saling asah-asih-asuh? Hehehehehehe kian asyik nih Kenduri Puisi ini.

Soal tema dan representasi dan manifestasinya saya juga setuju. Tema penting, namun jauh lebih penting bagaimana menyajijkan tema itu secara menarik, artistik/estetik, dan menggelitik. Nah pada puisi yang saya posting ini pun saya ingin "menggelitik" dan "menggugah" sebuah kesadaran warga BPSM, makanya saya beri label "Refleksi". Hayo, berpendapat lagi mas Kajitow (tetapi disruput dului kopinya, saya lagi bingung nih di depan laptop tersuguh jagung bakar, tahu sumedang, dan kerupuk singkong....bingung deh hehehehehe)

Kajitow El-Kayeni:

dalam beberapa esai sebenarnya saya mendukung upaya "meramahkan" puisi. ini kontradiksi juga dalam diri saya, di satu sisi saya enjoy dengan puisi humor atau mbeling, di sisi lain saya takut puisi semacam itu akan menajadi tolok ukur. mungkin tarik-ulur semacam ini karena pengaruh kedekatan saya pada hudan hidayat dan pikiran rendra hehe tetapi satu hal yang terus saya pegang, puisi adalah permasalahan serius karena mengusung cita-cita yang juga serius. meskipun saya juga membuka diri untuk menerima perkembangan. fokus saya tetap pada esensi, kelak mungkin saya sedikit bisa lebih melunak dan menerima bahwa penyaluran esensi ini bisa dilakukan dengan berbagai gaya. siapa tahu bukankah sekarang saya dekat dengan begawan Dimas Arika Mihardja yang seorang pendidik sekaligus pelaku kesenian hehe


Epilog  Kenduri Puisi

Sebenarnya masih banyak respon dan hadirin dalam kenduri  puisi. Rata-rata hadir dengan komentar singkat. Namun, terrnyata Kenduri puisi ini setelah disalin telah terdiri 6 halaman ketik satu spasi, maka kenduri puisi berakhir sampai di sini. Kenduri puisi semacam ini hanya sebagai upaya bagaimana mengapresiasi puisi secara santai, namun tetap bertolak pada sebuah wacana sebagai refleksi pergantian tahun.

SELAYANG PANDANG BAGI "ANGKA DAN AROMA"

Apresiasi Puisi Refleksi DAM
Oleh: Hadi Napster

Menjelang pergantian tahun 2011-2012, Dimas Arika Mihardja (DAM) yang selain merupakan salah seorang Sastrawan Angkatan 2000-an juga adalah pemegang tampuk Komunitas Bengkel Puisi Swadaya Mandiri (BPSM), menampilkan sebuah puisi refleksi. Selanjutnya puisi tersebut diminta untuk diapresiasi, dibahas, atau dikupas semampunya oleh seluruh warga BPSM demi mengurai makna yang terkandung di dalamnya. Maka demi menjawab ajakan tersebut, melalui tulisan sederhana yang tak berpola atau ber-metode ini saya mengajak kawan-kawan lain untuk bersama-sama menelusuri refleksi sexy ala DAM sebagai berikut:


REFLEKSI ANGKA DAN AROMA
[GETAR ANGKA 2011~2012 LEMBAR MAWAR]
angka kalender bergetar
tanggal lembar demi lembar
2011 nyaris menggelepar

di altar 2011~2012 seulas senyum hambar
seperti masakan tanpa ketumbar
pandang mata pun nanar

kalender bergetar
angka dan senyum saling tawar
entah, apakah setelahnya seharum mawar?

