Jumat, 30 Desember 2011

SEBUAH PEMBACAAN PUISI KARYA DIMAS ARIKA MIHARDJA

Oleh: Kajitow El-Kayeni, Suko Rahadi, dan Hadi Napster



KUKIRA BEGINI NANTI JADINYA
: untuk warga bpsm

meski bukan dukun, peramal, atau paranormal
kukira begini nanti jadinya: kau kawin, beranak dan berumah
sedang aku terus saja serupa chairil anwar menjumput kata yang mawar
menikmati debar keharuan, tak lelah menciumi aroma-Nya

meski bukan astrolog, biolog, atau theolog
kukira begini nanti jadinya: kau berobat, tobat, dan bersijingkat
menapaki lorong-lorong waktu mencari sesuatu
sedang aku terus saja memuja sembilanpuluhsembilan nama
di tikar sembahyang, mengusap debu jalanan
menangis oleh keharuan

meski bukan penyair, penyihir, atau penyiar
kukira begini nantinya: engkau tertawa karena tertawan
geriap kata di ujung senja di pantai yang bergelora
sedang aku terus saja menjadi butir-bnutir pasai di pantai
merindu cumbuan angin, disapu dan diusap lidah ombak
yang menyempurkan jejak menuju sebuah pintu
diam dalam dekapan keabadian

29/12/2011


(1)

saya mencermati gaya humor dalam beberapa puisi mas Dimas Arika Mihardja, tapi humor itu terkadang lari ke arah getir. humor itu terkadang terayun pada kemuraman. humor itu seolah hanya pintu masuk kepada sebenar ruang di dalam puisi. dan saya pun mengamati puisi-puisi mendadak mas dimas tetap memiliki keterpusatan dan tujuan yang jelas meskipun itu mungkin juga belum final. tapi dengan pembacaan yang mendadak pula saya memahami di balik gaya humor itu ada celah renung di sana. hasil tempaan hidup sebagai penyair yang kenyang asam-garam dinamika kepenyairan. diksi yang dipilih pun sederhana dan akrab, bahkan dalam pemilihan judul dan pembentukan puisi mungkin sengaja tidak dibuat sulit agar mudah dicerna. dengan sendirinya puisi ini melambangkan kedekatan antara penyair dan warga bpsm yang ditunjuk sebagai alamat penyampaian maksud, layaknya teman ngopi bersama, teman bersenda gurau, teman yang akrab.

puisi ini seperti tingkatan candi borobudur. ada tingkatan dasar, menengah, dan lanjut. tingkatan itu akan terlihat dari arah tujuan yang dikehendaki penyair dengan serangkaian perkiraannya itu. tidak terlihat memang jika hanya dibaca sekilas, dan itu menipu mata pembaca, apalagi dengan gaya akrab yang melekat pada puisi ini.

pada bait pertama puisi ini, kesan humor itu terlihat dari pengakuan aku lirik mengenai keadaannya yang bukan dukun, peramal, atau paranormal. seseorang yang dikatakan mengetahui masa depan dengan identitas tadi itu tentu tidak asing bagi kita, seseorang yang linuwih dan dianggap sakti. tetapi itu kemudian memunculkan kesan humor ketika aku lirik berkata pada seseorang yang disebutnya kau mengenai perkiraan masa depan. padahal aku lirik bukan orang sakti katanya. tapi ia mempunyai prediksi itu. "kukira begini nanti jadinya: kau kawin, beranak dan berumah" pernyataan yang akrab itu memiliki tujuan usia tentunya. yang hendak ditunjuk dengan"kau akan kawin" itu adalah kawula muda. ini penggambaran umum dengan fungsi simbolik. "kau akan kawin" tidak hendak mengatakan yang pernah kawin disuruh kawin lagi, tapi itu simbol usia tadi. seolah-olah penyair sedang berujar, wahai warga bpsm yang muda-mudi (yang kebetulan belum kawin) nanti kau akan kawin, beranak, berumah tangga." jadi ini bisa dikatakan sebuah nasehat yang bijak dengan balutan bahasa yang sederhana dan dekat. dari nasehat itu terkandung maksud: persiapkan dirimu.

kemudian nasehat tadi itu menjadi terasa getir menurut saya. ketika aku lirik memisahkan dirinya dengan perkataan, "sedang aku terus saja serupa chairil anwar menjumput kata yang mawar / menikmati debar keharuan, tak lelah menciumi aroma-Nya." ini simbolik juga sifatnya. aku lirik menyerupakan dirinya dengan seorang penyair bernama chairil. seperti kita tahu chairil itu salah satu penyair yang total hingga lekat istilah binatang jalang padanya. chairil benar-benar hidup dari dan untuk puisi. ia tidak tertarik dengan pekerjaan lain. puisi adalah segala-galanya bagi chairil. dan itu terasa getir manakala penyair menepi dan menikmati debar setiap kata mawar (puisi) hingga membuat penyair tak lelah menciumi aroma-Nya. kata ganti orang ketiga itu referen kepada apa atau siapa? tentunya itu mengarah kepada tuhan. dengan "kata yang mawar" tadi penyair mendekatkan diri pada pemilik bahasa, kepada tuhan yang telah memberikan pemahaman kepada penyair akan keagungan tuhan dalam berpuisi tadi. "haru" mungkin yang dikatakan oleh aku lirik. tapi haru itu kembali pada kata yang mawar, bukan kepada kau lirik yang kelak menikah dan memiliki anak. haru itu terasa getir saat penyair dengan sifat totalnya dalam berpuisi tadi terlihat masyuk dan terpisah dari realita kau lirik.

(2)

bait ke dua menggunakan wajah perulangan bait pertama meski memiliki kandungan isi yang berbeda. kali ini aku lirik mengambil simbol orang-orang yang dikenal cerdas, memiliki akurasi dalam pengamatan, dan memahami hukum-hukum keagamaan. "meski bukan astrolog, biolog, atau theolog." simbol itu menjadi peniadaan sifat aku lirik. artinya tiga orang yang berprofesi berbeda tadi memiliki kecermatan dan ketajaman intuisi serta kedisiplinan dalam ilmu agama. aku lirik memang tidak berprofesi demikian tetapi prihal yang hendak disampaikan pada kau lirik itu tidak boleh dianggap remeh dan/atau bisa disamakan dengan ketiga simbol tadi. "kukira begini nanti jadinya: kau berobat, tobat, dan bersijingkat / menapaki lorong-lorong waktu mencari sesuatu," di sini nasehat itu kembali ditujukan kepada pihak berbeda yaitu lebih kepada orang yang sudah dewasa. karena gambaran berobat itu untuk orang yang sadar dirinya sakit. ini sakit rohani tentunya. anak muda cenderung tidak peka terhadap penyakit ini, maka dikatakan berobat itu untuk usia dewasa. begitu juga dengan tobat, bagi yang sudah merasa dirinya punya penyakit rohani tadi kemudian sadar usia sudah tidak remaja lagi, kesadaran tobat mulai datang. sedangkan bersijingkat dan seterusnya itu sebagai gambaran laku kau lirik dalam mencari kebenaran dalam hidup. bahwa hakikat hidup itu bukan hanya di dunia saja.

ini undakan ke dua setelah undakan pertama tadi. bisa jadi ini merupakan kelanjutan fase pertama, tetapi akan lebih mudah jika puisi ini dipandang dalam satu momen yang sama: aku lirik sedang memberikan wejangan kepada setiap orang sesuai tingkatan usianya.

hal yang sama juga terasa dalam bait ke dua ini. aku lirik terlihat mengheningkan cipta dalam ruangan sunyinya. "sedang aku terus saja memuja sembilanpuluhsembilan nama / di tikar sembahyang, mengusap debu jalanan / menangis oleh keharuan," ini juga senada dengan bait pertama tadi. aku lirik dengan jalan pribadinya memuja kebesaran tuhan yang digambarkan dengan jumlah bilangan namanya. karena penyair adalah seorang muslim, aku lirik terbentuk sesuai terminologi keislaman. bukan untuk mengkotakkan diri, tetapi demi menghidupkan sosok aku lirik, demi memberi roh sepiritualitas padanya. maka sembilan puluh sembilan itu adalah asmaulhusna. tuhan dalam terminologi agama samawi memiliki ribuan nama, seribu diberikan pada malaikat, seribu pada jin, seribu pada manusia. untuk nabi-nabi terdahulu diberi bagian masing-masing. khusus dalam alquran disebutkan sembilan-puluh sembilan yang satu ismu dzat. jadi genap seluruh nama-nama tuhan itu. begitulah penyair beringsut dari keramaian sosok kau lirik yang mencari hakikat hidup. ini juga merupakan sebuah percontohan pula sebenarnya, seolah penyair ingin berkata bahwa apa yang dijalani kau lirik itu juga pernah dilaluinya. dan puncak pencarian itu adalah pada tuhan juga yang menjadi muara segala aliran kehidupan.

ada gaya retorika penyampaian dalam bait ke dua ini. penyair mengatakan, "di tikar sembahyang, mengusap debu jalanan" ini memiliki ganda juga, tapi saya fokuskan pada satu saja. penyair tidak melakukan cara-cara radikal untuk menemukan tuhan dalam pemujaannya, semua itu dilalui dnegan ibadah seperti tuntunan nabinya. di tikar sembahyang menunjukkan bekas perbuatan shalat, juga mungkin dzikir dan doa sesudahnya. kemudian disambungnya mengusap debu jalanan, ini adalah lambang dari perbuatan dosa yang dihapusnya dengan ibadah tadi. penyair selaku manusia menyadari kekhilafannya, dan itu ditebusnya dengan melakukan perintah agama. seperti yang tekah diyakini, perbuatan baik itu akan menghapuskan dosa. tapi bahasa itu disampaikan dengan dua lambang, tikar sembahyang dan debu jalanan. tikar sembahyang identik dengan kesucian, karena shalat harus suci hadas kecil dan besar. sedangkan debu jalanan adalah perwakilan dari keadaan yang kotor. debu memang bisa digunakan untuk bersuci, tapi tidak sembarangan debu. penyair mengambil simbol debu jalanan untuk menguatkan kesan kotor itu. jalanan tentu dipenuhi dengan banyak hal, ada tumpahan oli, debu itu sendiri, kotoran ternak, bekas ban kendaraan, dan lain-lain. debu jalanan identik dengan sesuatu yang kotor.

dua perlambangan tadi mewakili dari dua perbuatan yakni ibadah dan kesalahan dalam hidup yakni dosa. dengan gaya penyampaian retorik penyair ingin mengatakan, sosok kau itu sedang mencari hakikat hidup dengan, berobat (dari penyakit rohani), bertobat, dan bersijingkat (bergegas pada kebaikan) tetapi di sisi lain, aku lirik ingin menyampaikan bahwa itu pula yang sekarang dilakukannya, bahkan ia telah melampaui pencarian akan hakikat hidup oleh kau lirik yang setengah umur tadi, dengan menunjukkan tikar sembahyang sebagai pelabuhan air matanya untuk menghapus dosa-dosa yang semestinya sebagai manusia pasti dimilikinya. dan uniknya kenyataan akan hal itu tertutupi oleh bahasa simbolik dan penyampaian yang sederhana seolah bertutur sanatai pada sahabat sepermaian saja.

