Rabu, 07 September 2011

EPILOG: PENDARAN DAN PENGENDAPAN NILAI-NILAI "CINTA" DALAM TEKS PUISI KARYA RAMA PRABU

Oleh: Dimas Arika Mihardja

….jantungku dari patahan biola
dan suaraku denting pesona para pencinta
simphoni pengukur ruah mantra dari sebuah orchestra ….

(“Mantra Bosanova”)

Penggalan larik puisi karya Rama Prabu bertajuk “Mantra Bosanova” ini tampaknya mewakili keseluruhan esensi estetis dan sekaligus tematis puisi-puisi yang terangkum dalam buku ini. Rama Prabu melakuka reinterpretasi maha karya Ramayana lalu merentangpanjangan jalan “cinta” hingga ke masa kini. Topik puisi yang digubah oleh Rama Prabu dapat diklasifikasikan dalam lima kategori berikut (1) tanggapan penyair terhadap masalah edukasi dalam pengertian luas, (2) tanggapan penyair terhadap masalah filosofi hidup dan kehidupan, (3) tanggapan penyair terhadap masalah moral masyarakat, (4) tanggapan penyair terhadap masalah keindahan, dan (5) tanggapan penyair terhadap masalah agama dan keyakinan. Rama Prabu sebagai bagian dari komunitas cendekiawan dan budayawan Indonesia menaruh perduli terhadap masalah edukatif, filosofis, etis, estetis, dan religius.

Persoalan-persoalan edukatif, filosofis, etis, estetis, dan religius itu pada gilirannya merupakan manifestasi dari kristalisasi nilai-nilai yang dijadikan penuntun, pemandu, pedoman, pengendali, rujukan, tolok ukur ucapan, tindakan, dan perilaku penyair sebagai makhluk pribadi, makhluk sosial, dan makhluk Tuhan. Lebih lanjut, nilai-nilai itu bagi penyair berfungsi mendasari, merangsang, mendinamiskan, mendorong, menggerakkan, dan mengarahkan tindakan penyair dalam berkarya sebagai makhluk pribadi, makhluk sosial, dan makhluk Tuhan. Hasil dari itu semua adalah dibuahkannya puisi yang mendedahkan nilai-nilai edukatif, filosofis, etis, estetis, dan religius.

Nilai-nilai ini secara samar dan tersirat meruak di dalam puisi-puisi karya Rama Prabu yang dimuat dalam buku ini. Realisasi pengendapan dan pendaran nilai-nilai “cinta” yang universal itu ditelisik dan ditelusuri oleh penyair seperti membaca peta perjalanan agung kisah Ramayana (yang klasik dan antik) ke kehidupan masa kini yang eksotis dan estetis di mata penyair. Banyak nama yang turut membesarkan dan mengasuh “cinta” sebagai referensi penyair, seperti Empu Walmiki, Pablo Neruda, Rumi hingga nama-nama karib penyair seperti Tulus Wijanarko, Suprabo Anggo, Heru Marwata, Lisa Febriyanti, Saut Situmorang, Iin Yunawinarti (istri penyair), Lintang Ayu Sastraningrum, Landung Simatupang, Arsyad Indradi, Mariska Lubis, Dimas Arika Mihardja, D Kemalawati, Kurniawan Junaedhie, dan sahabat hati lainnya yang turut meronai “wajah cinta” karya-karya Rama Prabu. Tata pergaulan antarpenyair, baik melalui interteks, maupun interaksi turut mematangkan puisi-puisi Rama Prabu. Nilai-nilai “cinta” dalam pengertian luas merujuk pada adanya simpati dan empati penyair Rama Prabu terhadap masalah edukatif, filosofis, etis, estetis, dan religius.

Semua nilai-nilai itu oleh Rama Prabu dikemas sebagai upaya penyampaian keindahan dan kebenaran melalui teks puisi. Nilai-nlai ini dijadikan prioritas bagi penyair dalam berkarya, meskipun jauh di lubuk hati penyair mungkin tidak dimaksudkan sebagai “petani yang sengaja menanam tanaman nilai-nilai”. Terkait dengan ini dapat dikemukakan bahwa setiap penyair, termasuk Rama Prabu, dalam menciptakan puisi selalu berorientasi pada penyampaian nilai-nilai ini. Penyampaian nilai-nilai ini realisasinya berupa usaha maksimal penyair dalam menata bahasa dalam bingkai konvensi sastra dan konvensi budaya untuk mewadahi gagasan yang akan disampaikan melalui teks puisi. Salah satu cara ungkap yang digunakan oleh Rama Prabu dalam penulisan kreatif puisi-puisinya ialah dengan cara “bilang begini, maksudnya begitu” atau meminjam ungkapan Riffaterre dalam Semiotic of Poetry (1978) “Says of thing and means another”.

Dalam konteks pendaran dan pengendapan nilai-nilai ini pembaca dapat menikmati puisi-puisi Rama Prabu yang secara umum dapat dicirikan sebagai puisi-puisi (1) remang-remang tetapi menawan, (2) puisi-puisi yang sarat dengan pemikiran filsafati, (3) puisi-puisi yang lincah mengolah kata-kata, (4) puisi-puisi yang sarat pemikiran kejawen, (5) puisi-puisi yang sederhana tetapi kuat dalam penyampaian pesan, dan (6) puisi-puisi yang mengolah ragam bahasa Jawa di beberapa puisinya (dalam beberapa puisinya, Rama Prabu membubuhkan notes yang saya anggap sebagai “catatan hati” yang identik dengan catatan kaki untuk karya ilmiah; selain itu, Rama prabu juga menggunakan referensi silang saat menulis puisi bagi seseorang).

Teks puisi yang diciptakan oleh penyair Rama Prabu secara umum memiliki ciri ketidaklangsungan pengungkapan yang menurut Riffatere (1978) timbul akibat adanya penggantian arti (displacing of meaning) oleh adanya pemakaian kias seperti metafora dan metonimi; penyimpangan arti (distorting of meaning) oleh adanya ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense; terdapat juga penciptaan arti (creating of meaning) oleh adanya bentuk-bentuk visual seperti tipografi, enjamemen, dan persejajaran baris. Karakteristik ketidaklangsungan teks puisi tersebut dirangkum dalam paparan berikut ini.

Pertama, penggantian arti. Di dalam teks puisi-puisi yang diciptakan oleh penyair Rama Prabu pada umumnya kata-kata kiasan difungsikan untuk menggantikan arti sesuatu yang lain, lebih-lebih metafora dan metonimi (Riffaterre, 1978:2). Dalam penggantian arti ini suatu kata (kias) memiliki acuan makna sesuatu yang lain. Kedua, penyimpangan arti. Penyimpangan arti terjadi apabila di dalam puisi ada ambiguitas, kontradiksi, ataupun nonsense. Di dalam puisi yang digubah oleh Rama Prabu kata-kata, frase, dan kalimat sering mempunyai arti ganda, menimbulkan banyak tafsir atau ambigu. Di dalam teks puisi yang ditulis oleh Rama Prabu juga terdapat ironi, yaitu salah satu cara menyampaikan maksud secara berlawanan atau berbalikan. Ironi ini biasanya untuk mengejek sesuatu yang keterlaluan. Ironi ini menarik perhatian dengan cara membuat pembaca berpikir, sering juga untuk membuat orang tersenyum atau membuat orang berbelaskasihan terhadap sesuatu yang menyedihkan.

Ketiga, penciptaan arti. Menurut Riffaterre (1978:2) penciptaan arti terjadi bila ruang teks (spasi teks) berlaku sebagai prinsip pengorganisasian untuk membuat tanda-tanda keluar dari hal-hal ketatabahasaan yang sesungguhnya secara linguistik tidak ada artinya. Misalnya, simetri, rima, enjambemen atau ekuivalensi-ekuivalensi makna di antara persamaan-persamaan posisi dalam bait. Di dalam teks puisi sering terdapat keseimbangan berupa persejajaran arti antara bait-bait atau antara baris-baris dalam bait. Persamaan posisi (homologues) misalnya tampak dalam pantun atau yang sejenisnya. Semua tanda di luar kebahasaan itu menciptakan makna di luar arti kebahasaan. Misalnya makna yang mengeras (intensitas arti) dan kejelasan yang diciptakan oleh ulangan bunyi dan paralelisme.

Teks puisi termasuk ke dalam jenis teks transaksional, karena hal yang dipandang penting ialah “isi” komunikasi. Teks puisi yang telah dipublikasikan bersifat umum, karena teks puisi diciptakan oleh penyair tidak untuk dinikmati sendiri saja, melainkan untuk dibaca oleh masyarakat umum. Meskipun teks puisi diperuntukkan bagi masyarakat umum, teks puisi merupakan bentuk komunikasi yang khas. Dikatakan demikian karena “pesapa” dapat hadir, dapat juga tidak hadir, dan dapat berupa seorang atau lebih. Ciri khas yang lain adalah bahwa teks puisi dapat dibaca pada waktu dan tempat yang jauh jaraknya dari waktu dan tempat penciptaannya. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa hubungan antara penyair dan pembaca karya sastra bersifat khas pula. Selain itu, teks puisi merupakan teks khas yang di dalam ekspresinya menggunakan bahasa dengan memanfaatkan segala kemungkinan yang tersedia.

Teks puisi berisi monolog, artinya ada satu instansi yang mengucapkan sesuatu di dalamnya. Dalam teks puisi instansi yang mengucapkan sesuatu itu disebut subjek lirik (aku lirik). Aku lirik ini di dalam teks puisi tidak selalu dapat ditunjuk dengan jelas. Kadang-kadang ia tinggal di latar belakang, seperti dalam pelukisan alam. Biasanya, aku lirik mengarahkan perhatian kepada dirinya sendiri dengan mempergunakan kata-kata seperti “aku” atau “-ku”. Kata-kata ini dapat menyertai pelukisan pengalaman atau perasaan yang sangat pribadi. Gambaran aku lirik dapat disimpulkan dari teks itu sendiri. Gambaran tersebut dapat terjadi dengan berbagai cara. Teks itu sendiri dapat menyajikan fakta mengenai jenis kelaminnya, usia, wajah, dan pekerjaannya. Gambaran mengenai aku lirik itu tampak dari kata-kata yang diucapkan dan cara bercerita. Aku lirik itu berupa pengemban pikiran dan perasaan, bukannya selaku seorang manusia yang memiliki pola jiwa tertentu.

Hakikat epilog ialah penyampaian “pemandangan akhir” dari keseluruhan corak puisi-puisi yang termuat di dalam sebuah buku. Prolog ini kiranya telah memberikan gambaran bagaimana seorang Rama Prabu “mengudar gagasan” dan “mengendapkannya” di dalam teks puisi. Upaya pengudaran gagasan, yang lalu ditindaklanjuti dengan pengendapan gagasan itu dikemas dengan karakteristik utama sebuah puisi yang pada prinsipnya: “Says of thing and means another”, bilang begini maksudnya begitu. Dengan prinsip ini, Rama Prabu berhasil mengungkapkan topik puisi yang diklasifikasikan dalam lima kategori: (1) tanggapan penyair terhadap masalah edukasi dalam pengertian luas, (2) tanggapan penyair terhadap masalah filosofi hidup dan kehidupan, (3) tanggapan penyair terhadap masalah moral masyarakat, (4) tanggapan penyair terhadap masalah keindahan, dan (5) tanggapan penyair terhadap masalah agama dan keyakinan. Secara ringkas dapat dikemukakan untuk mengakhiri epilog ini bahwa Rama Prabu sebagai bagian dari komunitas cendekiawan dan budayawan Indonesia menaruh perduli terhadap masalah edukatif, filosofis, etis, estetis, dan religius.

Puisi-puisi karya Rama Prabu yang termuat di dalam buku Ramayana, Jalan Cinta dapat dipandang sebagai sebuah upaya memaknai “cinta” (cinta dalam tanda kutip). Realisasi “cinta” penyair telah dicurahkan melalui teks-teks puisi yang memang sebaiknya dibaca, dimaknai, dan dihayati sendiri oleh pembaca. Di akhir pembacaan dan pemaknaan, pembaca akan berseru “o, begitu panjang dan berliku jalan cinta itu; sebuah jalan kehidupan yang harus ditelusuri oleh siapa pun yang ingin sebenar-benrnya hidup”. Begitulah, sebuah epilog yang sejatinya merupakan rangkuman hasil pembacaan telah didedahkan secara ringkas. Ya, sebuah epilog memang harus ringkas agar tidak terkesan nyinyir dan menggurui. Demikian, salam sastra.