akhir desember 2011

Sebelum terlalu jauh berceloteh ngalor-ngidul sambil mencicipi sekujur tubuh puisi sexy “REFLEKSI ANGKA DAN AROMA” di atas, pertama kali harus saya katakana dengan jujur bahwa saya sangat tertarik dengan judulnya yang tergolong “berat”. Terlebih pada sub-judul “[GETAR ANGKA 2011~2012 LEMBAR MAWAR]”yang sengaja dipajang dengan jelas demi menandakan sebuah “portal” untuk masuk mengembara ke dalamnya. Melihat judul puisi di atas, kita langsung bisa menangkap intensi penyair lewat kata “refleksi”. Ya, di sini jelas bahwa kata “refleksi” diseret pada maksud leksikal berbatas; gerakan di luar kemauan (kesadaran) sebagai jawaban akan suatu hal. Lalu menyusul kata “angka” yang berarti tanda atau lambang pengganti bilangan (nomor). Kemudian pada akhir judul kita mendapati kata “aroma” yang sudah tentu mengacu pada bau-bauan yang harum. Sampai pada tahapan ini, ketika harus menerjemahkan judul ke dalam satu kesatuan yang kemungkinan menjadi maksudnya, maka dapat dikedepankan: “gerakan di luar kemauan (kesadaran) sebagai upaya pencarian jawaban atas momentum pergantian angka (tahun) yang tentunya menginginkan aroma harum (kebaikan).

Begitukah? Dari mana menyimpulkannya? Mari kita buat lebih detail. Pembaca pada umumnya barangkali tidak akan menelusuri noktah per noktah dalam sebuah tulisan. Akan tetapi dalam sub-judul “GETAR ANGKA 2011~2012 LEMBAR MAWAR” sangat jelas terlihat penggunaan tanda baca tilde (~) di antara angka 2011 dan 2012. Pola tanda tilde yang kerap juga disebut “gelombang” tersebut berangkat dari titik rendah pada 2011, lalu bergerak meninggi, kemudian menurun lagi, dan akhirnya kembali menjulang penuh ketika akan sampai pada 2012. Apa maksudnya? Apa lagi kalau bukan gambaran perjalanan hidup, khususnya harapan-harapan di dalamnya. Di mana hidup yang dilakoni setiap manusia memang serupa gelombang, pasang-surut, naik-turun, yang di dalam arusnya terdapat “harapan” untuk selalu berada pada titik “plus”. Dalam penjudulan puisi di atas sangat jelas bahwa seorang DAM hendak menularkan sebuah “harapan” yang tengah dirasakannya kepada pembaca. Harapan agar dalam momentum pergantian tahun ini, perjalanan hidup kita paling tidak akan bergerak seperti pola tanda tilde dalam sub-judul puisinya tersebut.

Masuk pada larik pertama, “angka kalender bergetar” ialah gambaran suasana menjelang pergantian tahun seperti pada umumnya. Kata “bergetar” pada larik pertama layak untuk digarisbawahi sebagai tanda geliat orang-orang kebanyakan dalam merayakan pergantian tahun. Ada yang meniup terompet, berpesta kembang api, bermain musik beramai-ramai, atau bercengkrama bersama sanak keluarga dan kawan-kawan. Kemeriahan-kemeriahan tersebut terjadi pada angka “31” menuju “1”. Sehingga tak salah jika kata “angka” menjadi pembuka untuk semua elemen-elemen semaraknya tahun baru yang dikumpul-satukan oleh DAM dalam ungkapan “angka kalender bergetar“.

Tradisi tahun baru selalu identik juga dengan kemeriahan yang mengarah pada hal-hal negatif. Ada balapan-balapan liar, konser-konser musik yang ricuh, pesta minuman keras dan narkoba di klub-klub malam, dan lain sebagainya. Kesemua sisi minus ini disorot oleh DAM dengan “tanggal lembar demi lembar”, yang jika diartikan ke dalam bahasa awam akan menjadi “jatuh satu demi satu”. Kalimat pada larik kedua ini sebenarnya bermakna ambigu, karena bisa saja mengacu pada lembaran kalender yang memang selalu dilepas lembar demi lembar--khususnya kalender jaman dulu yang hanya terdapat satu angka (tanggalan) di setiap lembarnya--hingga masa pergantian tahun, namun bisa juga berarti jatuhnya “korban” dalam setiap kemeriahan tahun baru sebagai akibat dari perayaan yang mengarah kepada hal-hal negatif sebagaimana disebut sebelumnya.