‎(3)

ada sedikit perbedaan ketika sampai bait ke tiga, penyair seolah menyangkal dirinya bahwa profesinya adalah sebagai penyair. yaitu dengan ucapannya, "meski bukan penyair, penyihir, atau penyiar," ini bukan sebagai peniadaan mutlak, khusus untuk lambang "penyair" itu, sebenarnya hal demikian merupakan tempat sembunyi saja, seolah penyair melebur kepada aku lirik dalam puisinya. artinya penyair Dimas Arika Mihardja, tidak nyata dalam bait ini tapi melebur kepada aku lirik tadi. ia menjadi subyek di balik subyek yaitu diri penyairnya. dapat juga dimaknai hal itu adalah sebagai bukti kerendahan hati, penyair yang telah kenyang pengalaman sedikitpun tidak ingin melebihkannya. apalagi memamerkannya seperti beberapa orang penyair itu. maka hal itu dikatakannya, "meski bukan penyair..." dalam bait ketiga ini kembali aku lirik membidik lawan bicaranya sesuai usia, yaitu usia tua. "kukira begini nantinya: engkau tertawa karena tertawan / geriap kata di ujung senja di pantai yang bergelora," di ujung senja merupakan lambang dari usia sesudah dewasa tadi yaitu usia tua. penyair sengaja mengajak sahabat (yang menjadi tujuan puisi ini dibuat seperti tertulis di bawah judul itu) untuk berdialektika. maka dalam bait ketiga ini simbol yang dipakai penyair lebih rumit dari yang sebelumnya. hal itu dimaksudkan untuk menghindari kesan kasar. karena usia lebih tua biasanya lebih peka menangkap isyarat dan simbol.

apa yang hendak disampaikan penyair lebih halus dan lebih hati-hati, itu diawali dengan meniadakan dirinya sebagai penyair, penyihir, dan penyiar. padahal ketiga simbol tadi merupakan orang-orang yang memiliki pengaruh pada khalayak, orang-orang yang didengarkan, orang-orang yang dikenal. tapi penyair justru tidak ingin tampil seperti itu, ia merendah dan mengakrabkan dirinya pada sosok yang disifatkan, "kukira begini nantinya: engkau tertawa karena tertawan / geriap kata di ujung senja di pantai yang bergelora." hal ini kemudian terasa kontras ketika sampai pada, "sedang aku terus saja menjadi butir-bnutir pasai di pantai / merindu cumbuan angin, disapu dan diusap lidah ombak / yang menyempurkan jejak menuju sebuah pintu / diam dalam dekapan keabadian." di satu sisi kau lirik akan mendapatkan kebahagiaan dan keasyikan dengan "geriap kata" itu, namun di sisi lain aku lirik malah menyiratkan sesuatu yang kontras, yaitu keadaannya yang dengan bahasa sederhana bisa diartikan ia juga dalam lautan keindahan yang digeluti oleh kau lirik, tapi hal itu untuk menyempurnakan jejak menuju sebuah pintu keabadian. ini memang bisa dimaknai berbeda, misalnya diam dalam dekapan keabadian itu adalah sebuah pencapaian cita-cita yang sempurna. tapi itu pemaknaan yang lebih jauh dari ungkapan tadi. sebenarnya ini merupakan sebuah sentilan agar pihak kau lirik (dalam usia matang) menimbang lebih jauh bahwa ada hal-hal yang jauh lebih penting disikapi, yaitu menyempurnakan jejak menuju pintu keabadian. dengan kata lain berserah diri dan menyempurnakan kekurangan dalam peribadahan.

puisi yang disebut penyairnya sebagai karya dadakan ini memiliki kerumitan tingkat tinggi. dengan pola repetisi setiap bait itu mewakili tingkatan umur seumpama tingkatan candi borobudur. dan di setiap bait itu pula pilihan diksi dan simbolnya juga disesuaikan dengan pihak yang dituju. belum lagi menyorot strategi retoris yang matang pada puisi ini menunjukkan adanya sebuah ide yang telah mengendap, meski itu dituturkan dengan spontan ke dalam puisi. sebuah nasehat yang bijak dalam menyikapi kehidupan. nasehat itu tidak diberikan sebagai sosok yang dilingkupi keagungan seperti simbol-simbol yang ditampiknya di atas itu. tetapi penyair ingin bersahaja dan berlaku layaknya sahabat. mengingatkan yang lupa, menunjukkan yang bingung, dan menyentil yang keasyikan sehingga tetap memiliki tujuan hidup yang sejati, yaitu pada yang maha hidup. sebuah kemenangan kelak dalam ketenangan abadi. seperti kata penyair, "yang menyempurkan jejak menuju sebuah pintu
diam dalam dekapan keabadian."

***

kajitow
dalam mode mendadak pula

Catatan Suko Rahadi:

Mas kajitow telah membongkar puisi Prof. DAM secara rinci bait perbait. Nah, apakah puisi harus dikupas satu persatu baik kata, baris, maupun baitnya? terserah saja, kita mah bebas mengupasnya. he.he..lalu apa yang menarik dari puisi itu? jika kita perhatikan, yang paling menonjol dalam puisi ini adalah ulangan-ulangannya. Ulangan itu terjadi baik pada kata, baris, maupun baitnya. ulangan dalam puisi Prof. DAM itu diantaranya berupa paralelisme, yaitu penjajaran kalimat yang artinya mirip atau hampir sama, hanya dengan mengganti sebagian katanya saja. bisa kita lihat:

meski bukan....
kukira begini....

diulang pada tiap bait. inilah rahasia kekuatan puisi tersebut. Jika mantera pembuka ini dihilangkan atau diganti, maka daya pesona puisi itu akan luntur. ini adalah ciri sastra lama, sastra mantera. si aku seoalah merapal mantera di setiap awal baitnya dengan tujuan agar sesiapapun yang mendekatinya akan hormat dan segan. diakui atau tidak, setiap pembaca akan terkonsentrasi pikirannya pada kalimat itu karena memang di sana terdapat "kekuatan gaib"

si aku sebenarnya ingin mengatakan siapa dirinya yang sesungguhnya lewat baris pertama dalam tiap baitnya. "akulah DAM" mungkin begitu kira-kira. jika kita perhatikan, dalam kebanyakan puisi Prof. DAM memang demikian adanya. rima tidak hanya dalam akhir baris, namun dalam satu baris seringkali terjadi persamaan bunyi.

puisi yang sangat seimbang, sungguh simetris. bait dan barisnya tersusun rapi. hal ini menimbulkan intensitas arti dan penciptaan arti baru karena kesejajaran homologues. dengan persamaan atau ulangan yang berturut-turut dan hampir sama itu maka timbul orkestrasi dan irama yang menyebabkan rilis. ini merupakan makna di luar kebahasaan.

Catatan Hadi Napster:

Chairil Anwar dahulu pernah berkata, “Yang bukan penyair, tidak ambil bagian.” Kalimat yang dinyatakan dalam sebuah wawancara di radio Belanda di atas, dengan tegas membagi antara “penyair” dan “bukan penyair”. Dikarenakan sebuah konsepsi seni secara umum yang menyatakan bahwa puisi adalah sesuatu yang luhur, mulia, dan memiliki nilai lebih di atas tulisan lainnya, maka oleh Chairil ditegaskan bahwa hanya penyairlah yang boleh mencipta syair, puisi, dan semacamnya. Sebab penyair adalah manusia yang istimewa, teladan dan dapat menciptakan sesuatu yang luhur pula.

Kalimat Chairil di atas mengundang protes sepanjang tahun 70-an hingga 80-an. Salah satunya adalah “Perkemahan Kaum Urakan” di Parangtritis yang dikomandoi oleh WS. Rendra. Dan yang paling fenomenal yakni “Gerakan Mbeling” yang dimotori oleh Jeihan Sukmantoro, Remy Sylado, Abdul Hadi WM, dkk. Kedua protes tersebut dimaksudkan sebagai bentuk protes terhadapa “keluhuran” puisi (keluhuran dalam tanda petik) sebagaimana dinyatakan Chairil. Tujuannya tentu saja ialah untuk membumikan puisi itu sendiri, sehingga pada masanya bukan hanya “penyair” yang dapat menulis puisi, tetapi semua orang berhak menulis puisi. Entah itu profesor, dosen, guru, tentara, polisi, pedagang, sopir angkot, pelayan WarTeg, pengamen, babu, semuanya. Dengan demikian nilai-nilai keluhuran sebuah puisi tidak hanya menjadi milik penyair saja, melainkan semua orang. Sebagaimana pernyataan Jeihan, “Dengan tegas saya katakan, yang bukan penyair boleh ikut ambil bagian. Ini artinya setiap orang boleh menulis puisi, boleh main-main dengan puisi. Gembira ria dengan puisi.”(Mata emBeling, 2000: 14).

Lalu, apa hubungannya dengan puisi di atas? Barangkali kita tidak akan menelisik sejauh mungkin ke dalamnya untuk mengurai setiap intensi, tetapi sebuah perspektif yang mengembrio pada pandangan di atas dapat disimpulkan dari larik-larik: “meski bukan dukun, peramal, atau paranormal/kukira begini nanti jadinya: kau kawin, beranak dan berumah” yang dilanjutkan dengan; “meski bukan astrolog, biolog, atau theology/kukira begini nanti jadinya: kau berobat, tobat, dan bersijingkat”, serta “meski bukan penyair, penyihir, atau penyiar/kukira begini nantinya: engkau tertawa karena tertawan.”

Namun buru-buru harus ditambahkan, bahwa puisi DAM di atas jauh lebih merangkul kisi-kisi kehidupan, memanusiakan manusia, tentunya lewat pertarungan di kancah sastra. Bahkan jika boleh dikatakan, puisi di atas ialah serupa seruan yang meliputi segala aspek kehidupan. Tengoklah, “aku terus saja serupa chairil anwar menjumput kata yang mawar menikmati debar keharuan”. Begitu juga dengan “menapaki lorong-lorong waktu mencari sesuatu” atau “terus saja menjadi butir-butir pasai di pantai”. Kegelisahan seorang DAM akan kekinian kehidupan yang kian karut-marut, penuh sengketa (silang-sengkarut), sangat jelas terlihat dari kalimat tersebut.