Jambi, September 2011

Senin, 05 September 2011

SEKILAS TENTANG PERTIKAIAN PEMIKIRAN TUNGGAL

Oleh Erry Amanda


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
catatan kecil (non ilmiah) ini awalnya adalah sebuak apresiasi atas catatan MONOLOG Dimas Arika Mihardja. Semoga bisa ada sedikit manfaat dari tulisan sederhana ini.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ada yang lama berdesakan dan untuk di wilayah urban saya di negeri asing, sudah sering saya teriakkan dengan lantang. Ini juga salah satu dari sekian pertikaian tunggal yang juga berdesakan cukup lama, yakni riuhnya para pemerhati yang menyoal seluruh cakupan mesin hidup dalam diri manusia secara parsial, dibelah-belah menjadi agent-agent, preparat-preparat yang sama sekali tidak utuh. Masing-masing bagian (seolah) memiliki kekuatan dan keutamaan yang berbeda dan bertingkat-tingkat. Potongan sederhananya adalah: logika dan rasional (seakan) memiliki kekuatan ungkap realitas atau kebenaran purna, sementara agent yang lain, seni, sebuah misal, spiritualisma, misal yang lain, ia masuk pada wilayah imaji dan absurd, bahkan ilusif. Lebih bersandar pada olah rasa bukan kerja pikir.

Pernaha saya ajukan sebuah pertanyaan sederhana.
Adakah hasil pemikiran dari olah pikir adalah benar-benar murni dihasilkan oleh ruang pikir (mind) itu sendiri dan sama sekali bebas dari pengaruh rasa atau perasaan? Merdeka dari ruang hayali? Benarkah LOGIKA murni kebenaran substansial tanpa dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan rasa yang bersifat konsesnsi? Wilayah logika masih belum merdeka sebelum melibatkan ruang banding, rasionalisma. Lantas parameter apa yang dipergunakan untuk menentukan validitas rasio? Bisa diferifikasi? Bisa diformulasikan (didalilkan) dan dipublisir, diderivasi, direproduksi (bukan sekadar mengambang dalam bentuk empiris saja)? Lantas apa pendorong utama lahirnya hipotesa dan premis-premisnya? Logika apa yang mendorong Newton bertanya soal apel jatuh dan tidak melayang? Saat itu saya yakin, Newton tidak bicara soal logika. Logikanya saat itu secara umum adalah ‘suatu benda di ketinggian yang lepas dari kaitannya tentu akan jatuh’. Saat itu manusia belum punya logika soal ruang fakum, masa dan densitas – apalagi magnet bumi.

Bagaimana pula lahirnya suatu realitas hukum (etika) yang lahir sama sekali sangat tidak dipengaruhi oleh data-data empiris, perilaku sosial dan sejenisnya. Sebut saja kebenaran wilayah ini adalah hukum kebenaran idealis dan bukan korespondensif. Lantas jenis kebenaran ini lahir dari wilayah mana? Pikiran (mindset), pola pikir atau sikap rasa yang diakselerasikan dalam kesepakatan normative (budaya)?

Pertanyaan lainnya, mengapa daerah kajian realitas yang bermuara pada logika bisa melahirkan sisi pemikiran realitas yang bersilang, post (berbagai khasanah pemikiran)?

Hidup, sejauh yang saya fahami adalah suatu reaksi kesadaran yangh bersifat differencial static, bergerak dalam suatu perubahan dan tidak bersifat pengulangan, return point, yang bertahap dalam proses linier, namun lebih bersifat holistis.

Dimensi itulah yang sebenarnya melahirkan berbagai derap dinamika dan dialektika maknawi humanis dan tata ruang keberadaan dalam berbagai bentuk perubahan di dalamnya. Ia tidak bersifat lebih dari ruang satu dengan yang lainnya, kecuali autopoesis. Sekecil apa pun suatu agent, sesungguhnya memiliki keterkaitan yang cukup besar dari agent yang lain (yang nampak lebih memiliki tingkat lebih tinggi). Sebutir partikel di dalam atom yang tak bermasa, partikel tersebut juga memiliki daya yang tak kurang dari sebongkah nuklir, sebuah misal.

Dari sisi ini sesungguhnya catatan sederhana dalam SEJENAK BINCANG. Saya selalu sangat menghargai apa pun yang dilakukan oleh siapa pun dan wilayah apa pun, bahkan saya juga bisa mengapresiasi pekerjaan penjahat, misalnya. Sebab dari sana saya bisa belajar banyak soal perilaku simpang dari moral sosial. Saya juga merasa tak menjadi kecil oleh plototan preman, karena – hakikatnya, saya pun bisa jahat untuk ukuran preman.

Lintasan perenungan yang melahirkan chip-chip memori kehidupan dari semua disiplin adalah merpakan kepustakaan kemanusiaan yang selalu memberi (semacam) dorongan dan magnet bagi siapa pun untuk lebih mampu meraba dari semua bentuk kehidupan, meski sangat mungkin, tidak akan pernah usai dan tuntas.

Mengejar matahari adalah risiko tanggungjawab mengemban kehidupan dan hidup itu sendiri. Ini salah satu kesadaran normative pada diri seorang Dimas Arika Mihardja dalam mengemban amanah di salah satu halaman kehidupan ini. Kondisi ini persis ada di larik akhir pada catatan SEKADAR BINCANG.

Saya sangat bahagia bisa bincang panjang di ujung tujuan kali ini. Menyisir seluruh kesadaran untuk berbagi, sepahit apa pun yang terbagi.

Rabu, 27 Juli 2011

RUMUSAN DAN REKOMENDASI PERTEMUAN PENYAIR NUSANTARA V PALEMBANG

Puji syukur ke hadirat Allah SWT bahwa Pertemuan Penyair Nusntara (PPN) V telah berlangsung dengan lancar di Palembang, pada tanggal 16—19 Juli 2011. PPN V isi beberapa acara utama, yakni Seminar Internasional Perpuisian Nusantara, penerbitan buku kumpulan puisi Akulah Musi, Temu Kerja, Jerayawara (roadshow) Apresiasi Sastra ke beberapa sekolah dan perguruan tinggi , serta Tarung Penyair Nusantara.



I. Rumusan dan Rekomendasi Seminar

Seminar berlangsung sehari penuh dalam 10 sesi, diawali dengan pleno dan dilanjutkan dengan 9 sesi panel dalam 3 kelas paralel, telah menghasilkan rumusan dan rekomendasi sebagai berikut.

1. Ruh puisi nusantara tidak terlepas dari kebudayaan dan masyarakat nusantara. Oleh karena itu, diperlukan: (a) pertemuan yang intensif secara periodik dan berkelanjutan antar penyair nusantara; (b) penerbitan antologi puisi karya penyair nusantara di luar PPN; (c) pemanfaatan internet untuk kegiatan publikasi puisi dan kritik puisi secara daring (online) yang dapat diakses secara luas; (d) pengembangan kritik puisi melalui berbagai pendekatan yang memungkinkan terungkapnya kekayaan teks puisi berkenaan dengan ruh puisi nusantara; (e) pemahaman atas ruh puisi nusantara dapat menjadi jembatan untuk memahami kebudayaan dan masyarakat nusantara.

2. Media massa cetak maupun elektronik masih berpengaruh dalam sejarah perkembangan puisi nusantara mutakhir, oleh sebab itu diperlukan komitmen dari insan atau pelaku pers untuk mempertahankan keberadaan rubrik puisi. Bagi media massa yang tidak memiliki rubrik puisi dianjurkan untuk mengadakan atau menyediakannya.

3. Penyair perlu memperhatikan fungsi dan sifat media massa yang tepat, ringkas, dan aktual agar tercipta bentuk estetika baru yang merepresentasikan puisi media massa.

4. Media massa digital terutama internet, telah menunjukkan peran dan fungsi yang besar dalam perluasan ruang publikasi puisi. Namun, untuk menghindari degradasi nilai puitika diperlukan sistem seleksi pada puisi yang akan diunggah, dengan tanpa mengurangi sifat-sifat internet sebagai media yang sangat terbuka bagi kebebasan berkreasi. Oleh karena itu setiap situs web sastra harus menempatkan editor yang memiliki kompetensi bahasa dan sastra.

5. Pertemuan Penyair Nusantara selanjutnya diharapkan mengakomodasi berbagai jenis puisi klasik dan kontemporer.

6. Pelaksanaan pengajaran sastra di lembaga pendidikan, sebagai bagian dari strategi kebudayaan nusantara, khususnya pengajaran puisi, sangat memerlukan kreativitas guru/pengajar guna memaksimalkan hasil pembelajaran dan mengatasi hambatan yang ada.

7. Pemerintah wajib menyediakan sarana dan prasarana pembelajaran sastra khususnya pengajaran puisi.

8. Untuk menciptakan komunikasi yang baik antara penyair dan dunia pendidikan serta untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran puisi, para penyair harus lebih aktif membantu proses pembelajaran di sekolah.



II. Hasil Temu Kerja

Temu Kerja dalam rangka PPN V diikuti wakil-wakil dari Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, dan Singapura. Musyawarah dalam Temu Kerja tersebut menghasilkan keputusan sebagai berikut.

1. PPN VI 2012 akan dilaksanakan di Jambi, Indonesia.

2. Delegasi dari Singapura menyanggupi menjadi tuan rumah PPN VII tahun 2013.

3. Guna meningkatkan manfaat PPN bagi peserta dan masyarakat sastra di nusantara, penyelenggara PPN seyogyanya melaksanakan kegiatan pokok berupa: (a) penerbitan buku antologi puisi peserta melalui sistem kurasi yang dapat dipertanggungjawabkan; (b) seminar puisi internasional; (c) temu kerja antardelegasi negara peserta; (d) jerayawara (road show) ke sekolah, perguruan tinggi, dan komunitas; serta (e) panggung pertunjukan puisi dan panggung tarung penyair nusantara.
4. Merekomendasikan kepada penyelenggara PPN berikutnya untuk memberikan penghargaan kepada penyair terpilih dengan nama Anugerah Penyair Nusantara.



5. Pemerintah yang menjadi tuan rumah agar memfasilitasi secara penuh penyeleganggaraan PPN.
6. Memandatkan kepada panitia PPN VI untuk mengajak Filipina, Vietnam, Kamboja dan Timor Leste menjadi peserta PPN VI.


Palembang, 18 Juli 2011


TIM PERUMUS PPN V:
Ahmadun Yosi Herfanda (Indonesia) Ketua
Zulkhair Ali (Indonesia) Anggota
Anwar Putra Bayu (Indonesia) Anggota
Fakhrunnas MA Jabbar (Indonesia) Anggota
Chavchay Syaifullah (Indonesia) Anggota
Isbedy Stiawan ZS (Indonesia) Anggota
Ahmad MD Tahir (Singapura) Anggota
Nor Herman Maryuti (Singapura) Anggota
Dimas Arika Mahardja (Indonesia) Anggota
Jamal Tukimin (Singapora) Anggota
M Husyairi (Indonesia) Anggota
Aprion (Indonesia) Anggota
Suyadi San (Indonesia) Anggota
Dad Murniah (Indonesia) Anggota
Gunoto Saparie (Indonesia) Anggota
Nik Abdul Rakib Nik Hassan (Thailand) Anggota
Mohamad Saleh Rahamad (Malaysia) Anggota
Shamsudin Othman (Malaysia) Anggota
Eva Rosdiana (Indonesia) Anggota
Zeffri Ariff (Brunei Darussalam) Anggota
Eva Rosdiana (Indonesia) Anggota

Minggu, 24 Juli 2011

DETOKSINASI SOSIAL BACK TO ORGANIC

Prof.DR. Hayatullah al Rasyid (Erry Amanda).