Lantas, segala tingkah-pola yang mewarnai perjalanan menjelang pergantian tahun ini dipungkas dengan “2011 nyaris menggelepar”. Mengapa menggelepar? Bukankah “menggelepar” itu berarti bergerak ke sana-kemari atau berloncatan karena kebingungan? Di sini nampaknya melebur juga intensi kilas-balik (flash back) pada kesilaman. Gaya personifikasi yang digunakan pada larik ini adalah gambaran dari 2011 yang dikesankan gelisah, resah, bimbang, dan bingung sebab masa “dinas”nya sudah akan berakhir, tetapi harapan dan tujuan belumlah tercapai secara maksimal. Olehnya itu, ia (2011) menjadi “menggelepar”.

Indikasi “ketidakpastian” lalu muncul pada bait selanjutnya. Ketika pembacaan sampai “di altar 2011~2012 seulas senyum hambar”. Mengapa justru pada altar--di sini altar nampaknya mengacu pada arti; tangga untuk berjalan naik dan turun--justru senyum menjadi hambar? Tidakkah seharusnya momentum ini disambut dengan gegap-gempita peuh keriangan? Kenapa penyair justru merasa hambar (kurang bergairah) dalam pergantian tahun kali ini? Bahkan saking hambarnya, sehingga ketidakbergairahan ini dilukiskan “seperti masakan tanpa ketumbar”, sangat tidak ada rasanya! Sampai-sampai “pandang mata pun nanar” setelah mendapati rasa hambar dan tak bergairah menjelang perayaan pergantian tahun. Apa pasal? Di sinilah letak kepiawaian penyair menyembunyikan maksud “pencarian”nya. Dalam arti, bait kedua sengaja dibangun sedemikian “hambar”nya sebagai pengantar atau untuk memperkuat “interogasi” pada bait terakhir. Maka jadilah bait kedua ini serupa titik tengah pertemuan gelombang naik-turun dalam tanda “tilde” seerti yang telah dibahas sebelumnya.

Pada bait terkahir, terjadi proses pengulangan frasa “kalender bergetar” yang sudah tentu melambangkan kebimbangan mendalam, keresahan yang benar-benar “resah”, kebingungan yang sungguh-sungguh “bingung”. Sekali lagi, kemeriahan-kemeriahan perayaan pergantian tahun justru membuat penyair “bergetar”, lalu kembali merasa hambar (tidak bergairah). Namun dalam ketidakbergairahan ini penyair tetap tegar dan mencoba bangkit dengan memunculkan harapan lewat “angka dan senyum saling tawar”. Senyum di sini sudah dapat menandakan kedirian, ketegaran, kepasrahan, pula ketabahan untuk tetap menyongsong pergantian tahun--apapun adanya--meski harapan tersebut sifatnya masih sangat “tidak pasti” lantaran harus melalui proses tawar-menawar. Lalu bagaimanakah wujud dari “harapan” yang jatuh ke dalam tawar-menawar tersebut?

Kembali kearifan DAM bertegas dalam gaya interogasi pada larik terakhir yang dapat dikatakan adalah klimaks dari puisi ini. Ketika sedang terjerat dalam satu upaya pencarian “harapan” yang bahkan ia sendiri pun belum mengetahui jawabannya, DAM justru dengan arif menyerahkan pertanyaan itu kepada masing-masing pembaca. Sesuatu yang beralasan tentunya, sebab betapa pun peliknya sebuah harapan dalam hidup dan kehidupan, toh tetap saja masing-masing individulah yang kelak menentukan jalan pencariannya. Dalam hal ini, bukan hanya penyair, melainkan juga pembaca. Sehingga pada akhir puisinya, DAM memberi gambaran apapun sebagai bentuk jawaban dari “entah, apakah setelahnya seharum mawar?”. Karena jawaban tersebut ada pada ikhtiar dan doa masing-masing manusia dalam mengarungi sisa kehidupan.