Ada kesamaan rasa dengan seorang Chairil Anwar yang tak jua kunjung menemu “eksistensi” hakiki, atau jalan terang bagi misteri kehidupan yang dilakoninya, sampai pada akhir hayatnya. Betapa tidak, keresahan neurotik yang dirasakan oleh Chairil Nampak sangat jelas dalam larik puisi TAK SEPADAN; “Aku kira/Beginilah nanti jadinya/Kau kawin, beranak dan bahagia/Sedang aku mengembara serupa Ahasveros/Dikutuk sumpahi Eros”. Kegelisahan-kegelisan Chairil inilah yang nampaknya menjadi ilham pencetusan puisi di atas. Akan tetapi harus digarisbawahi bahwa, ketegaran, kebersahajaan, dan ketwakkalan seorang DAM dalam mengarungisamudera kehidupan jauh lebih “matang” dibandingkan Chairil Anwar. Jika dalam puisi Chairil Anwar kita tidak mendapati sebuah “solusi” alias pencarian tetap saja menjadi misteri, maka dalam puisi DAM sangat terang dan jelas, “menikmati debar keharuan, tak lelah menciumi aroma-Nya”, begitu juga dengan “sedang aku terus saja memuja sembilanpuluhsembilan nama”, “yang menyempurkan jejak menuju sebuah pintu
diam dalam dekapan keabadian”.

Alhasil, puisi di atas telah menerkam kegundahan cucu-cucu Adam yang membacanya. Sebagai refleksi, syiar, introspeksi diri, bahwasanya hakikat kehidupan hanyalah satu—dari-Nya dan kembali pada-Nya. Toh jika pada awal komentar saya sengaja menyeretnya ke dalam perspektif geliat sastra, semata-mata karena pilihan seorang DAM yang telah memutuskan untuk merangkul anak-anak muda, generasi-generasi belia, untuk bersama-sama menghidupkan kesusastraan ini dengan sepenuh nafas. Dan mereka yang terangkul itu bukan hanya “penyair” sebagaimana kata Chairil Anwar, melainkan orang-orang yang penyair dan juga bukan penyair.
 
Lantas, apa tendensinya melakukan itu? Mencari namakah? Hendak mencatat sejarakah seorang DAM? Wallahualam… Namun keyakinan saya masih sama, bahwa ketika Presiden Penyair diam-diam menanggalkan mantra dan membuang muka bagi mereka yang orang biasa, dan ketika Raja Penyair mengatakan padanya, “Puisi di Facebook itu puisi sampah! Untuk apa kau urusi?” Hal-hal demikian inilah yang memacunya untuk menancapkan panji, mengibarkan bendera sastra, memunguti sampah-sampah, mendaur ulangnya kembali, untuk dijadikan rantai mutiara. Dan sejarah akan melihat itu semua! Ya, kita semua, bukan hanya Dimas Arika Mihardja yang bersahaja itu.

Demikian.

Selasa, 27 Desember 2011

MANINGAU NILAI SOSIAL BUDAYA DAN NILAI SENI BUDAYA BANJAR

Oleh : Arsyad Indradi

Sejak zaman Datu Nini baik Nilai – Nilai Sosial budaya dan Seni Budaya Banjar sudah tertanan dalam masyarakat Banjar. 

I. Nilai Sosial Budaya Banjar

Nilai Sosial Budaya seperti keterampilan dan kerajinan yakni anyaman, masakan, batik, kamasan, ukir dan tatah. Anyaman dengan bahan tumbuhan purun yang menghasilkan tikar purun, bakul purun. Bahan paikat (rotan) yang menghasilkan bakul, lanjung, arangan gayak, bakul kayang ( tangkiding ), bakul pamasakan, butah, rambat, tangkitan bukit dan lain – lain. Daun nipah yang menghasilkan “tanggui“ ( tudung ), ketupat, kajang dan lain – lain. Atap rumbia yang bahannya dari daun rumbia. Dari bahan ijuk menghasilkan sapu ijuk dan tali ijuk. Demikan juga masakan berupa empat puluh satu macam kue, gangan asam, gangan balamak, gangan haliling, soto Banjar dan lain – lain. Batik Banjar berupa kain sasirangan, dinding airguci, tapih (sarung) wanita. Sasirangan adalah batik khas Kalimantan Selatan yang pada jaman dahulu digunakan untuk mengusir roh jahat dan hanya dipakai oleh kalangan orang-orang terdahulu seperti keturunan raja dan bangsawan. Proses pembuatan masih dikerjakan secara tradisional.

Masyarakat Banjar seperti masyarakat Banjarmasin, Nagara dan Martapura yang juga sebagai pengrajin kamasan ( tukang perhiasan ) bahan emas, suasa dan perak. Hasil kerajinan itu berupa : Giwang (anying-anting) seperti bonel ros barumbai, bonel air tetes, bonel air tetes barumbai dan lain-lain. Galang ( gelang ) tangan seperti galang baintan, galang rantai, galang rantai sulapit dan lain-lain. Galang batis ( kaki ) seperti galang batis buntut cacing, galang batis malati, galang wancuh.Utas (cincin) seperti utas balah paikat, utas mata satu asur wawaluhan, utas mata satu bagimus (polos), utas mata satu tusuk, utas ros parimata intan, utas rantai, utas baserong dan lain - lain. Kakalung seperti kakalung rantai sulapit, kakalung madaliun barumbai, madaliun ros, madaliun mata tiga, madalin mata satu dan lain-lain. Cucuk baju seperti cucuk baju seribu manis, cucuk baju paniti, cucuk baju daun basontek, cucuk baju daun baintan dan lain - lain. Cucuk konde seperti cucuk konde kulipak katu, cucuk konde daun talu, daun lima, cucuk konde daun seribu manis, cucuk konde ros, cucuk konde daun baintan dan lain-lain.

Ada hasil kerajinan dari bahan kuningan seperti pakucuran/peludahan, sasanggan panginangan, celengan dan lain-lain. Ada hasil kerajinan tembikar seperti dapur, kapit, tajau halus dan besar, cocot ( sejenis ciret/teko ) dan lain – lain.
Ukir dan tatah seperti dalam bentuk tatah surut (ukiran berupa relief); tatah babuku (ukiran dalam bentuk tiga dimensi), tatah baluang (ukiran “bakurawang”) dan lain – lain.
Nilai Sosial Budaya yang menjadi tempat – tempat objek wisata, di Tanah Banjar banyak jumlahnya di antaranya Pasar Terapung, pendulangan intan dan keindahan alam seperti Pulau Kambang, Gua Liang Hidangan, tempat keramat dan lain – lain.

Pasar Terapung adalah pasar tradisional yang sudah ada sejak dulu dan merupakan refleksi sosial budaya sungai orang Banjar. Pasar yang khas lagi unik ini tempat melakukan transaksi jual beli bahkan ada yang berupa barter di atas air dengan menggunakan jukung ( sampan ) yang berdatangan dari berbagai pelosok, membawa dagangan berupa lalapan ( sayur – sayuran ), buah – buahan, pancarakinan ( rempah masakan dan belah pecah ) juga makanan dan minuman. Pasar Terapung hanya berlangsung pada pagi hari sekitar jam 05.00 hingga 07.00 setiap hari. Pasar terapung ini ada dua lokasi yaitu di Kuin wilayah Banjarmasin dan Lok Baintan wilayah Kabupaten Banjar.
Seperti juga di daerah lain, Kalimantan Selatan memikili tradisi budaya dan seni budaya.
Tradisi Budaya yang kental dalam masyarakat Banjar seperti upacara kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, kematian, baayun anak, mamalas banua/manyanggar banua, aruh ganal, badudus dan lain – lain.

Di sini akan “ditingau sakilaran “ mengenai tradisi baayun anak dan badudus.

a. Baayun Anak

Yang lebih menarik adalah menidurkan anak ini sang ibu sambil bernyanyi dengan suara merdu berayun-ayun atau mendayu-dayu.
Isi lirik ini, puji-pujian pada anaknya yang ”bungas langkar ” dan doa agar anaknya kelak kuat imannya dalam agama sampai akhir hayatnya.
Kalau tidak berupa syair atau pantun, sang ibu membaca salawat rasul atau ayat – ayat suci Al Qur’an.

Ayun Bapukung adalah menidurkan anak dengan cara sang anak didudukan dalam ayunan dibalut dengan kain tapih sebatas leher.
Ayunan untuk ”guring bapukung” tak bedanya dengan ayunan dengan posisi dibaringkan yaitu terbuat dari tapih bahalai atau kain kuning dengan ujung –ujungnya diikat dengan tali haduk ( ijuk ). Ayunan ini biasanya digantungkan pada palang plapon di ruang tengah rumah. Pada tali tersebut biasanya diikatkan Yasin, daun jariangau, kacang parang, katupat guntur, dengan maksud dan tujuan sebagai penangkal hantu – hantu atau penyakit yang mengganggu bayi. Menidurkan anak dengan bapukung biasanya lebih cepat tertidur dari pada mengayun posisi berbaring.
Maayun anak ini terkadang diadakan pada acara Mauludan yakni tanggal 12 Rabiul Awwal. Dengan maksud agar mendapat berkah kelahiran Nabi Muhammad SAW
Pada perkembangannya, maayun anak ini menjadi sebuah tradisi budaya yang setiap tahun digelar dengan istilah “ Baayun Maulud” Baayun Maulud ini sungguh berisi pesan-pesan religiusitas, filosofis dan local wisdom ( kearifan local ).

Baayun Maulud ini setiap tanggal 12 Rabiul Awwal yakni menyambut dan memperingati Maulud Rasul, oleh masyarakat Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara selalu mengadakan upacara Baayun Anak atau Baayun Maulud. Tradisi budaya ini mulai popular sejak tahun 1990-an.
Juga, Baayun Anak ini adalah salah satu agenda tahunan bagi Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Selatan. Yang lebih unik lagi pesta Baayun Anak ini bukan hanya baayun anak tetapi pesertanya juga baayun nenek dan kakek. Mereka sengaja ikut baayun karena nazar. Nazar ini karena sudah tercapai niat atau terkabul hajat seperti sudah naik haji, mendapat rejeki yang banyak atau untuk maksud agar penyakitnya hilang atau juga panjang umur.

2) Badudus

Setiap suku bangsa di Indonesia mempunyai adat budayanya masing- masing, ada yang berbeda dan ada juga hampir sama. Dalam kesempatan ini diperkenalkan adat yang ada di suku Banjar yang mendiami Tanah Borneo bagian selatan yakni Kalimantan Selatan, yaitu Acara Badudus.