Jika munculnya jamaah keserupan diangkat sebagai sebuah fenomena - asing dan menggetarkan, kembali kita dihantar menjadi manusia yang riuh bincang agama dan ketuhanan namun pikun soal agama. Tak perlu merasa terhina atau malu jika kita harus siap menguliti diri sendiri perihal kedangkalan nalar agama yang kita geluti tiap detik selama ini. Apalagi soal jerit-jerit histeris masal model ‘demit’ masa lalu ini dimasukkan ke dalam teorema epifenomenalogi, sungguh menggelikan. Benar, soal kesurupan masal ini dalam kaitan kerentanan susunan saraf yang lelah bekerja sia-sia (baca: depresi) kemunculannya memang merupakan suatu misteri sains material serta partikel di dalam susunan saraf otak memang masuk tataran faham epifenomenalogi (untuk sekadar menghindari bahasa ‘TAKDIR’)



Toksinasi Sosial



Racun sosial telah merambah nyaris tak ada tempat sejengkal pun di bumi ini yang steril dari gugusan limbah sosial yang nyaris pula tak berujut, tak berwarna dan tak berbau.Pabrik citra tiap detik menghantar sebagian besar umat manusia bergumul di dalamnya.Kenes, solek, gemas, dan sejenisnya, gegap di seluruh dinding-dinding kehidupan. Tak ada sela atau sisa ruang yang luput dari garapan cap dagang kehidupan dengan sejumlah pernik yang ditawarkan. Manusia pengais rejeki di pembuangan sampah sosial pun menggeram di sudut gubug reot ekonomi mereka sambil berhitung soal nasib. Lengkingan tertahan lantaran gengsi mengakui kemiskinannya namun lebih pintar demo menunjukkan kebanggaan mereka sebagai kere mental, pada dataran lain memunculkan sejumlah realitas lain yang cukup mengerikan.



Tumpahan kompensasi ketidakberdayaan melahirkan berbagai bentuk perilaku menyimpang. Membakar istri dan keluarganya. Bunuh diri masal. Nyembelih cucu atau anak sendiri. Menyetubuhi darah daging sendiri. Ramai-ramai menentang institusi moral ketika melarang pelacuran. Termasuk kesurupan masal. Kondisi tersebut memang kasat. Bisa disaksikan secara empirik, namun benarkah seluruh jaringan realitas hanya berdasar dari bukti empiris? Hanya bersandar pada realitas permukaan? Pernahkah kita mampu menyaksikan secara kasat bagaimana bentuk udara? Bagaimana bentuk atom - atomnya dengan hanya melalui penginderaan telanjang? Jika jawabannya seperti orang bertanya soal warna angin, maka suatu pengambilan keputusan atas suatu kebenaran selalu akan menjadi guyonan gardu ronda, yakni warna udara yang bergerak yang disebut angin adalah merah. Masuk angin - dikerok angin keluar berwarna merah - dan hidup begitu murahnya ruah di ladang satir. Dan sejumlah kebenaran benar - benar sudah berubah jadi satir - guyonan yang dibayar sangat mahal.



Coba mengintip celah realitas soal kesurupan masal yang menghantar salah seorang kepala sekolah percaya kesurupan bermula dari menebang pohon di halaman sekolah. Animis telah menapakkan kakinya lebih kokoh dibanding keyakinan agama nomoteis. Realitas lainnya, mengapa yang disukai demit penunggu pohon hanya perempuan? Nah, apakah semua setan telah ikut-ikutan dijangkiti penyakit hypersex? Setan juga kena getah santapan kafe yang berisi kenikmatan semu termasuk mengonsum kenikmatan hormon sintetis? Setan sudah tidak hirau lagi soal laki-laki - sebab semua laki-laki sudah berujut melebihi sifat setan - maka setan sudah ringan tugas. Tinggal satu jenis manusia saja, perempuan?!



Dalam ilmu jiwa - sejumlah perilaku melenceng secara umum lebih ditentukan oleh sejumlah tingkah laku saraf. Termasuk urut-urutan kromosum di samping jenis makanan gen atau saraf. Glutamin yang dihasilkan dari sejumlah kimia hasil rekayasa genetika atau hormon sintetis - dalam batas tertentu akan menimbulkan mesin mekanik manusia menjadi acak dan semrawut. Perihal ini biasa disebut sebagai stressor. Ada stressor psychodynamic, stressor psychososial, ada schyzophrenia dan sejumlah kelainan tabiat lainnya. Tekanan yang dilahirkan oleh sejumlah kompetisi yang tak padan dengan kemampuan, obsesi strata ekonomi dan sosial, hal ini adalah penjara akhaq dan mental yang amat mengerikan. Pada tahap tertentu akan melahirkan semacam realitas teka-teki bagi orang awam.



Ambil saja sebagai contoh, bangga jadi pelacur, macho sebagai preman, terhormat sebagai gigolo, bangga punya simpanan perempuan di mana-mana, bangga punya kartu utang, merasa modis dan modern dengan umbar sebagian besar auratnya. Bisa cas-cis-cus berbahasa asing - padahal es em pe saja tak pernah nginjak halaman sekolahnya. Nyebut orang-orang yang sudah meninggal - padahal semasa hidup almarhum tak pernah bertatap muka. Mengalahkan dua sampai empat orang yang lebih berotot. Dengan dingin menggorok kedua orang tuannya atau menyetubuhi korban yang habis digorok. Kondisi kejiwaan di atas adalah salah satu bentuk ‘kesurupan ruh’ mereka sendiri yang nyasar karena benturan realitas. Disasosiatif adalah jenis kesurupan yang tega membunuh orang tua sendiri atau kerabat dekat sendiri karena bisikan-bisikan ‘mbah gendheng’ yang ngejawantah dari diri yang bersangkutan sendiri.



Ini pesanAn Nass.Soal jamaah kesurupan model ini tak mengenal siapa manusianya, apa agamanya, bertuhan atau kafir, yang jelas lebih banyak menghantam manusia-manusia di pinggir comberan ekonomi. Menggeliat manakala sarapan citra baru yang terus menghempas keterpurukan sementara berjalan di tempat dengan terengah-engah ikut berburu impian. Dari sisi ini kemudian muncul barisan panjang membeli impian di kuburan, antri jimat di kastil-kastil paranormal (maaf, baca: ‘tidak normal’). Bursa ‘obral jin’ di pabrik-pabrik mesin hasrat atau stiker citra. Lebih takjub lagi, justru sang saudagar jin ini adalah sosok-sosok bersurban yang fasih dalil-dalil Kalamullah. Ini pun sebuah mesin hasrat yang tak kalah boomnya bila dibanding dengan mesin hasrat ciptaan posmo atau intuisi yang dibangun jauh lebih bius dibanding dengan bius relitas semu, hypereality, intuisi mayawi sekalipun. Ajaib, jin harus tunduk oleh selembar stiker sablonan yang dipesan oleh sang penakluk jin. Ini moral agama dan iman model apa?



Masa remaja beberapa dekade silam, ketika lampu penerangan jalan masih sayup-sayup belum gemerlap seperti sekarang, radio masih merupakan barang mewah, belum ada teve, saya pernah bergurau asal-asalan, ... suatu saat nanti bakal ada celoteh macam ini:

“ simbok kemana Man?”

“ simbok sedang seminar pakdhe”

“ Mamamu ada di rumah Sri?”

“ mama sedang ramban, memetik, kangkung bulik...”



Semula gurauan ini hanya memancing gelak tawa dan tak tersadari bahwa gurauan nakal yang tak tersadari itu justru memiliki nilai futurisma perilaku yang diciptakan oleh mesin pencitraan. Gurauan nakal model di atas masih sering berlanjut, salah satu di antara cerita satir ini:

“ ... le kamu sudah ngasih hadiah apa pada ulang tahun nenekmu kemarin?”

“ ... nenek aku belikan rok span dan sepatu jinjit, berhak tinggi. Kakek aku belikan halter, barbel (besi untukangkat berat).”



Saya tidak merasa sebagai keturunan pujangga Jaya Baya, tukang nujum weruh sedurunge winarah, tahu sebelum terjadi, sama sekali tidak. Namun pola pikir imaginal model demikian sering meluncur dan menyakitkan manakala apa yang awalnya lahir sebagai dialektika pergaulan tiba-tiba harus eksis sebagai realitas jungkir-balik. Kala itu memang sudah ada gejala lahirnya mesin pencitraan. Deretan rumah reot berdinding bambu - seorang anak berpakaian ala kadarnya memanggil ibunya “mama” dan “papa” atau “papi” pada ayahnya yang hanya tukang jam di pasar. Tak hina memang. Tidakkah hanya sebuah sebutan dan merdeka untuk dipergunakan siapa saja? Toh artinya juga sama. Dady, mom, mama, mami, father, papa, papi, biyung, simbok, mak, mamak,ummi, pak, rama dan sejenisnya, artinya sama : yakni bapak, ibu.



Yang jadi masalah, jika sebutan itu bukan saja bermain di ranah semantik namun lebih kepada strata sosial yang tidak pas, maka guyonan nakal tadi akan membersitkan luka mental yang tak berkesudahan dan berujung pada sakit mental sosial, stressor psychososial. Demam mengikutiperkembangan jaman malah sebenarnya memotong arus jamanitu sendiri atau mengaprahkan yang sebenarnya benar-benar tidak kaprah. Realitas kulit luar lebih merasa agung dibanding nilai esetoris yang seharusnya dilandaskan pada sikap sahaja normatif sesuai tuntunan agama, lini mana pun. Dan di atas bumi ini nyaris tak ada tempat untuk sembunyi sekadar menghindar kepulan racun sosial, toksinasi sosial beserta radio aktif perilaku yang menyesatkan pola pandang serta keyakinan seseorang. Menuntut orang lain berbuat baik namun tak hirau apa yang mereka sendiri lakukan. Pakar mengoreksi orang lain buta atas sikap diri yang lebih bersifat mengabaikan moral pribadi.



Detoksinasi Sosial - Back to Organic



Back to nature, sebuah rancang bangun perilaku sosial yang diidamkan sebagian manusia yang mulai sadar munculnya sebuah perilaku hidup yang benar-benar artifisial dan hampa makna. Memulihkan kesadaran hidup bersama secara alami, organik, non kimia sintetis, sejauh ini jika tidak salah ditafsirkan juga masih terhenti pada wacana yang kelewat retorikal. Agar tetap bugar lantas sedot lemak, diet, vegetarian dan sejenisnya - sementara bagi pengunyah non daging sekalipun tak pernah menyadari, bahwa di muka bumi ini, seluruhnya tidak ada yang steril dari racun. Mulai dari pupuk, pestisida sampai rembesan radio aktif - semua jenis tanaman tidak akan kebal dari serbuan racun. Jika vegetarian di telan dari restoran atau warung kaki lima sekalipun, jenis masakan yang dianggap aman ini pun tak bebas dari hormon sintetis, penyedap masakan.



Energi yang dibutuhkan untuk menjaga kelajuntan hidup dihasilkan dari bahan-bahan yang justru mempersingkat dan bahkan memperkosa komponen hidup itu sendiri. Paradigma sehat harus tak bisa dilepaskan oleh sejumlah supliment yang benar-benar jauh dari nilai organik. Semua sintetis dan lebih tepat disebut sebagai sampah.Jika pesan agama dijalankan seperti hukum etika berjalan di sebelah kiri - dengan tidak dipertanyakan di mana letak kebenaran hukum etika tersebut, secara sederhana saja, ‘hukum larangan atau ancaman tidak lagi diperlukan jika memang kawasan atau lingkungan hidup atau mukiman - dalam wujud apa pun - tidak membutuhkannya, jelasnya: untuk apa larangan membuang sampah sembarangan jika kawasan itu secara implisit memang mengujudkan kebersihan - maka siapa pun akan merasa enggan mengotorinya. Hanya ketidakwarasan kepribadian saja suatu keindahan harus dirusak.



Detoksinasi lingkungan seharusnya dilahirkan dari kesadaran setiap individu untuk melaksanakannya tanpa perintah selain kesadaran hukum pribadi, perintah pribadi - sebab di dunia ini sebenarnya tidak seekor manusia pun yang mau diperintah. Bahkan perintah yang menciptakan jagat ini pun dilanggar. Hampir seluruh mukiman mengeluh serbuan tikus got. Bandingkan dengan kawasan kota mandiri. Tikus sama sekali tidak diberi kesempatan hidup di kawasan tersebut dengan menjaga kebersihan lingkungan dan sekitar kawasan bebas dari remah-remah makanan. Sekitar mukiman, jarak antara jalanan dan teras cukup longgar dan rimbun pepohonan sebagai green belt, sementara mukiman keluh-kesah - nyaris tak berhalaman. Sisa ruang sedikit saja harus dibeton dimanfaatkan untuk perluasan bangunan. Tanaman dibabat habis - bila mana perlu tanpa halaman rumah dan teras pun makan bahu jalan. Got mampet yang merupakan istana paling ramah bagi populasi tikus.