Terlepas dari perspektif  yang dipenuhi kesangsian, pengharapan dan hambar-tawar-nanar di atas, ada satu hal yang cukup menarik. Ya, pencomotan frasa “LEMBAR MAWAR” ke dalam sub-judul berikut “seharum mawar” ke dalam larik akhir, justru dapat menegaskan sebuah intense yang berbeda. Mengapa? Karena frasa-frasa tersebut sangat jelas mengacu pada filosofi permainan “Petals around the rose”. Dalam filosofi ini dikatakan bahwa “Lembar-lembar mahkota bunga mawar adalah suatu permainan pikiran menggunakan proses pemikiran lateral yang dimainkan dengan menggunakan lima buah dadu. Permainan ini dimainkan dengan menggunakan program komputer atau dadu sebenarnya yang dilemparkan atau diaduk oleh seorang Potentate of the Rose (seseorang yang mengetahui rahasia dari permainan ini). Pada setiap pelemparan dadu terdapat satu solusi numerik (nilai berupa bilangan). Para pemain berusaha untuk mencapai solusi yang dimaksud dengan berbagai analisa. Bila mereka tidak bisa menebaknya, sang Potentate of the Rose akan memberitahu apa jawabannya, dan sudah menjadi tugas para pemain untuk memikirkan solusi dari pelemparan dadu berikutnya. Jika seseorang berhasil menemukan bagaimana jawaban tersebut dihitung, ia akan menjadi seorang Potentate of the Rose.

Dengan mengacu pada filosofi permainan di atas, maka perspektif lain dari puisi ini adalah; DAM sedang mengajak pembaca untuk bermain “analisa” atau “apresiasi” puisi. Di mana sebenarnya makna dari puisi ini telah DAM ketahui sedetail mungkin, namun tetap dilemparkan kepada pembaca untuk memaknai masing-masing. Atau kemungkinan lainnya--ini patut dikedepankan--adalahmengacu pada sebuah substansi berupa “upaya” yang sedang dijalankannya. Yang mana hasil akhir dari “upaya” tersebut sebenarnya (bisa saja) sudah diketahuinya. Hanya saja, gelombang naik-turun yang menerpa perjalanan “upaya” tersebut membuatnya kembali memunculkan pertanyaan. Pertanyaan ini tentulah tidak perlu jawaban secara langsung, sebab substansi dari pertanyaan tersebut adalah semacam “seruan” atau boleh dikatakan “ajakan” kepada seluruh elemen yang terlibat alam upaya tersebut. Tujuannya tentu saja agar berbenah diri, berjuang sepenuh hati, melangkah lebih pasti, demi mewujudkan tujuan dari “upaya” itu sendiri. Terlebih karena “upaya” dimaksud telah berjalan menyeberangi “tilde” dari 2011 ke 2012. Adapun “upaya” yang menjadi inti pelahiran puisi ini seperti disebut dalam kemungkinan terakhir biarlah seluruh warga BPSM yang menentukan sendiri. Tentu saja dengan melihat, menimbang dan menimang berbagai wacana yang tengah berjalan di sekeliling kita.