Badudus adalah acara mandi – mandi.. Acara ini ada tiga jenis, yaitu Badudus Tian Mandaring, Badudus Pengantin Banjar, dan Badudus untuk Keselamatan.
a) Badudus Tian Mandarin
Acara Badudus Tian Mandaring adalah acara Mandi – Mandi perempuan hamil pertama kali yang usia hamilnya Tujuh Bulan. Sesaji yang diadakan berupa kue – kue yang jumlahnya 41 macam. Minyak Likat Buburih adalah sebagai bahan Tapung Tawar. Air yang dimandikan berupa air yang berendam beraneka bunga sehingga air ini beraroma harum.

b) Badusus Selamatan Tahunan

Acara Badudus merupakan tradisi masyarakat Banjar terutama sebagian masyarakat Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara. Acara ini diadakan dua kali setahun yaitu acara Mandi-Mandi dilaksanakan pada pertengahan tahun Hijrah yaitu sekitar bulan Jamadil Akhir dan Selamatan Tahunan diadakan pada awal tahun Hijrah yaitu bulan Muharram . Masyarakat Amuntai sangat tebal kepercayaannya terhadap Legenda Lambung Mangkurat, bahwa raja-raja Negara Dipa seperti Empu Jalmika, Pangeran Suryanata, Pangeran Suryaganggawangsa dan lain-lainnya itu sampai sekarang masih hidup dan berada di alam gaib dan sewaktu-waktu mereka dapat diundang. Kepercayaan ini dianut secara turun temurun dan jika tidak dilaksanakan maka mengakibatkan malapetaka bagi keluarga mereka misalnya ada yang kurang waras atau kena penyakit. Sesaji yang harus diadakan adalah 41 macam kue dan yang tidak boleh ketinggalan yaitu “ Bubur Habang Bubur Putih “, “ Kopi Pahit “, Cingkaruk Batu “, “ Rokok Jagung “, dan “ Minyak Likat Buburih “.

Serangkaian acara Badudus Selamatan Tahunan ini diadaakan lagu-lagu Badudus yang diiringi tetabuhan yang terdiri dari biola dan Tarbang Besar atau Tarbang Burdah. Ada beberapa repertoire dalam acara ini yang susunannya tidak boleh tertukar, yaitu :
Repertoire pembukaan adalah lagu Kur Sumangat, merupakan lagu mengundang roh – roh dari raja-raja yang gaib di tengah kepulan asap dupa dan kemenyan. Isi lagu adalah undangan dan ucapan maaf jika ada kesalahan dalam menyediakan sajian atau dalam pelaksanaan terdapat kekeliruan dan sebagainya.selesai lagu ini, diadakan acara Tapung Tawar yang disebut Tatungkal dengan memercikkan minyak Likat Buburih d atas kepala pada yang dimandikan dan pada keluarga. Repertoire yang kedua Lagu Girang –
Girang, pernyataan kegembiraan. Repertoire yang ketiga adalah lagu Mandung Mas Mirah, lagu untuk menyambut puteri – puteri yang diundang. Repertoire yang keempat Lagu Dundang Sayang, berfungsi sebagai penghibur pada para undangan yang hadir. Repertoire yang kelima adalah Lagu Tarabang Burung, lagu menyambut atau menyongsong para roh – roh yang datang. Repertoire yang terakhir yaitu Lagu Burung Mantuk, l;agu untuk menghantarkan pulang para roh – roh yang telah menghadiri upacara tersebut.
Tidak jarang dalam upacara Badudus ini banyak orang – orang yang hadir kesurupan. Setelah selesai Lagu Burung Mantuk dinyanyikan yang kesurupan tersebut sadar kembali. Fungsi penyanyi terkadang adalah juga sebagai pawang dan berperan sebagai pemimpin acara. 

c) Badudus Pengantin Banjar

Acara Badudus Pengantin Banjar adalah suatu acara adat masyarakat Banjar yang sampai sekarang ini masih tumbuh dan hidup dalam masyarakat Banjar. Tempo dulu Badudus merupakan acara penobatan seorang Raja. Acara ini hanya diselenggarakan oleh keturunan raja – raja saja yakni keturunan dari raja – raja Kerajaan Negara Dipa dan Kerajaan Daha, dan yang dapat menghadiri acara tersebut adalah hanya terbatas kepada seluruh keluarga saja. Setelah tidak ada lagi kerajaan di Tanah Banjar (tahun 1860 ) maka acara ini bergeser menjadi acara mandi – mandi Pengantin Banjar. Penyelenggaraan Badudus dilaksanakan oleh kedua pengantin. Dalam acara ini disediakan sesaji 41 macam kue dan minyak likat buburih yaitu bunga – bungaan yang dimasak dengan minyak kelapa dan lilin serta ditambah dengan minyak wangi. Acara badudus ini umumnya dimeriahkan dengan menyuguhkan lagu – lagu Banjar.
Sungguh, nilai – nilai Seni Budaya Nasional sangatlah “ Sugih (kaya) “ karena berakar dan bersumber dari nilai – nilai Seni Budaya Daerah. Salah satunya adalah dari Tanah Banjar.

II. Nilai Seni Budaya Tanah Banjar tersebut antara lain adalah musik, tari, sastra dan teater.

1) Seni Musik
Seni Musik Tanah Banjar terdiri dari gamelan Banjar dan musik tradisional Banjar. 

a) Gamelan Banjar 

Gamelan Banjar ini dahulunya hidup dan berkembang di keraton Banjar, namun sekarang ini tidak ada lagi keraton Banjar maka musik ini hidup di kalangan rakyat Banjar. Gamelan Banjar umumnya sebagai pengiring tarian seperti wayang gong, wayang kulit dan tarian klasik Banjar.
Perangkat gamelan Banjar yang paling tua adalah sepasang gamelan Banjar yang bernama “ Simanggu Kacil dan Simanggu Basar “. Gamelan Simanggu Kacil berada di Museum Nasional Jakarta sedang Simanggu Basar berada di Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Selatan.

b) Musik Trasional Banjar di antaranya adalah Musik Kentung dan Musik Panting.
Musik Kentung ( instrument bamboo) ini berasal dari daerah Kabupaten Banjar yaitu di desa Sungai Alat Kecamatan Astambul dan kampung Bincau Kecamatan Martapura. Masa dahulu alat musik ini dipertandingkan. Dalam pertandingan ini bukan saja pada bunyinya, tetapi juga hal-hal yang bersifat magis, seperti kalau dalam pertandingan itu alat musik ini bisa pecah atau tidak dapat berbunyi dari kepunyaan lawan bertanding.

Musik kentung termasuk alat musik pentatonis, boleh dikatakan pula sejenis alat musik perkusi. Karena cara membunyikannya dihentakkan pada sebuah potongan kayu yang bundar. Alat musik kentung ini berjumlah 7 buah dan masing-masing mempunyai nama, yaitu : Hintalu randah, hintalu tinggi, tinti pajak,tinti gorok,pindua randah, pindua tinggi dan gorok tuha.
Musik Panding adalah seperangkat alat musik yang terdiri dari : Babun (gendang), Gong, Biola, suling dan Panting. Panting ini bentuknya seperti gitar atau gambus tapi bentuknya agak kecil. Musik Panting umumnya untuk mengiringi lagu – lagu Banjar.

2) Seni Tari Banjar.

Seni Tari Banjar ada beberapa jenis yakni Tari Kelasik Banjar seperti Tari Baksa Kembang, Baksa Panah, Baksa Lilin, Baksa Dadap, Baksa Tameng, Radap Rahayu, Tari Topeng Panji, Tari Topeng Sekartaji, Tari Topeng Kelana dan lain – lain. Tari Tradisional (rakyat) seperti Tari Tirik kuala, Tirik Lalan, Tari Japin Kuala, Japin Sisit, Tari Kuda Gepang dan Tari Wayang Gong. Tari Kreasi Baru seperti Mandulang Intan,
Tari Semangat Ratu Zaleh, Maiwak, Ambung Gunung dan lain – lain. Tari Pedalaman adalah tarian yang ada di daerah pedalaman Kalimantan Selatan ( suku Bukit ) seperti Tari Giring-Giring, Tari Gelang Bawu, Tari Gintur dan lain – lain

3) Seni Sastra

Seni Sastra di Tanah Banjar ada dua bagian yaitu Sastra Tutur dan Sastra Non Tutur ( tertulis ).
1) Sastra Tutur seperti Bakisah, Lamut, Madihin dan Mantra.

A) Bakisah

Bakisah umumnya tidak memerlukan naskah. Baik pengantar kisah atau pun dialog-dialog dibawakan, mengandalkan keterampilan berimpropisasi. Tema-tema yang diangkat terkadang fiksi tetapi ada juga yang terjadi dalam masyarakat. Pangisahan manakala melakonkan tokoh-tokoh dalam kisah, penonton benar-benar larut dalam arus plot dan karakter sang tokoh. Bilamana adegan sedih, gembira, dendam, humor atau lainnya, penonton larut ke dalamnya.
Banyak sari toladan dari ”kisah” baik mengenai adat istiadat, etika estetika hidup, pendidikan, keagamaan, patriotisme yang terkandung dalam kisah. Kalau dibandingkan propertis ( hand dan setting ) dan lightingnya antara teater monolog, bakisah sangat sederhana dan bersahaja namun Pangisahan mampu menghidupkan suasana.
Bakisah ada beberapa macam yakni Bapandung, Dundam, Lamut, Andi-Andi, Madihin dan Mantra.

a)Bapandung
Bapandung lahir di Desa Muara Munign kabupaten Tapin. Tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita, dimainkan dengan menirukan suara, tingkah laku seseorang, dan sebagainya.
b)Dundam
Bakisah dengan prosa lirik, berpantun-pantun. Lagunya lebih dekat dengan lagu mantra. Cerita adalah tokoh legenda orang Dayak (Bukit) dalam suatu kelompok. Ada hubungan cerita dengan etnis Banjar atau dengan kerajaan Banjar. Berdundam berada di suatu tempat yang berlampu remang-remang. Media untuk bercerita adalah sebuah gendang atau tarbang.yang dipukul berirama mengiring lagu pendundam bercerita.
c)Lamut
Ada yang mengatakan bahwa lamut diambil dari nama seorang tokoh cerita di dalamnya, yaitu Paman Lamut seorang tokoh yang menjadi panutan, sesepuh, baik dilingkungan kerajaan atau pun masyarakat seperti halnya Semar dalam cerita wayang.Cerita dalam Lamut menurut pakem yang ada walau tak tertulis. Cerita yang dikenal masyarakat Banjar yakni cerita tentang percintaan antara Kasan Mandi dengan Galuh Putri Jung Masari. Kasan Mandi adalah putera dari Maharajua Bungsu dari Kerajaan Palinggam Cahaya, sedangkan Galuh Putri Jung Masari adalah putri dari Indra Bayu, raja dari Mesir Keraton. Kasan Mandi kawin dengan Galuh Putri Jung Masari melahirkan seorang putra bernama Bujang Maluala dengan pengikut setianya paman Lamut bersama anak – anaknya yaitu Anglung, Anggasina dan Labai Buranta.
Lamut befungsi sebagai upacara pengobatan anak yang sakit, bisa juga berfungsi sebagai tontonan masyarakat. Pelamutan duduk berila dengan memegang sebuah gendang budar yang dikenal dengan nama tarbang. Pelamut berbaju Taluk balanga ( Koko ) memakai sarung palekat, berkopiah hitam. Penonton duduk santai lesehan.
d)Andi-Andi
Berkisah tentang legenda, dongeng dan sebagainya disaat orang brgotong royong, mengetam padi di sawah. Fungsinya menghibur orang bekerja. Ceritanya dari syair-syair, tutur candi,dan dongengan.
e) Madihin
Ada yang berpendapat bahwa madihin berasal dari kata madah, yaitu sejenis puisi lama dalam sastra Indonesia. Madah merupakan syair yang mempunyai rima yang sama pada suku akhir kalimat. Madah mengandung puji - pujian, nasehat atau petuah. Tetapi dalam perkembangannya humor atau lulucuan, sindiran yang sehat, tak ketinggalan
disuguhkan oleh Pamadihinan ( orang yang membawakan madihin ) sebagai bumbu. Hand Proferti yang digunakan adalah tarbang yang bentuknya lebih kecil dari Tarbang Lamut.
f) Mantra
Mantra adalah ujar-ujar yang merupakan sumber kekuatan spritual leluhur pusaka Banjar ( Kalimantan ). Pada hakikatnya adalah suatu permohonan kepada yang Maha Kuasa yang disampaikan dengan ujaran yang khas dan dengan gaya bahasa yang khas pula dengan keyakinan yang penuh bagi penggunanya.