Kerja bakti sudah menjadi bahasa asing dan ketinggalan jaman. Kalau toh masih sisa - itu pun yang menangani lebih banyak petugas sampah. Tak ada waktu. Selalu sibuk dan tugas membersihkan lingkungan sendiri cukup diganti sekian ribu saja untuk membayar orang lain. Kurang kerjaankah seandainya seoranng direktur sebuah perusahaan atau pejabat pemerintah di lingkungan sendiri menjumput plastik yang berserak di jalanan? Hinakah setiap saat mengeruk got di depan rumah sendiri? Tak pantaskah bahu jalan depan rumah rimbun pepohonan? Tempat parkir mobil lebih utama dibanding filter racun? Jika jawabnya ‘ya’ maka pantaslah kita sebagai makhluk manusia yang disangsikan moralnya oleh malaikat saat Allah menciptakan mesin kehidupan bagi manusia ini.



Detoksinasi akhlaq memang tak semudah diceramahkan lewat audio visual. Padahal materi organik untuk menghambat proses racun moral sejak awal - manusia telah mengenal aturan spiritual yang disertakan oleh Sang Khaliq. Setiap tahun pun dari sebelas bulan manusia merusak komponen mesin kehidupan, Allah memberikan garansi perbaikan selama satu bulan penuh terhadap apa yang dirusak. Puasa merupakan ruang dimana manusia diharapkan menghindari sejumlah racun kehidupan, takabur, munafik, syirik, musyrik, dzalim, kufur di segala bidang - namun realitasnya meja makan berubah jadi foodcourt - lengkap dengan berbagai menu siap saji dan wah. Penghormatan puasa malah teramat suprafisial, pendangkalan makna substansinya.



Tersadari atau tidak, pesan tersembunyi dari puasa adalah penetral sejumnlah racun perilaku. Menghantar manusia menghargai ketenangan, keteduhan, kedamaian, kemulian dan menghindari kehinaan, baik hina sosial sampai hina perilaku. Puasa merupakan anestesia bagi sejumlah penyakit moral dan mental kronik dan segera memuntahkan racun-racun tersebut dengan mengambil sikap perenungan hidup secara totalitas. Hening perut - hening hasrat - hening otak - hening keberadaan dan keseadaan, teorema sederhana tersebut merupakan chemoteraphy dari sejumlah kanker sikap hidup, kepribadian dan perilaku. Tidak busung dada sebagai sosok atau kelompok paling dekat dengan Tuhan. Tidak haus hormat dan merasa paling benar sebagai komunitas hidup yang ekseklusif. Ulama, Kyai, ustad serta sosok - sosok di entitas sakral tidak sibuk ngurusi jin tapi mempersiapkan para santri siap menembus ruang dan waktu serta melesat di orbit futurisma. Memperkecil porsi ‘pandai menuding dan tak laik bertanding.



Mengembalikan gengsi pendidikan peradaban spiritual memang tak semudah idea yang dituang di lembar makalah seminar. Sering seseorang terjebak kedalam sikap romantis manakala derap langkah kekinian coba dibandingkan ke masa lampau. Tidakkah setiap perubahan selalu akan memunculkan suatu risiko tandingan - dan jika risiko yang muncul tak sepadan dengan kesiapan menghadapinya - yang muncul akan selalu bersifat ‘kekecewaan’, getir dan merasa dimarjinalkan. Selalu menyalahkan isi fisik dari suatu perubahan. Siapa pun yang berada di luar perubahan, menafikan perubahan, mereka akan dilindas oleh perubahan itu sendiri. Kecerdasan untuk membangun beteng sakti dari sejumlah perubahan, perubahan sosial di dalam masyarakat, perubahan - perubahan norma masyarakat, di dalamnya syarat pesan kepekaan menangkap realisma baru yang hadir dan sering melahirkan kegamangan bagi mereka yang tidak siap ikut berubah.



Nilai establishment yang mengakar dan disakralkan (baca: menjadi profran membongkar suatu nilai kaidah normatif yang diseretnya sejak berabad) - maka realisma baru yang menggelinding di tengah-tengah masyarakat sulit diterka arahnya. Mesin perubahan dengan produk-produk perilaku ‘pamer’ dan kompetitif, terpenggalnya sebuah tatanan kebersamaan termasuk kepedulian lingkungan pun menjadi sebuah mesin baru di lahan bisnis. Dan, manusia mulai benar - benar menyadari secara malu - malu, mereka merasa dan sadar adanya ‘ruang yang hilang’. Bukan saja dialektika gardu ronda atau basa-basi etika di kesilaman - namun bangga sebagai sosok beragama pun mulai tanggal. Bahasa dosa tak jauh beda seperti tumpukan sampah - dan tugas pemulunglah yang ngurus soal dosa. Pemikir agama mulai nampak seperti pemulung yang memungut barang buangan. Dosa-dosa yang dibuang sembarangan di sembarang tempat - yang berujung pada radiasi toksin sianida normatif - dan menggasak seluruh wilayah kehidupan - para petugas kebersihan dosa pun ternyata juga tak steril radiasi dosa yang seharusnya dinetralisir.



Hilangnya Norma Santun



Pra edukasi masa lampau memang bukan saja sangat sederhana bahkan untuk matra psikologi perilaku dengan sejumlah teoremanya dianggap sangat naif. Yang menjadi sebuah pertanyaan besar, mengapa perangkat lunak pendidikan moral dan etika bagi anak-anak justru tidak melahirkan nilai yang padan dengan komonen pendidikan yang dianggap jauh lebih maju tersebut? Sangat tidak adil jika nilai pembanding yang berbau romantis masa lampu dipergunakan sebagai matra nilai. Ambil saja norma santun sekian dekade silam, seseorang yang berjalan di depan orang tua atau sebaya yang sedang duduk di teras atau halaman rumah, meski jarak pejalan kaki dengan orang tersebut agak jauh - apa yang ia ucapkan? “....nyuwun sewu mas, ndherek langkung,” permisi mas numpang lewat. Atau ketika seseorang menanyakan sesuatu kepada orang yang tidak dikenal dan penanya saat itu sedang berada di atas sepeda, orang tersebut pasti akan turun dari kendaraannya dan baru bertanya.



Kini, apa yang kita saksikan dari kondisi yang sama? Jika agama benar-benar menerapkan ajaran berbuat baik, amal saleh, lantas metodologi apa yang dipergunakan para penyampai kebenaran tata nilai tersebut sehingga pesan mulia norma agama ini tak mempan menahan laju kebebasan bersikap di atas nilai agung yang bernama prifasi (baca: hak azasi manusia dengan memberlakukan bebas nilai, bebas berkreasi, bebas menentukan sikap dan tidak munafik). Kata terakhir ini pula yang dipergunakan sebagai paradigma pemangkas berbagai matra nilai kehidupan. Telanjang dilarang berujung ‘munafik’. Dalilnya, yang melarang toh suka perempuan telanjang. Menentang porno aksi, pelarang pun diam-diam mengintip perempuan berpakaian minim. Sifat fitrah yang harus tunduk oleh sejumlah aturan dan keimanan inilah yang dipakai sebagai terminologi nilai kemunafikan.



Ah, tiba-tiba dan diam-diam terasa lebih damai menyaksikan anak-anak pulang ngaji - berjalan di atas pematang tanpa obor dan hanya diterangi kerlip bintang. Diam-diam merasa damai manakala malam berhiaskan kidung sinom parijatha atau maca pat atau langgar samping rumah menumpahkan ayat-ayat suci Al Qur’an - atau santri-santri kecil pulang ngaji dengan obor mereka beramai-ramai nginjen, mencari sambil mengendap-endap, jengkerik di sawah. Saat itu mereka belum kehilangan daerah bermain. Komunitas mereka sepi kata-kata umpat, bego, dongok, sialan dan sejenisnya.



Jika saja saya percaya rumus nyleneh yang sedang pikuk dibincang saat ini, return point, titik balik peradaban, jujur tanpa pesawat ulang-alik atau sejumlah perabotan modern, ternyata hidup tidak terkurangi makna hidup itu sendiri. Benar, kadang pada titik pandang tertentu manusia akan kembali menjadi kenak-kanakan. Terasa tak ada yang dilebihkan atau terkurangkan ketika seseorang harus menempuh jarak berkilo meter hanya dengan jalan kaki, naik gerobak sapi, naik kuda atau dengan pesawat super jet - yang tersisa adalah percepatan pemenuhan hasrat - hanya itu - - dan keduanya punya dinamika dan risiko yang tak jauh beda dari keduanya. Saya tidak ingin menekuk waktu, masuk ke dalam lorong waktu, time tunnel, agar terbebas dari masa kekinian dan bermesra dengan keluh masa lalu.



Jika ditarik ulur tapak-tapak kehidupan kini dan kemarin ada substansi dan dimensi gerak kehidupan yang sama sekali linier. Yang beda hanya bentuk tampilan materi yang membuahkan risiko. Tak lebih dari itu. Maka laci jawab dalam menghadapi bergesernya bentuk tampilan wujud risiko adalah penyetaraan kesadaran menangkap nilai risiko dan dampak risiko itu sendiri. Jika laju kencang perubahan tak sebanding dengan langkah yang diiukurkan dalam laju perubahan tersebut - penyakit gamang berbalut keluh dan kerisauan akan segera menampilkan jenis penyakit yang jauh diluar nalar manusia secara umum. Stressor psychososial, psycho dynamic, bagai barisan panjang yang siap melahap siapa saja, khususnya bagi mereka yang rajin mengucapkan kata ikhlas, kata taqwa, kata beriman, kata bertuhan hanya setara hembusan nafas di hidung sampil geram menyaksikan pasar malam sosial di sekitarnya. Hantu kehidupan, hantu ekonomi dan ketergantungan, dari sisi ini pula jurang kekufuran, jurang kesyirikan, jurang kemunafikan, jurang kemusyrikan siap menelan siapa pun. Tak perduli mereka berada di entitas sakral sekali pun.



Social paranoida pun ruah di mana-mana. Pelacuran, perjudian, kriminalitas, pendangkalan nilai, pembodohan dan seterusnya, perilaku kehidupan ini pantas disebut sebagai social paranoid. Termasuk menghalalkan segala cara. Termasuk membuat undang-undang untuk menjerat oranng lain dan menyelamatkan dosa sendiri. Termasuk riuh menyalahkan nasib dibanding besaran usaha yang dilakukan. Termasuk produsen fitnah untuk mengangkat derajat lewat cap dagang. Termasuk para pendidik sibuk perut pendidik, sibuk keluh sarana pendidikan tanpa sibuk ngurus metodologi pendidikan, konsep pendidikan, disiplin pendidikan, militansi pendidikan dan hasilnya jelas, ilmu hafalan, sensory memory. Soal sarana pendidikan, bagaimana dengan dekade 50-an? Itu kalau boleh berbanding terbalik. Benar, pada masa itu para pendidik adalah Umar Bakri dalam arti yang sebenarnya. Benar juga - ibadah tidak layak mendzalimi diri sendiri.



Poissoning causal peradaban telah lengkap menggenangi lahan kehidupan umat manusia. Rembesan radio aktif pelaku kehidupan sudah menjadi sebuah citra megah. Mampukah peran agama melerai pertikaian adab macam ini? Jika jawabannya tak mampu, sebaiknya tinggalkan saja keyakinan agama apa pun. Jika demikian, Ebiet Ge Ade benar, Tuhan telah bosan melihat tingkah kita, Tuhan telah menjauh karena kita jauh kata Bimbo, padahal mutiara kidung bisnis tadi jika dihunjam ke dalam nilai Aqidah, sungguh dangkal dan musyrik!



Jika agama disekulerkan - sesekuler-sekulernya - dan kehilangan ruh kedibyaan spiritualitasnya, maka ajaran agama sama sampahnya dengan virtual yang dijajakan di play stations. Jika agama hanya mahir membuat larangan dan ancaman dan bukan keteladanan, maka agama bagai dongeng seribu satu malam yang sangat memprihatinkan. Jika agama hanya sibuk ngusir jin, menjual jin dan menjual amalan - maka agama akan menjadi sampah peradaban itu sendiri.