Selamat Tahun Baru 2012
Salam DAMai

DUNIA OH DUNIA

Esai: Kajitow El-Kayeni

Puisi adalah sebuah dunia unik yang menggunakan bahasa sebagai medianya. Dengan begitu bahasa di sini hanya berfungsi sebagai alat penyampaian maksud, sehingga makna yang digunakan dalam puisi adalah makna metaforikal bukan makna literal. Dalam dunia batin seorang penyair ada ruang sunyi khusus yang membuatnya melihat segala sesuatu dengan cara yang berbeda: dunia dan segala yang ada padanya. Manakala kita sadar akan hal ini, maka patutlah kepenyairan itu akan mengerucut dan menyentuh langit yang dijunjung sekaligus yang ditujunya. Termasuk sastra itu sendiri, yang mana tujuannya adalah demi mengangkat kemanusiaan dengan nilai-nilai agung. Ini esensi dari sastra seperti yang didengungkan oleh Rendra itu. Tidak disangkal, telihat di sekitar kita banyak penyair dan sastrawan yang lupa pada esensi tadi dan sibuk mengejar estetika. Banyak manusia-manusia yang dianugrahi ruang khusus tadi menjadi buta arah sehingga disebut oleh Rendra mencipatakan karya yang "Kering." Manusia pada umumnya memang memiliki ruang sunyi ini, bisa dikatakan ia adalah bentuk dari nurani. Tapi khusus pada penyair, ia telah memaksimalkannya sehingga penyair menyublim pada puisinya dengan mengambil gambaran dari dunia yang retak itu. Puisi tidak saja isyarat yang terlahir dari perenungan, namun telah melewati berbagai pertimbangan dan memiliki konvensi tersendiri. Maka dari itu, siapa pun dia, apa pun profesinya sebenarnya boleh ambil bagian dan ikut mencipta puisi dengan begitu ia juga menjadi penyair dengan sendirinya.

Yang kemudian menjadi luput adalah kecenderungan untuk mengejar estetika tapi menjadi lupa pada esensinya. Keindahan karya sastra memang serupa apel dari sorga yang hendak diraih oleh berjuta sastrawan dan (meminjam istilah Penyair Imron tohari) penikmat baca. Dengan itu kita hendak menggaris lurus politik selera dan konvensi dalam bersastra. Tetapi yang ingin saya tekankan adalah estetika bukan satu-satunya apel ranum yang hendak kita lumat dengan pemahaman. Lebih jauh sebelumnya kita mesti mengukur esensi di dalamnya. Kenapa begitu? Penyair dan umumnya sastrawan adalah manusia-manusia khusus yang memiliki anugerah ruang sunyi tadi. Jika esensi ini sampai terlepas maka lesatan dari ruang sunyi tadi, ia akan menjadi karya yang kering seperti maksud Rendra di atas itu. Kering dari ruh yang membuatnya subur dan menumbuhkan berjuta-juta inspirasi bagi orang lain. Kering dari semangat luhur mengangkat kemanusiaan yang sejak awal hendak dikejar oleh orang-orang terdahulu sebelum masehi itu. Seperti yang digariskan oleh Plato atau Aristoteles mengenai tujuan sastra ini.

Maka saat berhadapan dengan puisi, pertanyaan pertama yang saya ajukan pada diri saya sendiri adalah mengenai esensi tersebut. Sebuah puisi yang paling cengeng sekalipun adalah sebuah lesatan pandangan batin yang dengannya kata-kata membangun dirinya menjadi sebentuk kode-kode bahasa yang sign oriented (terarah ke tanda-tanda). Tapi apakah kata-kata itu kait-mengait dengan sendirinya, sehingga tiba-tiba muncul dengan ajaib menjadi sesuatu yang agung? Saya tidak setuju dengan pendapat seperti itu karena puisi bukan bintang jatuh yang semata-mata mengandalkan bim salabim atau kun fa yakun. Tanpa adanya latar belakang dan ruh yang menyeret huruf-huruf berjajar sedemikian rupa itu hanya akan memunculkan sesuatu yang kering dan kosong. Bagaimana bisa mengatakan hal yang tak bernyawa seperti itu indah ketika kita sadar ia hanyalah sebentuk kode-kode bahasa yang terlahir karena proses kloning kata: yakni kata itu mengait dengan kata yang lain dan melupakan tujuan yang menyebabkannya ada.

Tanpa ruh dalam tubuh bahasa, mustahil kata-kata itu memunculkan hisapan. Sebagaimana logika kita sulit menerima jika Tuhan tidak mengambil tempat, padahal mustahil Tuhan memerlukan sesuatu selain dirinya. Jalan damainya adalah: Tuhan meliputi segala sesuatu sebagaimana ruh dalam tubuh bahasa.