2) Sastra Non Tutur ( Tertulis )
Sastra Tertulis ini ada yang dinamakan Syair, Gurindam, Pantun dan Puisi ( Sajak ).

A) Syair

Salah satu bentuk Sastra Banjar adalah “ Syair “. Seperti juga syair dikesastraan Indonsia Lama, Sastra Banjar Syair mempunyai bentuk empat baris setiap baitnya, persajakannya aa-aa dan isinya mengandung hikayat, sejarah, nasihat, pendidikan, percintaan, keagamaan dan dongeng, dan munculnya syair setelah adanya pengaruh agama Islam. Tetapi bedanya media yang digunakan Syair Kesastraan Indonesia Lama, Bahasa Indonesia sedangkan Sastra Banjar Syair, Bahasa Banjar. Disamping itu banyak syair – syair dalam Sastra Banjar ditulis oleh pengarangnya dengan menggunakan tulisan Arab. Sayangnya syair- syair yang ditulis dengan tulisan Arab ini sampai sekarang belum banyak ditulis dengan tulisan Latin. Akibatnya syair – syair Sastra Banjar ini hanya merupakan Koleksi Filologika Museum Negeri Kalsel di Banjarbaru.
Beberapa syair Banjar : Syair Sipatul Golam, Syair Ganda Kasuma, Syair Ringgit, Syair Tajul Muluk, Syair Surat Tarasul, Syair Siti Jabidah, Syair Indra Bumaya, Syair Khabar Kiamat, Syair Panji Kasmaran, Syair Brahma Sahdan, Syair Ratu Kuripan “ dan lain – lain.

B) Gurindam

Gurindam adalah syair yang terdiri dari seuntai yang isinya nasihat, petuah dan lain – lain.

C) Pantun

Masyarakat Banjar tempo dulu (bahari) sangat gemar berpantun sampai sekarang ini. Yang lebih menggembirakan bukan saja orang – orang tua tetapi juga kaula muda Tanah Banjar masih tetap menggemari pantun bahkan akan tetap melestarikannya.
Struktur pantun Banjar seperti halnya pantun Indonesia lama atau pantun Melayu yang bersetruktur : baris pertama dan kedua adalah sampiran, baris ketiga dan keempat adalah isi. Jumlah suku katanya baris pertama sama dengan baris ketiga dan baris kedua sama dengan baris keempat. Atau jika terjadi selisih suku katanya tidak lebih dari dua suku kata saja. Atau dari baris pertama, kedua, ketiga dan keempat sama jumlah suku katanya. Rima persajakan pada pantun Banjar ada yang berima (a),(b),(a),(b). dan ada pula yang berima (a),(a),(a),(a)

Terkadang pantun Banjar ada yang unik, mirip dengan syair yakni baris – barisnya hampir tidak dapat dibedakan sampiran dan isi dan rima sajaknya (a),(a),(a),(a). Yang lebih unik lagi apabila pantun ini merupakan lirik dari lagu atau nyanyian yakni terjadi pengulangan baris sehingga menimbulkan bunyi dan irama yang harmonis.
Pantun Banjar ada lima ragam : 1) Ragam Pantun Banjar Biasa : Seperti Pantun Agama, Pantun Adat Istiadat, Pantun Badatang, Baturai Pantun, Panglipur, Papujian, Balolocoan, Marista, Pantun Insyaf, Pantun Bacucupatian, Pantun Urang Anum. 2) Ragam Pantun Banjar Pantun Tarasul 3) Ragam Pantun Banjar Sebagai Lirik Lagu atau Nyanyian 4) Ragam Pantun Banjar Sebagai Pengiring Tarian 5) Ragam Pantun Wayahini.

D) Puisi ( Sajak )

Puisi ( Sajak ) termasuk kesastraan baru dan kesastraan modern.

4) Teater

Teater ada dua : Teater Modern dan Teater Tradisional.
1) Teater Modern : Teater dari daerah/negeri lain.
2) Teater Tradisional Banjar yaitu Teater yang khas daerah Banjar yakni : Mamanda.

Salah satu teater tradisional Kalsel yang masih bisa bertahan hidupnya adalah “ Mamanda “. Mengapa demikian ? Sebab cerita dari Mamanda memang mengasyikkan tak kalah dengan cerita sinetron atau film. Walau pun tokoh-tokoh dalam Mamanda “ baku “ namun dapat ditambah tokoh-tokoh lain dengan cerita yang lain, artinya cerita mamanda dapat diciptakan sesuai dengan perkembangan jaman. Apa lagi durasi pertunjukkan mamanda jang semula semalam suntuk sekarang disesuaikan dengan permintaan, maksudnya bisa durasinya 3 jam atau 5 jam. Istemewanyanya Mamanda, bisa dimainkan dengan sebuah naskah yang utuh seperti terater modern atau hanya dengan mengatur cerita seperti garis besar cerita, babakan dan plot, sedangkan dialog dikenal dengan istilah impropisasi. Pemain – pemain Mamanda memang dikenal keahliannya berimpropisasi. Tokoh-tokoh mamanda yang baku itu adalah Raja, Mangkubumi, Wazir, Perdana Menteri,Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan kedua, Khadam, Permaisuri, Anak Raja ( bisa putri atau Pangeran ). Tokoh-tokoh lain sesuai cerita misalnya Raja dari Negeri lain, Anak Muda, Perampok,Jin, Belanda, atau nama dari daerah lain ( Jawa, Cina, Batak, Madura atau lainnya ). Seperti juga di teater modern, sebelum pertunjukkan dimulai akan dibacakan sinopsisnya, di mamanda dipaparkan lewat “ Baladon “. Baladon adalah tutur cerita dengan dibawakan berlagu dan gerak tari. Cerita mamanda bisa berkolaburasi dengan seni tari atau musik. Yakni setelah kerajaan selesai bersidang maka akan ditampilkan pertunjukkan tari dengan maksud menghibur raja dengan segenap aparat kerajaan atau ketika kerajaan menang perang diadakan pertunjukkan hiburan tari atau musik panting.

Asal mula Mamanda adalah Badamuluk ketika rombongan bangsawan Malaka ( Abdoel Moeloek atau Indra Bangsawan, 1897 M ) yang dipimpin oleh Encik Ibrahim dan isterinya Cik Hawa, menetap di Tanah Banjar beberapa bulan mengadakan pertunjukkan. Teater ini begitu cepat populer di tengah masyarakat Banjar. Setelah beradaptasi, teater ini melahirkan sebuah teater baru bernama “ Mamanda “. Mamanda mempunyai pengertian “sapaan” kepada orang yang dihormati dalam sistem kekerabatan atau kekjluargaan.
Mamanda mempunyai dua aliran. Pertama : Aliran Batang Banyu. Yang hidup di pesisir sungai daerah Hulu Sungai yaitu di Margasari. Sering juga disebut Mamanda Periuk. Kedua : Aliran Tubau bermula tahun 1937 M. Aliran ini hidup di daerah Tubau Rantau. Sering dipentaskan di daerah daratan. Aliran ini disebut juga Mamanda Batubau. Aliran ini yang berkembang di Tanah Banjar.

Pertunjukkan Mamanda mempunyai nilai budaya Yaitu pertunjukkan Mamanda disamping merupakan sebagai media hiburan juga berfungsi sebagai media pendidikan bagi masyarakat Banjar. Cerita yang disajikan baik tentang sejarah kehidupan, contoh toladan yang baik, kritik sosial atau sindiran yang bersifat membangun, demokratis, dan nilai-nilai budaya masyarakat Banjar.

Bermula, Mamanda mempunyai pengiring musik yaitu orkes melayu dengan mendendangkan lagu-lagu berirama melayu, sekarang beralih dengan iringan musik panting dengan mendendangkan Lagu Dua Harapan, Lagu Dua Raja, Lagu Tarima Kasih, Lagu Baladon, Lagu Mambujuk, Lagu Tirik, Lagu Japin, Lagu Gandut , Lagu Mandung-Mandng, dan Lagu Nasib.
Dari uraian singkat di atas, ada beberapa peninggalan leluhur ini satu per satu sudah mulai terlupakan dan tenggelam. Masyarakat Banjar banyak yang tidak mengenal atau tidak tahu lagi pusaka leluhurnya yang seharusnya perlu dijaga, dilestarikan bahkan dikembangkan. Seperti upacara Badudus, baturai pantun dalam upacara perkawinan ( Badatang ), Manyanggar Banua, Bakisah,Tari – tarian terutama tari – tari kelasik seperti tari topeng atau tarian - tarian yang kental dengan akar budayanya. dan lain – lain,

Meskipun peninggalan leluhur itu masih ada, namun hidupnya sangat memperihatinkan dan sangat dikhawatirkan bahwa derasnya arus Era globalisasi dan modernisasi akan mengikis habis pusaka leluhur ini maka perlu upaya – upaya agar pusaka leluhur itu dapat terus dipertahankan. Tidak saja seminar, diskusi, kongres budaya, Aruh Sastra, pelatihan yang terus diselenggarakan tetapi juga Pemerintah daerah, seniman budayawan, Lembaga Budaya Banjar, Dewan Kesenian dan pihak – pihak yang terkait lainnya setiap tahun mengadakan festival dan pergelaran seperti atraksi adat Banjar, festival Pasar Terapung, musik tradisional, teater tradisional, tari – tarian Banjar, pameran bersejarah, pusaka bertuah, benda budaya serta berbagai kerajinan Banjar. Upaya – upaya ini diharapkan dapat menumbuhkan suatu gerakan masyarakat Banjar pendukung pusaka leluhurnya agar gigih dalam menjaga, mengembangkan dan melestarikannya secara bertanggung jawab di Tanah Banjar. Semoga ***

( Naskah ini bahan pada Dialog Mengangkat Nilai Sosial, Budaya  dan Nilai Sejarah di Pontianak 12-14 Desember 2011 )

Senin, 26 Desember 2011

SAJAK-SAJAK EMAS 1: SAPARDI DJOKO DAMONO

Esais: Kajitow El-Kayeni

Sesuai judul esai ini, Sajak-Sajak Emas saya maksudkan sebagai perwakilan dari karya para penyair besar yang telah dikenal khalayak. Karya mereka adalah curahan batin, atau hasil renungan yang sangat berharga sehingga saya serupakan dengan emas. Tetapi saya tidak hendak menunjuk karya gemilang tersebut sebagai kanon sastra, yaitu karya yang mendapatkan posisi agung sehingga tidak tergoyahkan lagi (canonized). Karena saya sadar sepenuhnya sastra dengan dinamikanya terus berkembang. Apa yang gemilang di masa lalu boleh jadi akan terlahir karya lain yang tak kalah gemilang seiring perkembangan jaman.