Agama diturunkan untuk menjelajah ruang dan waktu, menjelajah dimensi dan kondisi di mana hidup itu diperuntukkan bagi makhluk yang bernama manusia. Agama bukan sekadar mengatur tapi juga menciptakan. Menciptakan apa saja, termasuk menciptakan peradaban, menciptakan tata nilai. Yang nyata saat ini justru sebaliknya, agama membeli nilai yang benar-benar bukan produksi dari ajaran mulia agama itu sendiri. Ilmu yang dimiliki - yang dianggap bermuara pada sumber agama - nyatanya malah membantai nilai agama itu sendiri. Benar, kita sudah benar-benar berwajah global, termasuk wajah keyakinan - sehingga nilai agama yang tersisa adalah kegeraman sambil menciptakan dendam dan kebencian. Ini pun racun agama, racun sosial termasuk racun kejiwaan.



Metodologi mengajak, meneladani, sentuhan kejiwaan dalam dunia pendidikan, hanya ini bentuk detoksinasi moral sosial dan moral agama yang harus segera diterapkan dengan tanpa berhitung berapa lama jenjang yang dibutuhkan untuk memulai? Berapa dana yang dibutuhkan bangunan model ini? Pertanyaan besarnya hanya : siapkah kita memulainya. Hanya itu. Hilangkan fenomen klasik ‘pengurbanan’. Dalam soal satu ini tidak ada yang dikurbankan. Allah diingkari oleh yang diciptakan bukan sebuah pengurbanan ciptaan.



(dari: Pengantar Pengajian RIC 2005)

Rabu, 29 Juni 2011

KESASTRAAN KALSEL SEBELUM, SEMASA, DAN SESUDAH TAHUN 70-AN

Oleh : Arsyad Indradi



Alhamdulillah aku masih menyimpan buku Data-Data Kesenian Daerah Kalsel yang berupa stensilan yang diterbitkan Depdikbud Kan.Wil Prov.Kalsel, Proyek Pusat Pengenbangan Kesenian Kalsel 1975/1976, karena pada tahun 90-an kantor ini terbakar, arsip Data Seni Budaya yang lainnya entahlah apakah dapat diselamatkan. Buku ini sangat penting untuk mengetahui perkembangan kesastraan Kalsel pada masa itu.

Tulisan ini khusus mengetengahkan data perkembangan kesastraan Kalsel merujuk pada buku Data-Data Kesenian Daerah Kalsel tersebut.

Perkembangan kesastraan Kalsel tentu saja tidak terlepas dari perkembangan kesastraan Indonesia, karena sastrawannya ikut memberikan andilnya bagi perkembangan kesastraan Indonesia. Ini tampak dalam periode - periode perkembangannya dari masing- masing periode tersebut. Periode – periode tersebut adalah :
1. Periode Sebelum Perang
2. Periode Pendudukan Jepang / Revolusi Fisik
3. Periode Tahun 50-an
4. Periode Tahun 60-an
5. Periode Tahun 70-an

1. Periode Sebelum Perang

Pada periode ini yang paling menonjol adalah Merayu Sukma ( nama aslinya : Muhammad Sulaiman ). Ada beberapa bukunya yaitu :
Putra Mahkota Yang Terbuang ( roman sejarah ), Yurni Yusri ( roman detektif ), Kunang-Kunang Kuning ( roman detektif ), Sinar Memecah Rahasia ( roman detektif ), Berlindung dibalik Tabir ( roman ), Jiwa yang Disiksa Dosa (roman), dan Jurang Meminta Korban ( roman ). Hampir semua bukunya diterbitkan di Medan. Sayangnya buku-bukunya ini tidak dicetak ulang sehingga sulit didapat. Masa produktifitasnya terhenti ditahun 50-an sampai akhir hayatnya.

Penulis lainnya adalah Arthum Artha karyanya berupa cerpen banyak dimuat di majalah Terang Bulan (Surabaya). Selain cerpen ia menulis roman antara lain : Gadis Zaman Kartini ( Gemilang,1949,Kandangan), Tahanan Yang Hilang ( Pustaka Dirgahayu,1950, Balikpapan), Kepada Kekasihku Rokhayanah ( Mayang Mekar,1951,Banjarmasin). Puisi-puisinya juga bertebaran di majalah Mimbar Indonesia, Siasat/Gelanggang, Indonesia, Pelopor, Mutiara, Zenith,Gajahmada dan lain-lain.

Pada periode ini muncul Maseri Matali (Kandangan) dan puncak karyanya menjelang akhir revolusi fisik sampai tahun 1952. Ia satu-satunya Penyair Kalsel yang disoroti kritikus HB Yassin. Puisi-puisinya umumnya dimuat di Mimbar Indonesia, Pancawarna, Waktu dan Bakhti. Ia dianggap penyair yang kuat pada zamannya. Ia tidak sempat menerbitkan semua karyanya dalam satu antologi. Tetapi setahun setelah ia wafat (1969), sebanyak 15 puisinya dibukukan oleh D.Zauhidhie dkk. dalam judul “ Nyala “ (stensilan).

Muncul di periode ini seperti, M.Yusuf Aziddin, Mugeni Jafri, Haspan Hadna. Karya-karya mereka hampir tak pernah dibaca oleh generasi berikutnya karena di samping tidak banyak juga tidak pernah dibukukan.

Selengkapnya klik http://penyairnusantara.blogspot.com atau http://penyair-kalsel.blogspot.com

Minggu, 26 Juni 2011

MENEBAR BENIH SASTRA DI BANUA MURAKATA

INI catatan ringan sebagai bahan untuk sebuah iven sastra "Aruh Sastra Kalimantan Selatan VIII di Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah, 16--19 September 2011. Catatan ringan ini sengaja dibuat selagi ada kesempatan, dan tentu saja perlu masukan dan saran dari pembaca budiman demi sesuatu yang lebih bermanfaat dan mendatangkan martabat bagi pergerakan sastra. Judul catatan ini, sepenuhnya menuruti tema yang diusung oleh panitia penyelenggara. Lantaran belum ada deskripsi lengkap mengenai maksud dan tujuan hajatan Aruh Sastra (setidaknya belum membaca TOR), saya masih meraba-raba apakah yang sebaiknya dikemukakan dalam iven tahunan yang mulai melegenda itu.

Agar pembaca memiliki gambaran betapa aktivitas sastra di Kalimantan Selatan selama ini, akan saya nukilkan historisitas jejak kesastrawanan Kalimantan Selatan, setelah itu barulah saya coba kemukakan kiat atau strategi "menebar benih sastra di Banua Murakata".


Pergerakan Sastrawan Kalsel


Sastra Indonesia di Kalimantan Selatan sesungguhnya sudah mulai dilakukan sebelum perang dunia kedua, di sekitar pertengahan atau akhir tahun 1930-an, atau hampir bersamaan dengan kurun waktu kegiatan penulisan yang dilakukan oleh para sastrawan Angkatan 1930-an (Angkatan Pujangga Baru). Meskipun pada kurun waktu awal penulisan para sastrawan Kalsel tidak setenar Angkatan Pujangga Baru, karena mereka umumnya menulis pada penerbitan (majalah dan koran) lokal, tidak sebagaimana sastrawan Angkatan Pujangga Baru yang menciptakan karya-karyanya yang menjadi karya monumental karena menulis dalam majalah Pujangga Baru – satu-satunya penerbitan penting yang memuat karya sastra para sastrawan di zamannya. Para sastrawan Kalsel yang memulai kegiatan penulisan karya sastra ini antara lain Merayu Sukma, Anggraini Antemas (Yusni Antemas), M. Yusuf Aziddin, Artum Artha, Ramlan Marlim, Hadharyah M, Merah Danil Bangsawan, dan lain-lain. Mereka juga telah mempunyai sejumlah buku, baik yang diterbitkan Kalsel atau usaha sendiri, maupun di luar Kalsel.

Dapat dikemukakan bahwa setiap periodisasi sastra Indonesia, sastrawan Kalsel melibatkan diri. Pada kurun waktu 1942 s.d. awal 1950-an bermunculan pula karya para sastrawan Kalsel baik dari mereka yang menulis sebelum tahun 1940-an maupun mereka yang baru memublikasikan karyanya dalam peeiode ini, seperti Artum Artha yang produktif memublikasikan karya puisi, cerpen dan romannya di media massa berwibawa di Jakarta seperti majalah Mimbar Indonesia dan Siasat/Gelanggang. Sederet nama lain yang juga intensif menulis dan memublikasikan puisi-puisinya ke majalah Mimbar Indonesia, Waktu, Pantja Warna, dll. adalah Maseri Matali, Asyikin Noor Zuhri, Masrin Mastur, dll. Penyair Maseri Matali sendiri sempat disinggung oleh Paus Sastra H.B. Jassin dalam bukunya Tifa Penyair dan Daerahnya sebagai salah seorang penyair berbakat dari pedalaman Kalimantan yang bersahut-sahutan dengan generasi seangkatannya (Angkatan 45).

Setelah Angkatan 45, sastrawan Kalsel yang muncul dan mulai aktif menulis dalam berbagai genre penulisan; puisi cerpen, novel ialah Hijaz Yamani, Ramta Martha (Rahmat Marlim), Azn. Ariffin, Dachry Oskandar, D. Zauhidhie, Taufiqurrahman, Yustan Aziddin, Salim Fachry, Sholihin Hasan, Aliansyah Ludji, Rustam Effendi Karel, Korsen Salman, Imran Mansyur, Abdul Kadir Ahmad, Syamsul Suhud, Syamsul Bahriar AA, Syamsiar Seman, Goemberan Saleh, Sir Rosihan, dll. Karya para sastrawan ini dipublikasikan di berbagai majalah dan surat kabar terbitan lokal dan Jakarta, seperti Pahatan, Pusparagam, Bandarmasin, Minggu Pagi, Mimbar Indonesia, Kisah, Budaya Jaya, Zenith, Siasat, Gembira, Gajah Mada, Indonesia, Horison, Roman, Cerita, Konfrontasi, dan lain.lain.

Dekade 1960-an di tanah air diwarnai oleh munculnya dualisme angkatan, yakni Angkatan 63 atau Angkatan Manifes yang dicetuskan oleh Satyagraha Hoerip dan Angkatan 66 yang dideklarasikan oleh H.B. Jassin. Pada tahun 1963 telah terjadi apa yang disebut Manifes Kebudayaan yang banyak didukung oleh para sastrawan yang anti-komunis di tanah air. Di antara para pencetus dan penandatangan Manifes Kebudayaan ini di Jakarta adalah H.B. Jassin, Wiratmo Sukito, Goenawan Mohamad, dll. Sedangkan para manifestan di Kalimantan Selatan terdapat pula para sastrawan seperti Yustan Aziddin dan Rustam Effendi Karel. Sastrawan Kalsel lainnya yang di tahun 1960-an itu bermukim di Jawa Timur yaitu Hijaz Yamani dan Andi Amrullah juga mendukung dan ikut menandatangani Manifes Kebudayaan tersebut. Dan para sastrawan Kalsel yang produktif dan muncul dalam dekade 60-an ini antara lain M.H. Hadharyah Roch, A.S. Ibahy, Ardiansyah M, Murjani Bawi, Bachtar Suryani, Gusti Muhammad Farid, dan lain-lain. Pada 1963 untuk pertama kali terbit antologi puisi penyair se-Kalimantan Perkenalan di Dalam Sajak Penyair Kalimantan. Kemudian terbit pula beberapa antologi puisi perorangan dari penyair D. Zauhidhie (Imajinasi, 1960), Bachtar Suryani (Kalender, 1967), Syamsiar Seman (Bingkisan, 1968), dan Maseri Matali (Nyala, 1968).