Pemandangan Yang Jauh
oleh Eimond Esya pada 08 Agustus 2011 jam 22:53

Seperti pemandangan yang jauh,
Yang bukan dari dunia ini
Aku percaya darah dan waktu mengalir di tempat yang sama

Dan seperti pemandangan yang jauh,
Mata dan tanganku melihat dunia ini
Tidak sebagaimana kau melihatnya
Mata dan tanganku melihatnya dan telah
menerima hadiah-hadiahnya
Sebagai serangan-serangan yang kejam
Menerima dirimu, O, kukatakan padamu,
Alangkah sedihnya

Seperti tak ada yang benar-benar pernah kumiliki
Seperti tak satu keindahan pun,
Tak satu sukacita pun

Kaki-kakiku lemah
Darahku merupakan penakut yang berputar kembali

Merupakan lingkaran pertanyaan

Kenapa kita dikirim ke sini
Menempuh jalan yang salah

Kenapa kita selalu mengalami kesunyian di tikungan
Lemparan ketiadaan
dan dunia yang terbelah


Sebagaimana umumnya penyair lain yang menunjukkan ekspresi jiwanya, puisi di atas itu mencerminkan gejolak sama sedang dirasakan penyairnya. Gejolak itu membuatnya gelisah dan menumpahkannya melalui medium bahasa. Ia melihat dunia sebagai pemandangan yang jauh, dunia yang tiba-tiba menjadi asing baginya. Dunia yang dirasakannya terbelah, penyair berdiri dalam ruangan sunyinya dan mengembalikan dunia yang terbelah itu melalui puisi. Puisi Penyair Eimond ini sebenarnya juga telah terrefleksi dalam karya-karya penyair yang lain. Penyair menjerit saat ia meraba dirinya sendiri, saat ia mempertanyakan kemanusiaannya sendiri, saat ia terdampar dalam ruang sunyinya seorang diri, saat ia bernyanyi lirih dengan suara batin tergagap, saat ia menertawakan kesedihan, saat ia memandang dunia yang tiba-tiba menjadi asing. Sebagaimana menengok Pablo Neruda yang tidak yakin dengan keberadaan Tuhan tapi meratap dengan penuh duka:

Oh Bumi, Tunggulah Kami

Kembalikan aku, oh matahari
Pada nasibku yang liar
Hujan hutan purba
Bawakan aku wewangian dan pedang-pedang
yang jatuh dari langit
Kedamaian wingit dari padang rumput dan bukit batu
Kebasahan pada tepian sungai
Aroma pohonan
Angin yang berdegup bagai hati
Mendentumi gelisah tanpa istirah
Puncak-puncak jati.

Bumi, kembalikan hadiahmu yang murni padaku
menara-menara kesunyian yang mawar
dari kekhusukan akar-akarnya.
Aku ingin kembali jadi yang belum kualami
Dan belajar untuk kembali dari kepekatdalaman ini
di antara segala yang alami
tak masalah; aku bisa hidup atau tak
menjadi sebuah batu lagi, batu yang gelap
batu sejati yang dibawakan laluan sungai.


Dalam pemahaman sufistik, mati bukanlah suatu hal yang mengerikan. Ia hanya pintu menuju. Dari laut pulang kembali ke muara. Menuju itu adalah proses untuk mengada dari sesudah ada. Entah dengan bentuk seperti apa tapi kematian menjadi bergerak, kematian tidak berhenti. Hidup di sini menjadi asing sebenarnya. Dalam arti ketidakkekalan dalam hidup ini adalah anugerah sekaligus kutukan. Sartre memaknainya untuk soliter (sunyi) sehingga manusia itu terkutuk untuk bebas. Ini nilai eksistensi menurut Sartre yang lebih penting dari esensi, karena eksistensi lebih dulu ada. Pemikiran semacam ini seharusnya pula yang membuat manusia penyembah logika seperti Pablo mengikutinya. Tapi ternyata tidak. Meski keyakinan Pablo berbeda dengan pemahaman sufistik dan umumnya keyakinan agama di muka bumi, tapi kematian itu ditangkapnya dengan arah yang sama: bahwa kematian itu tidak berhenti, tapi proses menuju.