Pemilihan Sapardi Djoko Damono sebagai wakil penyair besar Indonesia yang saya angkat di sini bukan sebagai penunjuk tingkatan atau pengkelasan sebagaimana yang dilakukan oleh H.B. Jassin. Hal itu lebih dikarenakan kekaguman saya terhadap karyanya secara pribadi. Lebih jauh, karya-karya gemilang yang saya angkat dalam serial esai Sajak-Sajak Emas ini dimaksudkan sebagai cerminan bagi para pencinta sastra, kususnya para penyair itu sendiri dalam menggeluti dunianya. Perbandingan semacam ini penting, tidak saja sebagai tolok ukur tapi juga sebagai petunjuk arah bagi siapa pun mengenai pencapaian dalam pergulatan seorang penyair dengan bahasa.

Apakah pencapaian dalam sastra itu benar-benar ada?

Secara teoritis hal itu nisbi sifatnya. Tetapi dalam pola perbadingan, ada perbedaan besar antara orang yang baru memulai menulis puisi dengan mereka yang telah lama menggelutinya. Itu dikarenakan proses pematangan yang dilalui oleh penyair tadi. Skill mereka telah terasah dengan baik sehingga meski mencipta puisi secara spontan pun jauh lebih baik dari pemula. Puncak tertinggi dalam kepenyairan tentu tidak ada. Hanya saja secara konvensi harus ditunjuk salah satu atau beberapa yang mewakili pencapaian itu. Misalnya ada anggapan Chairil berada di puncak pencapaian, hal itu sah-sah saja. Meskipun itu tidak menutup kemungkinan ada anggapan yang berbeda. Misalnya menunjuk Sutardji dengan keradikalannya, itu pun terserah asal bisa dipertanggungjawabkan. Hal demikian bukan dikarenakan satu lebih unggul dari yang lain, tetapi lebih kepada membuat barometer perbandingan dan wujud perwakilan sebagaimana seorang juri yang harus memilih satu di antara beberapa pilihan yang sama bagusnya.

Sapardi Djoko Damono adalah salah satu penyair angkatan 66 menurut H.B Jassin. Sejak remaja telah dikenal kepiawaiannya dalam berpuisi. Kebanyakan puisinya menampakkan diksi-diksi sederhana namun tidak mudah menggali maknanya. Puisi yang dibentuk oleh salah satu penyair besar Indonesia ini cenderung menyimpan maksud di balik pilihan kata yang mungkin terlihat sederhana. Seringkali yang muncul dalam puisinya adalah sebentuk ironi. Sebuah teguran mengenai sesuatu yang disampaikan dengan cara tidak langsung. Baik dari segi gaya maupun maksudnya. Selain puisi, Sapardi juga menulis esai dan karya terjemahan. Puisi-puisi yang saya baca ini hanya sebagian kecil saja dan tidak dimaksudkan untuk mencari pola-pola tertentu dalam kepenyairannya. Tidak juga diulas dengan gamblang dengan mendasarkan pada teori pembedahan karya sastra. Sebuah sudut pandang atau sebuah upaya untuk ikut merayakan dinamika sastra di Indonesia.


Pokok Kayu

“suara angin di rumpun bambu
dan suara kapak di pokok kayu,
adakah bedanya, Saudaraku?”

“jangan mengganggu,” hardik seekor tempua
yang sedang mengerami telur-telurnya
di kusut rambut Nuh yang sangat purba


Dalam puisi ini Penyair sedang bermain ironi. Dimana di situ digambarkan sebuah peristiwa yang memunculkan kesan getir. Pada bait pertama itu ada dua sosok yang sedang bercakap-cakap. Seseorang atau sesuatu yang bersembunyi pada posisi orang ketiga sedang bertanya pada seseorang yang disebutnya Saudaraku. Pembicaraan mereka sangat aneh karena mempertanyakan perbedaan suara dari derit rumpun bambu akibat dorongan angin dan suara kapak yang menebang pokok kayu. Dari situ sebenarnya Penyair sedang memberikan gambaran dari dua hal yang kontras. Keduanya sama-sama merupakan bentuk suara, tapi yang satu alami dan satunya buatan. Yang membuat pertanyaan itu aneh adalah, kenapa dua hal yang berbeda itu masih juga dipertanyakan perbedaannya?

Di sini Penyair mengajak pembaca untuk melihat lebih jauh tentang ulah perbuatan tangan manusia. Banyak orang mempunyai gambaran ideal mengenai sebuah dunia yang hendak dibentuknya. Ironis sekali ketika dunia ideal itu harus mengorbankan dunia sebenarnya demi memperoleh sesuatu yang menurutnya keharusan. Populasi yang terus berkembang mengharuskan manusia membuka lahan-lahan baru, membuat bangunan-bangunan baru, membentuk wajah dunia yang baru. Padahal dunia ideal yang hendak dibentuknya itu mengorbankan dunia yang sesungguhnya, dunia alami yang telah memberikan kehidupan kepadanya.

Suara derit bambu mewakili dunia alami sebagaimana dia adanya, suara kapak adalah gambaran dari kerakusan manusia demi mewujudkan dunia ideal yang menurutnya lebih baik itu. Padahal tanpa disadarinya perbuatan itu justru membuatnya kehilangan dua dunia tadi. Dunia ideal menjadi tidak terwujud karena rusaknya dunia yang sebenarnya.

Yang lebih mengejutkan lagi ketika sampai pada bait ke dua. Percakapan dua orang tentang perbedaan tadi membuat seekor burung Tempua marah dan menghardik mereka berdua. Jangankan perusakan hutan (dengan gambaran semiotis suara kapak tadi) membicarakan tentang hal itu saja sudah membuat seekor burung marah. Kenapa burung itu marah? Personifikasi itu bisa dimaknai, omong kosong kedua manusia itu sudah tidak ada gunanya lagi karena burung Tempua itu harus mengerami telurnya di rambut Nuh yang sangat purba. Nuh di sini bisa berarti apa saja, tetapi makna yang dekat bisa kita lihat dari kaitan suara bambu dan kapak tadi dengan menganggapnya Nabi Nuh sebagai sindiran rusaknya alam. Begitu parahnya perusakan hutan sehingga tidak ada lagi daun-daun pohon untuk digunakannya sebagai sarang, burung Tempua itu terpaksa menggunakan rambut Nuh sebagai sarangnya. Ini pun mengandung kesan paradoks juga saat kita ingat Nabi Nuh membuat kapal dari pokok kayu untuk menyelamatkan umatnya dari bencana air bah, tetapi penebangan hutan juga merupakan sebab datangnya banjir bandang.

Dalam puisi lain Sapardi memperlihatkan kegelisahan yang biasanya juga dirasakan setiap manusia. Dalam batinnya ada sesuatu yang seolah-olah terus-menerus mengintainya. Perasaan seperti itu sering kali diungkapkan oleh penyair lain manakala mendapati kekosongan mengenai pencariannya akan hakikat hidup. Sesuatu yang seolah terus mengejar dan mendampingi tapi tak dapat dimengerti. Dalam sebuah sonet yang tidak lagi berbentuk sonet sebagaimana lazimnya, Sapardi meraba dirinya sendiri, dia mempertanyakan mengenai eksistensinya hidup di dunia ini. Sebuah ekspresi dunia batin Penyair akibat desakan perasaan asing yang tidak dikenalnya.


Sonnet: x

Siapa menggores di langit biru
Siapa meretas di awan lalu
Siapa mengkristal di kabut itu
Siapa menggertap di bunga layu
Siapa cerna di warna ungu
Siapa bernafas di detak waktu
Siapa berkelebat setiap kubuka pintu
Siapa mencair di bawah pandanganku
Siapa terucap di celah kata-kataku
Siapa mengaduh di bayang-bayang sepiku
Siapa tiba menjemput berburu
Siap atiba-tiba menyibak cadarku
Siapa meledak dalam diriku
: siapa aku


Sesuai judulnya, Sonet: x adalah puisi sejenis sonet yang terdiri atas empat belas larik. Biasanya sonet itu juga memiliki ciri khas pembaitan 4433, tapi dalam puisi ini (juga seperti puisi-puisi angkatan Pujangga Baru dan sesudahnya) kebiasaan membaitkan sonet seperti itu sudah ditinggalkan. Bentuk sonet hanya dikenali dari jumlah larik dan judulnya saja.

Sonet: x merupakan gambaran dari ekspresi diri Penyair. Sama halnya Chairil saat meraung membabi-buta dengan puisinya berjudul Aku itu. Perbedaannya dalam Sonet: x, Sapardi mewakili umumnya manusia ketika dihadapkan pada perasaan sunyi itu, bukan hanya mewakili dirinya sendiri. Seolah ada sesuatu yang terus memburunya tapi tidak dimengertinya. Penyair-penyair lain yang tidak mengakui keberadaan Tuhan ketika dihadapkan pada ruang sunyi yang sama akan melihatnya sebagai raungan jiwa belaka. Seperti Pablo Neruda misalnya saat berteriak dalam puisi Oh Bumi, Tunggulah Kami, "Kembalikan aku oh, matahari / Pada nasibku yang liar." Tetapi sebagai manusia beragama, pertanyaan Sapardi mengenai sesuatu yang tidak dimengertinya itu adalah merupakan pengenalan terhadap adanya kekuatan maha yang seolah berhadapan dengannya, yang seolah mengiringinya di mana pun dia berada.