Perkembangan sastra(wan) dekade 1970-an di Kalimantan Selatan terbilang sangat pesat dan menggembirakan, sebagaimana hingar-bingarnya percaturan sastra di tanah air. Terutama di Kalsel, kenyataan perkembangan yang menggembirakan ini dirayakan lagi dengan dibentuknya lembaga atau organisasi kesenian seperti Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kalimantan Selatan (kini menjadi Dewan Kesenian Kalimantan Selatan) yang digagas pada Musyawarah Seniman (Musen) pertama se-Kalimantan Selatan, 28 April s.d. 2 Mei 1971 di kota Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara. DKD Kalsel periode pertama ini diketuai oleh seniman dan politisi Anang Adenansi. Kemudian berturut-turut di berbagai kota dan kabupaten lainnya di Kalsel juga mendirikan dewan kesenian. Dan melalui program komite sastranya, DKD Kalsel menerbitkan majalah bulanan kebudayaan Bandarmasih, penerbitan rutin antologi puisi bersama maupun perorangan, antara lain Panorama, Bandarmasih, Jembatan, Jembatan II, Air Bah, 10 Penyair Hulu Sungai Utara, Banjarbaru Kotaku, Penjuru Angin, Riak-riak Barito, dll. Tahun 1978, Pustaka Jaya Jakarta menerbitkan antologi puisi Tanah Huma dari tiga penyair Kalsel, D. Zauhidhie, Yustan Aziddin, dan Hijaz Yamani. Demikian pun sayembara penulisan puisi dan even lomba deklamasi dan baca puisi secara rutin diselenggarakan dan diprakarsai DKD Kalsel. Dapat ditambahkan bahwa penyair Muda Kalsel (thn 70-an) yang paling menonjol adalah Arsyad Indradi-Ajamudin Tifani-Ibramsyah Barbary. Nama Iberamsyah Barbary tercantum dalam Data-data Kesenian Daerah Kalimantan Selatan,Depdikbud Kantor Wilayah Prov.Kalsel,Proyek Pusat Pengembangan Kesenian Kalsel 1975/1976.

Para sastrawan yang muncul pada dekade ini adalah Ajamuddin Tifani, Eza Thabry Husano, Arsyad Indradi, Hamami Adaby, M. Syarkawi Mar’ie, Yuniar M. Ary, A. Rasyidi Umar, Bakhtiar Sanderta, Sabrie Hermantedo, Andi Amrullah, Ibrahim Yati, Soufyan Surya, A. Mudjahidin S, Ulie S. Sebastian, Ibramsyah Amandit, Adjim Arijadi, Roeck Syamsuri Saberi, A. Dimyati Riesma, Rizhanuddin Rangga, Syarkian Noor Hadie, Johan Kalayan, Yan Pieter A.K. (Nayan van Houten), Dardy C. Hendrawan, Mas Husaini Maratus, Ahmad Fahrawi, Tarman Effendi Tarsyad, Burhanuddin Soebely, dan lain-lain. Oleh karena aktivitas bersastra di Kalsel kemunculannya lebih awal, maka penulisan sastra di daerah ini tumbuh dan berkembang lebih pesat dibandingkan provinsi lainnya di Kalimantan. Dan sebagai salah satu kantong kesusastraan di Indonesia, Kalimantan Selatan memiliki sastrawan-sastrawan yang kreatif dan eksis dengan karya-karya sastranya yang tidak kalah kualitasnya dengan karya para sastrawan luar Kalsel. Karya para sastrawan Kalsel baik secara kuantitas maupun kualitas tidak hanya hadir sebagai khasanah lokal (Kalsel), tetapi juga memberi kontribusi bagi masyarakat dan perkembangan sastra Indonesia modern. Bila ada anggapan bahwa Kalsel adalah gudang sastrawan, hal itu tak bisa dimungkiri dan stigma itu masih melekat hingga hari ini.

Dekade awal 1980-an hingga pertengahan 1990-an – untuk sementara – diklaim sebagai ‘puncak’ pertumbuhan ataupun perkembangan sastra di Kalimantan Selatan. Namun di dua dekade ini karya sastra yang paling dominan hadir adalah genre puisi. Hal ini terbukti dari jumlah karya sastra (sajak) dan penyair Kalsel yang muncul ke permukaan. Menurut sastrawan dan kritikus sastra Korrie Layun Rampan, bukan hanya perkembangan kuantitas sastrawan dan karya sastra, tapi juga perkembangan kualitas sastra sangat pesat di Kalsel. Rubrik-rubrik sastra di media cetak lokal maupun nasional didominasi oleh puisi. Khususnya untuk publikasi karya puisi, cerpen, cerber, dan esai di media cetak lokal, para sastrawan Kalsel merasa terbantu dengan kehadiran rubrik sastra di harian Banjarmasin Post, Media Masyarakat, dan Dinamika Berita (sekarang Kalimantan Post). Lebih spektakuler lagi, harian Banjarmasin Post – koran tertua di Kalimantan yang kini merger dengan harian Kompas – merupakan satu-satunya penerbitan di dunia – berdasarkan klaim Ajip Rosidi – yang berani menyajikan rubrik puisi bernama Dahaga untuk sosialisasi karya para penyair. Sedemikian banyaknya penyair yang menulis untuk Dahaga, sehingga pada setiap hari pemunculannya rubrik ini dijejali oleh sajak dan sangat luar biasa dalam melahirkan penyair – tentu dengan klasifikasi; penyair yang sajaknya berkualitas dan tidak berkualitas. Secara representatif dapat digambarkan, bahwa sepanjang tahun 1981 saja tercatat sebanyak 251 orang penyair yang menulis untuk Dahaga dengan jumlah sajak tak kurang dari 2.336 buah (berdasarkan data penelitian pengamat sastra Kalsel, Tajuddin Noor ganie). Rubrik puisi Dahaga yang sempat bertahan sekitar 7 tahun (1978-1985) ini digawangi oleh tiga serangkai sastrawan, yaitu Yustan Aziddin (Wapemred. Banjarmasin Post), D. Zauhidhie, dan Hijaz Yamani (ketiganya kini sudah almarhum). Tumbuh suburnya perpuisian – hingga muncul anggapan Kalsel mengalami inflasi puisi dan kepenyairan – di Kalsel juga memacu antarpenyair untuk saling berkompetisi menerbitkan sajak-sajaknya, baik secara perseorangan maupun secara kolektif bersama penyair luar Kalsel yang diterbitkan Banjarmasin, Surabaya, Jakarta, Jogjakarta, Bandung, Tasikmalaya, Padang, dan beberapa kota lainnya, hingga Brunei Darussalam dan Malaysia. Bahkan pada dekade 1980-an itu pula – berdasarkan hasil penelitian tak resmi penyair Jogja, Bambang Widiatmoko – Kalsel diklaim menduduki peringkat kedua dalam kategori populasi penyair terbanyak di Indonesia setelah Jogjakarta.

Even-even sastra seperti forum diskusi atau temu sastrawan juga marak diselenggarakan di berbagai kota dan kabupaten di wilayah Kalsel. Forum sastra paling monumental di era 1980-an adalah Fo-rum Penyair Muda 8 Kota se-Kalimantan Selatan 1982, yang digagas oleh komunitas penyair bernama Himpunan Penyair Muda Banjarmasin (HPMB). Sastrawan/penyair yang menonjol dengan wawasan estetik puisi dan menemukan gaya pengucapan atau bahasanya sendiri serta beberapa di antaranya memiliki reputasi kepenyairan nasional pada dekade ini, antara lain Ajamuddin Tifani,Ahmad Fahrawi,Burhanuddin Soebely, Tarman Effendi Tarsyad (walaupun awal ke-munculan keempat sastrawan ini pada dekade 1970-an, tapi oleh Abdul Hadi WM di Forum Puisi Indonesia ’87 di TIM dikategorikan sebagai generasi penyair 80-an), Y.S. Agus Suseno, M.Rifani Djamhari, Noor Aini Cahya Khairani, Ali Syamsuddin Arsi, Ariffin Noor Hasby, Sandi Firly, Fahruraji Asmuni, Eddy Wahyuddin SP, Muhammad Radi, Zain Noktah, Kony Fahran (kini bermukim di Tenggarong, kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim), Jamal T. Suryanata, Eko Suryadi WS, Abdul Karim, Tajuddin Noor Ganie, Radius Ardanias, Maman. S. Tawie, Iwan Yusi, Micky Hidayat, Akhmad setia Budhi, Aria Patrajaya, Sri Supeni, Mas Alkalani Muchtar, dan lain-lain untuk menyebut hanya beberapa nama. Iklim bersastra yang terbilang kondusif dan bergairah pada dekade 80-an dan 90-an tersebut boleh dikata merupakan era kebangkitan sastra Kalsel dengan ledakan-ledakan kreativitas yang telah berimplikasi melahirkan sejumlah sastrawan dengan kapasitas intelektual dan kegigihan idealisme yang cukup penting diperhitungkan pada khasanah sastra Indonesia.

Pertengahan 1990-an hingga memasuki abad 21, yaitu awal 2000-an hingga 2008 ini, walaupun iklim bersastra di Kalsel tidak sesemarak dekade sebelumnya, namun denyut kehidupan dan kegairahan para sastrawan untuk berkarya masih tetap terasa dan tidak pernah mengalami stagnasi atau kemandekan. Para sastrawan terkini dari generasi 2000-an yang sedang berproses, kreatif serta produktif dan mulai bermunculan ikut menyumbangkan bentuk, warna dan pengucapan literer, dan mereka pun bersemangat merayakan kreativitas bersastra, bersaing bersama sastrawan generasi 1990-an serta disokong oleh sastrawan dari generasi 1980-an dan beberapa dari generasi 1970-an yang masih menunjukkan vitalitas berkarya. Sederet nama sastrawan baru generasi pertengahan 1990 hingga 2000-an ini antara lain: Sainul Hermawan, M. Hasbi Salim, Harie Insani Putra, Abdurrahman Al Hakim, Abdurrahman El Husaini, Isuur Loeweng, M. Nahdiansyah Abdi, Hajriansyah, Elang W. Kusuma, Aliman Syahrani, Shah Kalana Al-Haji, Hardiansyah Asmail, Andi Jamaluddin AR. AK., Fahmi Wahid, Fitriadi, M. Fitran Salam, Joni Wijaya, dll. Para sastrawan ini menulis dalam berbagai genre, seperti puisi, cerpen, esai, dan novel. Pada dekade ini bermunculan pula para penulis perempuan yang rata-rata masih berstatus mahasiswi dan aktivis seni di kampusnya, di antaranya: Nonon Jazouly, Dewi Alfianti, Hudan Nur, Nina Idhiana, Syafiqotul Machmudah, Rahmatiah, Ratih Ayuningrum, Nailiya Nikmah, Anna Fajarona, Endang Fitriani, Rismiyana, Annisa, dan Helwatin Najwa. Karya-karya berupa puisi, cerpen, dan esai sastra para perempuan muda yang pintar, cerdas dan memiliki potensi hebat ini semakin menunjukkan adanya upaya masing-masing mereka untuk mengeksplorasi sumber-sumber penciptaan yang beraneka-warna, dan menjelajahi berbagai kemungkinan bentuk maupun gaya pengucapan. Dan kehadiran maupun peran para sastrawan generasi baru ini setidaknya turut pula memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi pertumbuhan dan perkembangan sastra Indonesia di Kalsel. Tetapi, berkaca pada pengalaman, hanya sastrawan yang memang benar-benar mempunyai ketangguhan dan kesungguhan yang terus-menerus untuk menciptakan karya yang berkualitas secara estetik maupun tematik, gigih dan konsisten, memperlakukan kerja sastra yang identik dengan ‘kekerasan’, ‘kekejaman’, dan ‘berdarah-darah’ yang kemudian mampu mempertahankan eksistensi kesastrawanannya.

Sepanjang tahun 1980 hingga 1990-an, kesusastraan Indonesia mutakhir dilanda hiruk-pikuk dengan terjadinya ledakan-ledakan luar biasa dahsyatnya sehubungan dengan gerakan sastra secara kolektif yang memunculkan komunitas budaya atau komunitas sastra di berbagai wilayah di Indonesia. Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP), Komunitas Budaya Buruh Tangerang (BUBUTAN), Roda-Roda Budaya Tangerang, Komunitas Sastra Tegal, untuk menyebut hanya beberapa nama, merupakan gerakan sastra yang mencuat sebagai fenomena pertumbuhan sastra yang menarik. Bahkan di tahun 90-an keberadaan KSI dan RSP menjadi perbincangan dan diangkat sebagai polemik panjang di berbagai media massa nasional. Menjamurnya komunitas sastra yang diklaim sebagai lahirnya “pusat-pusat” pergerakan sastra baru ini berbarengan dengan ramainya polemik tentang “marjinalisasi” sastra Indonesia dan peran para sastrawan akibat sistem penunjang kreativitas yang sangat tidak memadai. Tumbuhnya komunitas-komunitas sastra ini tak dimungkiri menimbulkan pula konsekuensi interpretatif beragam baik positif maupun sinisme. Namun yang pasti, kehadiran komunitas-komunitas sastra alternatif ini di samping ingin memperbaiki berbagai ketimpangan yang ada dalam perangkat sistem sastra di Indonesia, tampaknya dimaksudkan juga sebagai upaya ‘perlawanan’ atau ‘pembangkangan’ para sastrawan yang merasa terpinggirkan terhadap pusat-pusat kekuasaan yang melakukan penetrasi terhadap dunia sastra, dalam konteks ini negara, media massa, sekaligus mendobrak arogansi sentralisme dan monopoli para sastrawan mapan yang bertahta di pusat kesenian seperti Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)nya. Dalam pandangan kreatif, lahirnya komunitas sastra merupakan penentangan terhadap legitimasi dan kewibawaan pemegang otoritas sastra di pusat – yang sebelumnya dapat dianggap sebagai penghalang kreativitas.