Sebagai pusat tata surya, matahari dipercaya sebagai pemberi kehidupan. Tanpanya kehidupan tidak akan bertahan lama. Bumi akan membeku jika setahun saja matahari pensiun. Matahari yang oleh orang-orang Mesir Kuno itu disembah dengan sebutan Ra menjadi pusat kesadaran Pablo Neruda, sebagai pusat perlambangan untuk menerima rintihannya sebagai manusia. Matahari dijadikan simbol sebagai wajah Tuhan bagi yang beragama. Pablo tidaklah sedang menyembah matahari itu, namun kesadaran akan mati yang tidak berhenti tapi merupakan proses menuju itu diberitakannya di sini. "Kembalikan aku oh, matahari," katanya. Kembali ke mana? Ke muasal sebelum mengada dalam bentuk manusia tentunya. Kepada alam itu sendiri, menjadi partikel yang entah bagaimana prosesnya menjadi sel hidup. Itulah nasib yang liar. Sebuah perjalanan tak tentu arah, ketika segalanya baru saja berawal seperti hujan hutan purba. Sewaktu bumi masih begitu remaja. Sewaktu kata purba belum ditemukan karena ia berada dalam kepurbaannya sendiri. Hujan hutan purba adalah simbol permulaan dari kehidupan. Di sini dikatakan purba, karena kata itu telah dikenal. Dan Pablo ingin naik kembali ke sana dengan membalikkannya.

Hujan di suatu hutan purba adalah awal dalam keyakinan Pablo. Pada awal itulah akhir akan kembali bergerak ke sana. Ini menarik sekali karena secara naluri tanpa kehadiran Tuhan pun manusia memiliki kesadaran akan mati itu. Bahwa ia adalah rangkaian proses. Dan ini sebenarnya sebentuk pertanyaan atas awal itu sendiri. Apakah proses berputar ini sudah ada dan akan terus seperti demikian? Ini pertanyaan sama yang dicari jawabannya oleh ilmuwan. Tapi ilmu pengetahuan buntu dan tidak dapat memberikan gambaran bagaimana proses menuju ini berawal. Namun ada indikasi segala sesuatu yang eksis pasti ada yang memulai. Dalam puisi ini jawaban itu memang tidak ditemukan. Tapi pertanyaan yang sama mengeram di sana. Di tengah kepasrahannya itu, Pablo merindukan sesuatu yang tidak didapatnya. Kedamaian tentu saja sebuah utopia yang menarik. Namun sejak manusia bercokol di muka bumi ini, adakah kedamian itu benar-benar terwujud? Tanpa disadarinya, Pablo sedang merasakan sebuah hisapan yang jauh melampaui kekuatannya. Ia menjadi kerdil dan mengakui keberadaan sesuatu yang tak tersentuh nalar, dimana hidup yang tidak mampu diteorikan oleh jutaan ilmuwan itu membuatnya gelagapan mempertanyakannya. Hidup yang mustahil ada dengan sendirinya itu memunculkan serangkaian pertanyaan yang tak habis.

Sesuatu yang entah bagaimana bermula dan berakhir menjadikannya terlihat begitu rapuh. Dan saat itulah kita juga mesti bertanya bukankah kekuatan maha yang menghisap itu merupakan cerminan dari adanya Tuhan? Kekuatan itu pula yang membuat Derrek Walcot dengan rindu lautnya meraba dirinya sendiri:


Rindu Laut

Sesuatu telah memindahkan kembali raungan-raungan
dalam telinga rumah ini,
Menggantung tirai-tirainya yang tak tertiup angin
Memukau cermin-cermin
Hingga pantulannya kekurangan intisari

Yang terdengar bagai gemeretak tanah
                                      di bawah kincir angin,
menjadi sebuah pemberhentian mati;
Ketiadaan yang menjadi tuli;
Sebuah hembusan.