Puisi ini merupakan pengakuan yang jujur selaku manusia, bahwa ada kekuatan lain yang tak kasat mata, yang memberikan kode-kode batin kepada manusia mengenai eksistensinya. Apa pun bisa berada di balik sesuatu yang misterius itu, dan bukan tidak mungkin sebagai manusia beragama, sesuatu yang misterius itu adalah wujud dari keberadaan Tuhan. Dalam ruang sunyi itu Tuhan seolah menampakkan wujudnya melalui kegelisahan manusia saat meraba dirinya sendiri, sebagaimana di akhir baris puisi, Sapardi dengan gemetar berkata dalam batinnya “: siapa aku,” itu karena ia kebingungan mengenali eksistensi kekuatan maha yang terbaca dari kegelisahannya itu.

Pada puisi lain ada romantisme yang dibentuk dengan begitu bagus. Sebuah pengungkapan perasaan yang sesuai dengan cita rasa puisi. Yakni memanjakan pembaca dari diksi yang digelarnya.


AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


Dalam puisi yang melegenda ini terlihat jelas puisi dengan pilihan kata yang terlihat tidak rumit tersebut akan membuat pembaca terhanyut pada gambaran dari sebuah keinginan untuk mencintai seseorang dengan sederhana. Tetapi kesederhanan yang tergambar di sana mengandung arti yang jauh lebih dalam. Aku lirik sebenarnya sedang menunjukkan ketidaksederhanaan dari perasaan cintanya kepada kamu lirik.

Pada bait pertama aku lirik mengumpamakan pengungkapan perasaan cinta itu dengan peristiwa biasa yaitu api yang sedang membakar kayu. Dalam pandangan aku lirik, hubungan kayu dan api itu adalah hubungan yang saling terkait. Api harus membakar kayu agar dia terwujud, tetapi dari gambaran tersebut terlihat pemandangan getir dimana satu pihak harus mengorbankan dirinya. Aku lirik menyamakan ketulusannya sebagaimana kayu yang rela menjadi abu akibat terbakar oleh api. Anehnya pada gambaran singkat antara kayu dan api  itu penyair mengatakan “dengan kata yang tidak sempat diucapkan...” ini memberikan kesimpulan ketulusan yang dimiliki oleh aku lirik itu bahkan masih dipendamnya layaknya kayu yang tak sempat mengucapkan kata kepada api yang menjadikannya abu. Atau bisa juga diartikan itu merupakan sebuah gambaran dari ketulusan cinta yang mungkin tak perlu disampaikan dengan kata-kata tapi terlihat nyata dari pengorbanannya.

Pada bait kedua, aku lirik lebih jauh memberikan gambaran mengenai besarnya perasaan yang dimilikinya kepada kamu lirik di sana. Ketulusan yang dimilikinya adalah sebentuk pengabdian. Pada bait kedua ini aku lirik memberikan pengandaian tentang perasaan cinta yang begitu besar tapi tidak sempat menyampaikan isyarat mengenai perasaan itu kepada kekasihnya. Seumpama isyarat awan kepada hujan yang justru akan membuatnya tiada. Bisa juga diartikan sebuah kesungguhan untuk mencintai dengan tulus tanpa perduli hasil yang akan diterimanya, bahkan yang terburuk sekalipun seperti kehilangan kehidupannya sendiri. Kedua gambaran itu sebenarnya memiliki keterkaitan yaitu pada nilai pengorbanannya. Bait ke dua itu semacam repetisi untuk menguatkan pengakuan aku lirik bahwa cinta sederhana yang dimilikinya itu sebenarnya adalah cinta yang luar biasa.

Dalam puisi lain Sapardi sedang bermain teka-teki. Seperti pada puisi Sapardi pada umumnya, diperlukan jalan memutar yang jauh untuk menemukan petunjuk dari maksud puisinya. Jalan lingkar itu menjadi sulit disaat pembaca terjebak kesederhanaan bahasa puisinya. Dalam sekali baca mungkin tidak tersirat apa pun di dalamnya, tetapi ketika dicermati akan terdapat kejelasan dari gambaran bahasa yang sederhana itu. Bahwasanya ada hal yang luar biasa dalam kesederhanaan tersebut.


BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI

waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan


Puisi ini memiliki jangkauan yang sangat luas. Kode-kode bahasa yang ditunjukkan Sapardi dalam puisinya ini bersifat umum. Tetapi ada beberapa hal yang tampaknya sengaja diperlihatkan sebagai petunjuk. Aku lirik di sana sedang melakukan perjalanan ke barat di waktu pagi hari. Barat itu bisa mewakili Barat sebagai sebutan dunia yang maju yaitu dunia Barat seperti yang dikenal. Meskipun tidak tertutup kemungkinan, barat yang ditunjukkan itu hanya sebagai hubungan logis terciptanya bayang-bayang panjang sementara matahari ada di belakangnya. Artinya pemilihan arah dan momen itu tidak berarti lebih dari sekedar gambaran peristiwa dan penyair menghendaki pemaknaan lain di balik gambaran tersebut. Misalnya pergi ke barat itu seperti gambaran Tong Sam Cong yang mengambil kitab suci kebijaksanaan ke barat. Dengan kata lain, barat di sana hanya sekedar menjadi salah satu arah mata angin. Tetapi misalnya di balik si aku lirik sedang berjalan ke timur di waktu sore hari hasilnya akan sama (bayangan tetap akan ada di depan aku lirik, sementara matahari ada di belakangnya) dan itu tidak membenarkan dugaan tadi.

Maka dengan sendirinya penyair memang sengaja menunjukkan jejak-jejak dari arah pemaknaan yang dikehendakinya. Barat sebagai arah yang dituju itu adalah lambang dari negara Barat yang lebih maju. Aku lirik sedang berkiblat kepada Barat sehingga muncullah keinginan yang diumpamakan bayang-bayang yang memanjang itu. Sebuah cita-cita yang didorong oleh semangat untuk kehidupan yang lebih baik. Dengan membentuk pemaknaan seperti demikian akan terdapat kesimpulan, siapa sebenarnya yang dikehendaki oleh Sapardi dengan aku lirik itu? Berjalan ke barat di waktu pagi hari adalah gambaran mengenai Bangsa kita ini, dimana untuk ukuran negara, Indonesia belum lama meraih kemerdekaannya. Waktu pagi hari sengaja dipilih untuk menunjukkan hal tersebut. Di usia muda itu negara yang sedang berkiblat ke Barat memerlukan keharmonisan agar cita-cita bersamanya bisa dicapai. Perselisihan yang tidak perlu harus dihilangkan. Tidak penting siapa yang telah menciptakan bayang-bayang, dengan maksud siapa yang menumbuhkan cita-cita. Tidak penting siapa yang berjalan di depan, dengan arti siapa yang memimpin Bangsa ini. Yang paling perlu diciptakan adalah keselarasan dalam melangkah dengan pandangan yang bening dan tetap wasapada guna meraih impian bersama.

Begitulah ironi-ironi yang sering kali dimainkan oleh Sapardi. Banyak puisinya yang bahkan sangat sulit ditembus, karena begitu dalam makna yang dikehendakinya namun hal itu justru tersimpan dalam gaya bahasa yang sederhana dan nyaris tak terduga arahnya.


KAMI BERTIGA

dalam kamar ini kami bertiga:
aku, pisau dan kata --
kalian tahu, pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya
tak peduli darahku atau darah kata


Dalam puisi yang tidak cukup panjang ini ada yang menggiring penglihatan mengenai tujuan perumpamaan dengan benda-benda tersebut, yaitu keberadaan Aku, Pisau, dan Kata. Ketiganya disejajarkan dalam satu barisan. Aku, Pisau, dan Kata diserupakan mahluk hidup yang memiliki kehendak. Dalam dunia nyata ketiganya jelas tidak memiliki kaitan kusus. Tetapi ketika ditarik ke dalam puisi ini, ketiganya memiliki kaitan yang erat. Satu dengan lainnya saling memberikan fungsi untuk melengkapi makna yang tersimpan di dalamnya.

Ada sisi sunyi di sana ketika aku lirik yang sebenarnya hanya sendirian saja seolah mendapati kawan dalam kesendiriannya. Pisau boleh jadi memang ada di sana, atau bisa juga tidak. Atau awalnya mungkin ada, tetapi kemudian pisau itu berubah fungsi hanya menjadi pisau maknawi ketika kita mengaitkannya dengan “kata” seperti dalam baris akhir, “tak perduli darahku atau darah kata.” Pisau itu hanya diambil sifatnya sebagai sesuatu yang tajam dan mampu memutuskan benda lain seperti tali misalnya. Perasaan sunyi itulah yang telah menyeret aku lirik untuk menghidupkan benda-benda di sekitarnya (jika benda-benda itu benar-benar ada di sana). Bahkan bisa jadi pisau itu tidak benar-benar ada di sana. Pisau hanya gambaran dari keinginan untuk menciptakan sesuatu dalam bentuk kata dan mengambilnya dari imajinasi penyair. Pisau itu adalah pisau maknawi tadi yang sengaja diangkat ke dalam puisi untuk mewakili sesuatu yang tajam dan mampu menggoreskan luka atau untuk memutuskan sesuatu.

Aku lirik di tengah kesunyiannya sedang bergelut dengan dirinya sendiri. Ia hendak menciptakan "Kata," tapi kata yang dimaksudnya tidak kunjung keluar. Dengan perumpamaan pisau tadi muncullah hubungan trinitas, yang wujud sebenarnya hanya aku, kata terlahir dari aku, pisau diambil dari imajinasi aku. Dan ketiganya menuju satu arah yang sama yaitu lahirnya "Kata" tadi. Jika demikian, lalu siapakah yang bersembunyi di balik aku lirik itu? Begitu diketahui inti dari puisi ini adalah berkaitan dengan lahirnya "Kata," maka besar kemungkinan aku lirik di sana adalah gambaran dari jiwa seorang penyair atau siapa pun yang terbiasa menyusun kata demi mendapatkan nilai estetis.

Sebuah keinginan yang besar dimiliki Penyair untuk melahirkan kata sehingga digambarkan, “pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya.” Ini hanya simbolisasi saja, bukan berarti aku lirik sedang frustasi dan hendak melukai dirinya dengan pisau tadi jika tidak berhasil melahirkan kata. Tetapi itu adalah sebuah simbol dimana seorang penyair harus berjuang sedemikian keras demi terlahirnya karya yang bermakna, dia harus menjiwai setiap kata yang terlahir darinya, kata yang diperamnya sedemikian rupa setelah berlelah-lelah bergelut dengan bahasa harus masak dan mengenyangkan. Sedemikian keras keinginan aku lirik itu sehingga dia menempuh jalur perenungan mendalam seperti yang digambarkannya, “tak peduli darahku atau darah kata.” Ia juga mengandung gambaran, seorang penyair sejati itu yang benar-benar total dalam kepenyairannya. Sebuah laku bersastra yang disertai esensi di dalamnya. Bukan sekedar pamer kawanan atau unjuk kebolehan di atas panggung. Yang terpenting bagi seorang penyair adalah bagaimana hidup dan menghidupkan "Kata" yang terlahir dari kebeningan jiwanya.