Bagi sastrawan Kalimantan Selatan, menjamurnya komunitas sastra di berbagai wilayah tanah air sesungguhnya bukan sesuatu yang asing. Di awal 1980-an – selain komite sastra di Dewan Kesenian Kalsel, bidang seni sastra di Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI) Kalsel, dan Himpunan Sastrawan Indonesia (HIMSI) Kalsel serta cabang-cabang HIMSI di berbagai kota dan kabupaten – khususnya Banjarmasin sebagai ibu kota provinsi, sudah memiliki komunitas sastrawan bernama Himpunan Penyair Muda Banjarmasin (HPMB). Kehadiran HPMB yang didirikan pada tahun 1981 oleh para aktivis sastra – terutama para penyair muda kreatif, gigih, punya daya gerak dan cukup militan – ini merupakan fenomena tersendiri bagi perjalanan dan persentuhan proses kreatif kepenyairan Kalsel.

Salah satu forum sastra yang terbilang fenomenal pernah diselenggarakan komunitas ini adalah Forum Penyair Muda 8 Kota se-Kalimantan Selatan 1982 dan Forum Siklus 5 Penyair Banjarmasin di Banjarmasin. Kiprah komunitas ini sempat mengalami kevakuman selama beberapa tahun karena berbagai kesibukan para penggiatnya di luar komunitas. Akhirnya pada pertengahan tahun 1980-an, komunitas ini bubar dengan sendirinya.Walaupun komunitas penyair ini hanya tinggal nama, namun kiprah, andil ataupun sumbangsihnya dalam meramaikan dan merayakan rumah besar sastra di Kalsel bahkan turut pula mewarnai peta sastra tanah air patutlah untuk diapresiasi dan senantiasa dikenang.

Setelah komunitas penyair (HPMB), pada pertengahan tahun 1980-an dunia sastra Kalsel disemarakkan lagi dengan bertumbuhannya komunitas sastra di berbagai daerah kabupaten dan kota, baik yang terorganisir maupun organisasi informal. Namun atmosfer yang tercipta dari komunitas tersebut tentu berpengaruh positif bagi perkembangan dan pertumbuhan sastra di masing-masing wilayah komunitas itu berada. Di Banjarmasin berdiri Bengkel Sastra Banjarmasin, Sanggar Sastra Mandiri, Busur Sastra dan Teater Balambika (BSTB), Lingkaran Sastra Mozaika, Forum Diskusi Sastra Poetica (bermarkas di Taman Budaya Kalsel), Keluarga Penulis Banjarbaru, Dapur Seni Amandito (Kota Banjarbaru), Sanggar Marta Intan (Martapura, Kabupaten Banjar), Posko La Bastari (Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan), Sanggar Sastra Sukmaraga (Kabupaten Hulu Sungai Utara), Sanggar Sastra Mandastana, Sanggar Riak-riak Barito (Kabupaten Barito Kuala), Sanggar Anggrek Harivi (Kabupaten Tanah Laut), Pusat Olah Seni Sastra Kotabaru, Sanggar Bamega 88 (Kabupaten Kotabaru), dan Himpunan Penulis, Pengarang dan Penyair Nusantara (HP3N) Korwil Kalsel. Dari puluhan organisasi komunitas yang berbentuk formal maupun nonformal ini sebagian besar juga tinggal nama alias bubar tanpa alasan yang jelas.

Dekade 1990-an hingga 2000-an, bermunculan pula komunitas-komunitas sastra di berbagai kantong budaya yang pertumbuhan dan perkembangan sastranya cukup meriah. Seperti di kota Banjarbaru berdiri komunitas Kilang Sastra Batu Karaha, Forum Taman Hati, Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, Front Budaya Godong Kelor, Rumah Sastra Pelanduk, serta Sanggar Ar Rumi dan Sanggar Matahari, X-Pas Borneo (ketiganya di kota Martapura, kabupaten Banjar), dan beberapa komunitas sastra lainnya, baik yang berjalan sendiri maupun berkelompok. Sederet komunitas yang frekuensi kegiatan bersastranya cukup tinggi di beberapa kampus perguruan tinggi negeri maupun swasta dan bermunculannya Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI) di beberapa sekolah menengah atas di Kalsel yang diprakarsai majalah sastra Horison, juga tak bisa diabaikan perannya. Namun dalam perjalanannya, di antara komunitas ini hanya beberapa yang mampu bertahan hidup hingga hari ini.


Pola Pergerakan Aruh Sastra


Menurut wawasan Ali Syamsudin Arsy (Salah seorang yang jadi motor penggerak Aruh Sastra di Barabai) tahap awal adalah pra-aruh; berpeluang untuk 'mempersiapkan segala sesuatu yang akan ditemui pada 'saat-aruh', 'mempersiapkan' ini bukan hanya panitianya, tetapi persiapan semua komponen-elemen masyarakatnya, yang berhubungan langsung dengan jenis-jenis karya sastra itu sendiri maupun yang hanya merupakan dampak dari terselenggaranya aruh itu sendiri, persiapan bukan hanya kasak-kusuk persoalan dana yang akan dihabiskan, ambil satu contoh kata 'pelayanan'; akankah terlayani segala-sesuatu yang diperlukan oleh para tamu nantinya, sigap, mandiri, tidak semua bertumpu pada sang ketua, pendelegasian tugas wewenang dengan memahami batas-batasnya masingmasing, satu contoh ini saja bukan hal yang mudah, padahal yang masuk dalam kategori 'mempersiapkan' wah seabrek-segunung-gunung (cara pikir manusia indonesia saat ini adalah dengan ucapan, "akh, gampang saja nanti, akh bisa aja dia nanti... dsb dsb," Padahal (?!!!), tidak semudah itu) Apalagi bila melibatkan yang memang orang-orang belum memahami konsep dunia-dalam sastra dan sastrawan (seniman), nah untuk ini saja bukan main kata mempersiapkan itu harus terancang, jadi di segi kepanitiaan sangat memerlukan yang dinamakan 'pasukan khusus' dan akan lebih baik dilakukan dalam waktu panjang, dalam berkali-kali simulasi, biasanya 'orang-orang teater' sangat serasi-sejalan dalam pemikiran ini. 'Mempersiapkan' masyarakat luas agar mau membuka mata terhadap pentingnya keberadaan sastra itu di tengah mereka, karena kelahiran atau keberadaan sastra sebenarnya berasal dari dalam masyarakat itu sendiri.

Tahap kedua adalah saat-aruh, (oke coba simak kembali poin-poin yang telah disusun oleh Yessika Susastra di atas) sebenarnya semua elemen di atas harus ikut terlibat dari awal sampai berakhirnya acara, satu contoh, pejabat yang akan dipercaya membuka atau memberikan kata sambutan, setelah habis kesempatan (mungkin hanya 20-30 menit bergabung, setelah itu langsung hilang dan tidak pernah lagi kembali) ini isyarat bahwa sebenarnya orang-orang tersebut tidak betah berada lama berbaur dan saling membuka persoalan apa yang harus disampaikan-diterimakan, inilah saat yang tepat berbaur tanpa pembatas, dibatasi oleh 'waktu'lah, oleh 'acara' di lain tempatlah, akh akh, datang dan meninggalkan luka menganga saja, sastra-sastrawan pada saat seperti ini juga memerlukan sikap apresiasi yang tinggi dari para panutan pejabatnya, para pemimpinnya, sastrawan sadar bahwa mereka tetap memiliki pemimpin, tetapi bukan untuk menjauh darinya, bukan hanya janji-janji dalam kata sambutannya tetapi kata 'mengapresiasi' itu terikat dalam sama merasakan, bila ada yang memang perlu dikoreksi maka koreksilah, itu sudah disiapkan wadahnya dalam bentuk Dialog atau Seminar atau apapun gaya dan tatacaranya, sastrawan yang datang bukan untuk hanya mendengarkan kata sambutan, tetapi 'penerimaan' dan 'melayani' itulah pada dasarnya, yang 'melayani' bukan pada 'panitia saja' tetapi seluruh elemen masyarakatnya termasuk tentu pimpinan tertingginya, siapkan waktu untuk agenda itu dari awal hingga berakhirnya, para sastrawan datang bukan hanya untuk berdialog dengan sesama sastrawan saja tetapi kepada masyarakat seluruhnya sebagai tuan rumah dengan cara integrasi karya dan karena sastra itu lahir dari dalam masyarakat itu sendiri maka fungsi-manfaat serta keberadaan sastra itu haruslah kembali kepada masyarakatnya semula, di sinilah diperlukan 'jembatan-penghubung' antara karya sastra dengan pembaca.

Tahap ketiga, adalah tahap paling penting, yaitu pasca-aruh, secara garis besarnya adalah aruh sastra (atau apapun sebutannya, temu, pertemuan, ajang dll dll) pada dasarnya 'mempersiapkan masyarakat'nya agar setelah usai agenda aruh itu gairah, aktifitas, bersastra menjadi bagian dari hidup dan kehidupannya; yang akan melandasi tatacara hidup dan kehidupan berbangsa bernegara; kita pasti cinta indonesia.

Idealnya, saat aruh sastra bermuara berbagai persoalan yang terkait dengan geliat sastra dan masalahnya.Berbagai pihak penggiat sastra ada baiknya menyumbulkan peta permasalahan di daerahnya masing-masing, sehingga suatu ketika, melalui Aruh Sastra, dapat disusun proyek besar peta masalah dan solusiny. Terkait dengan hal ini Ali Syamsudin Arsy berharap agar derah-daerah seperti di Barabai ada Fahmi yang sangat tahu persoalan di sana(akhir-akhir ini boleh jadi merangkap juga untuk wilayah Balangan), di Amuntai ada Fahruraji, Hasby Salim, dkk, di Pelaihari ada Jamal TS, di Marabahan ada Ibramsyah Amandit, Rock Syamsuri, Syarkian Noor Hadi, dkk, Tanjung ada Bacco, Lilies, (terakhir Setia Budhi di sana), di Tapin ada A.Kusairi, Bram dkk, di Kandangan ada Burhanuddin Soebly, Aliman, Iwan Yusi, dkk, di Tanah Bumbu ada Andi Jamaluddin Ar Ak, Karim, dkk, di Kotabaru ada Eko Suryadi, Gonzales, Najwa, dkk, di Banjarmasin ada Tarman, Tajuddin, Agus, Hajri, dkk. Nah berharap agar yang sudah aktif ini semakin meningkat karya-berkaryanya dan mampu menampilkan yang baru dengan segala kedinamisannya sendiri-sendiri, termasuk bermunculan penulis-penulis perempuan, (secara pribadi saya berkeinginan nama-nama penulis yang terpampang di rak-rak buku banyak perpustakaan kita adalah nama-nama dari dalam banua sendiri, silahkan teliti pada banyak perpustakaan kita nama-nama yang ada oh oh maafkan saja) ini persoalan yang harus diselesaikan oleh satu atau dua titik saja tetapi pula merupakan mata rantai yang akan melibatkan banyak pihak; penentu kebijakan maukah melahirkan payung hukum ke bawahnya agar antusias dan hasrat serta kegairahan itu menjadi perayaan besar-bersama-sama, adakah dimasukkan secara nyata dalam setiap anggaran belanja daerah tentang penyediaan buku-buku itu, adakah langkah nyata pembelian-pembelian buku-buku yang terencana dan berkesinambungan dari tahun ke tahun, terbaca dengan jelaskah itu, adakah bentuk-bentuk apresiasi nyata kepada penulis urang banua dan itu terbaca jelas dalam setiap program, pernahkah di dalam setiap pelaksanaan aruh sastra ada pembelian buku-buku oleh instansi pemerintah atau bermitra sebelum penerbitan buku-buku itu untuk mengisi rak-rak pustaka di kantor-kantor (sementara jawaban pastinya adalah = Belum pernah ) bahkan yang paling sering adalah adanya sikap "menagih, mana buku jatahku, gratis" akh, keterlaluan sekali kau bah !!! tapi sudahlah, semoga ini hanya sebagian pemikiran masa lalu saja, dan kini semoga ada yang melakukan terobosan positif, contohnya secara langsung saya alami di Banjarbaru pernah suatu malam saya ditanya,"Berapa Asa menjual buku Gumam itu?", kemudian saya jawab, "25 ribu Bang," sambil senyum dan berharap ada pembelian secara nyata,"Ini ada 250.000,-, tolong antarkan ke rumah," seraya menyerahkan uang itu secara tunai dan tidak banyak pikir, "Makasih Bang," balasku (sebenarnya saat itu saya terharu dan berdebar juga dada ini, begitu besar penghormatannya), sesampainya di rumah langsung dibungkus buku yang dipesan dan besok harinya saya antar ke rumah beliau, itu baru satu orang, lalu bagaimana dengan sikap pemerintah yang dalam hal ini dihuni oleh para pejabat dengan tingkat pemikiran yang luar biasa hebat (apalagi sudah banyak yang menyandang gelar s2, bahkan s3, bahkan rangkap sssssssssss, wah sangat sangat sangat luar biasa hebatnya), nah ini hanya satu contoh kecil saja dan maaf berkaitan persoalan pribadi saya, bagaimana dengan pribadi yang lain dalam konteks sastra-bersastra dan kesastraan yang lebih luas, boleh jadi sama tapi tak serupa atau bahkan sangat jauh berbeda