Sesuatu itu telah menggelindingi bukit-bukit ini
Menuruni pegunungan,
Membuat isyarat-isyarat aneh
Mendorong pensil ini
Menembusi kehampaan yang tebal kini.

Menakut-nakuti lemari-lemari dengan kesunyian
melipati cucian-cucian apak
seperti bebajuan yang ditinggalkan orang mati
Tepat setelah
Si mati diperlakukan baik-baik oleh yang dicintai.

Tak masuk akal mengharapkan untuk segera ditempati.


Dalam puisi ini, Derek membawa kesunyian itu dan menggantikan bahasa yang tak cukup diwakili oleh kata sunyi itu sendiri. Begitu dekatnya kesunyian itu dengan kematian sehingga si sunyi seolah menggerakkan imajinya pada benda benda yang dikenalinya. Benda-benda sama, tetapi pada momen sunyi itu memiliki arti berbeda. Ia tidaklah mengerti pada kesunyian yang dihadapinya itu maka ia mencatatnya melalui benda-benda yang dirasakannya menjadi asing dan memiliki makna lain. "Sesuatu itu telah menggelindingi bukit-bukit ini," katanya. Padahal tidak ada apa-apa di sana selain kesunyian yang membuatnya soliter tadi. Dari sanalah sesuatu yang diyakininya itu membuatnya meraba dirinya sendiri. Kita tidak sedang membicarakan Tuhan di sini. Tapi sunyi itu seolah Tuhan yang bergerak tanpa gerakan, yang seolah bermuka-muka dengan penyair tapi tak dapat dipahaminya. Sunyi itu menyeret perasaanya pada (mungkin) ketakutan akan kematian. Ini inti sunyi itu, di mana si sunyi tadi menyeret perasaan penyair pada ketakutan akan kematian. Atau si sunyi telah bergerak menjadi sosok Tuhan yang bergerak tanpa gerakan itu. Yang dengannya penyair berada dalam kehampaan sekaligus perasaan asing sebagaimana yang ditunjukkan oleh penyair Eimon Esya, Pablo neruda, begitu juga dengan penyair-penyair yang lain, yang juga membuat kita mempertanyakan hal yang sama.

Dari sanalah menurut saya esensi bersastra itu berangkat. Mungkin ia naik ke atas dan menggugat kekuatan maha yang kita kenal dengan Tuhan. Mungkin juga ia meluncur ke bawah dan mempertanyakan kemanusian yang sebenarnya hendak diangkat oleh sastra dengan nilai agungnya itu. Maka tak heran jika Rendra menolak bantuan sembilan milliar pertahun dari Amerika karena ia merasa dibeli(?). Ketika ingat hal itu, apa yang saya nyatakan di atas tadi mungkin masih perlu dipertanyakan lagi: akankan esensi yang berangkat dari perabaan penyair atau sastrawan tadi benar-benar meruncing yang menyentuh langit yang dijunjung sekaligus ditujunya? Sekali lagi dengan rendah hati Rendra menolak bantuan tersebut dan dialihkan pada orang lain. Tapi apakah orang-orang atau kelompok yang menerima uang ini akan dikatakan tidak beresensi lagi jika hal itu bermanfaat (meski mungkin hanya untuk golongan dan orang terdekat)?

Saya tidak tahu.

Sikap yang saya ambil adalah ikut bernyanyi sedih seperti Penyair Eimond termasuk juga yang lain, saya ikut menertawakan kesedihan yang terjadi di dunia sastra dengan nyanyian sedih itu.

"Kenapa kita selalu mengalami kesunyian di tikungan
Lemparan ketiadaan
dan dunia yang terbelah"

 
*) Puisi-puisi diambil dari Facebook dan Horison atas terjemahan Agus R. sarjono dan Nikmah Sarjono

***
 
Dunia oh dunia, hiks dan haha

Kajitow