MATA PISAU

mata pisau itu tak berkejap menatapmu
kau yang baru saja mengasahnya
berfikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu


Peristiwa yang seharusnya biasa itu telah diolah sedemikian rupa sehingga menimbulkan sisi ngeri. Pisau yang  tergeletak di atas meja makan seolah memiliki jalan pikiran. Di sini penyair telah bergerak ke sisi lain, ke arah benda-benda selain dirinya. Benda-benda-benda itu menjadi bergerak dan memiliki kehendak. Jika ditarik dari logika berpikir umum itu jelas tidak mungkin. Tetapi dalam dunia puisi, penyair bisa bergerak atau menjadikan apa pun bergerak dalam puisinya. Di ruang imajinasinya sana benda-benda itu sengaja digerakkan untuk sebuah simbol dari maksud penyair. Dia bisa mewakili orang pertama, kedua, atau orang ketiga baik dalam bentuk tunggal atau jamak. Seperti dalam puisi ini Penyair seolah hanya menjadi narator saja dan menceritakan prihal sosok "Kau" dan "Pisau." Padahal tidak dipungkiri Penyair itu sendirilah yang berdiri di balik semua benda tersebut. Bahkan tidak menutup kemungkinan "kau" yang dikehendakinya itu terayun kembali kepada diri Penyair bukan sebagai pencitraan orang kedua tunggal.

Bisa juga dipandang, kau itu memang sebagai orang kedua tunggal yang sengaja ditunjuk sebagai wakil dari pembaca. Dalam hal ini Penyair mengajak pembaca untuk melihat sesuatu dari sudut pandangnya. Seperti dalam puisi Kami Bertiga tadi, pisau di sini sebagai simbol berdasarkan sifat yang dimiliknya. Dalam perpindahan posisi ini pembaca diantar ke suatu permisalan mengenai pemahaman kita terhadap hukum kausal. Pisau sebagai simbol dari sesuatu yang sebenarnya ada dalam kendali kita dan ini bisa berarti apa saja. “kau yang baru saja mengasahnya.” Boleh jadi pisau ini wakil dari para buruh yang digerakkan oleh para borjuis untuk menghasilkan uang. Bisa juga pisau ini mewakili serdadu atau rakyat yang didoktrin untuk membunuh dan mengingkari rasa bersalah akibat pembunuhan yang dilakukannya. Bahkan bisa juga pisau ini adalah wakil dari anak-anak kita yang telah kita didik sedemikian rupa sebagaimana kehendak kita.

Pisau di sini memang bisa berarti apa pun dan siapa pun. Tetapi yang jelas dalam perpindahan posisi ini pembaca dapat melihat dirinya menjadi pihak lain. Adakalanya anomali-anomali itu terjadi dan merubah keadaan menjadi berbeda dari keinginan kita. Buruh bisa memberontak pada majikannya, serdadu atau rakyat bisa membangkang pada pimpinannya, anak-anak bisa membantah orang tuanya. Maka menjadi sesuatu yang memiliki wewenang untuk memimpin terhadap sesuatu yang lain itu tidak serta merta bisa berbuat sewenang-wenang. Betapa ngerinya pisau yang tergeletak di meja makan itu tiba-tiba saja berbalik arah dan menggorok leher tuannya. Dan itu tentunya bukan tanpa alasan. Bisa jadi sang tuan lalai menyimpannya pada tempat yang seharusnya sehingga terbawa ke tempat tidur dan menggorok lehernya sendiri. Dengan analogi ini, terang saja buruh memberontak jika majikannya tindak memberikan haknya, serdadu atau rakyat membangkang dan melawan pimpinannya jika hak mereka tidak diberikan, anak-nak bisa juga membantah dan memusuhi orang tuanya saat mereka mengalami penindasan yang tidak semestinya. Hal ini digambarkan Penyair, “ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu.”


TENTANG MATAHARI

Matahari yang di atas kepalamu itu
adalah balonan gas yang terlepas dari tanganmu
waktu kau kecil, adalah bola lampu
yang di atas meja ketika kau menjawab surat-surat
yang teratur kau terima dari sebuah Alamat,
adalah jam weker yang berdering
sedang kau bersetubuh, adalah gambar bulan
yang dituding anak kecil itu sambil berkata:
"Ini matahari! Ini matahari!"
Matahari itu? Ia memang di atas sana
supaya selamanya kau menghela
bayang-bayanganmu itu.


Ini bukan mengenai peristiwa biasa yaitu matahari hanya sebagai matahari biasa. Artinya matahari yang disebut berulang kali dengan beberapa penjelasan berbeda itu mewakili sesuatu yang bukan sebagai matahari. Tidak jauh beda dengan Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari, matahari di sana menjadi simbol dari eksistensi sesuatu yang tidak benar-benar bisa dipahami keberadaannya. Sekali lagi penyair mendaulat kau lirik sebagai wakil dari pembaca. Artinya pembaca diajak melihat dari posisi tertentu, sementara penyair hanya menjadi narator saja.


“Matahari yang di atas kepalamu itu
adalah balonan gas yang terlepas dari tanganmu waktu kau kecil,”


Diceritakan kau lirik sewaktu kecil pernah memiliki balonan gas yang terlepas ke udara. Rasa sedih digambarkan dengan peristiwa itu, yakni sesuatu yang disimbolkan matahari telah mewakili rasa sedih tersebut. Tapi di waktu lain matahari itu dikesankan sebagai sesuatu yang sangat berguna seperti ketika membaca surat. Juga dikesakan sebagai sesuatu yang menyebalkan dimana saat-saat indah penuh romantisme dirusak oleh dering weker. Masih ditambah lagi matahari itu adalah sesuatu yang salah diduga layaknya anak kecil yang tidak benar-benar tahu perbedaan matahari dan bulan. Pertanyaannya adalah, apakah yang sebenarnya bersembunyi di balik simbol matahari itu?

Ia bisa saja kembali ke bentuk aslinya yaitu sebagai matahari sebagaimana ia adalah salah satu benda langit, bisa juga tidak jika dikehendaki arah pemaknaan lain. Kita anggap saja dulu matahari yang dimaksud dalam puisi ini memang matahari yang sebenarnya. Betapa kita sebagai manusia sering tidak sadar akan manfaat yang besar telah diberikan oleh matahari. Tapi ketika siang hari yang terik sering juga kita mengeluhkannya, menyebutnya sebagai sesuatu yang menyebalkan, menganggap Tuhan telah salah menciptakan bola gas itu sehingga merugikan kita pada saat tertentu. Rasa syukur menjadi hilang begitu hakikat dari anugrah keberadaan matahari itu tertutup dari pandangan batin.

Tetapi ketika kita berpikir seperti itu, puisi ini hanya akan berhenti sampai di situ saja. Banyak pertanyaan lain yang tidak terjawab, seperti yang tersimpan dalam baris akhir puisi “supaya selamanya kau menghela bayang-bayanganmu itu.” Apa maksud bayang-bayanganmu di sana? Dengan demikian matahari yang dikehendaki dalam puisi ini meruang lebih luas dari pengertian pertama tadi. Ia merupakan simbol dari keberadaan zat yang sulit di defenisikan. Yang terkadang mengandung kesedihan karena kita tak dapat menggapainya seperti gambaran balonan gas yang terlepas dari tangan seorang kanak, yang terkadang membuat kita menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat penting sebagaimana kesan dari penyerupaan  terhadap lampu itu, yang terkadang menyebalkan karena kita harus memenuhi tuntutannya di saat kita sedang sibuk dengan pasangan semisal jam weker, yang terkadang salah kita tunjuk karena kemisteriusannya sebagaimana anak kecil yang salah mengenali sesuatu.

Matahari di sana bisa jadi adalah perwakilan dari sesuatu yang memiliki kekuasaan. Dia memang di atas sana, di atas segala sesuatu dengan kekuasaannya. Dia mewakili sesuatu yang menjadi inti dari pergerakan sebagaimana maksud Aristoteles dengan Theosnya itu. Tapi dia bukanlah seperti yang banyak diduga oleh orang dengan berbagai gambaran tadi.


“Matahari itu? Ia memang di atas sana
supaya selamanya kau menghela
bayang-bayanganmu itu.”


Jika diayunkan lebih jauh, mungkinkah matahari itu adalah perwakilan dari Tuhan? Jika iya, lalu apa makna: "supaya selamanya kau menghela bayang-bayanganmu?" Sampai di sini saya sendiri terpaku cukup lama dan terkejut manakala sadar ternyata saya telah terjebak ke dalam pikiran saya sendiri. Persis seperti satire yang terkandung dalam kalimat, supaya selamanya kau menghela bayang-bayanganmu sendiri. Bayang-bayang di sini merupakan pencitraan pikiran dan cita-cita manusia. Dengan pikiran itulah kita memahami banyak hal demi kebaikan kita hidup di dunia. Pikiran-pikiran itu tercipta karena keadaan, seperti halnya bayangan yang ada karena dua faktor, benda yang memancarkan sinar dan benda yang menghalangi sinar itu menembus dirinya. Benda itu tidak bisa dipisahkan dari bayangannya meskipun dia juga tidak bisa menciptakan bayangan tadi tanpa adanya benda lain yang memancarkan sinar. Tetapi karena pikiran kita itu juga yang terkadang menjebak kita pada pemahaman yang keliru mengenai hakikat sesuatu. Hal ini ditegaskan dengan penggunaan tanda tanya pada kalimat "Matahari itu?" Di baris ke sepuluh sebagai kesimpulan dari sering salahnya kita memahami sesuatu.

Di sini matahari dijadikan lambang dari sesuatu yang secara hakiki menciptakan bayangan tapi dia di atas sana sedangkan bayangan itu melekat pada kita. Dengan kata lain, segala pikiran dan cita-cita kita sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita. Matahari tetaplah matahari, sedikitpun kita tidak akan bisa mengaturnya, ini maksud dari “Ia memang di atas sana.” Dan bayangan itu terkait erat dengan kita maka bayangan itulah yang bisa kita hela. Artinya Tuhan yang sering kita pahami dengan keliru itu tetaplah Tuhan sebagaimana Dia, sedangkan pikiran dan cita-cita yang telah diberikan Tuhan kepada kita merupakan anugrah sekaligus kutukan agar kita bisa menggunakannya dengan bijak.



 **** 




Kajitow
Esais