Menebar Benih Sastra, Meningkatkan Minat Berkarya Sastra


Upaya menebar benih sastra dan meningkatkan minat berkarya sastra sebenarnya telah banyak dilakukan oleh kawan-kawan di Kalsel, baik melalui dunia perbukuan, dunia blog, komunitas dan pergerakan individual sastrawan. Dunia perbukuan misalnya, dapat dicatat kegilaan Arsyad Indradi menerbitkan buku fenomenal bertajuk Antologi Penyair Nusantara 142 Penyair Menuju Bulan (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru) dan puluhan buku lainnya. Selain itu, Hamamy Adaby menerbitkan buku puisi bahasa Banjar dan bahasa Idonesia, Ali Syamsuddin Arsy secara fenomenal menawarkan esstetika baru untuk urusan menulis puisi melalui buku-buku serial Gumam-nya yang juga fenomenal, Micky Hidayat dengan Meditasi Rindu-nya, Hamberan Syahbana dengan apresiasinya, dan tentu saja banyak buku beredar dari kalangan sastrawan Kalsel. Selain dunia buku, blog menjamur dan tumbuh berkembang di Kalsel. Blog ini tidak saja menjadi dokumen, melainkan juga telah mewarna dunia sastra dengan dinamikanya sendiri. Terakhir, hal yang turut menyangga dinamika sastra di kalsel adalah akivitas kelompok sastra yang mengusung aneka nama komunitas sastra.

Langkah strategis dalam upaya menebar benih sastra dan meningkatkan minat berkarya sastra perlu dilakukan secara bersama-sama oleh stakeholders, seperti dikemukakan dalam poin-poin berikut:


Stakeholders seni budaya (Gubernur, angota DPRD, instansi seni, dan seniman serta budayawan) perlu bersinergi menyatukan langkah dan persepsi untuk membina dan mengembangkan potensi seni sastra. Pembina seni sastra perlu menyusun program peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai kegiatan sarasehan, seminar, pelatihan, dan bimbingan teknis. Dalam upaya pembinaan seni sastra ini kiranya perlu dimksimalkan peran lembaga atau organisasi sastra yang dapat mewadahi kiprah sastrawan dan masyarakat dalam berkarya. Masuk dalam pembinaan ini perlu didirikan sekolah seni, baik tingkat sekolah menengah maupun sekolah tinggi.
Materi pembinaan meliputi sastra yang berakar pada budaya daerah dan berssinergi dengan seni arsitektur, seni batik, seni tari, seni musik, seni teater, seni kerajinan, seni desain grafis, seni film, seni rupa, dan seni budaya tradisi di setiap daerah di kabupaten di Kalimantan Selatan.
Pembina seni sastra seyogianya dapat memainkan peranannya masing-masing dan secara bersama-sama memajukan seni sastra ke kancah yang lebih luas (regional, nasional, internasional) dengan prinsip think globaly, act localy (berwawasan global, bertindak lokal) seperti falsafah di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.
Pelaku seni sastra terus berkarya. Aktivitas pelaku seni sastra ini perlu difasilitasi sepantasnya. Pelaku seni sastra ini meliputi organisasi seperti sanggar seni dan aktivitas individual sastrawan. Pelaku ini dalam melaksanakan aktivitasnya perlu dukungan perhatian dan financial yang memadai dan pemberian penghargaan khusus bagi pelaku seni dan budaya oleh pemerintah adalah merupakan hal yang sepantasnya.
Jalur pendidikan formal dan nonformal, termasuk pelatihan dan sanggar kerja yang terjdwal penting pula dijadikan tumpuan dalam menebar benih dan ,inat berkarya sastra.
Aruh Sastra, sebagai iven yang telah mentradisi dan merupakan bertemunya stakeholders yang terkait dengan minat berkarya sastra kiranya mampu memainkan peranannya secara lebih efektif dn signifikan.
Dunia sastra kini, sejalan dengan paradigma yang telah mengglobal, yakni fenomena dunia maya seperti banyaknya blogger, facebokers, twitter, dan grup-grup penulisan kreatif, maka upaya menebar benih sastra dan meningkatkan minat berkarya sastra dapat dilakukan di situs jejaring sosial, apalagi banyak tokoh sastrawan yang memanfaatkan akun ini untuk melakukan "pembinaan" dan apresiasi bagi para pendatang baru di dunia penulisan kreatif.
Tujuan akhir paradigma sastra adalah perilaku. Pendidikan sangat sentral untuk membentuk paradigma ini sejak dini, untuk mengarah pada pemahaman dan menumbuhkan daya cipta, mendukung penciptaan insan yang cerdas ESQnya, untuk menghadapi dan bersesuaian dengan lingkungan dari waktu ke waktu, maka peran pendidikan formal dan nonformal tidak dapat diabaikan. Siswa dan mahasiswa adalah ujung tombak dalam pembinaan minat berkarya sastra.

Kamis, 23 Juni 2011

HARUSKAH MENULIS HAIKU SESUAI DENGAN ASLINYA?

Catatan Heru Emka

“ Kenapa haiku yang ditulis mas Heru tidak seperti aslinya ? Bukankah haiku Jepang terdiri ndari tiga baris, dengan jumlah suku kata 5, 7, 5 ? Kenapa haiku mas Heru ada yang 4 baris,dan jumlah suku katanya juga tak sama ?,” tanya Nila via inbox di FB-ku.


Kenapa kita tak perlu menulis haiku pedrsis secara aslinya ? Jawabnya bukan saja (kita yang berbahasa Indonesia ) tak mungkin menulis haiku seperti aslinya ( karena struktur dan gramatika bahasa yang kita gunakan tidak sama ) namun juga kenapa kita harus mengikatkan diri, bila situasi dan kondisi ( saat kita menulis haiku ) amat berbeda dengan era dan tradisi penulisan haiku tradisional di Jepang sana.

Haiku, yang dalam bahasa Jepangnya berarti ‘ syair ringan’ ini secara luas memang dipahami sebagai sajak pendek yang terdiri dari tiga baris, dengan isian yang setiap barisnya terdiri dari 5, 7, 5 suku kata. Namun definisi seperti ini tergolong definisi haiku yang paling populer, yakni setelah berkembang dengan bentuk haiku berbahasa Inggris di AS misalnya. Haiku tradisional di Jepang sendiri diitulis dalam huruf Kanji, dalam satu baris tegak lurus memanjang. Dalam hitungan 17 mora ( semacam suku kata dalam bahasa Jepang ). Walau begitu apa yang disebut sebagai mora ini tak mutlak sama dengan suku kata dalam bahasa Inggris atau suku kata dalam bahasa Indonesia, karena struktur gramatika asa yang berbeda.

Penjelasan lainnya bisa begini. Jumlah baris dan jumlah suku kata yang terdapat pada haiku Jepang adalah persoalan bentuk. Sedangkan kata-kata kalimat di dalamnya adalah persoalan isi. Tradisi penulisan haiku di kalangan para pendeta Zen di Jepang berkaitan erat dengan musim sebagai referensi, karena itu sebagian besar haiku yang mereka tulis pun bertemakan alam, seperti haiku Basho ini :



tako tsubo ya
hakanaki yume wo
natsu no tsuki

Diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi :

The octopus' fleeting dream
in the trap
the summer moon

Saya alihkan ke bahasa Indonesia-kan menjadi :

( gurita melintas mimpi
dalam perangkap
bulan musim semi )

atau haiku yang ditulis oleh Kobayashi Issa yang seperti ini :

katatsumuri
soro soro nobore
fuji no yama

Diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi :

O snail,
Climb Mt. Fuji,
But slowly, slowly!

Saya terjemahkan ke bahasa Indonesia-kan menjadi :

( wahai siput
yang mendaki Gunung Fuji,
setapak demi setapak )

Juga haiku yang ditulis oleh penyair haiku klasik lainnya, Saigyo, yang sepert ini :

qtsuki no yuku
yama ni kokoro wo
wokuri irete
yami naru …

Diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi :

My mind I send
with the moon
that goes beyond the mountain…

Saya aliihkan ke dalam bahasa Indonesia-kan menjadi :

kukirimkan anganku
bersama sang bulan
/ melintas seberang gunung…


Penulis haiku yang pendeta Zen ini, sesuai kebiasaan tradisi penulisan mereka, menggunakan apa yang disebut sebagai “ saijiki” istilah yang mengacu pada wacana penanggalan musim, itulah sebabnya haiku juga disebut sebagai ‘syair musim’, di mana setiap kalimat mencerminkan alam di musim tertentu. Kalimat pendek seperti ‘daun gugur’ dengan jelas berkaitan dengan musim gugur. Dan di dalam tradisi penulisan haiku, kata “ kigo “ atau musim, juga mencerminkan karakter tertentu, misalnya ‘ angina dingin musim gugur’, jelas melambangkan ‘kesepian’, atau awal datannya musim dingin yang membekukan, pertanda keprihatinan, dan sebagainya…


Beda Bahasa, Bergeser Maknanya

Bila secara sederhana kita hitung suku katanya saja, kata ‘sayonara’ jelas tak sama dengan ‘selamat tinggal’, maka tak mungkin kita menulis haiku persis dengan pola bahasa Jepang. Yang orang Jepang sendiri punya gambaran yang berbeda ketika mengalih bahasakan Haiku Katak-nya Basho ke dalam bahasa Inggris. Ini contohnya : Haiku Katak Basho, aslinya begini :


Furu ike ya
kawazu tobikomu
mizu no oto


Nobuyuki Yuasa menterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi :


Breaking the silence
Of an ancient pond,
A frog jumped into water —
A deep resonance.


Sedangkan Hiroko Odagiri menterjemahkan haiku yang sama, berubah menjadi :

The old pond is still
a frog leaps right into it
splashing the water

Karena itulah saya melihat mereka yang belajar menulis haiku, dan terpaku pada aturan kaku gramatika haiku Jepang, hanya menghasilkan baris kalimat baku yang kaku , dan kehilangan momen puitik yang justru harus ditangkap dan diekspresikan secara minimalis dalam kalimat singkat, pada dan memikat. Inilah intinya : momen puitik yangv harus diungkapkan….bukan aturan kaku tentang jumlah baris, hitungan suku kata, dan sebagainya,…Tradisi penulisan pendeta Zen juga terbentuk wacana alam lingkungannya, di biara Budha di pedesaan, pegunungan dan sebagainya. Sedang kita ada di jaman modern, di tengah perkotaan, di mana masalah menangkap ‘keheningan’ menjadi persoalan yang lebih menantang. Situasinya amat berbeda, dan hasilnya pun tak mungkin sama.

Bagaimana pendapat anda ?

-Heru Emka, penyair dan peminat kajian budaya. Editor antologi haiku Danau Angsa -